Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Nyonya Veronica sudah dua hari di rawat di rumah sakit. Wanita itu nampak tak bersemangat sama sekali untuk segera pulih.
"Nyonya besar ayo buburnya di makan dulu, dari pagi belum ada sedikitpun makanan yang masuk kedalam tubuh nyonya besar. Jika nyonya mau sembuh nyonya harus makan yang banyak." Rayu pelayan yang di tugaskan untuk melayani nyonya Veronica oleh Dafa.
Nyonya Veronica memalingkan wajahnya menghindar dari suapan bubur dari pelayan. " Ayo nyonya, sedikit aja. Biar habis ini nyonya minum obat." bujuk pelayan tapi nyonya Veronica seakan tak peduli, ia masih saja merapatkan mulutnya sehingga membuat pelayan itu menyerah. Nyonya Veronica memejamkan matanya sebagai bentuk penolakan.
"Hufff......" terdengar helaan nafas dari mulut pelayan.
"Andai saja kalau bukan karena bayarannya yang menggiurkan tidak sudi aku melayani nenek - nenek keras kepala macam dia." bathin pelayan sembari mengurut dadanya agar sabar.
"Baiklah kalau nyonya tak mau makan, nanti kalau nyonya besar lapar panggil saja saya." pelayan itu merapikan kembali bubur yang tidak jadi di makan oleh nyonya Veronica dan pelayan itu pergi meninggalkan nyonya Veronica sendiri di ruangannya dengan membawa bubur tadi.
"Kamu kemana nak? Kenapa tak datang menemui mama? Apakah kamu begitu membenci mama?" gumam nyonya Veronica setelah membuka matanya dan melihat kearah pintu saat pelayan menutupnya.
Sudah seharian ini ia tak mau makan. Bukanya tak mau sembuh tapi tak ada seorang pun yang datang menyemangati dirinya untuk sembuh.
Keesokan harinya Dafa dan Laras pergi bersama membesuk nyonya Veronica. Keduanya berjalan di koridor rumah sakit di ikuti oleh bil Siti dan asistennya.
"Aku gugup, sayang." ujar Laras dengan wajah tegang.
" Santai aja, buang pikiran buruk di kepalamu." Dafa menggenggam tangan Laras yang terasa dingin, menyalurkan energi positif agar istrinya merasa tenang.
"Aku takut nyonya besar menolak, sayang." jangan Laras.
"Sudahlah, kita liat aja nanti. Rileks, tenang, bawa enjoy aja." Dafa mengelus tangan istrinya agar tidak gugup. Saat sampai di depan pintu kaki Laras teras berat sekan ada batu besar yang menghimpitnya sehingga kakinya tak bisa di gerakkan. Laras mengatur nafasnya agar bisa jauh lebih tenang.
Dafa memutar handel pintu dan menyembulkan kepalanya melihat ke arah dalam dimana mamanya terbaring.
Nyinya Veronica langsung menoleh kerah pintu dan tersenyum saat melihat orang yang begitu ia nanti akhirnya datang tapi senyum itu langsung hilang saat melihat wanita yang ada di belakang putranya. Nyonya Veronica langsung memalingkan wajahnya melihat kearah lain karna tak suka dengan kehadiran Laras.
"Mama." sapa Dafa sambil mendekat kerah mamanya di ikuti oleh Laras di belakangnya.
"Selamat siang, nyonya besar." sapa Laras dengan suara bergetar menahan rasa takut yang menyelimuti hatinya..
"Mama udah makan, ini Laras bawakan bronies kesukaan mama. Di makan ya, aku jamin mama pasti suka."
"Buang saja, aku tak sudi makan makanan dari dia." ucap nyonya Veronica membuat hati Laras terluka. Meski ia sudah mempersiapkan hati tetap saja perkataan dari mertuanya itu sungguh mengores hatinya.
"Kalau mama ga mau ya sudah, nanti aku suruh pelayan untuk membawanya dan membagikan pada penjaga di luar." Dafa meletakan kue tersebut di nakas samping ranjang mamanya.
"Mama cepat sembuh ya, mama ga mau gendong cucu mama nanti?" Dafa mengelus perut istrinya sambil tersenyum. Bohong jika nyonya Veronica tidak merasa tersentuh saat melihat perut buncit Laras karna ia juga begitu mendambakan kehadiran penerus di rumahnya. Tapi saat mengingat status Laras membuatnya kecewa.
"Maaf ma, aku ga bisa lama - lama di sini, kasihan istriku. Aku pamit ya, jangan lupa makan dan minum obat." Dafa mencium kening mamanya dan membawa Laras kelaur dari sana. Ia tau jika istrinya pasti tertekan berada di sana, makanya ia memutuskan untuk segera pergi.
Nyonya Veronica menatap pintu dengan perasan sedih. Putranya meninggalkan dirinya dan memilih membawa Laras keluar dari sana. Harusnya Dafa menemani dirinya dan bercerita tentang banyak hal agar dirinya kembali bersemangat.
Nyonya Veronica sebenarnya tidak jahat dan buruk, hanya karna ambisi dan egonya menutupi sisi baiknya serta pengaruh buruk dari Alex membuatnya melupakan kebaikan dirinya.
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
Assalamualaikum kk, apa kabar?
Di tunggu saran dan masukannya serta jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪🙏🙏