"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"
Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.
Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!
Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Jantung Kegelapan
# 📖 BAB 31: Jantung Kegelapan
Langit di atas Kepulauan Terlarang tampak seperti kanvas yang tercoreng jelaga. Di sinilah, di tengah Samudra Pasifik yang tak terjamah radar sipil, berdiri benteng utama Klan Tua—sebuah pulau buatan yang dikenal dengan nama *The Obsidian*. Bangunan itu menjulang angkasa, hitam dan angkuh, dikelilingi oleh kapal-kapal perusak yang siap menenggelamkan apa pun yang mendekat tanpa izin.
Di dalam helikopter siluman yang melaju membelah awan badai, Gu Beichen duduk dalam keheningan yang mematikan. Di pelukannya, Qingyu tampak sangat lemah. Bayi itu tidak lagi menangis; napasnya pendek-pendek, dan cahaya perak di matanya kini mulai merambat ke pembuluh darah di sekitar pelipisnya, menciptakan pola seperti akar pohon yang bersinar redup.
"Bertahanlah, Putri Kecilku," bisik Beichen. Suaranya bukan lagi suara seorang ayah yang lembut, melainkan suara seorang pria yang telah menerima takdirnya sebagai monster. "Ayah akan meruntuhkan gunung ini untukmu."
### 🌑 Infiltrasi Sang Naga
Beichen tidak mendarat di landasan pacu yang dijaga ketat. Pada ketinggian lima ratus kaki, ia melompat keluar dari helikopter tanpa parasut. Ia menggunakan baju taktis khusus yang memiliki sayap geser (*wingsuit*) karbon. Seperti bayangan hitam yang jatuh dari langit, ia meluncur menembus sistem radar laser yang paling canggih sekalipun.
Hanya beberapa meter sebelum menyentuh permukaan air yang ganas di bawah dermaga bawah tanah, Beichen mengaktifkan pendorong mikro di sepatunya. Ia mendarat dengan senyap di pipa pembuangan panas raksasa.
Dengan tangan kosong, ia merobek jeruji baja setebal sepuluh sentimeter seolah itu hanya terbuat dari kertas. Efek "Sinyal Aktivasi" dari Tetua Agung ternyata tidak hanya menyiksa Qingyu, tetapi juga membangkitkan kekuatan fisik purba di dalam sel-sel Beichen hingga ke level yang belum pernah ia capai sebelumnya.
"Sistem keamanan sektor empat terganggu," suara robotik menggema di lorong-lorong metalik.
Beichen tidak bersembunyi. Ia melangkah keluar ke koridor utama dengan Qingyu yang terikat aman di dadanya dalam gendongan khusus yang tahan benturan. Sepasukan tentara berbaju zirah berat segera mengepungnya, moncong senjata otomatis diarahkan tepat ke jantungnya.
"Berhenti di sana, Gu Longwei! Letakkan subjek dan angkat tanganmu!" teriak komandan penjaga.
Beichen hanya mengangkat kepalanya sedikit. Matanya kini benar-benar perak sepenuhnya, tanpa pupil, memancarkan aura yang begitu menekan hingga beberapa tentara di barisan depan terjatuh karena sesak napas secara tiba-tiba.
"Aku tidak datang untuk menyerah," kata Beichen datar. "Aku datang untuk menagih janji kematian."
Dalam satu gerakan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh kamera pengawas berkecepatan tinggi, Beichen melesat. Ia tidak menggunakan senjata api. Ia adalah senjata itu sendiri. Pukulan dan tendangannya menghancurkan baju zirah baja mereka seolah itu hanya plastik murahan. Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, koridor itu penuh dengan tubuh-tubuh yang tak lagi bergerak.
### 🧬 Ruang Singgasana Digital
Beichen terus merangsek masuk, melewati lift magnetik menuju lantai tertinggi: *The Sanctum*. Di sana, Tetua Agung sudah menunggu di sebuah ruangan luas yang dindingnya terdiri dari layar-layar holografik yang menampilkan data real-time dari seluruh dunia.
"Tepat waktu, anakku," sapa Tetua Agung tanpa menoleh. "Kau datang saat energi di dalam diri Qingyu hampir mencapai titik ledak. Bawa dia ke altar inkubasi itu, sekarang."
Beichen berhenti sepuluh langkah dari pria tua itu. "Matikan sinyalnya lebih dulu. Aku tidak akan membiarkan tangan kotor ilmuwanmu menyentuhnya sebelum kau mematikan kunci kematian itu."
Tetua Agung berbalik, sebuah senyum licik tersungging di bibirnya yang keriput. "Kau pikir kau punya posisi untuk menawar? Satu perintah dariku, dan detak jantungnya akan berhenti saat ini juga."
"Dan satu gerakan dariku, kepalamu akan terpisah dari tubuhmu sebelum jarimu bisa menyentuh tombol apa pun," balas Beichen. Tekanan udara di ruangan itu terasa bergetar. Partikel debu seolah membeku di udara akibat benturan aura antara dua penguasa darah Naga ini.
### 🕯️ Pengkhianatan di Dalam Pengkhianatan
Tiba-tiba, pintu samping terbuka. Mo Ran masuk dengan langkah pincang, wajahnya masih dibalut perban akibat pertarungan dengan Qingyan. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung berisi cairan hijau pekat.
"Tetua, jangan dengarkan dia! Dia membawa kode dekripsi dari ibunya!" teriak Mo Ran panik. "Dia ingin menghancurkan inti data klan!"
Tetua Agung menyipitkan mata. "Begitukah, Longwei? Kau masih menyimpan warisan wanita pengkhianat itu?"
Beichen segera mengeluarkan *flash drive* dari sakunya dan menghancurkannya di depan mata mereka semua. "Data itu sudah ada di dalam otakku. Aku sudah menghafalnya. Dan aku tidak butuh terminalmu untuk menggunakannya."
Beichen memejamkan mata sejenak. Ia melakukan sesuatu yang selama ini dianggap mustahil oleh para ilmuwan klan: ia melakukan sinkronisasi saraf antara otaknya sendiri dengan otak Qingyu melalui kontak fisik kulit ke kulit. Ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai jembatan frekuensi untuk membajak sinyal satelit klan.
"Apa yang kau lakukan?!" Tetua Agung mulai panik saat melihat layar-layar monitor di sekelilingnya mulai menunjukkan pesan eror. "Kau menggunakan tubuhmu sebagai pemancar?!"
"Aku sedang menghapus kami dari sistemmu, Pak Tua," desis Beichen. Kulitnya mulai mengeluarkan asap tipis karena panas yang dihasilkan oleh energi saraf yang luar biasa. "Mulai detik ini, tidak akan ada lagi Anak Takdir. Hanya akan ada ayah dan putrinya."
### 🏔️ Cahaya yang Membutakan
Cahaya perak meledak dari tubuh Beichen dan Qingyu secara bersamaan. Gelombang kejutnya menghancurkan seluruh kaca di ruangan itu dan mematikan sistem elektronik di seluruh pulau *The Obsidian*. Seluruh markas besar Klan Tua mendadak gelap gulita, kehilangan kendali atas satelit dan aset global mereka.
Di tengah kegelapan itu, Beichen merasakan detak jantung Qingyu mulai stabil. Suhu tubuh bayi itu menurun, dan pola pembuluh darah di wajahnya menghilang. Kunci kematian itu telah dipatahkan.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Beichen jatuh bertumpu pada satu lutut, darah mengalir dari telinga dan hidungnya. Penglihatan peraknya perlahan memudar menjadi kegelapan yang pekat.
"Mo Ran... sekarang!" perintah Tetua Agung yang merangkak di lantai.
Mo Ran mengangkat belatinya, mendekati Beichen yang tak berdaya. "Berakhir sudah, Longwei. Kau menyelamatkannya, tapi kau kehilangan nyawamu sendiri."
Namun, sebelum belati itu menghujam, suara ledakan terdengar dari langit-langit ruangan. Sesosok bayangan turun dengan tali *rappelling*, melepaskan tembakan presisi yang mengenai bahu Mo Ran hingga ia terpelanting.
Itu bukan pasukan Phoenix. Itu adalah Lin Qingyan.
Ia mengenakan pakaian taktis lengkap, dengan senapan serbu di tangannya dan tatapan mata yang tidak lagi menunjukkan jejak seorang ibu rumah tangga yang lemah. Di belakangnya, puluhan operator elit Phoenix menyerbu masuk, menguasai ruangan dalam hitungan detik.
"Jangan sentuh suamiku!" teriak Qingyan, suaranya menggetarkan dinding beton.
Qingyan berlari menuju Beichen, mengambil Qingyu yang sudah tenang dari dekapannya, lalu memeluk kepala suaminya yang terkulai lemas.
"Beichen! Lihat aku! Kita berhasil!" tangis Qingyan, kali ini tangisan kemenangan.
Beichen tersenyum tipis, meski matanya terpejam.
"Kau... kau datang..."
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan misi bunuh diri sendirian, bodoh," bisik Qingyan sambil mencium keningnya.
Di sudut ruangan, Tetua Agung berhasil ditangkap dan diborgol oleh Commander Phoenix. Namun, sebelum dibawa pergi, pria tua itu tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk merinding.
"Kalian pikir ini berakhir dengan menghancurkan sistemku?" bisik Tetua Agung. "Kalian baru saja melepaskan energi yang akan menarik 'Mereka' yang jauh lebih tua dari klan ini. Perang yang sesungguhnya... baru saja dimulai."
Beichen membuka matanya sedikit. Meski pandangannya kabur, ia melihat cakrawala di luar jendela yang pecah. Di sana, di atas samudera, ia melihat beberapa kilatan cahaya aneh yang turun dari langit, menuju ke arah mereka.
Bukan klan. Bukan Phoenix. Sesuatu yang lain.
**BERSAMBUNG KE BAB 32**