NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil Rapat Mendadak

Beberapa jam setelah insiden menegangkan di paviliun, suasana di dalam ruang pertemuan utama kediaman Wardhana terasa begitu mendidih dan sarat akan intimidasi politik korporasi.

Nyonya Zen duduk dengan anggun di sofa beludru, memancarkan wibawa aristokrat yang dingin. Di sudut lain, Dania, adik bungsu mereka yang masih polos, duduk terdiam dengan wajah cemas, memandang suasana mencekam di sekelilingnya tanpa berani bersuara.

Damian berdiri di dekat pilar dengan rahang yang mengeras, sementara Aksa bersandarkan dinding dengan gaya jangkung yang teramat tenang. Sepasang netra gelapnya menatap lurus ke depan, menyembunyikan riak kemurkaan yang pekat.

Pertemuan darurat ini digelar karena satu alasan mutlak: konferensi pers pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh Clarissa Narendra kemarin telah membuat saham Wardhana Group anjlok drastis di lantai bursa akibat isu ketidakstabilan internal.

Tuan Bagian Wardhana duduk di kursi utama, didampingi oleh Tuan Narendra yang sengaja datang membawa draf kesepakatan hitam yang baru demi menyelamatkan likuiditas kedua perusahaan.

Pembatalan pertunangan Aksa dan Clarissa telah menciptakan sentimen negatif yang luar biasa di kalangan investor," ucap Tuan Bagian dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa. Pria tua itu mengetuk meja marmer dengan jemarinya, menatap Damian dan Aksa bergantian.

"Oleh karena itu, demi menyelamatkan aliansi bisnis kedua keluarga, aku dan Tuan Narendra telah memutuskan untuk merombak rencana besar ini. Pernikahan dengan keluarga Narendra tidak akan dibatalkan, melainkan diganti. Damian... kau yang akan menikahi Clarissa Narendra minggu depan."

Damian tersentak, ego maskulinnya seketika bergejolak hebat di balik jas kusutnya. "Ayah! Aku adalah suami sah Valerian! Bagaimana bisa aku menikahi Clarissa—"

Kau tidak punya pilihan, Damian!" potong Tuan Bagian dengan ketegasan tirani yang mutlak, memutus argumen hukum anaknya. "Sifat temperamentalmu hampir membunuh janin yang ada di rahim Valerian hari ini. Kau tidak lagi memiliki kelayakan psikologis untuk memegang kendali atas dirinya atau aset V-Property Group."

Tuan Bagian kemudian mengalihkan pandangan matanya yang tajam dan jeli ke arah Aksa, lalu ke arah Valerian yang duduk tegak di sudut ruangan dengan sisa luka emosional di wajah cantiknya. Sebuah senyuman kelicikan yang teramat dingin muncul di sudut bibir pria tua itu saat ia membacakan klausul hukum paling ekstrem dalam sejarah keluarga mereka.

Mengenai Valerian dan janin di dalam rahimnya... kita akan membiarkan anak itu lahir terlebih dahulu ke dunia tanpa ada tes DNA paksa yang membahayakannya," lanjut Tuan Bagian, suaranya terdengar begitu tenang namun menusuk tepat ke ulu hati batin mereka.

"Namun dengarkan sumpah bisnisku malam ini. Jika setelah anak itu lahir, hasil tes medis membuktikan bahwa janin itu adalah anak biologis dari Aksa... maka hari itu juga, pernikahan Valerian dan Damian akan dianulir secara hukum. Valerian... akan resmi dinikahkan dengan Aksa."

Damian seketika tertawa hambar, sebuah tawa sarkas yang sarat akan keputusasaan batin yang mendalam. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. "Dinikahkan dengan Aksa? Ayah bercanda! Kau ingin menyerahkan istriku dan seluruh aset V-Property kepada anak sialan ini hanya karena selembar kertas tes DNA?!"

Jika sembilan bulan lagi anak itu terbukti darah dagingmu, Aksa... kau memang akan mendapatkan Valerian secara sah. Namun, hari itu juga, kau wajib menyerahkan seluruh kepemilikan saham eksternalmu di investasi London kepada Wardhana Group tanpa kompensasi sepeser pun. Kau harus melepas takhta investasimu dan kembali ke bawah kendaliku sebagai direktur operasional biasa.

Dan untukmu, Valerian..." Tuan Bagian menoleh, menatap menantunya dengan tatapan mengintimidasi. "...hak asuh atas anak itu akan dipegang sepenuhnya oleh yayasan keluarga Wardhana. Kau dan Aksa hanya diizinkan membesarkannya di bawah pengawasan ketat kami. Jika kau menolak, anak itu akan diambil paksa begitu lahir."

Deg.

Valerian mencengkeram erat pinggiran kursi kayu yang didudukinya. Konsekuensi yang dilemparkan Tuan Bagian benar-benar sebuah racun yang teramat masif.

Aksa perlahan menegakkan tubuh jangkungnya, melangkah mendekat ke arah meja dengan aura pembantaian yang kian menggelap di sekeliling tubuhnya. Rahang tegasnya mengetat tajam, memperlihatkan guratan urat leher yang menegang. Matanya menatap lurus ke dalam netra Tuan Bagian, lalu beralih sekilas pada Valerian yang tampak pucat dengan napas yang memburu pendek.

Kau pikir kau bisa mengendalikan masa depanku dengan draf sampah ini, Ayah?" desis Aksa parau, suara baritonnya yang berat bergema rendah.

Kau boleh menolaknya, Aksa. Tapi jika kau menolak, besok pagi Damian memiliki hak hukum penuh sebagai suami untuk membawa Valerian ke klinik khusus di luar kota dan melakukan ekstraksi medis paksa malam ini juga. Pilihannya ada di tanganmu," sahut Tuan Bagian dengan senyuman kelicikan yang teramat dingin dan mutlak.

Ruangan itu kembali diselimuti oleh keheningan yang mencekik batin. Nyonya Zen dan Tuan Narendra hanya menyaksikan dengan tatapan mata kalkulatif, sementara Dania tampak mulai meneteskan air mata ketakutan melihat konflik abang-abangnya yang kian meruncing ekstrem.

Valerian menatap Aksa dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kepasrahan yang mendalam sekaligus ketegasan yang tersisa. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, seolah memberi isyarat agar Aksa tidak mengorbankan seluruh takhta bisnis yang telah dibangunnya di London demi dirinya.

Aksa mengulurkan tangannya yang kekar, meraih pena perak di atas meja dengan gerakan taktis yang teratur. Tanpa ragu sedikit pun, ia menorehkan tanda tangannya di atas draf konsekuensi tersebut, mengunci dirinya sendiri ke dalam perjanjian hitam demi keselamatan wanita dan janin minggu keempat di rahim Valerian.

Aku menerima konsekuensinya," ucap Aksa datar, dingin, namun sarat akan riak kemurkaan yang siap meledak di masa depan. "Biarkan anak itu lahir. Dan pastikan kau memegang kata-katamu, Bagian Wardhana."

Rapat darurat yang menegangkan itu akhirnya dibubarkan menjelang pukul dua dini hari. Damian keluar dari ruangan dengan kemarahan gila yang tertahan, melangkah lebar menuju kamarnya sembari membanting barang apa saja yang dilewatinya.

Tuan Bagian dan pengawal lainnya segera mengosongkan area paviliun untuk mempersiapkan urusan administrasi pernikahan baru Damian dan Clarissa besok pagi.

Di dalam keheningan Paviliun Barat yang kini melonggar tanpa penjagaan ketat, Valerian terduduk lemas di sofa kulit ruang tengah. Seluruh tubuh cantiknya gemetar, bukan karena takut pada ancaman Tuan Bagian, melainkan karena kelegaan luar biasa bahwa janin di dalam rahimnya kini aman dari jamahan gila Damian.

Sret...

Sebuah langkah kaki yang tegap memecah keheningan. Aksa tidak langsung pergi meninggalkan paviliun. Pria jangkung itu melangkah lebar mendekati sofa, mengabaikan seluruh draf konsekuensi hukum yang baru saja ditandatanganinya. Di matanya saat ini, hanya ada Valerian.

Tanpa berkata-kata, Aksa langsung menarik tubuh seksi Valerian ke dalam dekapan lengan kekarnya yang teramat hangat, kuat, dan posesif.

Valerian tidak menolak; ia melingkarkan kedua tangan lentiknya di leher kokoh Aksa, menyandarkan wajah cantiknya di dada bidang pria itu sembari terisak pelan, menumpahkan seluruh beban batin yang nyaris meremukkan jiwanya sejak subuh tadi.

Dave... kau mengorbankan seluruh kerja kerasmu di London untuk draf gila itu," bisik Valerian teredam di dada Aksa, suaranya humanis, begitu lembut dan bergetar hebat penuh haru.

Pria itu justru mempererat remasan tangannya di pinggang ramping Valerian, lalu menangkup wajah cantik wanita itu dengan sepasang tangan hangatnya.

Sudah kukatakan, Sayang .. aset dan saham di London tidak ada artinya jika aku harus kehilanganmu dan anak ini," bisik Aksa parau, suara baritonnya yang berat merendah tepat di depan bibir ranum Valerian. "Biarkan dunia menghakimi aliansi dosa ini, tapi aku bersumpah, sembilan bulan lagi kau akan menjadi milikku sepenuhnya secara sah."

Aksa perlahan menurunkan wajahnya, menuntut hak atas romansa mereka yang kini telah mendapatkan celah hukum dari sang tirani. Bibirnya menyapu lembut tetesan air mata di pipi Valerian, sebelum akhirnya mengunci bibir ranum wanita itu dalam sebuah ciuman yang teramat dalam, intim, dan penuh dengan gairah protektif yang meledak-ledak.

Valerian melenguh pasrah, membiarkan dirinya tenggelam seutuhnya dalam kemesraan yang begitu manis dan memabukkan batin mereka di bawah temaram lampu paviliun.

Jari-jari jangkung Aksa bergerak telaten, mengusap punggung seksi Valerian dengan kehangatan yang meruntuhkan sisa ketakutan, sementara tangan lainnya perlahan turun meraba perut rata Valerian, menyapa janin kecil di dalam sana.

Mereka saling bertukar napas dan kehangatan di atas sofa, menikmati detik-detik kemesraan yang begitu intens, intim, dan tak terbantahkan.

Namun, di tengah pagutan panas yang kian mendalam dan mendominasi kesadaran itu, gawai milik Aksa yang tergeletak di atas meja kaca mendadak menyala terang dalam mode senyap.

Sebuah pesan enkripsi otomatis tanpa nama masuk, memecah fokus Aksa dan menampilkan sebaris kalimat yang seketika membuat darah di sekujur tubuh jangkungnya berdesir.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!