Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Racun di Tengah Kemegahan Makati
Sepuluh hari di Manila hampir berakhir. Hubungan Chae-young dan Matteo yang tadinya sedingin es, perlahan mulai mencair dengan perhatian-perhatian kecil yang manis. Namun, sehari sebelum kepulangan mereka ke Seoul, takdir seolah ingin menguji ketenangan yang baru saja terbangun.
Sore itu, Chae-young memutuskan untuk berjalan-jalan di kawasan Makati yang modern. Langit Manila yang cerah memayungi deretan gedung pencakar langit yang kokoh. Ia menggandeng Chae-rin masuk ke sebuah toko kue legendaris untuk membeli oleh-oleh khas Filipina.
Namun, tepat saat ia melangkah keluar, sebuah mobil mewah berhenti di samping toko bunga tepat di sebelah toko kue tersebut. Pintu terbuka, dan sosok wanita yang sangat Chae-young kenali turun dengan keanggunan yang dipaksakan.
"Oh my God, coba tebak ini siapa?" suara melengking itu memecah suasana.
Chae-young menatap tajam. Itu Cessie. Wanita yang pernah mendatangi butiknya dan mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yang pantas bagi Matteo.
"Nona Cessie?"
"Sepertinya Tuhan punya cara yang unik mempertemukan kita ya?" Cessie tersenyum miring. Di kepalanya, sebuah rencana jahat mendidih. Jika ia tidak bisa memiliki Matteo, maka tidak boleh ada wanita lain yang bahagia bersamanya.
"Nona Cessie, maaf saya tidak punya waktu mengobrol santai dengan Anda," Chae-young mencoba berlalu, namun kata-kata Cessie berikutnya menghentikan langkahnya.
"Ini berita fenomenal tentang suamimu di masa lalu. Matteo itu pria yang bisa berubah, tapi obsesinya... itu tetap ada." Cessie berjongkok di depan Chae-rin, matanya tertuju pada jepitan rambut lili yang menghiasi rambut ikal gadis kecil itu. "Jepitan ini mengingatkan aku pada sesuatu. Apakah Daddymu yang membelikan ini, Sayang?"
Chae-rin yang merasa tidak nyaman langsung bersembunyi di balik kaki ibunya. "Daddy-nya yang belikan atau bukan, itu bukan urusan Anda," potong Chae-young tegas.
Cessie berdiri, senyum puas menghiasi wajahnya. "Tidak, Nona Park. Jika itu Matteo yang membelinya, berarti obsesinya pada Sheena belum berubah. Jepitan itu... sangat mirip dengan jepitan lili milik Sheena kecil yang disimpan Matteo sejak dulu. Coba tanyakan pada mereka jika kau ingin jawaban pasti. Tapi saran saya, jangan terlalu berterus terang jika ingin tahu kebenarannya."
Sepanjang jalan pulang, pikiran Chae-young berkecamuk. Jepitan lili? Obsesi? Ia teringat penjelasan Sheena dua hari lalu bahwa mereka hanya teman kecil. Tapi kenapa ucapan Cessie terasa begitu mengganggu?
Begitu tiba di rumah, kebetulan Sheena sedang duduk bersama Lee Young-ae di taman samping. Chae-young mencoba mengatur napasnya, memasang topeng ketenangan yang sempurna.
"Wah, kira-kira kalau aku melahirkan lagi, anakku bakal perempuan tidak ya? Mirip Chae-rin tidak ya?" canda Sheena saat melihat keponakannya datang.
Chae-young tersenyum tipis, matanya mengawasi saat Sheena tanpa sadar meraba jepitan lili di rambut Chae-rin. Inilah saatnya. Chae-young teringat pesan Cessie, jangan terlalu terus terang.
"Chae-rin, ayo kemari, Sayang," panggil Lee Young-ae, membawa cucunya menjauh.
"Sheena, jepitan Chae-rin itu pasti mirip punyamu waktu kecil, kan?" Chae-young menatap Sheena intens.
"Eh? Maksudnya?" Sheena tertegun sejenak, wajahnya menunjukkan rona was-was yang sangat tipis.
"Begini, waktu itu Matteo membelikannya untuk Chae-rin. Katanya dia teringat teman masa kecilnya, jadi dia membelikan itu. Karena kalian teman kecil, berarti jepitan itu memang mirip punya kamu dulu, kan?" tanya Chae-young dengan nada bicara yang sangat santai, seolah hanya obrolan biasa.
Sheena yang tidak menaruh curiga sama sekali, akhirnya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil. "Benar, jepitannya memang mirip sekali dengan punyaku dulu waktu kecil. Aku tidak menyangka Matteo masih mengingat detail seperti itu."
Deg.
Jantung Chae-young terasa seperti dijatuhkan dari ketinggian. Kekecewaan mendalam merayap di dadanya. Jadi, selama ini Matteo memberikan jepitan itu kepadanya yang ia anggap hadiah bukan karena memikirkannya, melainkan karena bayang-bayang Sheena?
Kebencian dan rasa dikhianati mulai membakar hati Chae-young. Ternyata benar, ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Penjelasan Sheena tempo hari terasa seperti kebohongan besar sekarang.
Malam itu, saat Matteo pulang dengan wajah lelah namun berseri ingin memeluk istrinya, ia disambut oleh tatapan dingin Chae-young yang lebih tajam dari sembilu. Chae-young sudah membulatkan tekad: sebelum kaki mereka menginjak Seoul besok, Matteo harus menjelaskan setiap inci dari obsesi masa lalunya yang ia sembunyikan di balik jepitan rambut yang dipakai Chae-rin hari ini.
Malam terakhir di Manila yang seharusnya menjadi penutup manis, mendadak berubah menjadi medan perang emosional yang mencekam. Di dalam kamar yang luas itu, Chae-young duduk di tepi ranjang dengan punggung tegak, matanya menatap kosong ke arah jendela. Di jemarinya, ia menggenggam jepitan lili yang selama ini ia anggap sebagai tanda cinta pertama dari Matteo saat mereka masih di Seoul.
Pintu kamar terbuka. Matteo melangkah masuk dengan senyum tipis yang langsung pudar saat merasakan atmosfer dingin yang menyengat. Ia melonggarkan dasinya, berniat untuk bermanja sejenak seperti malam-malam sebelumnya.
"Sayang? Kau belum tidur?" Matteo mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat tatapan Chae-young yang begitu tajam dan terluka.
"Belum, Matteo. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," suara Chae-young rendah namun bergetar. "Aku benci ketidakjujuran, jadi aku harap kau jujur kali ini."
Matteo merasakan firasat buruk. Sesuatu di dalam dadanya bergejolak. "Katakanlah, apa pun. Aku akan menjawabnya dengan jujur."
TAK!
Chae-young melempar jepitan rambut lili itu tepat ke dada Matteo. Refleks, Matteo menangkapnya. Ia menatap benda kecil di telapak tangannya itu dengan bingung.
"Jadi... kau membelikan aku jepitan itu karena ingin menyamakanku dengan Sheena?"
Matteo terkesiap. Wajahnya memucat. "Chae-young-ah—"
"Jawab dengan sejujur-jujurnya, Matteo! Aku harap tidak ada lagi kebohongan yang berkepanjangan!" suara Chae-young naik satu oktav, membelah kesunyian kamar yang kedap suara itu.
"Chae-young-ah, dengarkan aku. Aku membelikan ini murni karena aku merasa ini cantik dan cocok untukmu. Tidak ada maksud lain!" bela Matteo, suaranya mulai serak.
"Cocok dan cantik? Tapi ini sama dengan jepitan Sheena, Matteo!" Chae-young berdiri, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kau membelikanku barang yang menjadi simbol obsesimu pada wanita lain?"
"Demi Tuhan, Chae-young-ah! Aku benar-benar membelikan ini karena memang bagus saja. Tidak ada niat terselubung!"
"Itu karena kau punya jepitan yang sama, kan? Yang kau simpan milik Sheena?" tuduh Chae-young, teringat kata-kata beracun Cessie siang tadi.
"Tidak, Sayang! Dengarkan aku!" Matteo melangkah maju, mencoba meraih tangan Chae-young. "Jepitan itu... jepitan milik Sheena yang dulu pernah ada padaku... sudah aku tinggalkan di bandara sebelum aku benar-benar meninggalkan Manila dan terbang ke Seoul. Aku sudah membuang masa lalu itu jauh sebelum aku bertemu denganmu!"
Chae-young terdiam. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, membiarkan isak tangisnya pecah. Kepalanya terasa pening antara ingin percaya pada Sheena dan Matteo, atau menyerah pada rasa curiganya.
Matteo tidak tahan lagi melihat kehancuran istrinya. Ia perlahan berlutut di lantai, tepat di depan kaki Chae-young yang duduk di tepi ranjang. Ia menatap Chae-young dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.
"Dengarkan aku, Chae-young-ah. Kali ini aku akan menceritakan semuanya. Tanpa ada yang ditutupi."
Matteo menarik napas berat, tangannya memeluk pinggang Chae-young dengan erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Oke, aku akui aku salah. Dulu aku selalu merasa bahwa Mark, adik kembarku, selalu beruntung dalam segala hal. Sheena adalah orang yang sempat dijodohkan denganku, tapi karena aku menolak saat itu, dia akhirnya bersama Mark. Dan aku... aku merasa kalah. Aku tersesat dalam rasa iri itu sampai aku melakukan hal-hal bodoh untuk membuat Mark menderita."
"Dan kau masih mencintainya, Matteo..." bisik Chae-young di sela tangisnya.
"Tidak, Sayang! Dengarkan aku dulu," Matteo menggeleng kuat, air matanya ikut menetes. "Kalau aku mencintainya, buat apa aku mengalah dan merelakannya pada Mark? Aku punya segalanya untuk membawanya pergi sejauh mungkin jika aku benar-benar mencintainya. Tapi aku tidak melakukannya. Karena rasa itu bukan cinta, itu hanya karena aku egois."
Matteo menenggelamkan wajahnya di pangkuan Chae-young, bahunya bergetar hebat. "Cuma kau dan anak-anak yang ada di hatiku sekarang. Selamanya akan begitu. Tidak ada yang berubah."
"Chae-young-ah... aku benar-benar minta maaf. Maafkan ketidaksempurnaanku ini. Maaf karena aku pernah menjadi pria yang begitu rendah."
Matteo terisak, pelukannya semakin kencang. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar Chae-young mau melihat kejujuran di matanya. Di posisi berlutut seperti itu, sang Titan M-Nexus tampak begitu rapuh, memohon pengampunan dari satu-satunya wanita yang berhasil mengisi kekosongan jiwanya.
Chae-young merasakan hangatnya air mata Matteo menembus kain piyamanya. Perlahan, tangannya yang gemetar turun dan mengusap rambut Matteo. Kebencian yang tadi membakar, perlahan meredup digantikan oleh rasa haru. Ia menyadari satu hal, pria ini memang tidak sempurna, tapi ia sedang berjuang setengah mati untuk menjadi pria yang layak bagi dirinya.