NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas yang Tercecer

Lonceng pintu Kafe Tua masih menyisakan getaran halus saat sosok berjaket denim itu menghilang di balik pintu samping. Keheningan segera menyergap ruangan yang remang itu, hanya menyisakan suara mesin espresso yang mendesis pelan di kejauhan. Maya berdiri mematung di tengah ruangan, matanya masih terpaku pada pintu yang baru saja tertutup rapat. Ia merasa seperti baru saja mengejar bayangan yang menguap tepat sebelum ia sempat menyentuhnya.

"Mas?" Maya memanggil pelayan kafe dengan suara yang sedikit ragu. "Orang yang duduk di meja pojok tadi... dia baru saja pergi?"

Pelayan itu, seorang pria tua dengan celemek yang sudah pudar warnanya, hanya mengangguk sambil mengelap meja kayu di dekat kasir. "Iya, Neng. Baru saja. Kelihatannya dia sedang terburu-buru. Padahal kopinya belum sempat diminum."

Maya mendesah pelan, rasa kecewa yang samar merayap di dadanya. Ia menoleh ke arah meja pojok yang gelap, tempat di mana "Denim" seharusnya menunggunya. Ia melangkah mendekat, seolah berharap bisa menemukan sisa-sisa keberadaan sosok misterius itu di sana. Kursinya masih sedikit miring, menandakan kepergian yang mendadak dan penuh kepanikan.

Saat itulah, matanya menangkap sesuatu.

Di atas permukaan meja kayu yang kasar dan penuh goresan usia, tepat di samping cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis, tergeletak sebuah benda kecil melingkar berwarna hitam. Benda itu tampak kontras dengan warna kayu yang kusam. Maya mengulurkan tangannya, memungut benda itu dengan hati-hati seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah.

Itu adalah sebuah tutup lensa (lens cap) kamera DSLR.

Maya membalikkan benda itu di bawah cahaya lampu gantung kafe yang temaram. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang saat jemarinya meraba permukaan bagian belakang tutup lensa tersebut. Di sana, di atas plastik hitam yang keras, terdapat sebuah ukiran manual yang sangat rapi. Ukiran itu dibuat dengan ketelitian seorang seniman, membentuk dua huruf inisial: "A.R."

"A.R.," bisik Maya pelan. Nama-nama siswa di sekolahnya mulai berputar di kepalanya seperti rol film yang diputar cepat. Adrian? Andre? Atau mungkin seseorang yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya?

Ia teringat foto siluet di mading teater pagi tadi. Sudut pandang dalam foto itu, ketajaman bayangannya, dan cara fotografer itu menangkap cahaya—semuanya menunjukkan seseorang yang sangat teknis namun memiliki perasaan yang dalam. Dan sekarang, ia memegang kunci menuju identitas fotografer itu.

Maya tidak nampak marah karena telah ditinggalkan. Sebaliknya, sebuah senyum tipis, hampir tak kentara, tersungging di sudut bibirnya. Baginya, ini bukan lagi sekadar mencari fotografer untuk proyek teater; ini telah menjadi sebuah permainan "petak umpet" artistik yang menarik. Seseorang yang begitu berbakat namun begitu takut untuk menampakkan diri.

Ia memasukkan tutup lensa itu ke dalam saku roknya, merasakan tekstur keras benda itu di balik kain. "Jadi, kamu tipe orang yang lebih suka bersembunyi di balik bayangan, ya, A.R.?" gumamnya pada kegelapan sudut kafe.

Sementara itu, di luar kafe, Arlan sedang bersandar di sebuah tembok gang yang lembap, sekitar dua ratus meter dari lokasi kejadian. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan tidak menentu. Dinginnya udara sore mulai menembus jaket denimnya, namun rasa dingin itu kalah dengan rasa malu yang membakar wajahnya.

Ia merasa seperti pecundang paling besar di SMA Garuda. Ia yang membuat janji, ia yang memberikan harapan lewat foto itu, tapi ia juga yang melarikan diri seperti pencuri yang ketahuan.

"Bodoh, Arlan. Benar-benar bodoh," rutuknya sambil memukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangan.

Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ia meraba tas kameranya, memastikan benda berharganya itu aman. Namun, saat jarinya menyentuh bagian depan lensa yang biasanya tertutup, ia merasakan sesuatu yang janggal. Permukaan kaca lensa itu terasa terbuka, terpapar langsung oleh udara.

Panik kembali menyergapnya. Arlan segera meraba saku jaket kanan. Kosong. Saku kiri. Juga kosong. Ia membongkar tasnya dengan liar di bawah lampu jalan yang mulai menyala redup. Baterai cadangan, kartu memori, kain microfiber—semuanya ada di sana, kecuali satu hal yang paling krusial.

Tutup lensa kesayangannya. Tutup lensa yang memiliki ukiran inisial namanya sendiri.

Darah Arlan serasa berhenti mengalir. Ia memejamkan mata erat-erat, mencoba mengingat kembali detik-detik terakhir di kafe. Bayangan dirinya yang gemetar memegang menu muncul di benaknya. Ia ingat meletakkan tutup lensa itu di meja agar tangannya bisa memegang menu dengan stabil. Dan saat ia kabur tadi... benda itu tertinggal di sana.

"Nggak... jangan sampai Maya yang nemuin," bisiknya dengan suara serak.

Ia membayangkan Maya yang sekarang mungkin sedang duduk di mejanya tadi. Ia membayangkan jari-jari Maya menyentuh ukiran "A.R." itu. Identitasnya yang selama ini ia jaga rapat-rapat, zirah yang ia bangun dengan sikap diam dan jaket denim, kini telah retak. Maya memegang bagian dari dirinya.

Arlan menatap kameranya dengan pandangan getir. Lensa itu kini tampak telanjang, rentan terhadap debu dan goresan. Sama seperti perasaannya sekarang. Selama ini ia merasa aman karena ia adalah orang yang "melihat", bukan orang yang "dilihat". Namun sekarang, posisi itu telah berbalik.

"Sebuah kenangan tertinggal di tangan yang salah," Arlan mengingat kalimat dari salah satu buku yang pernah ia baca. Ia merasa seperti seorang agen rahasia yang meninggalkan jejak di tempat kejadian perkara.

Malam itu, Arlan tidak langsung pulang. Ia berjalan memutar, menghindari jalan-jalan utama yang mungkin dilalui oleh anak-anak sekolah. Setiap kali ada lampu mobil yang menyorotnya dari belakang, ia akan secara refleks menaikkan tudung jaketnya, merasa seolah-olah seluruh dunia sedang mencari pemilik inisial A.R.

Sesampainya di rumah, ia mengunci diri di kamar. Ia tidak menyalakan lampu, hanya membiarkan cahaya bulan masuk melalui celah gorden. Di kegelapan itu, ia menatap kameranya yang kini ia letakkan di atas meja belajar. Tanpa tutup lensa, kamera itu tampak kehilangan otoritasnya.

Arlan sadar, mulai besok, ia tidak bisa lagi sekadar menjadi bayangan di koridor sekolah. Maya akan mencarinya. Maya akan memperhatikan setiap kamera yang ada di sekolah, mencari satu kamera yang kehilangan tutupnya. Maya akan mencari inisial A.R. di daftar absensi kelas.

Ia meraba permukaan lensa kameranya dengan ujung jari, mencoba membersihkan butiran debu imajiner yang mungkin menempel di sana. Ia merasa takut, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah getaran kecil yang tak mampu ia definisikan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang memiliki "bukti" keberadaannya. Seseorang yang memegang kunci untuk membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

"Besok," bisiknya pada keheningan malam. "Besok semuanya bakal jadi lebih rumit."

Arlan memutuskan satu hal malam itu. Ia akan pura-pura kehilangan tutup lensa itu selamanya. Ia tidak akan menanyakannya, ia tidak akan mencarinya. Jika Maya bertanya, ia akan berbohong. Ia lebih memilih kehilangan benda kesayangannya itu daripada harus mengakui bahwa dialah si penakut yang kabur dari kafe.

Namun, Arlan lupa satu hal. Dalam dunia fotografi, terkadang kegagalan fokus di satu titik justru membuat titik lainnya menjadi lebih jelas. Dan bagi Maya, tutup lensa itu bukan sekadar plastik hitam; itu adalah awal dari sebuah dialog yang tak bisa lagi dihindari oleh Arlan, seberapa jauh pun ia mencoba untuk lari.

Sore yang tenang di Kafe Tua itu telah berakhir, namun gema dari identitas yang tercecer itu baru saja mulai memenuhi lini masa hidup Arlan. Ia bukan lagi sekadar pengamat; ia telah menjadi subjek dalam pencarian seseorang yang jauh lebih berani darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!