NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Begitu sampai di rumah, aku langsung meletakkan kantong belanjaan di atas meja dapur kecilku. Kalimat Mbak Dian di pasar tadi benar-benar meracuni otakku sampai-sampai aku merasa seperti orang linglung.

Aku mencuci daging sapi premium yang kubeli tadi, lalu mulai melumurinya dengan bumbu-bumbu untuk proses marinasi agar bumbunya meresap sempurna besok pagi. Tapi, tanganku yang sedang mengolesi daging mendadak bergerak makin pelan, sampai akhirnya aku kembali bengong.

‘Cowok sekelas Pak Adrian gak bakal sudi minta masakan rumahan dari orang lain kalau dia gak ada ketertarikan atau rasa suka sama orang itu…’

Suara Mbak Dian bergaung lagi di kepalaku. Aku menatap kosong ke arah wadah daging di depanku. Kalau dipikir-pikir, bagaimana kalau ucapan Mbak Dian itu benar? Bagaimana kalau semua sikap menyebalkan, hobi mencari kesalahanku, dan keputusannya menyuruhku kerja di dalam ruangannya itu karena dia memang suka denganku?

‘FYI aja nih, Na. Adrian itu usianya sudah tiga puluh lima tahun. Dan sampai sekarang, dia belum menikah sama sekali. Bahkan... punya pacar atau tunangan pun nggak ada. Bersih total.’

Lalu, ingatan tentang ucapan Pak Gavin di ruangannya tadi siang mendadak ikut menyembul. Kombinasi informasi ini benar-benar berbahaya untuk kesehatan mentalku. Dia single, tidak punya komitmen dengan siapa pun, dan dia terus-menerus menaruh perhatian lebih padaku akhir-akhir ini.

Tiba-tiba, sebuah ide yang sangat konyol, absurd, dan cenderung nekat melintas begitu saja di otak kecilku.

Apa aku coba goda aja ya besok?

Maksudku, ini bisa jadi eksperimen pembuktian yang akurat! Logikanya, kalau seorang pria beralasan galak dan menyebalkan karena sebenarnya dia menaruh hati pada seorang wanita, maka saat wanita itu balik menggoda atau memberikan sinyal balik, pria itu tidak akan mungkin marah, kan? Dia pasti malah akan salah tingkah atau menyambutnya. Kalau besok aku mencoba sedikit mengetesnya dengan godaan kecil, aku bisa langsung tahu apakah dia beneran suka padaku atau dia memang murni punya sifat dajjal yang hobi menyiksa karyawannya!

"Astaga, Aruna! Sadar, Na, sadar!"

Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dengan heboh, menepuk kedua pipiku sendiri dengan tangan yang masih sedikit basah. Gila! Aku benar-benar sudah gila karena kebanyakan bergaul dengan Mbak Dian hari ini.

Aku buru-buru menepis jauh-jauh ide bunuh diri tersebut. Gila saja! Aku ini baru resmi bekerja sebagai sekretaris pribadinya selama SATU HARI. Baru satu hari, masa aku sudah punya keberanian tingkat dewa untuk menggoda Direktur Utama? Bagaimana kalau tebakan Mbak Dian salah total dan Pak Adrian justru merasa dilecehkan lalu memecatku secara tidak hormat besok pagi? Mau kerja di mana aku setelah ini? Menjadi pengangguran lagi jelas bukan pilihan yang estetik untuk masa depanku.

"Kerja yang bener, Aruna. Jangan mikir macem-macem!" rutukku pada diri sendiri, mencoba mengembalikan sisa-sisa kewarasanku.

Aku langsung bergerak cepat membereskan sisa bahan makanan yang kubeli di pasar tadi. Wadah berisi daging sapi yang sudah selesai dimarinasi segera kututup rapat dan kumasukkan ke dalam kulkas agar tetap segar untuk dimasak subuh nanti.

Setelah memastikan dapur kecilku bersih, aku langsung mematikan lampu, menggeliat naik ke atas kasur, dan menarik selimut tinggi-tinggi. Aku harus segera tidur sekarang. Semoga jantungku besok masih aman dan terkendali!

Kringgg!!!

Alarm ponselku menjerit nyaring tepat di saat jam menunjukkan pukul empat subuh. Rasanya mataku masih berat sekali karena semalaman dihantui ucapan gila Mbak Dian, tapi kesadaranku langsung pulih begitu mengingat ancaman Adrian, tidak ada kesempatan kedua.

Aku langsung melompat dari kasur, membasuh muka, dan langsung bertempur di dapur kecil kosanku. Pagi-pagi buta begini, suasana kosan masih sangat sepi, hanya terdengar suara minyak yang berdesis di wajan. Aku mulai memasak nasi, lalu mengeluarkan daging sapi yang sudah dimarinasi semalaman. Begitu daging itu masuk ke wajan, aroma gurih dan manisnya langsung menguar, bikin perutku ikutan keroncongan. Sebagai pelengkap, aku membuat tumis sayur segar biar menu sarapan Pak Direktur seimbang gizinya.

Sekitar jam setengah enam lewat, semua masakan akhirnya matang sempurna. Aku pun mendudukkan diri untuk sarapan lebih dulu. Namun, baru dua suap nasi masuk ke mulutku, gerakanku mendadak terhenti.

Tunggu... Aku mau bawa bekal ini pakai apa?

Aku melongo menatap tumpukan wadah di rak piring. Isinya cuma mangkuk dan piring plastik. Aku sama sekali tidak punya kotak makan! Masa iya masakan yang sudah kubuat secantik ini mau kubawakan pakai tupperware bekas tempat kerupuk yang warnanya sudah kusam? Gengsi dong!

Aku melirik jam dinding. Sudah jam enam pagi. Swalayan atau toko perabotan di dekat sini pasti belum ada yang buka jam segini. Satu-satunya tempat yang sudah hidup dan menjual segalanya sepagi ini cuma pasar tradisional tempatku belanja semalam.

Tanpa babibu, aku langsung menghabiskan sarapanku dengan kilat, menyambar dompet, dan setengah berlari pergi ke pasar. Butuh waktu hampir satu jam untuk memilah-milah kotak makan yang estetik tapi murah, mengantre, lalu berjalan balik ke kosan.

Begitu sampai di kamar, napasku sudah putus-putus. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit!

"Aduh, mampus! Telat, telat, telat!" pekikku panik.

Aku buru-buru menata nasi, tumis daging, dan tumis sayur tadi ke dalam kotak makan baru dengan rapi. Setelah beres, aku langsung melesat ke kamar mandi. Aku mandi secepat kilat, mungkin tidak sampai lima menit. Karena waktu yang makin mepet, aku sama sekali tidak dandan. Boro-boro pakai foundation atau eyeliner, aku cuma menyambar lip tint di meja, mengoleskannya tipis-tipis di bibir biar wajahku tidak terlihat pucat seperti mayat hidup, lalu langsung menyambar tas kerja dan tas bekal.

Aku keluar dari kosan sambil berlari kecil. Jarak dari kosanku ke kantor sebenarnya dekat, kalau jalan kaki santai cuma butuh waktu sepuluh menit. Tapi karena sekarang jarum jam sudah merambat ke angka 07.50, aku merasa seperti sedang dikejar taruhan nyawa.

Namun, begitu kakiku berhasil melangkah keluar dari gang dan berbelok ke jalan raya utama, langkah lariku mendadak melambat, sampai akhirnya aku berhenti total di pinggir trotoar.

Aku terengah-engah, memegangi lututku, lalu menatap jalanan yang cenderung lebih sepi dan tenang karena ini adalah hari Sabtu.

Aku mengerjapkan mata, lalu merenung sendirian di pinggir jalan.

Eh... ngapain juga aku harus lari-lari heboh kayak orang kesetanan begini? Ini kan weekend! Kantor juga libur!

Meskipun jam masuk yang ditentukan Adrian tinggal beberapa menit lagi sebelum jam delapan, tapi kan status hari ini hitungannya lembur. Lagipula, tidak akan ada karyawan lain yang melihat atau mengabsenku selain pria sableng itu sendiri. Kenapa tubuh dan otakku refleks bergerak se-panik ini hanya karena takut terlambat di depan seorang Adrian Wiratama?

Aku menegakkan tubuh, membetulkan posisi tas bekal di tanganku, lalu menghembuskan napas pelan untuk menetralkan detak jantungku. Sialan, pesona kediktatoran Pak Adrian tampaknya sudah berhasil menjajah alam bawah sadarku sampai ke tahap yang mengkhawatirkan. Aku pun lanjut berjalan kaki dengan ritme yang jauh lebih santai, mencoba menikmati sisa beberapa menit sebelum kembali masuk ke kantor.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!