NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 Kota Milik Para Iblis

Suara itu terdengar tenang.

Terlalu tenang.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada kemarahan.

Dan justru karena itulah Arda langsung memahami satu hal.

Victor adalah tipe manusia yang paling berbahaya.

Manusia yang tidak membutuhkan emosi untuk menghancurkan orang lain.

Di balkon, Elena langsung menyadari perubahan wajah Arda.

"Kau kenapa?"

tanyanya pelan.

Namun Arda mengangkat satu tangan.

Meminta Elena menunggu.

Karena seluruh fokusnya kini tertuju pada suara di telepon.

"Siapa ini?"

tanya Arda.

Padahal ia sudah tahu jawabannya.

Terdengar tawa kecil dari seberang sana.

Pendek.

Dingin.

"Kurasa kita berdua tidak perlu berpura-pura."

ucap pria itu.

"Kau tahu siapa aku."

Keheningan menyelimuti balkon.

Angin malam berembus pelan.

Namun Arda merasa udara di sekitarnya menjadi jauh lebih dingin.

"Victor."

ucapnya akhirnya.

"Benar."

Tidak ada kebanggaan dalam suara itu.

Tidak ada kesombongan.

Seolah nama tersebut hanyalah fakta biasa.

Padahal bagi Valdarez...

Nama itu sudah berubah menjadi ancaman.

"Apa maumu?"

tanya Arda.

Victor tertawa kecil lagi.

"Kau langsung ke inti masalah."

"Bagus."

"Aku mulai mengerti kenapa Leon memilihmu."

Nama Leon membuat rahang Arda menegang.

"Kau mengenalnya."

"Bukan."

jawab Victor.

"Aku mengenal siapa dirinya yang sebenarnya."

Kalimat itu membuat Arda terdiam.

Karena ada sesuatu dalam cara Victor mengucapkannya.

Sesuatu yang terdengar seperti kebencian lama.

Sangat lama.

"Aku hanya menelepon untuk memperkenalkan diri."

lanjut Victor.

"Perang terasa membosankan kalau kita tidak saling mengenal."

"Adrian mati karena perkenalanmu?"

Keheningan muncul selama beberapa detik.

Lalu Victor menjawab.

"Adrian mati karena pilihan-pilihan yang dibuat jauh sebelum kau lahir."

Jantung Arda berdetak lebih cepat.

Karena kalimat itu kembali mengarah ke masa lalu.

Masa lalu yang selalu muncul dalam setiap jejak darah.

"Apa maksudmu?"

Namun Victor tidak menjawab.

Sebaliknya...

Ia bertanya.

"Kau pernah berpikir kenapa Leon mati?"

Tubuh Arda langsung membeku.

"Kau pernah bertanya-tanya kenapa begitu banyak orang berusaha menyembunyikan masa lalu?"

"Kau pernah bertanya siapa sebenarnya musuhmu?"

Setiap pertanyaan terasa seperti pisau yang perlahan ditancapkan.

Karena Victor menyentuh semua keraguan yang selama ini ada di kepalanya.

"Aku tahu lebih banyak daripada yang kau kira."

ucap Victor.

"Lalu katakan."

"Tidak."

jawab Victor santai.

"Belum waktunya."

Arda mengepalkan tangan.

Namun sebelum ia bisa mengatakan sesuatu...

Victor mengucapkan satu kalimat terakhir.

"Kota ini tidak pernah menjadi milik Valdarez."

Suaranya berubah.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

"Dan sebentar lagi kau akan mengerti itu."

Klik.

Sambungan terputus.

Keheningan langsung memenuhi balkon.

Hanya suara angin yang tersisa.

Elena memandang Arda.

"Kau bicara dengan siapa?"

Arda masih menatap layar ponselnya.

Beberapa detik.

Lalu menjawab.

"Victor."

Wajah Elena langsung memucat.

Kurang dari lima menit kemudian.

Semua orang sudah berkumpul di ruang rapat.

Kael mendengarkan laporan Arda tanpa menyela.

Tidak satu kata pun.

Namun semakin banyak yang ia dengar...

Semakin gelap ekspresinya.

"Dia sengaja menelepon."

ucap Ravian.

"Tentu saja."

jawab Kael.

"Itu bukan ancaman."

lanjut Kael.

"Itu provokasi."

Darius mengangguk.

"Dia ingin masuk ke kepala Arda."

Dan mereka semua tahu.

Musuh yang berhasil masuk ke pikiran seseorang sering kali lebih berbahaya daripada musuh yang datang membawa senjata.

"Ada hal lain."ucap Arda.

Semua menoleh.

"Dia bilang kota ini tidak pernah menjadi milik Valdarez."

Ruangan mendadak sunyi.

Karena kalimat itu memiliki arti.

Arti yang sangat spesifik.

Kael perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tatapannya berubah.

Seolah sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat.

"Aku pernah mendengar kalimat itu."

ucapnya.

Jantung Arda langsung berdetak lebih cepat.

"Kapan?"

Kael tidak langsung menjawab.

"Lima belas tahun lalu."

Ruangan membeku.

"Sebelum perang pertama."

"Sebelum Marcus menghilang."

"Sebelum semuanya berubah."

Nama Marcus kembali muncul.

Dan seperti biasa...

Setiap kali nama itu muncul, misteri menjadi semakin dalam.

Malam itu tidak ada seorang pun yang bisa tidur dengan tenang.

Bahkan Ravian yang biasanya santai terlihat lebih banyak diam.

Karena untuk pertama kalinya...

Victor tidak lagi bergerak dari balik bayangan.

Ia mulai berbicara.

Dan itu berarti sesuatu sedang berubah.

Keesokan harinya.

Perubahan itu benar-benar datang.

Tepat pukul sembilan pagi.

Salah satu anak buah Valdarez masuk ke ruang rapat dengan wajah pucat.

Sangat pucat.

"Ada masalah."

ucapnya.

Semua langsung waspada.

"Apa?"

tanya Kael.

Pria itu menelan ludah.

Kemudian menyerahkan beberapa foto.

Begitu foto-foto itu diletakkan di meja...

Ruangan langsung membeku.

Arda mengambil salah satunya.

Dan jantungnya seolah berhenti.

Foto itu menunjukkan sebuah gedung.

Gedung tua.

Gedung yang pernah menjadi markas pertama Valdarez bertahun-tahun lalu.

Namun itu bukan yang membuatnya terkejut.

Yang membuatnya terkejut adalah simbol besar yang dicat di dinding.

Simbol yang sama dengan yang ditemukan di kasino.

Simbol milik Victor.

Dan di bawah simbol tersebut tertulis kalimat.

Dengan cat merah.

Besar.

Jelas.

Mustahil diabaikan.

**KOTA INI MILIK PARA IBLIS**

Tidak ada yang berbicara.

Karena semua orang memahami pesan itu.

Ini bukan sekadar vandalisme.

Ini bukan sekadar ejekan.

Ini adalah deklarasi.

Seseorang sedang mengklaim kota.

Dan orang itu bukan Valdarez.

Ravian memukul meja.

"Dia sudah gila."

"Tidak."jawab Kael.

Suaranya sangat tenang.

Terlalu tenang.

Dan semua orang tahu itu pertanda buruk.

"Dia sedang membangun sesuatu."

"Apa?"tanya Elena.

Kael menatap foto tersebut.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian akhirnya berkata.

"Sebuah kerajaan."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Kerajaan.

Bukan kelompok.

Bukan organisasi.

Bukan sindikat.

Kerajaan.

Artinya Victor tidak sedang mencari uang.

Tidak sedang mencari wilayah.

Tidak sedang mencari balas dendam biasa.

Ia ingin menguasai seluruh kota.

Dan lebih mengerikan lagi...

Mungkin ia sudah memulainya sejak lama.

Sore harinya.

Arda memutuskan keluar bersama beberapa anggota pengawal.

Ia ingin melihat sendiri situasi kota.

Dan apa yang ia temukan membuat perasaannya tidak nyaman.

Di beberapa distrik.

Nama Victor mulai terdengar.

Bukan sebagai ancaman.

Melainkan sebagai legenda.

Beberapa kelompok kecil mulai bergabung dengannya.

Beberapa bisnis ilegal mulai berpindah pihak.

Dan sebagian orang mulai percaya bahwa era Valdarez telah berakhir.

"Itu sebabnya dia menelepon."

gumam Arda.

Salah satu pengawal menoleh.

"Maksud Anda?"

Arda melihat jalanan yang ramai.

Lampu kota.

Gedung-gedung tua.

Orang-orang yang bahkan tidak menyadari perang sedang berlangsung.

Victor tidak sedang mencoba menakutinya.

Victor sedang menunjukkan sesuatu.

Menunjukkan bahwa pengaruhnya sudah menyebar.

Bahwa perang ini jauh lebih besar daripada yang mereka kira.

Dan bahwa waktu Valdarez mungkin tidak sebanyak yang mereka pikirkan.

Malam kembali turun.

Namun kali ini kota terasa berbeda.

Lebih gelap.

Lebih dingin.

Lebih berbahaya.

Karena di balik lampu-lampu yang menyala...

Di balik kehidupan yang tampak normal...

Sebuah kekuatan baru sedang bangkit.

Dan kekuatan itu bergerak lebih cepat setiap harinya.

Sementara Arda mulai menyadari satu hal yang mengerikan.

Perang yang mereka hadapi mungkin bukan sekadar perang antar organisasi.

Mungkin ini adalah perang untuk menentukan siapa yang akan menguasai seluruh kota.

Dan perang seperti itu...

Hampir selalu berakhir dengan lautan darah.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!