Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Panah Sagitarius dan Gema Kemenangan Pertama
Matahari bersinar terik, seolah-olah ikut bersemangat menyaksikan hari yang telah dinantikan oleh seluruh penghuni daratan.
Lapangan besar Akademi Langit Biru telah disulap menjadi arena megah dengan bendera-bendera yang berkibar tertiup angin gunung. Ribuan murid, mulai dari murid luar hingga murid inti, memenuhi tribun, menciptakan gelombang sorak-sorai yang menggetarkan fondasi bangunan di sekitarnya.
Di panggung kehormatan, Dekan berdiri dengan jubah kebesarannya yang berwarna biru langit, memancarkan wibawa seorang pemimpin besar. Ia melangkah maju, dan seketika itu juga, kebisingan ribuan orang mereda menjadi kesunyian yang penuh hormat.
"Hari ini, kita tidak hanya berkumpul untuk bertanding, tetapi untuk mempererat tali persaudaraan antara Timur dan Barat," suara Dekan menggema, diperkuat oleh energi batin yang jernih. "Kepada para tamu dari Akademi Saint-Aurelius, pintu kami terbuka lebar. Mari kita tunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang siapa yang berdiri terakhir, tetapi tentang semangat yang tak pernah padam!"
Wakil Dekan, yang berdiri di sampingnya, melangkah maju. Tanpa sepatah kata pun, ia menyatukan tangannya, membentuk segel rumit. "Formasi Naga Langit!"
Seketika, energi biru yang masif keluar dari tubuhnya, membentuk seekor naga air raksasa yang meliuk-liuk di atas arena.
Tekanan energinya menunjukkan bahwa ia telah mencapai ranah Master Tingkat 6 Awal. Naga itu terbang ke angkasa, meledak menjadi ribuan kembang api berwarna-warni yang menari di siang bolong. Penonton bersorak histeris; itu adalah pertunjukan kekuatan yang luar biasa.
"Dan sekarang," suara Dekan kembali terdengar, "Sambutlah perwakilan dari Akademi Saint-Aurelius!"
Dari sisi gerbang barat, muncul seorang ksatria yang menunggangi kuda putih bertanduk perak yang gagah—Sleipnir. Itu adalah Sir Alaric, sang ketua tim dengan aura Master Tingkat 4 Akhir yang tenang namun mematikan. Di belakangnya mengikuti Garrick, pria kekar dengan pedang besar dan perisai baja yang menutupi separuh tubuhnya.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah seorang wanita berpakaian perpaduan biru dan putih. Ia membawa dua pedang melengkung yang berkilauan. Wajahnya yang dulu lesu kini tampak sangat cantik, bersinar di bawah terik matahari, mendapatkan julukan Sang Gadis Rembulan. Dialah Yan Er, wanita yang mengabdikan dirinya sebagai istri Yu Fan setelah duel di pasar malam.
Anggota lainnya adalah Seraphina, penyihir wanita berambut merah yang menggenggam tongkat kristal, dan Caelum, seorang pemanah laki-laki dengan tubuh ramping, mata yang tajam seperti elang, dan busur perak yang dihiasi ukiran kuno.
Sir Alaric membungkuk hormat dari atas kudanya. "Terima kasih atas sambutan yang megah ini, Dekan. Kami datang membawa kehormatan Barat, dan kami berharap pertandingan ini akan menjadi legenda bagi kita semua."
Penonton berbisik-bisik, heran melihat Yan Er yang jelas-jelas berasal dari Timur berada di barisan ksatria Barat. Namun, suasana semakin memanas saat Dekan memanggil perwakilan tuan rumah.
"Dan inilah perwakilan kita! Senior Han! Mo Han! Lin Xueru! Fa Hai! Dan... Yu Fan!"
Begitu nama Yu Fan disebut, di tribun VIP, Putri Yuexin melompat dari kursinya. "YU FAAAAANNN!!! HABISI MEREKA! JANGAN BERANI-BERANI KAU KALAH ATAU KAU AKAN KUCINCANG!!!" teriaknya dengan suara yang menembus hiruk-pikuk penonton.
Yu Fan berjalan masuk dengan tenang, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sosok Yan Er di seberang sana. Ia benar-benar terkejut melihat wanita itu kini menjadi bagian dari akademi lawan. Yan Er menatap Yu Fan, lalu tanpa mempedulikan tatapan orang banyak, ia berjalan menghampiri Yu Fan.
Ia memberikan salam hormat ala praktisi Timur yang anggun. "Suamiku... tidak kusangka kita akan bertemu secepat ini di medan laga."
Suasana mendadak hening. Di tribun, Yuexin yang tadinya bersorak, tiba-tiba mematung. Wajahnya berubah dari merah bangga menjadi merah padam karena cemburu. "APA?! ISTRI?! SEJAK KAPAN?!"
Lin Xueru yang biasanya tenang, kini mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap Yan Er dengan dingin.
"Aku memilih jalan ini untuk mengejarmu, Yu Fan," Yan Er tersenyum manis namun tajam. "Meskipun dalam hatiku kau adalah suamiku, di arena ini, aku adalah lawanmu. Aku tidak akan mengalah!"
Yu Fan merasakan hawa dingin yang menusuk punggungnya, bukan dari musuh, tapi dari arah Yuexin dan Xueru. Rasanya... aku akan mati setelah pertandingan ini, bahkan jika aku menang, pikir Yu Fan dengan keringat dingin.
...****************...
"Ronde pertama! Yu Fan melawan Caelum!"
Caelum melompat ke tengah arena dengan gaya yang sombong. Ia memutar busur peraknya dan menatap Yu Fan dengan remeh. "Jadi, kau yang membuat Gadis Rembulan kami terobsesi? Aku akan mengalahkanmu dengan satu tembakan saja, bocah Timur. Jangan harap pedangmu bisa menyentuh bayanganku."
Yu Fan menghunus pedangnya, auranya stabil di Master Tingkat 4 Awal. "Satu tembakan? Aku khawatir kau bahkan tidak punya kesempatan untuk menarik tali busurmu jika kau terlalu banyak bicara."
"Cari mati!" teriak Caelum.
Pertandingan dimulai. Caelum menarik tali busurnya dengan kecepatan luar biasa. Syuut! Syuut! Syuut! Tiga anak panah melesat sekaligus, masing-masing mengarah ke titik vital Yu Fan.
Yu Fan tidak bergerak dengan kasar. Ia seolah menari di antara melodi serangan. Ia menghindari setiap panah dengan gerakan kepala dan bahu yang sangat minim. Master Tingkat 4 benar-benar memberikan persepsi indra yang luar biasa bagi Yu Fan, ia bisa melihat getaran udara di sekitar anak panah itu.
Yan Er yang menonton dari pinggir lapangan terpukau. "Dia sudah mencapai tingkat di mana gerakan musuh bukan lagi ancaman, melainkan irama yang bisa ia ikuti."
Caelum mulai geram. "Berhenti menghindar!" Ia melompat ke belakang, menciptakan jarak, dan menembakkan puluhan anak panah yang melengkung di udara. Namun Yu Fan terus mendekat, menebas setiap panah yang menghalangi jalannya dengan dentingan logam yang berirama.
Saat matahari tepat di atas kepala, Yu Fan berhenti. "Cukup main-mainnya. Keluarkan semua yang kau punya, atau pertandingan ini akan selesai sekarang."
"Kau menghinaku?!" mata Caelum bersinar putih. "Rasakan kekuatan dari rasi bintang! Berkat Sagitarius!"
Tubuh Caelum tiba-tiba diselimuti aura putih perak. Retakan cahaya muncul di wajahnya, tanda bahwa ia telah menyatu dengan kekuatan roh pelindungnya. Ia melesat menjadi bayangan, berpindah tempat dengan kecepatan cahaya.
Syuut! Syuut! Panah-panah perak sekarang tidak hanya cepat, tapi juga mengikuti pergerakan Yu Fan. Yu Fan mulai terdesak, ia harus memutar pedangnya dengan kecepatan ekstrem untuk menangkis hujan panah yang seolah hidup.
"Banyak sekali... dia benar-benar ahli," gumam Yu Fan. Staminanya mulai terkuras karena harus terus bergerak dalam tempo tinggi.
Melihat celah, Yu Fan melepaskan sedikit energi Yin-nya. Auranya berubah menjadi merah pekat, matanya berkilat merah darah. Tekanan di arena berubah drastis menjadi mencekam.
"Apa itu?!" teriak penonton.
Caelum ketakutan melihat perubahan itu, namun ia tetap menyerang. "Jurus Pamungkas, Hujan Sejuta Bintang!"
Caelum menembakkan satu panah ke langit, yang kemudian pecah menjadi jutaan anak panah cahaya yang turun menghujani arena. Luas serangannya tidak menyisakan ruang bagi Yu Fan.
Yu Fan menarik napas dalam. Pedang hitamnya berdenyut dengan energi merah yang kental. Ia tidak menghindar. Ia justru menerjang ke atas, menyambut hujan panah itu. TRANG! TRANG! TRANG! Setiap tebasannya menghancurkan ratusan anak panah cahaya. Ia membaca setiap lintasan serangan dengan insting Asura yang mulai bangkit.
"Sekarang giliranku," bisik Yu Fan.
Caelum yang panik mencoba mengeluarkan panah raksasa, sebuah serangan yang menurut dekan mampu menghabisi satu batalion pasukan. Panah itu sebesar tiang bangunan, melesat menuju Yu Fan.
"Pedang Ilahi, Tebasan Belah Jiwa!"
Yu Fan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Energi merah pekat membelah panah raksasa itu menjadi dua bagian sebelum hancur berkeping-keping menjadi debu cahaya. Dalam sekejap, Yu Fan sudah berada di belakang Caelum, ujung pedangnya dingin menyentuh leher pemanah itu.
Kabut debu menghilang. Semua orang terdiam melihat Caelum yang sudah pingsan karena kehabisan tenaga dan tekanan mental, sementara Yu Fan berdiri tegak dengan aura yang perlahan memudar.
"Pemenang! Yu Fan!"
Sir Alaric di sisi barat mengepalkan tangannya, matanya menatap tajam ke arah Yu Fan. "Dia... sangat menarik."
Sementara itu, di arena, Lin Xueru menatap Yan Er dengan tatapan dingin yang tajam, seolah memberikan peringatan. Yan Er hanya membalasnya dengan senyum puas, mengetahui bahwa 'suaminya' baru saja menunjukkan kehebatannya di depan dunia.
Yu Fan menarik napas panjang, mencoba tidak melihat ke arah tribun VIP di mana Putri Yuexin sudah bersiap dengan sejuta omelan. Pertarungan baru saja dimulai, baik di arena maupun di kehidupannya.