Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Ah iya..."
Bibik terkejut mendengar teriakan keras dari tuan Mafia didalam rumah. Bibik segera pergi menjalankan tugasnya. Sedangkan Haru dan Kasim mereka sama sama mengelus dada. Mereka juga terkejut dengan teriakan dadakan itu. Untung saja mereka tidak punya riwayat penyakit jantung. Jika ada riwayat semacam itu sudah pasti Haru dan Kasim sudah tidak bernyawa detik ini juga.
Mafia menatap Vair yang sekarang ada di atas tempat tidur. Mafia sudah mengikatnya, jadi tidak khawatir jika dia akan bisa kabur. Kasihan, tapi mau bagaimana lagi? Itu cara satu satunya yang paling ampuh. Mengingat Vair adalah wanita keras kepala.
"Lepasin aku Mafia. Ikatan di tangan ku ini sakit banget. Kamu sama saja melukai aku," masih berusaha melepas ikatan di tangan dan juga kakinya tapi sampai terasa perih ikatan itu belum kunjung terlepas. Kenapa Mafia sekejam ini?
"Aku nggak akan pernah melepaskan kamu Vair. Kamu adalah milik ku. Kamu milik ku,"
"Aku bukan milik mu!"
"Kamu milik ku!"
"Nggak! Aku nggak mau ja---"
"Vair! Bisa nggak kamu jangan keras kepala, hah?! Bisa nggak kamu nurut apa kata aku?!" Mafia membentak, menatap Vair dengan lelah, dia semakin tidak tega jika Vair terus terusan berontak. Apa salahnya jika dia mau patuh? Apa susahnya jika dia mau menuruti apa katanya? Mafia benar benar tidak habis pikir dia bisa jatuh cinta sama wanita keras kepala.
"Kamu itu orang nomor satu yang aku benci karena telah membunuh orang tua ku Mafia! Apa kamu tidak paham sama perasaan aku hah?! Tanpa sengaja kamu yang membuat aku sengsara. Cinta yang kamu katakan tadi itu omong kosong! Cinta palsu! Aku tidak akan pernah percaya sama kamu lagi! Kamu jahat! kamu pembohong!"
"Adik aku yang kamu bunuh aku masih bisa nerima, tapi untuk orang tua aku, aku benar benar tidak bisa memaafkan kamu!"
"TUTUP MULUT MU VAIR...!!"
Akhirnya bentakan yang lebih keras terlontar dari mulut tajam Mafia, dia tidak bisa jika hanya diam menerima kata kata jelek dari Vair. Mafia tidak mau mendengar di mana Vair yang berucap tidak bisa memaafkannya. Mafia tidak bisa jika itu benar benar terjadi.
Apa lagi kata kata benci itu membuat relung hatinya semakin bersalah dan tidak terima akan semua yang telah dia lakukan dulu. Asal semua orang tahu, Mafia juga menyesal sekarang, walau rasa sesalnya sudah terlambat.
"Aku tahu aku salah Vair. Aku tahu aku jahat dan kejam karena sudah membuat mu menderita. Tapi...mari kita perbaiki semuanya. Biarkan aku menebus kesalahan ku dengan cara menikahi kamu dan membuat kamu bahagia,"
Cuih
Vair meludah sembarang arah. "Apa?!"
"Bahagia?!" Vair tertawa sumbang. "Tanpa aku menikah sama kamu. Aku sudah bahagia sekarang, Mafia. Aku sudah punya segalanya. Aku tidak butuh siapapun sekarang. Kalian semua munafik, termasuk kamu! Aku tidak butuh kamu sampai kapan pun!"
Rahang Mafia mengeras kedua tangan terkepal erat. Ingin rasanya dia menyeret Vair ke pendeta dan menikahinya secara paksa tapi dia tidak mau melakukan itu. Mafia ingin pernikahan terjadi dengan perasaan sama sama cinta bukan cinta sepihak juga paksaan.
Tok
Tok
Tok
"Tuan, ini bibik..."
Di luar kamar tepatnya di depan pintu, bibik sudah berdiri sedikit lama, tapi dia baru saja berani mengetuk pintu karena sejak tadi bibik mendengar tuan Mafia dan Nona Vair sedang bertengkar. Bibik merasa ciut nyali dan merasa waktunya kurang pas jika ingin mengetuk pintu. Semoga saja ini beneran waktu yang tepat dan tidak menimbulkan kemarahan tuan Mafia mencuat kepadanya.
Pintu terbuka dari dalam, tuan Mafia muncul dari balik pintu itu dan menerima pakaian yang bibik berikan. "Kenapa lama banget? Ngapain aja tadi bik?"
Mafia menatap bibik kesal ingin memarahinya tapi merasa kasihan karena bibik sudah lama bekerja dengannya. Lagi pula bibik juga sudah sepuh. Terlalu tidak tahu diri dan tidak tahu sopan santun jika Mafia memarahi yang lebih tua darinya.
Bibik menunduk sopan. "Maaf tuan, tadi di pasar cukup ramai, saya juga bingung mau mencari pakaian yang seperti apa dan ukuran seberapa. Tuan Mafia tadi kan tidak bilang sama saya, jad---,"
"Sudah sudah, terima kasih, bibik boleh kembali bekerja.."
"Baik tuan, bibik mohon undur diri, semoga pakaiannya pas dan cocok,"
Mafia mengangguk lalu masuk ke dalam kamar menutup pintu agak kencang sampai bibik lagi lagi terlonjak. Bibik menggeleng. "Kenapa anak muda sekarang sukanya begitu? Suka banting banting pintu kalau lagi marah. Apa nggak takut pintunya roboh rusak dan menimpa kepalanya?"
"Halah sudah lah, terserah tuan Mafia saja mau apa. Bukan urusan ku, bukan juga ranah ku. Lebih baik aku melanjutkan tug---astagaaa singkong ku jangan jangan gosooong!"
Bibik berlari tunggang langgang menuju dapur, dan benar saja begitu bibik masuk ruang dapur, bau gosong sudah memenuhi ruangan. Bibik segera mematikan kompor dan membuka tutup panci. Asap mengepul tinggi ke udara bersamaan dengan aroma singkong kukus yang gosong bercampur wangi khas singkong yang masih normal.
"Aduh! Ini juga si Kasim sama Haru. Kenapa juga mereka berdua nggak liat ke dapur, jadi harus kukus ulang kan, mana jam makan sudah tinggal berapa menit lagi. Semoga saja tuan Mafia tidak marah jika singkongnya belum matang."
Mafia menaruh pakaian yang bibik belikan di atas nakas sisi tempat tidur. Mafia melepas ikatan di kedua tangan Vair dan juga kakinya. Kesal karena Vair keras kepala tapi melihat wajahnya yang cantik membuat Mafia tersenyum simpul. Vair membuang muka tidak sudi menatap wajah iblis berkedok manusia itu. Baginya Mafia adalah iblis yang berbentuk manusia.
"Menyingkir dari hadapan ku!" Vair menampik tangan mafia yang menyentuh dagunya, mendorong Mafia supaya menjauh darinya. Tapi tangan besar itu menahan tangannya membuat Vair tidak bisa apa apa. "Lepas nggak?!" wajah Vair cemberut kesal dan menatap tidak suka pada Mafia.
Mafia tersenyum merasa lucu melihat ekspresi Vair yang begitu. Wajah itu menunjukan wajah menantang juga melawan. Mafia malah melihat bahwa Vair cocok dengannya karena Mafia tidak suka dengan wanita yang klemar klemer. Istrinya kelak juga harus memiliki power full.
"Seribu kali kamu menolak aku. Aku tetap tidak akan pindah haluan. Kamu hanya milikku Vair, milikku..." suara Mafia pelan, berbisik lembut, dan terasa menggelitik telinga Vair.
Vair menunduk, menggeleng, dia tidak mau otaknya terkontaminasi oleh suara lembut Mafia.
"Apapun akan aku lakukan demi kamu Vair. Meski itu adalah kehilangan nyawaku sendiri,"
"Omong kosong!"
"Terserah. Cepat ganti pakaianmu."