Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
" Coba aku pikirkan... Kejadian di 2026, saat aku tewas di tangan suami dan sahabat ku. Itu adalah mimpi...? Atau diriku yang hidup kembali di tahun ini...?" gumam Jihan, berpikir apa yang sedang terjadi.
" Jika 2026 itu mimpi... Tidak-tidak kejadian itu terasa nyata..." Jihan merinding saat mengingat kejadian itu.
Saat itu Jihan mengingat sebuah fakta yang orang-orang tidak tahu bahwa direktur Hans Lorenzo adalah seorang konglomerat generasi ke-4. Penerus perusahaan terkemuka di negara A perusahaan itu bernama : Switch Company.
" Tidak, mengetahui fakta bahwa direktur Hans adalah penerus perusahaan. Walaupun sekarang masih di sembunyikan, namun proses pengangkatan nya akan terjadi beberapa tahun lagi...!" gumam Jihan.
" Lalu apa yang terjadi sebenarnya...? Apakah aku hidup kembali di tahun ini...? Atau mungkin itu hanya mimpiku saja, namun kejadian itu terlalu nyata dan aku hampir mengingat semua kejadian di enam tahun yang akan datang...!" tambah Jihan, pikirannya masih kacau balau saat ini.
Jihan gelisah dan perasaannya menjadi tidak tenang, serta hal apa yang harus dia lakukan untuk mengetahui kebenaran akan semuanya, apakah itu mimpi atau kenyataan.
📳 Tut...! Tut...! Tut...!
Ponselnya berbunyi saat itu. Jihan melihat ponselnya. Saat itu panggilan telepon dari ayahnya.
" Ayah... Apa ayah' ku masih hidup...?" ucap Jihan terkejut melihat panggilan telepon dari ayahnya.
Karena dia mengira bahwa ayahnya sudah meninggal. ingatan di tahun yang akan datang masih terlintas di benak Jihan.
" Hallo ayah...!" ucap Jihan, matanya berkaca-kaca seakan menangis saat mengangkat panggilan telepon dari ayahnya.
" Hallo Jihan, kamu dimana kenapa kamu pergi begitu saja di acara pertunangan mu dengan Hendrick...?" tanya sang ayah lewat telepon.
" Hallo ayah...! Ini beneran ayah, aku dirumah yah... Ayah..." ucap Jihan, menangis dirinya tidak kuat menahan air matanya saat kembali mendengar suara ayahnya.
" Jihan! Kamu kenapa... Kamu menangis nak...? " tanya sang ayah kepada Jihan lewat telepon.
" Tidak apa-apa ayah... Aku hanya rindu dengan ayah... Ayah segera kesini...!" pinta Jihan, dia ingin segera bertemu dan melihat ayahnya.
" Nak! Kamu kenapa, bukannya tadi ayah yang mendampingi mu melangsungkan pertunangan...?" ucap sang ayah, dia merasa heran dengan perkataan putri nya.
" Tunggu sebentar ayah segera pulang... Kamu jangan menangis lagi... Ayah akan segera pulang..." ucap sang ayah lewat telepon.
ayahnya kemudian mematikan teleponnya. Saat itu Jihan masih menangis' tersedu-sedu merasa bahagia saat tahu ayahnya masih hidup.
Dia menunggu ayahnya, hatinya tidak sabar untuk segera bertemu. ayahnya kemudian datang dan mengetuk pintu.
🚪Tuk...! Tuk...!
ayahnya mengetuk pintu. "Jihan buka pintunya... Ayah datang!" ucap sang ayah.
Jihan yang mendengar suara ayahnya, segera bangun dari kursi, berlari untuk membuka pintu.
Jihan membuka pintu rumahnya. Alangkah bahagianya dia saat melihat wajah ayahnya yang sangat dia rindukan.
" Ayah'...! " ucap Jihan, kemudian memeluk erat ayahnya sambil menangis penuh kebahagiaan saat itu.
Ayahnya memeluk putrinya membiarkannya menangis, mungkin putrinya sedang ada masalah. Pikir sang ayah dalam hatinya.
" Putriku Jihan, apa yang terjadi kenapa kamu menangis seperti ini!" pikir sang ayah dalam hati saat Jihan menangis di pelukannya.
" Tidak apa-apa... Menangis lah putri ku...!" ucap sang ayah, mengelus-elus rambut putrinya.
Setelah merasa tenang Jihan dan ayahnya kemudian masuk kedalam rumah. Ayahnya memenangkan Jihan, kemudian membuatkan teh hangat untuk Jihan.
" Jihan minum dulu teh hangat ini... "! ucap ayahnya, memberikan teh hangat kepada Jihan.
" Terima kasih ayah! " ucap Jihan, kemudian meminum teh hangat buatan ayahnya.
Ayahnya kemudian bertanya kepada Jihan mengapa dia tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan memeluk ayahnya. Seakan berbeda dari sebelumnya.
" Jihan! Coba cerita sama ayah kenapa kamu menangis... Tolong cerita sama ayah" ucap sang ayah, kemudian duduk di samping Jihan.
"Tidak apa-apa ayah... Aku hanya rindu sama ayah...!" ucap Jihan, melihat wajah sang ayah.
Tatapan nya penuh rasa bersyukur, saat melihat ayahnya. Dia berharap bahwa semua ingatan itu hanyalah mimpi.
" Jihan, apa yang terjadi kenapa kamu meninggalkan acara pertunangan mu dengan Hendrick...? untung saja kalian sudah bertunangan...!" ucap sang ayah.
Ayahnya berharap Jihan menceritakan hal yang membuatnya menangis dan mengutarakan isi pikirannya.
Sang ayah kemudian memberi tahu bahwa dirinya akan pergi keluar kota dua hari lagi.
" Jihan dua hari lagi ayah akan pergi ke luar kota... " ucap sang ayah.
Jihan terkejut dia kemudian tersedak teh hangat.
Ehekkk!!!
" Apa ayah' pergi ke luar kota...? " ucap Jihan, dengan suara yang sedikit terkejut.
Ingatan di hari yang sama kembali terulang, namun dulu ayahnya memberi tahu di dalam gedung acara pertunangan, setelah acaranya selesai.
" Ayah tidak akan lama! "
Kata-kata terakhir yang ayahnya ucapkan sama persis dengan yang ada dalam ingatannya saat itu hanya berbeda tempat.
Sontak Jihan tertegun saat itu. Lantas Jihan melarang ayahnya untuk pergi keluar kota. Dia mencoba menghindari kecelakaan ayahnya.
"Ayah... ayah jangan pergi...! Kumohon ayah...!" ucap Jihan, meminta untuk tidak pergi keluar kota.
Wajah Jihan, tampak terlihat sangat serius, dia tidak ingin ayahnya kembali mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
" Kenapa Jihan, besok ayah harus mengantar barang pesanan costumer, tenang saja ayah akan pulang dengan selamat...!" ucap sang ayah.
Ayahnya memberi tahu Jihan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Dan pulang dengan selamat.
" Ayah! Aku mohon jangan pergi... Apapun yang terjadi aku mohon jangan pergi...!" ucap Jihan melarang ayahnya untuk pergi.
Jihan tidak bisa memberi tahu ayahnya apa yang akan terjadi kepadanya. Dirinya juga masih tidak percaya dengan apa yang dia alami.
Karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan Jihan hanya memberi tahu ayahnya bahwa ayahnya jangan pernah lewat jalur jembatan di daerah A.
Apapun itu walaupun macet atau ada masalah lain. Ayahnya tidak boleh melewati jalan pintas jalur jembatan di daerah A tersebut.
" Yah! Apapun itu, nanti ayah jangan lewat jembatan... Walaupun macet, atau apapun itu aku mohon...!" ucap Jihan, memohon agar ayahnya mau mendengar perkataannya.
Jihan memegang tangan ayahnya, matanya masih terlihat kerinduan yang mendalam. Dalam hati dia ingin bahwa semua itu hanyalah mimpi.
Setelah Jihan mulai tenang sang ayah kemudian pergi ke gedung pertunangan untuk memberi tahu Hendrick bahwa Jihan berada di rumah.
...•••☘☘☘•••...
Sang ayah kemudian sampai sampai di gedung acara pertunangan. Dia melihat Hendrick yang tampak panik, sambil menyapa para tamu.
Hendrick melihat ayahnya Jihan datang. Dia kemudian segera menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi dengan Jihan.
" Ayah! Bagaimana...? Apa ayah' apa ayah berhasil menemukan Jihan...? " tanya Hendrick dengan panik.
Wajahnya Hendrick tampak penuh kebingungan saat Jihan tiba-tiba berteriak histeris dan melempar semua barang-barang kepada dirinya.
" Jihan sekarang ada di rumah... Sekarang kamu jangan ganggu dia dulu, mungkin dia sedang tidak enak badan...." ucap ayah Jihan, dia juga sangat heran dengan sikap Jihan saat ini.
Saat itu Regina melihat ayahnya Jihan berbicara dengan Hendrick, dia kemudian berjalan menuju mereka dan menanyakan hal yang sama.
" Om... Jihan kenapa... Sekarang dia ada dimana om...?" tanya Regina dengan rasa penasaran.
" Regina... Kamu tentang saja sekarang Jihan ada di rumah, sepertinya dia hanya perlu istirahat saja!" jawab ayah Jihan kepada Regina.
Sang ayah melihat wajah sahabat putrinya yang tampak sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Dia bersukur bahwa putrinya memiliki pasangan dan sahabat yang sangat baik dan perhatian kepada anaknya.
" Untung saja Jihan dan kak Hendrick sudah bertunangan, kalau tidak acara hari ini akan kacau balau... Benarkan kak Hendrick...?" ucap Regina dengan manja.
" Kalian nanti datang kerumah Jihan... Om malam ini tidak akan pulang...!" ucap ayah Jihan.
Dia kemudian pergi lagi dari gedung pertunangan karena acaranya sudah hampir selesai. Dia tidak kembali ke rumah, namun dia kembali ke perusahaan tempatnya berkerja untuk menyiapkan barang-barang yang harus dia kirim ke luar kota.
Saat itu di dalam pikiran Regina yang penuh dengan rasa iri di dalam hatinya kepada Jihan. Karena Jihan memiliki ayah yang sangat perhatian dan kekasih yang baik di matanya.
" Jihan, apa kamu ingin pamer kepada ku karena sudah bertunangan dengan kak Hendrick... Makanya kamu bersikap seperti itu kepada ku tadi... Jangan senang dulu Jihan aku tidak akan membiarkan kamu bahagia!" ucap Regina dalam hati. Matanya terpancar aura kecemburuan yang sangat dalam.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ