"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 32
Hari-hari setelah perceraian itu berjalan lambat bagi Dinda. Terlalu lambat bahkan. Semua hal terasa berbeda sekarang.
Tak ada lagi suara Ervin yang memanggilnya dari ruang tamu sepulang kerja. Tak ada lagi pria itu yang diam-diam memeluknya dari belakang saat memasak. Tak ada lagi pertengkaran kecil soal hal sepele yang dulu justru terasa hangat.
Dan yang paling menyakitkan—tak ada lagi tempat untuk pulang sebagai seorang istri.
Dinda mencoba terlihat baik-baik saja. Ia tetap bekerja. Tetap membantu Bu Indri di butik. Tetap tersenyum ketika pelanggan datang.
Namun orang-orang terdekatnya tahu,
senyum itu tidak lagi sama. Terutama Bu Indri. Wanita paruh baya tersebut beberapa kali memergoki Dinda melamun sendirian sambil menatap kosong layar iPad di tangannya.
“Kalau capek, pulang aja dulu,” ujar Bu Indri lembut sore itu.
Namun Dinda langsung menggeleng kecil. “Aku lebih takut kalau diem sendirian, Bu.” Kalimat itu sukses membuat hati Bu Indri ikut terasa nyeri.
Karena ia tahu—kesepian setelah kehilangan seseorang memang bisa sehancur itu. Dan ia sadar diri, semua kesedihan yang dialami oleh Dinda, diciptakan oleh kesalahan putrinya.
"Daaa!” Suara kecil Glenka kembali menggema memenuhi butik sore itu.
Dan seperti biasa—hanya suara bayi itu yang berhasil membuat wajah Dinda sedikit hidup kembali.
“Ya ampun, anak cantik datang lagi...” gumam Dinda sambil menggendong tubuh kecil tersebut. Glenka langsung tertawa kecil sambil memegang pipi Dinda gemas.
“Maaa...” Panggilan itu masih selalu membuat hati Dinda menghangat sekaligus nyeri di waktu bersamaan.
Karena sejak dulu—ia selalu ingin menjadi ibu.
Namun impian itu justru hancur bersama rumah tangganya. Sedangkan sekarang, seorang bayi kecil yang bahkan bukan darah dagingnya, perlahan mengisi ruang kosong dalam dirinya tanpa izin.
“Dia nyariin lo dari tadi,” ujar Raka sambil mendudukkan tubuh di sofa butik.
Pria itu terlihat lelah hari ini. Tatapannya sedikit sayu. Bahkan senyum kecil di wajahnya pun terasa dipaksakan.
“Kamu sakit?” tanya Dinda spontan.
Raka langsung menggeleng pelan. “Gue cuma kurang tidur.”
Namun Dinda tahu itu bohong. Sorot mata pria tersebut terlihat terlalu berat hanya untuk sekadar kurang tidur.
“Masalah kerjaan lagi?” tanyanya hati-hati.
Raka terdiam beberapa saat. Lalu akhirnya mengangguk kecil. “Kurang lebih begitu."
Dinda tidak mendesak lebih jauh. Meski rasa penasarannya semakin besar, ia sadar ada banyak hal yang belum ingin diceritakan Raka padanya.
Dan entah kenapa—hal itu justru membuat dirinya ikut merasa tidak tenang.
*****
Malam itu, Raka mengajak Dinda dan Glenka makan malam di sebuah warung sederhana dekat taman kota. Tidak mewah, namun terasa hangat.
Glenka duduk di baby chair sambil sibuk menghancurkan kerupuk kecil di tangannya. Sedangkan Dinda beberapa kali tertawa geli melihat tingkah bayi tersebut.
“Kamu manis banget sih,” gumam wanita itu sambil membersihkan remah di bibir Glenka.
Sedangkan Raka diam-diam memperhatikan pemandangan itu cukup lama. Tatapannya berubah lembut. Sangat lembut.
Dan tanpa sadar, dadanya terasa sesak. Karena semakin hari, semakin sulit baginya membayangkan meninggalkan dua orang itu.
“Kamu kenapa ngeliatin aku terus?” celetuk Dinda tiba-tiba.
Raka langsung tersadar dari lamunannya. “Enggak," pria itu menggeleng kaku.
“Bohong. Kamu tahu kan, aku paling benci dibohongi?" Dinda menatapnya jengkel kali ini.
Pria itu terkekeh kecil. Pria itu mengusik rambut halus milik Dinda.
Namun beberapa detik kemudian, senyumnya perlahan memudar. Pria itu memegang tangan milik si wanita. “Din..."
“Hm?”
Kalimat berikutnya terasa berat sekali untuk keluar dari bibir Raka. Namun pria itu tetap memaksakan diri bicara.
“Kalau nanti gue pergi...” suaranya pelan. “Lo jangan marah, ya?" Raka menatap lekat setiap inci wajah cantik itu.
Deg.
Jantung Dinda langsung terasa tidak nyaman lagi. “Kamu ngomong kayak mau hilang aja.”
Raka tertawa kecil hambar. “Mungkin emang bakal begitu.” Pria itu menunduk, kembali memutarkan garpu ditangannya tanpa ada niatan untuk melahap makanannya.
“Aku nggak suka bercandaan kayak gitu.”
“Gue serius.” Namun, Raka menyanggahnya.
Seketika suasana meja makan berubah hening. Dinda menatap pria di depannya cukup lama. Tatapan Raka berbeda malam ini. Terlalu sendu, dan terlalu berat.
Seolah pria itu sedang membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia tunjukkan selama ini.
“Raka...” suara Dinda melemah. “Sebenernya ada apa?”
Untuk beberapa saat, Raka hanya diam. Tatapannya turun ke arah Glenka yang sedang tertawa kecil memainkan sendok plastiknya.
Dan tepat di detik itu—raut wajah pria tersebut berubah sangat rapuh.
“Gue takut nggak bisa balik cepat.”
Deg.
Napas Dinda langsung tercekat. Dia memegangi lengan kekar milik si pria, kemudian berusaha memastikan. “Maksud kamu?”
Raka mengusap wajahnya pelan. Lalu dengan suara rendah berkata—“Gue harus nyelesain sesuatu di luar negeri.”
“Kerjaan?” tebak Dinda tak habis pikir.
Pria itu tersenyum kecil. “Kalau bisa dibilang kerjaan... mungkin iya.” Jawaban itu semakin menggantung.
Namun Dinda bisa merasakan satu hal—Raka sedang tidak baik-baik saja.
“Kenapa harus sampai ninggalin Glenka?”
Pertanyaan itu membuat mata Raka perlahan berubah merah. Dan untuk pertama kalinya—pria itu terlihat benar-benar kehilangan arah.
“Karena gue nggak mau dia ikut kena dampaknya.”
Dinda langsung terdiam. Wanita itu kembali mencerna ucapan Raka dengan serius. “Dampak apa yang kamu maksud?”
Hening lama sekali. Sampai akhirnya Raka menggeleng pelan. “Gue belum bisa cerita sekarang.”
Jujur saja, hal itu mulai membuat Dinda kesal.
“Aku nggak ngerti sama kamu,” lirihnya pelan. “Kamu muncul tiba-tiba setelah bertahun-tahun hilang. Terus sekarang ngomong mau pergi lagi.”
Raka hanya diam menerima semua kalimat itu. Karena memang benar. Dirinya datang dan pergi sesuka hati dari hidup Dinda. Dan bodohnya—wanita itu tetap menyambut dirinya dengan hangat.
“Gue minta maaf.” Kalimat sederhana itu justru membuat Dinda semakin emosional.
“Kamu pikir, gampang, ditinggal terus?”
Raka langsung mengangkat wajahnya cepat. Sedangkan Dinda tampak tersadar atas ucapannya sendiri. Namun semuanya sudah terlanjur keluar.
“Aku baru selesai kehilangan rumah tanggaku,” lanjut wanita itu dengan mata berkaca-kaca. “Aku capek kalau harus ditinggal lagi.”
Dan kalimat itu sukses membuat dada Raka terasa diremas kuat. Karena ternyata, kepergiannya mulai berarti bagi Dinda.
*****
Malam semakin larut ketika Raka mengantar Dinda pulang. Sepanjang perjalanan,
tidak banyak percakapan di antara mereka. Hanya suara kecil dari lagu radio dan napas pelan Glenka yang tertidur di kursi belakang.
Namun tepat sebelum Dinda turun dari mobil—Raka akhirnya memanggilnya pelan. “Din.”
Wanita itu menoleh, membuat tatapan pria tersebut tampak begitu dalam malam ini. “Gue nitip sesuatu sama lo nanti.”
“Apa?”
Raka tersenyum kecil. “Separuh hidup gue.”
Deg.
Jantung Dinda berdetak keras. Sedangkan Raka perlahan menoleh ke arah kursi belakang—tempat Glenka tertidur pulas dengan boneka kecil di pelukannya.
Dan saat itu juga, Dinda mulai sadar. Raka benar-benar serius akan pergi.