Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Terlalu Tenang
Malam perlahan turun menyelimuti rumah besar milik Zayn. Lampu-lampu hangat mulai menyala di setiap sudut rumah, menggantikan cahaya sore yang tadi memenuhi ruangan. Setelah hari yang cukup ramai dan penuh suara tawa kecil, suasana rumah akhirnya kembali tenang. Namun bagi Aurora, ketenangan itu justru mulai terasa menyiksa.
Aurora berbaring telentang di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
Boneka kucing putih masih berada di pelukannya.
Sudah hampir satu jam ia memutar posisi tidur berkali-kali, tapi tetap tidak bisa benar-benar tidur.
Aurora menghela napas panjang, “Bosen banget…” gumamnya lirih.
Hari itu sebenarnya berjalan cukup menyenangkan. Ada Rakha yang berisik, nelly yang ramah, evan yang gampang kesal, dan Zayn yang menyebalkan.
Aurora langsung menarik selimut sampai menutupi wajahnya begitu sadar dirinya memikirkan pria itu lagi, “Kenapa sih mikirin dia terus…” gumamnya pelan malu sendiri.
Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar samar melewati lorong luar kamar.
Aurora langsung membuka sedikit selimutnya.
Pintu kamar tetap tertutup.
Namun beberapa detik kemudian suara langkah itu kembali terdengar menjauh.
Aurora mendecakkan lidah kecil.
Rumah sebesar ini memang terasa jauh lebih hidup sekarang. Tapi tetap saja terlalu sunyi saat malam datang.
Aurora akhirnya mengambil ponselnya lalu membuka chat temannya. Namun baru beberapa menit mengetik, matanya mulai terasa berat.
Tubuhnya memang sudah membaik. Tapi efek obat dan rasa lelah ternyata belum benar-benar hilang.
Tanpa sadar Aurora akhirnya tertidur sambil memeluk boneka kucingnya erat.
Pagi datang perlahan.
Cahaya matahari masuk lembut melalui celah tirai besar kamar tamu itu.
Aurora mengerjap pelan sebelum akhirnya membuka mata.
Untuk beberapa detik ia hanya diam menatap langit-langit. Lalu perlahan matanya membesar.
“Kepalaku nggak pusing…”
Aurora langsung duduk cepat. Dan kali ini benar-benar tidak ada rasa berat di kepalanya.
Aurora langsung tersenyum kecil penuh kemenangan, “Aku sembuh!”
Semangatnya langsung kembali seperti biasa.
Aurora buru-buru turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi.
Tak sampai satu jam kemudian, Aurora keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar.
Rambut panjangnya masih sedikit basah.
Ia memakai blouse krem dan rok pendek simpel yang terlihat rapi seperti orang mau bekerja.
Aurora berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya perlahan.
Hari itu ia sudah memutuskan satu hal. Ia akan kembali kerja.
“Kalau terus di rumah bisa mati bosan…” gumam Aurora.
Aurora baru saja selesai merapikan poni depannya ketika pintu kamar diketuk pelan.
Tok.
Tok.
Aurora menoleh, “Masuk.”
Pintu terbuka perlahan.
Zayn masuk sambil membawa segelas susu hangat di tangannya. Namun langkahnya langsung berhenti begitu melihat Aurora yang sudah rapi.
Tatapan Zayn bergerak pelan dari rambut Aurora yang sudah disisir rapi sampai pakaian yang dikenakannya.
Aurora langsung salah tingkah sendiri, “Eee…”
Zayn mengangkat satu alis tipis, “Mau ke mana?”
Aurora langsung tertawa kecil canggung, “Kerja?”
Zayn diam beberapa detik. Lalu berjalan masuk sambil menaruh gelas susu hangat di meja dekat sofa.
“Kamu belum boleh kerja.”
“Aku udah sehat.”
“Belum.”
“Aku udah nggak pusing.”
“Kalau nanti pingsan lagi?”
Aurora langsung mendengus kecil, “Aku nggak selemah itu.”
Zayn menatapnya datar, “Kemarin hampir jatuh cuma karena jalan.”
Aurora langsung terdiam malu.
Itu memang fakta yang menyebalkan.
Aurora akhirnya mencoba membela diri lagi, “Tapi aku bosan di rumah…”
“Cari hiburan lain.”
“Aku bukan anak kecil.”
Zayn malah berjalan mendekat beberapa langkah, “Kalau bukan anak kecil harusnya nurut dokter.”
Aurora langsung mengerucutkan bibir kesal.
Pria itu memang selalu punya jawaban.
Zayn kemudian mengambil sisir dari tangan Aurora begitu saja lalu meletakkannya kembali di meja rias, “Minum susunya.”
Aurora menatap tidak percaya, “Bapak nyuruh terus dari kemarin.”
“Karena kamu keras kepala.”
Aurora mendengus pelan tapi akhirnya tetap mengambil gelas susu itu.
Zayn memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya duduk santai di sofa dekat jendela.
Aurora meminum susu hangat itu sambil sesekali melirik kesal ke arah Zayn.
Dan itu justru membuat Zayn hampir tersenyum tipis.
Siang datang perlahan.
Dan benar saja. Aurora mulai kehilangan kewarasannya karena bosan.
Aurora tengkurap di atas ranjang sambil mengayunkan kaki frustasi, “Aku bosen…”
Zayn bahkan tidak mengangkat kepala dari laptopnya, “Tidur lagi.”
“Aku baru bangun.”
“Ya tidur lagi.”
Aurora langsung mengambil bantal kecil lalu melemparkannya ke arah sofa.
Zayn menangkap bantal itu dengan satu tangan tanpa ekspresi.
Aurora langsung makin kesal, “Bapak tuh nyebelin.”
“Kamu cerewet.”
Aurora langsung mendengus keras.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka pelan.
Nelly masuk sambil membawa beberapa camilan kecil dan jus dingin.
Namun begitu melihat Aurora tengkurap lemas di ranjang, wanita itu langsung tertawa kecil, “Kenapa ini?”
Aurora langsung mengangkat kepala dramatis, “Aku dipenjara.”
“Lebay.”
Aurora langsung menunjuk Zayn kesal, “Tuh kan!”
Nelly menahan tawa sambil duduk di pinggir ranjang, “Kalau bosan aku temenin ngobrol mau?”
Aurora langsung duduk cepat, “Mau!”
Zayn akhirnya menutup laptopnya pelan lalu bersandar ke sofa sambil memperhatikan mereka diam-diam.
Dan sejak itu kamar yang tadinya sunyi langsung berubah ramai.
Aurora dan Nelly mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari makanan favorit, film, sampai cerita bagaimana Nelly pertama kali bekerja dengan Zayn.
“Bos kalian emang dari dulu segalak itu?” tanya Aurora pelan.
Nelly langsung tertawa kecil, “Lumayan.”
“Astaga…”
“Dulu malah lebih parah.”
Aurora langsung menoleh tidak percaya ke arah Zayn, “Serius?”
Zayn malas menanggapi.
Nelly malah tersenyum geli, “Sekarang udah mendingan.”
Aurora langsung bergumam pelan, “Kayak gitu mendingan?”
Zayn akhirnya melirik datar, “Aku masih di sini.”
Aurora langsung pura-pura diam.
Nelly kembali tertawa kecil melihat mereka.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya kamar dingin itu terasa seperti tempat normal.
Bukan kamar seorang bos mafia. Tapi tempat seseorang benar-benar tinggal.
Sore datang perlahan.
Aurora akhirnya turun ke lantai bawah karena terlalu bosan di kamar.
Namun baru lima menit duduk di ruang tengah, ia sudah mulai mengganggu Rakha yang sedang bermain game bersama Evan.
“Ini pencet apa?”
“Jangan pencet itu. WOI kalah gue!”
Aurora langsung tertawa puas.
Evan sampai memegang kepala frustrasi.
Sedangkan Rakha menatap Aurora tidak percaya, “Lo ternyata tukang rusuh juga.”
Aurora menyeringai kecil bangga.
Dari arah belakang, Zayn memperhatikan semuanya dalam diam.
Tatapannya berhenti beberapa detik pada Aurora yang sedang tertawa kecil.
Dan lagi-lagi rumah itu terasa berbeda. Lebih hidup, lebih hangat, dan jauh lebih berisik.
Namun anehnya, Zayn tidak keberatan sama sekali.
Malam kembali datang.
Setelah makan malam bersama dan keributan kecil antara Rakha dan Evan lagi, rumah akhirnya mulai tenang.
Aurora duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi.
Boneka kucingnya masih dipeluk seperti biasa.
Awalnya ia hanya berniat duduk sebentar. Namun perlahan matanya mulai terasa berat.
Tak lama kemudian kepalanya miring pelan ke samping.
Aurora tertidur.
Beberapa menit kemudian langkah kaki terdengar mendekat.
Zayn baru keluar dari ruang kerjanya ketika melihat Aurora tertidur di sofa ruang tengah dengan televisi yang masih menyala kecil.
Pria itu berhenti beberapa detik.
Tatapannya tertuju pada wajah Aurora yang terlihat damai dalam tidur.
Lalu tanpa suara, Zayn mengambil remote dan mengecilkan volume televisi.
Ia menatap Aurora beberapa saat lagi sebelum akhirnya menghela napas kecil samar.
Rumah itu memang berubah sejak Aurora datang.
Dan tanpa ia sadari, dirinya juga mulai berubah sedikit demi sedikit.