Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mesin mobil Arkana terus menderu membelah jalanan kota. Kedua tangannya menggenggam setir erat, sementara sesekali matanya melirik layar ponsel yang terpasang di dashboard. Peta digital di sana menunjukkan sebuah titik tujuan yang membuat jantungnya terus berdebar.
Ketring BUNDA AYA.
Setelah keluar dari rumah sakit, Arkana tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan berbagai cara, ia berhasil mendapatkan alamat usaha katering milik Kanaya. Semakin dekat dengan lokasi tersebut, semakin sulit pula dirinya mengendalikan perasaan. Ia merasa dirinya berada selangkah lagi dari tujuan.
"Kalau benar itu kamu, aku tidak akan pergi sebelum bertemu." Suara Arkana terdengar serak.
Mobil Arkana akhirnya melambat ketika sebuah kawasan usaha yang cukup luas mulai terlihat di depan mata. Sejak beberapa menit terakhir ia mengikuti petunjuk dari peta digital di ponselnya, tetapi begitu melihat bangunan yang berdiri di hadapannya sekarang, Arkana sampai lupa berkedip.
Pandangan Arkana menyapu area itu perlahan dari balik kaca mobil. Di sepanjang jalan masuk, beberapa bangunan besar berjajar dengan rapi. Di salah satu sisi terlihat gudang penyimpanan bahan makanan yang ukurannya besar. Tidak jauh dari sana berdiri bangunan dapur produksi dengan aktivitas yang sangat sibuk. Beberapa pegawai berseragam tampak hilir mudik membawa bahan makanan menggunakan troli.
Mobil-mobil katering berukuran besar keluar masuk silih berganti. Ada yang baru kembali dari mengantar pesanan, ada pula yang sedang bersiap berangkat menuju lokasi acara.
Arkana benar-benar dibuat terdiam. Dalam bayangannya, Kanaya mungkin hanya memiliki usaha katering sederhana dengan beberapa pegawai dan sebuah dapur yang tidak terlalu besar. Namun kenyataan yang ada di hadapannya jauh berbeda. Tempat itu lebih menyerupai sebuah perusahaan profesional daripada sekadar usaha katering rumahan. Semua terlihat tertata rapi, terorganisir, dan berjalan dengan sistem yang baik.
Entah kenapa, dada Arkana tiba-tiba terasa hangat. Perlahan senyum tipis muncul di wajahnya.
Di balik rasa kagum yang memenuhi hatinya, terselip kebanggaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kanaya ternyata berhasil membuktikan dirinya kepada dunia. Perempuan yang dulu sering diremehkan, dianggap tidak punya apa-apa, bahkan pernah dipandang sebelah mata oleh banyak orang, kini mampu berdiri dengan usahanya sendiri. Bukan hanya bertahan hidup, tetapi berkembang hingga sebesar ini.
Ingatan Arkana tanpa sadar melayang ke masa lalu. Dulu Kanaya pernah bercerita dengan mata berbinar tentang mimpinya. Ia ingin memiliki usaha sendiri. Ia ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk banyak orang. Ia ingin membantu orang-orang yang kesulitan mencari nafkah.
Saat itu Arkana hanya tersenyum mendengarkan. Ia menganggap itu sebagai mimpi yang indah.
Namun sekarang mimpi itu benar-benar berdiri di hadapannya. Bahkan jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan.
Perasaan bangga itu langsung berubah menjadi nyeri yang menusuk hati. Seharusnya ia ada di sisi Kanaya saat semua itu terwujud. Seharusnya ia menjadi orang pertama yang menyaksikan keberhasilan perempuan itu. Namun, karena kebodohannya sendiri, ia justru kehilangan hak tersebut.
Arkana menelan ludah pelan. Penyesalan yang selama ini berusaha ia kubur kembali muncul ke permukaan.
Ketika mobilnya hendak memasuki gerbang utama, dua orang petugas keamanan segera menghampiri dengan sikap sopan dan profesional. Arkana menurunkan kaca mobil.
"Selamat siang, Pak," sapa salah seorang satpam dengan ramah.
"Siang," balas Arkana.
"Apa ada yang bisa kami bantu?"
"Aku ingin bertemu dengan Kanaya, Pak."
Mendengar nama itu, kedua petugas keamanan saling berpandangan sesaat. Bukan karena curiga, melainkan seolah sedang memastikan sesuatu.
"Oh, kalau mau bertemu Bu Kanaya, masuknya bukan lewat sini, Pak."
Arkana mengernyit. "Bukan?"
Petugas itu lalu menunjuk ke arah sisi lain kawasan tersebut. "Pintu ini khusus kendaraan operasional katering dan kendaraan pegawai, Pak. Kalau tamu lewat gerbang sebelah sana. Nanti langsung menuju kantor Ibu."
Arkana mengikuti arah yang ditunjuk. "Oh, begitu."
"Iya, Pak."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
Mobil Arkana kembali bergerak perlahan. Namun, sepanjang perjalanan menuju gerbang berikutnya, pandangannya terus berkeliling memperhatikan area usaha itu. Semakin lama melihat, semakin besar pula rasa kagum yang memenuhi hatinya.
Setiap sudut tempat itu seolah menjadi bukti perjuangan Kanaya selama lima tahun terakhir. Lima tahun yang sama ketika dirinya tenggelam dalam penyesalan. Kanaya ternyata bangkit dan membangun kehidupannya dari nol.
Arkana tidak tahu berapa banyak air mata yang sudah ditumpahkan perempuan itu. Ia tidak tahu berapa banyak malam yang dilewati Kanaya sendirian. Ia tidak tahu berapa banyak kesulitan yang harus dihadapi hingga akhirnya mampu mencapai titik ini. Kanaya ternyata jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan.
Beberapa menit kemudian, Arkana memasuki gerbang tamu. Petugas yang berjaga langsung menyambutnya dengan senyum ramah.
"Selamat siang, Pak."
"Selamat siang."
"Silakan masuk."
Tidak ada pemeriksaan yang berlebihan. Tidak ada pertanyaan yang rumit. Petugas itu bahkan dengan sopan menunjukkan arah menuju gedung kantor utama.
Begitu memasuki bangunan tersebut, Arkana kembali dibuat terkejut. Interior kantor terlihat modern dan elegan. Lantai mengilap, dinding bersih, serta tata ruang yang nyaman membuat tempat itu terasa profesional. Beberapa karyawan tampak sibuk bekerja di depan komputer masing-masing. Telepon berdering silih berganti. Suara percakapan antar pegawai terdengar samar, menciptakan suasana kerja yang hidup.
Arkana kembali menatap sekeliling. Sulit dipercaya semua ini dibangun oleh Kanaya..Di bagian depan terdapat meja resepsionis yang ditempati dua wanita muda. Begitu melihat Arkana mendekat, keduanya segera berdiri.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"
"Siang." Arkana menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Aku ingin bertemu dengan Kanaya."
Kedua resepsionis itu saling berpandangan sebentar, lalu kembali tersenyum profesional. "Apa sebelumnya sudah membuat janji dengan Bu Kanaya, Pak?"
Pertanyaan itu membuat Arkana sedikit bingung. "Kalau ingin bertemu Kanaya harus membuat janji dulu?"
Salah satu resepsionis mengangguk sopan. "Soalnya Bu Kanaya hari ini sedang ada jadwal menemui klien di luar."
Seketika semangat yang tadi memenuhi dada Arkana terasa merosot. Harapannya kembali tertunda.
"Jadi dia tidak ada?"
"Untuk saat ini tidak ada di kantor, Pak."
Arkana mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti kembali kehilangan sesuatu yang sudah berada di depan mata. Namun, ia tidak mungkin menyerah sekarang. Ia sudah terlalu jauh melangkah.
"Kalau begitu aku minta alamat rumahnya."
Permintaan itu langsung membuat kedua resepsionis saling melirik lagi. Kali ini lebih lama dibanding sebelumnya. Karena terus terang, permintaan seperti itu sangat jarang terjadi.
Hampir tidak pernah ada tamu yang datang lalu meminta alamat rumah pribadi Kanaya.
"Kami ...." Salah satu gadis itu tampak ragu.
"Sebentar ya, Pak."
Mereka lalu berbisik pelan satu sama lain. Arkana tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan. Namun, sesekali ia melihat keduanya melirik ke arahnya. Beberapa menit kemudian, salah satu resepsionis kembali menghampiri.
"Baik, Pak."
Ia menyerahkan secarik kertas berisi alamat. "Ini alamat rumah Bu Kanaya."
Arkana menerimanya dengan cepat. "Terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
Arkana berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar. Namun, belum sempat ia menjauh, telinganya menangkap suara pelan dari belakang.
"Jangan-jangan pria itu mantan suaminya Bu Kanaya?"
bunda masih sulit
anak umur 4 thn udah ngerti kata2 orang dewasa
Kemarin cemburu, sekarang romantis
hayooo siapa mentornya Ay???😃
kayanya akan ada konspirasi si kembar iniiii 😃😆😆😆😆
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃