NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riuh yang Asing

Saat penat dan sakit kepala yang mendera Arsen malam itu perlahan membawanya hanyut ke dalam keheningan tidur yang dipaksakan, atmosfer yang berbanding terbalik justru sedang tercipta di kediaman utama keluarga besar Wijaya.

Di sana, waktu seolah bergerak dengan cara yang jauh lebih bising, hangat, dan penuh warna. Lampu kristal gantung memantulkan cahaya keemasan, menyinari ruangan yang dipenuhi gelak tawa.

"Kena kamu, Kak Axel! Ayo gantian jaga! Jangan curang, ya!"

Lengkingan suara cempreng milik Sophie, sepupu perempuannya yang berusia sepuluh tahun, memecah keheningan koridor lantai dua yang megah itu.

Sophie berdiri berkicak pinggang setelah menyingkap gorden beludru besar di sana. Axel, yang bersembunyi di balik kain tebal itu, hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh.

"Ah, kalian berisik. Aku bosan, main sendiri sana," gerutu Axel pendek.

Ia berjalan keluar dengan gaya santai, memasukkan kedua tangan ke saku celana jinsnya.

Di sudut koridor, Elio, malah tertawa terpingkal-pingkal bersama Noah, sepupu mereka yang baru berusia enam tahun.

"Hahaha! Lagian Kak Axel sembunyinya di situ, ujung sepatunya kelihatan tahu!" ledek Elio riang.

Axel tidak membalas. Ia berjalan menjauh menuju pembatas lantai dua yang menghadap langsung ke ruang keluarga di bawah.

Di dekat meja belajar, Lucas, yang usianya tiga tahun lebih tua dari Axel, hanya tersenyum tenang memandangi sepupu-sepupunya.

Dari ketinggian itu, Axel mengamati kesibukan orang-orang dewasa dengan tatapan mata yang datar dan dingin—sangat mirip dengan milik ayahnya.

Di bawah sana, tampak Genevieve, Laurent, Adrien, Helena, Aurelienne, dan Rangga sedang berkumpul bersama.

Genevieve dan Laurent adalah Oma dan Opa mereka, pemilik rumah utama yang selalu menyambut cucu-cucunya dengan tangan terbuka.

Di dekat mereka, Adrien—kakak kandung Arsen—sedang bersantai di sofa sembari menyesap kopi hitamnya ditemani sang istri, Helena, yang tampil anggun membantu menata meja.

Sementara di sofa seberang, Aurelienne, adik bungsu Arsen yang manja, sedang asyik menimang bayinya, Elara, didampingi suaminya, Rangga.

"Axel, Elio, sini turun sayang. Makan kuenya dulu, Oma baru angkat dari oven," panggil Genevieve, wanita paruh baya keturunan ningrat yang selalu menjadi oase hangat bagi Axel dan Elio.

Mendengar kata kue, Elio langsung melesat menuruni anak tangga marmer dengan riang. "Wah, kue sus cokelat! Elio mau, Oma!"

"Eh, pelan-pelan turun tangganya, Elio," tegur Tante Helena cemas.

Axel menyusul di belakang adiknya dengan langkah lambat. Di bawah, ia mengambil satu kue sus, lalu mengunyahnya dalam diam di sudut ruangan dekat bufet kayu.

"Terima kasih, Oma," ucap Axel formal.

"Sama-sama, jagoan Oma. Dimakan yang banyak, ya," balas Genevieve sembari mengusap kepala kedua cucunya bergantian.

"Wah, enak banget, Oma! Cokelatnya lumer!" puji Elio dengan sudut lipat bibir belepotan krim.

"Pelan-pelan makannya, El. Tuh lihat, sampai hidungmu ikutan makan cokelat," kelakar Adrien yang ikut bergabung ke meja makan, memicu tawa renyah Sophie dan Noah yang baru turun.

Axel hanya memperhatikan semua keriuhan itu bersedekap dada. Rasa asing selalu merayap di dadanya setiap melihat interaksi anak dan orang tua yang begitu normal di sini.

Berbeda dengan kakaknya yang memilih abai, Elio tiba-tiba menurunkan kuenya. Mata bulat bocah itu menatap kursi kosong di sebelah Laurent yang malam itu tampak sengaja dikosongkan. Elio menarik pelan ujung daster brokat sang Oma. "Oma..."

Genevieve menunduk lembut. "Iya, sayang? Kenapa? Kuenya kurang manis, ya?"

"Papa... enggak ke sini lagi ya malam ini?" tanya Elio dengan suara polos yang seketika memotong tawa di ruangan itu. "Elio kangen Papa."

Atmosfer hangat di ruangan tersebut mendadak menguap. Tawa Adrien terhenti, berganti helaan napas berat.

Helena seketika bungkam.

Di sudut ruangan, Laurent memilih memalingkan wajah ke arah jendela luar.

Axel sendiri hanya mendengus sangat tipis, langsung memalingkan mukanya ke arah lain.

"Tuh, kan. Apa aku bilang," gumam Aurelienne kesal setengah berbisik. Ia menepuk punggung bayi Elara dengan gerakan agak menghentak akibat emosi. "Kak Arsen itu memang keterlaluan, selalu mementingkan pekerjaannya sendiri."

"Sudah, Lien. Jangan bicara begitu di depan anak-anak," tegur Rangga dengan suara baritonnya yang kalem, mencoba menenangkan situasi.

"Tapi Mas, ini sudah keterlaluan! Masa tidak ada waktu satu jam saja untuk menghabiskan weekend dengan darah dagingnya sendiri?" sahut Aurelienne tidak mau kalah, membuat Genevieve langsung memberikan tatapan menegur yang tajam.

Helena segera merespons cepat agar mental Elio tidak terganggu. Ia bangkit dan memegang pundak Elio. "Elio sayang, main kereta api besar di taman belakang yuk sama Noah dan Sophie? Oma baru belikan mainan baru loh."

"Wah, kereta api besar? Ayo, Elio!" seru Noah riang, langsung menarik tangan Elio menuju pintu kaca belakang.

"Iya, Tante..." jawab Elio pasrah, membiarkan dirinya dituntun pergi meskipun matanya sempat melirik kursi kosong milik ayahnya.

Begitu anak-anak dipastikan menjauh, barulah obrolan serius di antara orang dewasa itu pecah bebas.

Axel, yang melihat adiknya sudah aman di luar, perlahan mundur. Ia berpura-pura berjalan ke lantai atas, lalu berjongkok di balik pilar marmer besar yang gelap untuk mendengarkan dalam diam.

"Sampai kapan kak Arsen mau bersikap sekaku ini, Ma?" suara Tante Aurelienne terdengar mengalun tajam di bawah sana. "Ini sudah bertahun-tahun! Dia mengurung diri dari acara keluarga, dan sekarang... bahkan anak-anaknya sendiri dia telantarkan secara mental! Rumah mereka itu sudah seperti kuburan es!"

"Aurelienne, jaga bicaramu. Arsen mencukupi semua kebutuhan fisik mereka tanpa kekurangan satu sen pun," potong Adrien dengan suara berat, mencoba tetap objektif.

"Mencukupi dengan uang maksud kak Adrien?!" balas Aurelienne sengit. "Kaklihat sendiri bagaimana kondisi mereka! Elio selalu mengemis perhatian karena haus kasih sayang, dan Axel... anak itu baru masuk SMP tapi tumbuh menjadi teramat dingin dan suka memberontak di sekolah karena meniru ayahnya!"

Genevieve menghela napas panjang, bersandarkan letih pada bantalan sofa beludru. "Adrien benar, Lien. Sifat kaku kakakmu itu tidak bisa kita paksa runtuh begitu saja. Luka di hati Arsen itu terlalu besar sampai dia menutup rapat seluruh akses dan tidak percaya lagi pada kata keluarga."

"Tapi dia sedang menghukum orang yang salah, Ma," sahut Rangga tenang, ikut berpendapat. "Axel dan Elio itu korban. Kalau Arsen terus memperlakukan anak-anaknya seperti pajangan rumah, hubungan mereka bisa rusak permanen saat anak-anak itu dewasa nanti."

"Mama sudah berulang kali mencoba bicara padanya," bisik Genevieve dengan suara bergetar menahan rona kesedihan. "Mama memohon agar dia mengizinkan Axel dan Elio tinggal di sini saja. Tapi Arsen menolak mentah-mentah. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa berdiri sendiri, menjadi CEO sukses dan dosen di kampus, tanpa butuh bantuan siapa pun."

"Dia sukses besar, Ma. Semua orang segan padanya," potong Adrien sambil menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin. "Tapi aslinya, dalamnya kosong. Arsen memiliki segalanya yang diinginkan orang di dunia ini... tapi dia kehilangan rasanya sendiri."

Di atas sana, di balik bayang-bayang gelap pilar lantai dua, Axel mendengarkan kalimat omnya dengan rahang mengeras rapat. Tangannya di dalam saku celana mengepal amat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Namun, tidak ada air mata yang jatuh di pipi anak berusia dua belas tahun itu. Kalimat-kalimat dari keluarganya tidak memicu rasa sedih, melainkan letupan rasa sinis yang kian membakar dadanya.

Sejak lama, Axel sudah selesai dengan yang namanya berharap. Ia sudah memilih untuk bersikap cuek dan mematikan seluruh ekspektasinya terhadap sosok bernama Arsen itu.

Di mata Axel, pria itu hanyalah orang asing bertubuh tinggi besar berwajah sekaku patung es yang kebetulan membiarkannya menumpang hidup di rumah mewah yang mati.

Axel perlahan menegakkan tubuhnya, lalu berbalik melangkah menuju kamar tidurnya dengan langkah tak bersuara.

Biarlah adiknya, Elio, tetap tenggelam dalam kepolosan masa kecilnya yang berharap Papa akan datang menjemput.

Sementara dirinya sendiri sudah menutup buku itu rapat-rapat. Besok akhir pekan akan berakhir, mereka harus kembali ke rumah mati mereka, dan Axel tahu betul bahwa ia harus terus mengeras—menjadi perisai yang kokoh untuk melindungi adiknya sendiri.

1
Ulfatut Tho'ah
nangis bombai banget bab ini 😢😢😢🥹🥹🥹😭😭😭
rokhatii: doakan terus Alana supaya bisa hidup lebih damai
total 1 replies
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!