NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sementara itu jauh di Indonesia, keadaan yang dialami Arven justru semakin memburuk. Ruang kerjanya kini hampir tidak pernah sepi dari laporan buruk. Setiap pagi, setiap siang bahkan setiap malam selalu ada kabar yang membuat kepalanya semakin berat. Klien bisnisnya banyak yang memutuskan pergi, beberapa investor yang mulai menarik dana, kontrak dibatalkan, proyek ditunda. Dan yang paling membuatnya frustrasi, tidak ada satu pun yang bisa ia hentikan.

Arven duduk di balik meja kerjanya. Matanya tampak merah karena kurang tidur, kemeja putih yang biasanya selalu rapi kini terlihat kusut, dasinya bahkan sudah tidak lagi terpasang. Di depannya, puluhan laporan keuangan berserakan. Beberapa angka diberi tanda merah dan semuanya menunjukkan hal yang sama. Kerugian, kerugian dan kerugian.

"Sial..."

Arven melemparkan pulpen ke atas meja, kepalanya terasa berdenyut. Sudah tiga hari terakhir ia hampir tidak bisa tidur dengan tenang. Begitu memejamkan mata, yang muncul justru wajah Kanisha lalu para klien yang meninggalkannya satu per satu.

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu ruang kerja terbuka dan tanpa menunggu izin, Selena masuk ke dalam dengan raut wajahnya yang terlihat tidak senang.

"Arven kamu masih di sini."

Arven mengusap wajahnya.

"Ada apa lagi, Selena?"

Nada suaranya terdengar lelah namun Selena sama sekali tidak peduli.

"Aku baru dari butik."

Arven terdiam.

"Lalu?"

Selena langsung menyilangkan tangan.

"Kartu kredit yang kamu kasih ditolak."

Arven menutup matanya bukan lagi karena marah tapi karena lelah.

"Tentu saja ditolak karena itu kartu kredit milikku dan isinya cuma sedikit."

"Apa?"

"Kondisi perusahaan sedang tidak baik."

Selena menatapnya tidak percaya.

"Kamu serius?"

Arven menarik napas panjang.

"Selena... Untuk sementara kita harus hemat."

Kalimat itu langsung membuat Selena tertawa sinis.

"Hemat?"

"Ya."

"Perusahaan sedang bermasalah dan aku minta supaya kamu tetap bisa mengendalikan gaya hidup kamu."

Selena menatap Arven selama beberapa detik lalu menggeleng.

"Tidak masuk akal."

Arven mulai kehilangan kesabaran.

"Ini kenyataan."

"Kenyataan?" ulang Selena.

"Jadi sekarang aku harus ikut susah karena perusahaanmu bermasalah?"

Arven terdiam.

"SELENA." teriak Arven yang mulai hilang kendali karena kata kata Selena.

"Apa?! Mas mau marah sama aku? Iya?!"

Perempuan itu langsung memotong perkataan Arven sementara raut wajahnya berubah kesal. "Sebelumnya mas selalu bilang padaku kalau semua baik-baik saja dan sekarang tiba-tiba mas nyuruh aku harus hemat?"

Arven mengepalkan tangannya untuk mencoba tenang.

"Mas janji situasi ini hanya sementara."

"Omong kosong." Selena mendengus lalu mengeluarkan kalimat yang membuat Arven membeku. "Kalau aku bersama pria lain, aku tidak perlu mengalami hal seperti ini."

Ruangan langsung sunyi. Arven perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Selena.

Perempuan itu bahkan tidak terlihat menyesal setelah mengucapkannya. Sebaliknya, ia terlihat kesal karena keinginannya tidak dipenuhi. Dan untuk pertama kalinya dalam diri Arven, sesuatu terasa sangat berbeda karena tiba-tiba Arven teringat seseorang.

Kanisha.

Ia teringat bagaimana selama bertahun-tahun Kanisha tidak pernah meminta apa pun. Tidak pernah menuntut hadiah, tidak pernah marah karena uang, tidak pernah membandingkannya dengan laki-laki lain. Bahkan saat dirinya sibuk, saat dirinya pulang larut, saat dirinya mengabaikannya, Kanisha tetap diam, tetap sabar dan tetap mendukungnya. Sementara perempuan yang selama ini ia perjuangkan mati-matian justru berdiri di depannya dengan mengeluh, menuntut dan membandingkannya dengan pria lain.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya berantakan, Arven merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman di dalam dadanya. Sebuah kesadaran yang perlahan mulai muncul dan kesadaran itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan investor atau kontrak bisnis karena untuk pertama kalinya, Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Apakah semua yang sudah ia korbankan selama ini benar-benar layak untuk Selena?

Selena menatap Arven selama beberapa detik. Tatapannya tidak lagi seperti seseorang yang sedang meminta pengertian melainkan seperti seseorang yang sedang menghitung untung dan rugi dan itu membuat suasana di dalam ruang kerja menjadi semakin tidak nyaman. Arven masih berdiri di belakang mejanya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras sementara Selena justru terlihat semakin kesal.

"Aku kasih kamu waktu satu minggu."

Arven mengernyit.

"Satu minggu?"

"Ya." Selena mengangguk tegas. "Satu minggu untuk memperbaiki semuanya."

"Selena—"

"Kalau setelah satu minggu keadaan masih seperti ini..." Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan dengan nada dingin."Dan kamu masih tidak bisa memberiku uang seperti biasanya..." Jantung Arven terasa berdegup lebih keras. "Aku akan pergi."

Arven membeku sementara Selena menatapnya tanpa berkedip.

"Aku akan membawa Naira pergi dari rumah ini."

Keheningan langsung memenuhi ruangan.

Arven tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Selena seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Selena..." Suaranya terdengar serak. "Kamu mengancam ku?"

"Aku tidak mengancam." Selena mengangkat bahu. "Aku hanya memberitahu keputusan yang akan aku ambil."

Arven tertawa pendek, tawa yang sama sekali tidak mengandung humor.

"Kamu mau meninggalkanku?"

"Kalau memang tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, kenapa tidak?"

Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada yang Selena sadari karena beberapa hari terakhir hidup Arven memang terasa seperti sedang hancur satu per satu. Selena mengambil tas tangannya lalu berjalan menuju pintu namun sebelum keluar, ia berhenti sebentar dan menoleh ke belakang.

"Satu minggu, Arven." Tatapannya dingin. "Satu minggu." Lalu ia pergi.

Pintu tertutup.

Brak.

Suara itu terdengar jauh lebih keras dari biasanya dan meninggalkan Arven sendirian.

Laki-laki itu perlahan menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya terasa berat, Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan mencoba mengatur napas, mencoba berpikir dengan tenang tapi semakin Arven berpikir, semakin kacau semuanya. Baru beberapa hari keadaan memburuk Selena sudah mengancam akan pergi. Arven menutup matanya, dadanya terasa sesak dan untuk pertama kalinya, Ia mulai membenci kenyataan yang sedang dihadapinya.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Arven membuka mata perlahan sementara mukanya tampak lelah.

"Masuk."

Pintu terbuka dan membuat seorang pelayan masuk dengan hati-hati.

"Maaf mengganggu, Tuan Arven."

"Ada apa?"

Pelayan itu tampak ragu sesaat.

"Di ruang tamu ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan."

Arven mengernyit.

"Tamu?"

"Ya, Tuan."

"Siapa?"

"Beliau tidak menjelaskan secara rinci." Pelayan itu menunduk sedikit. "Tapi beliau bilang urusannya penting dan harus disampaikan langsung kepada Tuan."

Arven menghela napas panjang. Kepalanya sudah cukup pusing hari ini namun ia tetap berdiri.

"Di mana dia?"

"Di ruang tamu, Tuan."

Arven mengangguk.

"Oke, kau boleh pergi."

Beberapa menit kemudian langkah Arven terdengar pelan menuruni tangga menuju ruang tamu utama. Begitu sampai, ia langsung melihat seorang pria berusia sekitar empat puluhan duduk dengan tenang di sofa dengan setelan jas abu-abu, tas dokumen hitam dan dengan ekspresinya yang tampak profesional. Pria itu segera berdiri saat melihat Arven datang.

"Selamat malam."

Arven tidak membalas basa-basi. Malam ini ia sudah terlalu lelah untuk berpura-pura ramah.

"Siapa kau?"

Pria itu mengeluarkan kartu nama lalu menyerahkannya kepada Arven.

"Saya Aditya Prasetyo."

Arven mengambil kartu itu sekilas.

"Pengacara?"

"Benar."

Arven mengernyit.

"Apa tujuan kedatangan anda kemari?"

Pria itu membuka tas dokumennya lalu mengeluarkan sebuah map tebal berwarna cokelat dan terlihat resmi.

PERKENALAN TOKOH:

KANISHA RAYYA SHANIKA.

ARVEN MAHENDRA

SELENA

KANG JI HOON

1
Rain Aricia
Iya pak gasskan lagii, keluarkan semua biar mampus tuh bapak sama anak
Rain Aricia
Prettt, keluarga kau blg matamu lah keluarga
Rain Aricia
Mendadak apanya? Makanya tanyakan sama anak kesayanganmu itu
Rain Aricia
Coba pikir baik2
Rain Aricia
Iya bener, ngapain kasih dana ke org yg ga becus
Rain Aricia
Kanisha kalau sama bapaknya jadi kayak putri kecil kesayangan🥰
Rain Aricia
Lu mau ngeles kah nanti?
Noey Aprilia
Pdhl cma dngr crta hdpnya doang,tp udh ga sbr ya bang pgn ktmu....😁😁😁....
d jmin bkln jth cnta kl udh ktmu lngsng,scra kanisha cntk plus hebat bgt.....
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: pastinya kak😄
total 1 replies
Rain Aricia
Hahha mampus lu, biar bapakmu tau gmb sebenarnya kelakuan busukmu
Rain Aricia
Yah mampuslah kalian bangkrut
Rain Aricia
Oi pak, anakmu noh selingkuh sampe punya anak. Pecat aja lah dia itu
Rain Aricia
Hah? Statement dari mana itu kamu ambil? Harusnya kebalikannya anjai
Putri Sylvia
menyesal kan Lu sekarang ven
Putri Sylvia
atas dasar perselingkuhan kamu
Putri Sylvia
syukurin, orang lagi frustasi tapi masih bisa bisanya menggatal🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
salah besar kamu Arven kl berpikiran seperti itu
Putri Sylvia
musuh bebuyutan
Putri Sylvia
puas banget aku liat Arven digebukin pak Rendra/Doge/
Putri Sylvia
muak sama orangnya tapi doyan sama uangnya 🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
malu maluin aja anakmu pak damar/Yawn//Yawn//Yawn/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!