NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ORANG - ORANG DI BUS BAJA

Malam turun perlahan, menyelimuti Jalan Tol Kematian dengan kepekatan yang pekat tanpa pendar bulan. Hanya gumpalan awan hitam tebal yang menggantung rendah, seolah mendominasi langit di atas dunia yang telah mati. Angin dingin berembus bebas di antara celah-celah deretan kendaraan berkarat, menciptakan suara siulan panjang yang terdengar pilu bagai sebuah ratapan.

Kelompok Damar memutuskan untuk mendirikan kamp darurat yang posisinya tidak terlalu jauh dari tempat Bus Baja parkir. Mereka jelas tidak cukup bodoh untuk langsung memercayai orang asing begitu saja, namun mereka juga cukup cerdas untuk tidak menyulut permusuhan dengan kelompok yang memiliki kendaraan lapis baja, persenjataan lengkap, serta pengalaman bertahan hidup yang matang.

Jarak sekitar seratus meter akhirnya disepakati untuk memisahkan kedua kubu. Jarak yang cukup dekat jika salah satu pihak membutuhkan bantuan darurat, sekaligus jarak yang cukup aman untuk saling melepaskan tembakan jika salah satu dari mereka berkhianat. Di dunia yang baru ini, pembatasan jarak seperti itu mungkin adalah definisi terbaik dari sebuah hubungan antarmanusia.

Damar mengambil posisi duduk di atas kap sebuah mobil sedan ringsek sembari menatap kosong ke arah nyala api unggun kecil. Keadaan di sekitarnya relatif tenang; Rania sudah terlelap di balik selimutnya, Yanto sibuk membersihkan sela-sela komponen senapannya, sementara Bayu berjaga di perimeter sisi barat. Di sudut lain, Kapten Rendra masih berdiri bergeming, mengawasi siluet Bus Baja dari kejauhan dengan tatapan waspada.

"Apa yang lagi lo pikirin, Mar?"

Suara Alya memecah lamunan Damar. Perempuan itu melangkah mendekat sembari membawa dua gelas kaleng yang mengepulkan aroma kopi instan hangat—salah satu dari sisa pasokan terakhir mereka.

Damar menerima salah satu gelas kaleng tersebut. "Thanks, Al."

Alya kemudian mengambil posisi duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam membisu, melemparkan pandangan ke arah pendar cahaya lampu samar yang merembes keluar dari balik celah baja Bus Baja.

"Menurut lo... orang-orang di bus itu beneran bisa dipercaya?" tanya Alya, menyuarakan keraguan yang sejak tadi mengganjal di benaknya.

Damar mengembuskan napas panjang, membiarkan uap tipis keluar dari bibirnya. "Gue udah lama berhenti menaruh rasa percaya sama orang lain."

Alya tersenyum hambar, menyesap kopinya sedikit. "Jawaban yang cukup diplomatis."

"Bukan diplomatis, Al. Itu jawaban yang realistis," sahut Damar datar.

Keheningan kembali menyergap di antara mereka. Setelah melewati sekian banyak penderitaan, rasa percaya memang telah menjelma menjadi barang langka yang mustahil ditemukan. Mereka sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana manusia bisa berubah menjadi monster yang jauh lebih mengerikan, bahkan sebelum tubuh mereka terinfeksi oleh virus.

Namun entah mengapa, kelompok di dalam Bus Baja itu menyisakan kesan yang berbeda. Mereka memang keras dan penuh kewaspadaan, tetapi gelagat mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai komplotan perampok atau pembunuh berdarah dingin. Meski begitu, Damar tetap mengunci rapat dinding pertahanannya. Di dunia yang sakit ini, orang yang paling berbahaya sering kali adalah mereka yang penampilannya terlihat paling masuk akal.

Sementara itu, jauh di dalam lambung Bus Baja yang temaram.

Seseorang tengah berdiri tegak di balik jendela sempit yang terlindung pelat baja tebal. Dari balik celah itu, sepasang matanya menatap lurus ke arah kamp darurat, terkunci mati pada sosok Damar yang duduk di dekat api unggun. Pria itu bergeming bagai patung; tidak bergerak, tidak bersuara, hanya terus mengamati dengan tatapan yang sulit diartikan.

Rambutnya kini tampak lebih panjang dan berantakan, sementara janggut tipis mulai tumbuh liar menutupi garis rahangnya yang tegas. Sebuah bekas luka kecil tampak menghiasi pipinya, melengkapi penampilannya yang kini terlihat jauh lebih kurus namun sekaligus tampak lebih keras—seperti sepotong besi yang telah ditempa berulang kali di dalam nyala api.

"Akhirnya ketemu juga orang yang lo cari."

Suara berat Jaka mendadak terdengar dari arah belakang, memecah keheningan interior bus. Pria berjaket militer itu sama sekali tidak menolehkan kepalanya. "Delapan bulan," sahutnya pendek dengan suara serak.

Jaka melangkah maju, menyandarkan bobot tubuhnya ke dinding bus sembari ikut melirik ke luar jendela. "Lo beneran yakin kalau cowok di dekat api unggun itu orangnya?"

Pria itu mengangguk pelan sekali, tatapannya seolah menolak untuk lepas dari figur Damar. "Iya. Gak salah lagi."

Jaka menyunggingkan senyum tipis, menepuk bahu pria tersebut. "Terus kenapa gak langsung lo samperin aja dari kemarin? Malah milih ngumpet di sini."

Pria itu terdiam untuk waktu yang cukup lama. Matanya menyiratkan pergolakan batin yang hebat, hingga akhirnya ia membuka suara dengan nada rendah yang nyaris berbisik. "Gue cuma pengen memastikan."

"Memastikan apa?" tanya Jaka heran.

Bahu pria itu bergerak pelan, seulas napas berat lolos dari hidungnya. "Memastikan... kalau dia beneran masih bernapas di dunia ini."

Pagi hari tiba bersama hamparan langit yang sewarna semen kelabu. Namun, belum lama matahari merayap naik, sebuah kegemparan masif mendadak pecah di kubu Bus Baja. Suara teriakan histeris yang saling bersahutan spontan menyentak bangun hampir semua orang yang berada di kamp darurat.

Damar langsung melompat berdiri, meski Kapten Rendra terbukti bergerak jauh lebih cepat ke arah perimeter. "Ada apa di sana?!" seru Rendra saat melihat Jaka berjalan cepat menghampiri mereka dengan raut wajah yang luar biasa serius.

"Kami kehilangan salah satu tim pengintai," jawab Jaka tanpa basa-basi, membuat atmosfer di tempat itu seketika berubah tegang.

"Kapan kejadiannya?" cecar Rendra.

"Tadi malam, pas jadwal jaga terakhir," sahut Jaka sembari melemparkan sebuah benda ke atas permukaan aspal tol yang kotor.

Benda itu adalah sebuah radio genggam (*handy talky*). Kondisinya sudah hancur meranggas, berlumuran darah segar yang mulai mengering, dan yang paling mengerikan adalah keberadaan beberapa bekas garukan cakar yang sangat panjang hingga berhasil menembus lapisan bodi logamnya.

Yanto melangkah maju, membungkuk untuk memungut perangkat rusak tersebut. Begitu mengamati polanya, warna kulit di wajah pria tua itu langsung pias seketika. "Ini... ini jelas bukan bekas cakar dari *infected* biasa."

"Tepat," Jaka mengangguk kelam. "Tim pencari gue nemuin benda ini sekitar dua kilometer dari posisi kita sekarang."

Keheningan seketika menyelimuti seluruh kelompok. Ingatan mereka mendadak terlempar kembali pada bait-bait peringatan misterius dari siaran radio beberapa malam lalu. Tentang kemunculan varian mutasi baru. Tentang makhluk bernama 'Pengintai'. Sesuatu yang cerdas, yang saat ini tengah merayap di bawah tanah Sektor Selatan.

"Orang lo... mati?" tanya Alya dengan suara bergetar.

Jaka tidak memberikan jawaban verbal. Namun, seulas helaan napas berat dan kebungkamannya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan takdir tragis yang menimpa anak buahnya.

Menjelang siang, rombongan gabungan itu kembali melanjutkan pergerakan. Bus Baja yang perkasa mengambil posisi di garda depan sebagai pembuka jalan, sementara kelompok Damar mengekor dengan saksama di barisan belakang.

Kondisi Jalan Tol Kematian terbukti kian hancur di bagian dalam. Di beberapa titik, struktur aspalnya bahkan sudah amblas total ke bawah, menciptakan labirin bangkai kendaraan yang memaksa mereka untuk turun dan berjalan kaki membelah rongsokan besi.

Tepat di waktu tengah hari, pergerakan mereka tertahan di sebuah area yang tampaknya merupakan bekas pos pemeriksaan militer tua. Pagar kawat berduri di sekelilingnya telah koyak tak berbentuk, menara pengawas dari kayu roboh melintang di tengah jalan, dan dinding-dinding beton tampak dipenuhi oleh bekas hantaman peluru serta bercak darah kering yang menghitam.

Namun, ada satu detail ganjil yang langsung memicu ketidaknyamanan. "Ini gak normal," gumam Bayu sembari menyapu pandangannya ke sekeliling pos. "Kalau di tempat ini pernah terjadi pertempuran sekolosal ini, harusnya ada tumpukan mayat atau minimal tulang belulang yang tersisa. Tapi di sini... bersih. Gak ada satu pun."

Kapten Rendra mengangguk pelan, wajahnya tampak makin berkerut. "Itu dia yang bikin gue khawatir. Tempat ini kelihatan kayak lokasi pembantaian, tapi semua korbannya seolah lenyap menguap." Rendra kemudian menoleh ke arah anggotanya, "Periksa area sekitar. Tetap siaga."

Mendapat perintah, semua orang segera berpencar secara taktis. Damar melangkah perlahan menuju salah satu bangunan pos jaga kecil yang berada di dekat barikade pagar barat. Ruangan di dalam bangunan itu tampak gelap, pengap, penuh debu, dan diliputi kesunyian yang mati.

Damar melangkah super hati-hati sembari menyandarkan popor senapan ke bahunya, menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan siaga. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Namun, tepat saat ia hendak berbalik—

*KLIK.*

Suara mekanisme pelatuk pistol yang ditarik tepat di belakang kepalanya seketika membuat darah Damar membeku. Sensasi dingin dari moncong senjata yang menempel di tengkuknya membuat seluruh otot tubuhnya menegang hebat. Namun, sebelum ia sempat melakukan gerakan refleks untuk menghindar—

"Refleks lo masih sedapat dulu, Mar. Jelek."

Damar mematung di tempat, napasnya tertahan di tenggorokan. Suara barusan... tidak mungkin. Logikanya menolak percaya. Dengan gerakan super pelan, ia memutar tubuhnya ke belakang. Dan detik itu juga, dunia di sekitar Damar seolah runtuh dan berhenti berputar.

Sosok pria yang berdiri di hadapannya kini tampak sangat berbeda dari lembaran memori yang ia simpan. Tubuhnya jauh lebih kurus namun tegap, garis wajahnya mengeras matang, dan dipenuhi oleh guratan bekas luka. Sepasang mata yang dulu selalu memancarkan candaan jenaka kini berubah menjadi sepasang kornea yang dingin dan tajam bak bilah baja. Namun, Damar tidak mungkin salah mengenali struktur wajah itu.

"...Rendy?" getar Damar, suaranya nyaris habis.

Pria di depannya perlahan menurunkan todongan pistol, lalu menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Masih punya nyawa juga ternyata lo, Mar."

Damar bergeming, otaknya seakan lumpuh dan gagal memproses realitas di depannya. Dalam sekejap mata, bendungan memorinya jebol, memuntahkan kilasan masa lalu sekaligus: Hari pertama wabah meledak di kota, momen menegangkan saat mereka mendobrak pintu kamar kos, kekacauan massal di gerbang Kamp Harapan, suara ledakan, jeritan histeris, hingga gelombang kerumunan manusia yang saling sikut yang akhirnya memisahkan mereka berdua delapan bulan lalu.

"Anjing..." umpat Damar dengan suara parau yang bergetar menahan luapan emosi. "Gue beneran kira lo udah mampus dari dulu, Ren."

Rendy melepaskan tawa pendek yang terdengar sangat pahit di telinga Damar. "Di dunia yang udah gila kayak sekarang, Mar... bertahan hidup itu kadang rasanya jauh lebih buruk ketimbang mati."

Untuk beberapa saat, keheningan yang pekat kembali mengunci ruangan pos jaga itu. Damar hanya bisa menatap sahabat lamanya dengan pandangan campur aduk, sebelum akhirnya ia melangkah maju dan mendaratkan satu pukulan keras di bahu Rendy. "Idiot lo!"

Rendy menyeringai, menahan hantaman tersebut dengan tubuhnya yang sekeras batu. "Masih galak ternyata lo, gak berubah."

Meskipun Rendy mencoba membalas dengan nada bergurau, Damar tidak buta. Ia bisa melihat ada sesuatu yang gelap dan rusak di dalam diri sahabat lamanya itu. Sesuatu yang meninggalkan rasa tidak nyaman di rongga dada Damar.

Sore menjelang ketika mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara berdua tanpa gangguan. Mereka memilih duduk di atas sisa reruntuhan atap beton pos pemeriksaan yang amblas, memandangi hamparan lautan kendaraan mati yang membentang luas hingga menyentuh garis cakrawala. Untuk sesaat, keduanya hanya diam, mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa orang yang selama ini mereka tangisi ternyata masih bernapas.

"Lo... sempat nyariin gue pas Kamp Harapan jatuh hari itu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Damar, memecah kesunyian sore.

Rendy tidak langsung menjawab. Ia melemparkan pandangannya jauh ke depan untuk waktu yang sangat lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Nyari."

Damar menolehkan kepalanya, menatap profil samping wajah Rendy. Pria itu melepaskan tawa hambar yang terdengar getir. "Gue sempat balik ke barikade gerbang timur."

"Berapa kali lo balik?"

"Dua kali," sahut Rendy datar. "Tiga hari penuh gue muter-muter gak jelas di sekitar reruntuhan kamp itu. Tiga hari gue nekat nyari lo, nyari orang-orang yang gue kenal." Ia berhenti sejenak, rahangnya tampak mengeras. "Tapi yang gue temuin di sana cuma tumpukan mayat yang mulai membusuk."

Angin sore kembali berembus melewati mereka, membawa kesunyian yang terasa kian menghimpit dada.

"Sampai akhirnya di hari keempat, gue sadar satu hal," lanjut Rendy, nadanya kini berubah dingin tanpa emosi.

"Apa?"

Rendy menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang terasa asing bagi Damar. "Gue sadar kalau di dunia ini, satu-satunya orang yang bakal bergerak buat nyelametin nyawa gue... ya cuma diri gue sendiri."

Damar terpegun, kehilangan kata-kata. Ia tahu persis kalimat itu tidak lahir dari keputusasaan emosional yang dangkal, melainkan dari sebuah pengalaman pahit yang telah menguliti kemanusiaan sahabatnya.

"Apa yang terjadi sama lo setelah hari itu, Ren?" tanya Damar lagi.

Rendy menghela napas pendek. "Banyak hal gila. Lima bulan pertama setelah kamp hancur, gue sempat gabung sama tiga kelompok survivor yang berbeda."

"Terus kelompok-kelompok itu sekarang gimana? Hancur?"

Rendy melepaskan tawa pendek yang terdengar mengerikan di telinga Damar. "Yo-i, hancur lebur."

"Karena diserang *infected*?"

Tawa Rendy langsung lenyap, digantikan oleh sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin. "Bukan. Sama sekali bukan karena monster-monster itu." Pria itu menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan, "Kelompok pertama hancur karena anggotanya saling gorok leher cuma demi berebut sisa makanan. Kelompok kedua hancur karena para petingginya tega ngejual anggota yang sakit dan lemah ke kelompok penjarah. Dan kelompok ketiga... mereka berubah jadi kawanan kriminal yang kerjaannya ngerampok dan ngebantai survivor mandiri."

Keheningan kembali turun, terasa lebih pekat dari sebelumnya.

"Gue udah pernah ngelihat dengan mata kepala gue sendiri, Mar... gimana seorang bapak tega ngebunuh anak orang lain cuma demi sebotol air bersih. Gue udah pernah ngelihat orang dengan ringannya ngejual nyawa temen dekatnya sendiri demi amunisi. Gue bahkan pernah ngelihat satu kamp pengungsian habis dibantai bukan sama gerombolan *infected*, tapi sama kelompok survivor lain yang kelaparan."

Damar merasakan tenggorokannya mendadak kering kerontang. Penuturan Rendy terdengar terlalu jujur dan nyata untuk dianggap sebagai bualan belaka.

"Lo tahu apa kesimpulan yang gue dapet dari semua kegilaan itu, Mar?" tanya Rendy lurus menatap sepasang mata Damar.

"Apa?"

"Gak ada yang namanya tempat aman di dunia ini. Selesai."

Kalimat yang meluncur begitu sederhana, namun bobot kengerian yang dibawanya terasa jauh lebih meneror ketimbang jenis monster mana pun yang ada di bumi.

Menjelang malam, rombongan gabungan itu kembali berkumpul di area tengah pos. Atmosfer di sekitar tempat itu relatif tenang, hingga tiba-tiba sebuah teriakan histeris memecah kegelapan dari arah kejauhan.

"Tolong! Tolongin gue, please!"

Seketika semua orang langsung melompat berdiri dengan senjata terkokang. Dari arah semak-semak pembatas tol sisi timur, tampak seorang pria berlari tertatih-tatih dengan langkah gontai. Seluruh pakaiannya koyak berlumuran darah segar, dan wajahnya tampak pucat pasi dikejar ketakutan. "Please! Tolongin gue!"

Alya yang melihat hal itu refleks melangkah maju hendak menghampiri. "Dia terluka parah! Kita harus—"

*DOR!!!*

Satu dentuman keras memotong kalimat Alya sekaligus membelah sunyinya malam. Tubuh pria malang yang tengah berlari itu seketika roboh ke atas aspal dengan kepala yang bolong. Tewas seketika.

Situasi langsung membeku. Semua orang melongo shock. Alya memutar tubuhnya dengan kemarahan yang meledak-ledak ke arah sang penembak. "APA-APAAN YANG LO LAKUIN, HAH?! DIA MANUSIA!"

Rendy berdiri dengan tenang beberapa meter di belakang Alya, perlahan menurunkan asap yang mengepul dari moncong pistolnya. Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun—sangat datar dan tenang. Pria itu melangkah santai mendekati mayat yang baru saja ia eksekusi, lalu mendaratkan satu tendangan keras di rusuknya.

*KREKKK.*

Detik berikutnya, tubuh pria yang sudah mati itu mendadak mengalami kejang hebat secara tidak wajar. Sebuah geraman parau yang mengerikan keluar dari tenggorokannya, disusul oleh sepasang kornea matanya yang mendadak berbalik memutih sepenuhnya. Proses mutasi virus telah mencapai tahap akhir.

Semua orang yang menyemburkan kemarahan tadi mendadak mengunci mulut rapat-rapat. Rania yang ketakutan langsung menjerit kecil dan menyembunyikan wajahnya di balik pelukan Alya.

Rendy menyapu pandangannya ke arah anggota kelompok satu per satu, sebelum akhirnya tatapannya tertambat pada Rania. "Kalau gue telat narik pelatuk sepuluh detik aja tadi," ucap Rendy dengan nada dingin, "Bocah itu yang bakal pertama kali dikunyah sama dia."

Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membantah ucapan Rendy, karena realitas di depan kaki mereka telah membuktikan kebenarannya. Namun, justru fakta itulah yang membuat sosok Rendy terasa mengerikan sekarang. Pria itu memang masih menyelamatkan orang lain, hanya saja metoda dan cara yang ia gunakan telah kehilangan sisa-sisa empati kemanusiaan.

Beberapa jam berlalu pasca-insiden tersebut. Di tengah keheningan malam yang kian pekat, salah seorang penembak jitu dari atas dek Bus Baja tiba-tiba berteriak lantang, "Kontak di depan! Jam dua belas!"

Bagaikan alarm mekanis, seluruh rombongan langsung mengambil posisi siaga dengan moncong senjata yang terarah lurus ke depan. Damar dengan cepat membidikkan senapannya, menyisir area yang ditunjuk di antara rongsokan kendaraan.

Awalnya, indra penglihatannya tidak menangkap apa pun selain bayangan hitam objek mati. Namun kemudian, matanya terpaku pada sebuah siluet ganjil.

Sesosok makhluk tampak tengah berdiri tegak di atas atap sebuah truk fuso yang terbalik, berjarak sekitar dua ratus meter dari posisi mereka. Proporsi anatomi makhluk itu benar-benar mengacaukan logika: tubuhnya tinggi menjulang namun kurus kering, kulitnya berwarna pucat keabu-abuan bagai mayat, dan kedua lengannya menjuntai panjang melewati lutut.

Namun yang membuat bulu kuduk Damar berdiri adalah sepasang matanya. Mata makhluk itu tidak memancarkan kekosongan liar; sepasang kornea itu tampak menatap lurus ke arah mereka dengan sorot yang penuh perhitungan. Seolah-olah... makhluk itu memiliki kesadaran kognitif dan sedang berpikir.

"Itu... makhluk 'Pengintai'..." bisik salah satu kru Bus Baja dengan suara yang bergetar menahan ngeri.

Makhluk pucat itu tetap bergeming di atas truk, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian sembari terus mengawasi, mempelajari formasi, dan merekam setiap pergerakan kelompok. Dan kemudian, sebuah pemandangan gila terjadi: sudut bibir makhluk itu perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman lebar—sebuah ekspresi emosi manusiawi yang seharusnya mustahil dimiliki oleh sesosok mayat berjalan.

"Anjing..." umpat Kapten Rendra pelan, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

*DOR!!!*

Tanpa menunggu aba-aba atau membuang waktu untuk merasa heran, Rendy melepaskan satu tembakan tegas. Namun, tepat di milidetik sebelum proyektil peluru menghantam kepala target, si Pengintai sudah bergerak melompat turun. Gerakannya luar biasa cepat dan tidak masuk akal, berpindah di antara sela-sela rongsokan mobil sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya dari pandangan.

Dalam sekejap mata, makhluk itu menguap begitu saja, seolah-olah keberadaannya sejak awal hanyalah ilusi optik yang lewat.

Keheningan yang mencekam kembali menyergap seluruh area jalan tol. Tidak ada satu pun yang berani bersuara atau menurunkan senjata mereka, hingga akhirnya Rendy memecah kesunyian sembari menarik tuas pengokang senapannya.

"Kalau kalian udah sempat ngelihat satu ekor Pengintai menampakkan diri kayak tadi," ucap Rendy, matanya menatap tajam ke kegelapan di depan, "Itu artinya... makhluk itu udah ngelihatin dan mempelajari kalian dari jauh sebelum kalian sadar kalau kalian lagi diintai."

Kalimat Rendy sukses menjatuhkan mental semua orang ke titik terendah. Karena kini mereka sadar apa arti dari ucapan tersebut: Mereka semua saat ini tengah menempati posisi sebagai pihak yang diburu. Dan bagian terbaiknya? Mereka bahkan tidak tahu ada berapa banyak pasang mata pucat yang sedang mengawasi mereka dari balik pekatnya kegelapan malam.

Damar terus menatap kosong ke arah atap truk tempat si Pengintai sempat berdiri tadi, sebelum akhirnya melirik ke arah Rendy yang berdiri tidak jauh darinya.

Sahabat lamanya memang berhasil kembali dari kematian. Namun, dunia yang brutal ini telah menempanya menjadi sesosok figur asing yang hampir tidak ia kenali lagi. Rendy yang sekarang memang masih memiliki hati, masih mau bergerak untuk menolong, dan masih peduli pada keselamatan orang lain. Namun di saat yang sama, ia tidak akan pernah ragu untuk mengeksekusi tindakan paling brutal dan berdarah jika situasi menuntutnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dipertemukan kembali oleh takdir, sebuah pertanyaan ganjil mulai merayap di benak Damar: Apakah Rendy berubah menjadi dingin karena dunia ini yang terlalu kejam... ataukah justru ia berhasil bertahan hidup sejauh ini justru karena ia bersedia meruntuhkan sisa kemanusiaannya dan berubah menjadi seperti itu?

Sementara itu, jauh di dalam kegelapan Sektor Selatan yang pekat, sepasang mata pucat lain tampak kembali terbuka, bergerak statis mengawasi setiap langkah mereka. Menunggu momen yang tepat, mempelajari kebiasaan, dan bersiap untuk bergerak menyerang.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!