NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Mereka berbalik lari, tapi tanah di bawah kaki mereka sudah retak. Mbah Karsa hanya menonton dari dalam lingkaran merah. Suaranya tenang, tapi menusuk:

“Kau kira bisa lari dari apa yang kau panggil sendiri. Santau itu punya hukum....? Siapa yang mengirim, dia yang akan terima.”

Begitu kata itu selesai, bayangan hitam yang keluar dari tanah langsung menyambar kaki Samsul. Dinginnya bukan dingin biasa—dingin yang merasuk ke sumsum, membuat darahnya berhenti sejenak.

Samsul jatuh terduduk, mencengkeram tanah. Urat hitam di lehernya muncul lagi, kali ini lebih tebal, lebih hidup dan Ia mencakar-cakar lehernya sendiri, seolah ingin merobek sesuatu yang merayap di bawah kulit."bang,,, ayoo kita lari sebelum ketahuan dengan kadir dan warga."

Begitu kata itu selesai, bayangan hitam yang keluar dari tanah langsung menyambar kaki Samsul. Dinginnya bukan dingin biasa—dingin yang merasuk ke sumsum, membuat darahnya berhenti sejenak.

Samsul jatuh terduduk, mencengkeram tanah. Urat hitam di lehernya muncul lagi, kali ini lebih tebal, lebih hidup dan Ia mencakar-cakar lehernya sendiri, seolah ingin merobek sesuatu yang merayap di bawah kulit.

"bang,,, ayoo kita lari sebelum ketahuan dengan kadir dan warga."Sitoh menarik lengannya, tapi Samsul tidak bergerak, Tubuhnya kaku dan matanya melotot ke tanah.

Dari titik tempat bayangan itu menyambar, kulit di pergelangan kaki Samsul menghitam. Hitamnya merayap naik, lambat. Seperti tinta yang diteteskan ke air jernih.

Samsul kini hanya bisa meringkuk ditanah. Tubuhnya kejang-kejang, mulutnya berbusa hitam. Dari mulutnya keluar suara-suara yang bukan suaranya—suara orang tua, suara anak kecil, suara yang menangis minta tolong. Semua suara itu ia sendiri yang pernah ia panggil saat membaca mantra tadi.

Tubuhnya kejang-kejang, mulutnya berbusa hitam. Dari mulutnya keluar suara-suara yang bukan suaranya—suara orang tua, suara anak kecil, suara yang menangis minta tolong. Semua suara itu ia sendiri yang pernah ia panggil saat membaca mantra tadi.

Sitoh memikul Samsul di pundaknya, lari tanpa menoleh. Kaki Samsul terseret di tanah, meninggalkan jejak hitam yang mengeluarkan asap tipis. Setiap kali Sitoh berhenti untuk mengatur napas, tubuh Samsul menghentak-hentak sendiri, seolah ada yang mencoba keluar dari dalamnya.

“Bang,,? Abang harus bertahan jangan tinggalkan sitoh, adek akan bawa Abang ketempat dukun itu!” Sitoh berteriak, suaranya pecah oleh rasa takut dan tangisan.

Tujuan satu-satunya yang ia tahu. gubuk tua di ujung rawa, tempat dukun yang dulu memberi mereka santau itu tinggal.

Gubuk itu gelap, hanya diterangi pelita minyak yang apinya berwarna hijau redup. Bau kemenyan busuk dan darah kering menyambut mereka begitu pintu kayu didorong terbuka.

Di dalam, dukun itu sudah duduk dan tubuhnya bongkok, wajahnya dipenuhi keriput dan kerutan bewarna hitam, dan matanya yang menyala merah seperti bara. Ia tidak terkejut melihat mereka. “Akhirnya kau bawa pulang barangnya,” gumamnya. Suaranya serak, seperti ada pasir di tenggorokan.

Sitoh menjatuhkan Samsul ke lantai tanah. Tubuh Samsul langsung kejang lagi, kepalanya menghantam kayu sampai berdarah.

“Tolong dia, Kek! Keluarkan itu! Aku akan bayar berapa pun!” Isak sitoh saat melihat Samsul yang tidak berdaya

Dukun itu tertawa pelan dan tawanya membuat pelita berkedip-kedip.

“Keluar? Itu sudah bukan milikku lagi. Sejak kau pakai darahnya sendiri untuk memanggil, santau itu sudah punya tuan baru. Bukan aku. Bukan kau. Tapi dia.” Ia menunjuk ke arah Samsul.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!