NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Ia Butuh Keajaiban

Ujung jari kaki Sumarni mendingin. Udara panas pendopo mendadak terasa menusuk pori-pori kulitnya. Bau parfum mawar bercampur keringat belasan tamu yang panik mengendap tebal di rongga hidung. Semua mata menatapnya layaknya seonggok daging pesakitan.

Sumarni memutar tubuhnya perlahan. Hak selopnya berderit tertahan di lantai teraso. Ia menatap lurus ke arah Sulastri yang berdiri gemetar di tengah ruangan. Istri pertama itu sedang memeluk dadanya sendiri, menampilkan raut wajah paling hancur sedunia.

"Apa maksud Mbakyu?" Suara Sumarni meluncur datar. Tidak ada getar ketakutan di nada suaranya.

Sulastri melangkah maju. Air mata buaya menetes turun merusak bedak tebal di pipinya. Ia menudingkan jari telunjuknya tepat ke wajah Sumarni.

"Jangan berpura-pura bodoh, Marni!" Suara Sulastri melengking tinggi memancing iba seluruh tamu. "Kamu masuk ke ruang makan utama tadi pagi. Kamu satu-satunya orang luar yang mendekati lorong kamarku. Sekarang berlian dan bros emas warisan keluarga Tjokro lenyap tak bersisa."

Bisik-bisik para istri saudagar makin riuh. Bu Harun mundur selangkah, menatap gaun Sumarni dengan pandangan curiga.

"Benar juga," bisik Bu Harun kepada Bu Tejo. "Perca sutra memang sampah, tapi benang jahit dan minyak pelumas mesin butuh uang. Jangan-jangan dia memang mengambil perhiasan itu untuk pamer."

Insting Sumarni menajam. Ia bisa membaca pola murahan ini dalam hitungan detik. Di kehidupan sebelumnya, ia membedah ratusan naskah drama dengan konflik serupa. Sulastri sengaja membuat skenario ini untuk membunuh reputasinya yang baru saja lahir.

Sumarni maju dua langkah. Ia mengabaikan tatapan sinis di sekelilingnya.

"Mbakyu menuduh saya mencuri?" Sumarni memiringkan kepalanya. "Hanya karena saya masuk ke ruang makan untuk mengambil jatah sarapan anak Mas Harjono yang kelaparan?"

Napas Sulastri tercekat sesaat. Wajahnya memerah teringat ancaman di meja makan pagi tadi. Namun ia segera menguasai diri.

"Itu hanya alasanmu saja!" Sulastri menepuk dadanya dengan gaya dramatis. "Kamu pasti dendam padaku. Kamu iri melihatku memakai perhiasan mahal setiap ada acara. Kamu ingin terlihat kaya di depan teman-temanku, kan?"

Ningsih yang masih bersimpuh di lantai ikut menangis terisak. Pelayan muda itu mengusap air matanya kasar.

"Tadi pagi saya lihat Ndoro Marni melirik ke arah lorong kamar Nyonya Besar. Saya berani sumpah." Ningsih bicara dengan suara bergetar ketakutan.

Dua serangan beruntun. Sulastri dan pelayannya bermain sangat rapi.

Sumarni tersenyum tipis. Ia melipat tangan di depan dada. Sorot matanya sedingin es menatap dua wanita itu.

"Ningsih," panggil Sumarni tajam. "Kamu lihat saya melirik lorong. Apa kamu lihat saya memutar kenop pintu kamar Nyonya Besar?"

Ningsih menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik panik ke arah Sulastri mencari bantuan.

"S-saya tidak lihat sampai sana, Ndoro. Tapi pintu kamar Nyonya Besar memang tidak pernah dikunci."

"Begitu," gumam Sumarni merespons cepat. Ia menoleh kembali pada Sulastri. "Pintu tidak dikunci. Pelayan berlalu lalang. Rumah sebesar ini penuh dengan orang luar sejak pagi, tapi Mbakyu langsung menunjuk wajah saya. Kenapa?"

"Karena kamu yang paling kelaparan di rumah ini!" teriak Sulastri kalap. "Siapa lagi yang butuh uang cepat selain kamu?"

Layar transparan biru berkedip liar di sudut mata Sumarni.

[Peringatan Sistem: Reputasi sosial pengguna sedang di ujung tanduk.]

[Selesaikan konflik ini untuk mengamankan pesanan gaun. Kegagalan berarti poin hangus.]

Sumarni tahu ia tidak boleh mundur. Jika ia menunjukkan celah kepanikan sedikit saja, ibu-ibu saudagar ini akan membatalkan pesanan mereka. Rencana kemandirian finansialnya akan mati sebelum tumbuh.

"Baik." Sumarni menurunkan tangannya. Postur tubuhnya tegak menantang seisi ruangan. "Jika Mbakyu begitu yakin saya pencurinya, silakan buktikan. Geledah paviliun saya sekarang juga."

Para tamu menahan napas. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Kipas cendana berhenti bergerak di semua tangan.

Sulastri tersenyum penuh kemenangan di balik isak tangisnya. Ia memang menunggu kalimat bodoh itu keluar dari mulut Sumarni.

"Kamu yang memintanya, Marni." Sulastri memberi isyarat tangan pada dua pelayan laki-laki di dekat pintu masuk. "Kalian berdua, pergi ke paviliun belakang. Obrak-abrik tempat itu sampai kalian menemukan kotak perhiasanku."

"Tunggu," potong Sumarni keras.

Langkah dua pelayan itu terhenti seketika. Sumarni menatap tajam menembus bola mata Sulastri.

"Silakan geledah sampai puas, Mbakyu. Tapi mari kita buat perjanjian di depan saksi-saksi terhormat ini." Sumarni merentangkan tangan kanannya ke arah para tamu arisan. "Jika perhiasan itu tidak ada di kamar saya, Mbakyu harus berlutut dan meminta maaf pada saya di pendopo ini juga."

Wajah Sulastri menegang kaku. Jemarinya mencengkeram ujung kebayanya kuat-kuat. Berlutut di depan istri muda yang selalu ia jadikan keset kaki? Itu penghinaan yang tak bisa ditoleransi akal sehatnya.

Namun, Sulastri yakin seratus persen rencananya sempurna. Ia sendiri yang menyuruh pelayan kepercayaannya menyelipkan kotak perhiasan itu ke dalam lemari baju Sumarni saat arisan sedang berlangsung. Rencana ini tidak mungkin meleset.

"Baik!" jawab Sulastri lantang menantang. "Tapi kalau barang itu terbukti ada di kamarmu, aku akan menyeretmu ke kantor polisi. Biar Mas Harjono tahu istri keduanya ini seorang maling kotor!"

Sumarni mengangguk pelan. "Sepakat."

Rombongan itu mulai bergerak seperti kawanan semut. Sulastri memimpin di barisan depan dengan angkuh. Ia diikuti para pelayan dan ibu-ibu arisan yang haus akan tontonan perkelahian keluarga. Hak sepatu mereka berderap kasar memecah kesunyian taman samping.

Sumarni berjalan paling belakang menjaga jarak aman. Wajahnya terlihat tenang, tapi otaknya berpacu melawan waktu.

Pola fitnah ini terlalu mudah ditebak. Barang curian pasti sudah disembunyikan di kamar korban saat korban sedang sibuk. Sumarni sadar betul, pintu paviliunnya tidak pernah punya gembok. Siapa pun bisa masuk saat ia sedang meladeni pameran gaun di pendopo tadi.

Jika pelayan Sulastri benar-benar membongkar lemarinya sekarang, barang itu pasti akan langsung ditemukan. Mulutnya tidak akan bisa membela diri lagi.

Keringat dingin menetes pelan dari pelipis Sumarni. Ia butuh lebih dari sekadar logika. Ia butuh keajaiban.

Jari Sumarni mengetuk paha berselimut sutra dengan ritme konstan. Ia memusatkan pikirannya, memanggil layar biru itu kembali.

"Sistem," bisik Sumarni pelan di tengah riuh suara langkah kaki. "Buka menu toko. Saya punya seratus tiga puluh poin."

Layar neon menyala terang di udara kosong. Deretan menu holografik bergulir cepat di depan pandangan Sumarni. Ada satu menu khusus yang berkedip merah di pojok kanan atas.

[Mode Detektif: Pemindai Jejak. Harga: 100 Poin.]

[Deskripsi: Memungkinkan pengguna melihat jejak langkah dan sidik jari termuda yang ditinggalkan dalam tiga jam terakhir.]

Ujung bibir Sumarni tertarik ke atas perlahan. Rasa puas mulai menjalari dadanya mengusir hawa dingin ketakutan.

Sulastri pikir uang dan kekuasaan mutlak bisa membeli segalanya di tahun delapan puluhan ini. Istri pertama itu tidak tahu, ia sedang berhadapan dengan lawan yang membawa senjata curang dari masa depan.

"Sistem," perintah Sumarni dalam hati. Matanya menatap tajam punggung Sulastri di depannya. "Tukar seratus poin. Aktifkan Pemindai Jejak sekarang juga."

1
Wiecipa Wicipha
suka..../Rose//Heart/
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!