Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
...[Kehancuran yang Mengintai]...
...---...
Lorong sepi di kediaman Lawrence hanya diterangi cahaya redup dari lampu dinding. Darren berjalan tergesa, Neysa terkulai lemas dalam pelukannya. Wajahnya pucat, dan guratan merah di lehernya seolah menjadi bukti dosa yang baru saja ia lakukan.
Di sisi lain, Jessica berdiri di ujung lorong, menyandarkan tubuhnya pada dinding marmer dingin. Bibirnya melengkung dalam senyum penuh arti, seperti seekor kucing yang mengamati mangsanya.
"Kasihan sekali," gumamnya pelan, cukup keras untuk didengar dirinya sendiri. "Barnes, Lawrence, dan semua ini... Sepertinya, akhir mereka sudah dekat. Semua yang perlu kulakukan hanya sedikit sentuhan pada bidak catur, dan sisanya akan runtuh."
Dia memiringkan kepalanya, matanya mengikuti Darren yang menghilang di balik pintu keluar. "Sayang sekali, Darren. Kau bahkan tak menyadari bahwa lebih memilih mati di tangan Lawrence daripada hidup damai di keluarga Cadmael."
---
Di luar kediaman Lawrence.
Darren membopong Neysa menuju mobilnya, kakinya bergerak cepat tetapi pikirannya penuh dengan kekacauan. Sesekali, matanya tertuju pada guratan merah di leher Neysa, membuat rasa bersalahnya semakin mencekik.
Apa yang telah kulakukan? pikirnya. Nafasnya terasa berat, bukan karena beban fisik, tetapi karena kepedihan yang menekan dadanya.
Neysa tampak begitu rapuh, jauh berbeda dari sosok keras kepala yang biasa ia kenal. Di balik segala amarahnya, ada rasa takut yang ia coba abaikan—takut bahwa ia telah melukai seseorang yang diam-diam mulai mengisi ruang hatinya.
"Apa kau benar-benar memedulikanku, ataukah semua ini hanya permainan licik?" gumam Darren frustasi, lalu memasukkan Neysa ke kursi belakang mobilnya.
Alih-alih menuju rumah sakit umum, Darren membelokkan mobilnya ke rumah dokter keluarganya, Winston. Rumah itu tidak jauh dari kediaman Lawrence, dan yang ia butuhkan saat ini hanyalah seseorang yang bisa dipercaya.
---
Pintu kayu tua itu terbuka dengan suara berderit ketika Darren menekan bel. Winston muncul di ambang pintu, ekspresi wajahnya berubah dari kebingungan menjadi keterkejutan ketika melihat Darren berdiri dengan Neysa dalam gendongannya.
"Masuk," kata Winston buru-buru, suaranya terdengar tegang. "Apa yang terjadi? Siapa dia?"
Darren tidak menjawab. Dia hanya mengikuti Winston ke dalam, menurunkan Neysa di ranjang tamu yang sederhana tetapi nyaman. Dari dalam, terdengar suara Amy, istri Winston, yang tergopoh-gopoh menghampiri.
Amy menatap Neysa dengan cepat, lalu kembali ke Darren. Mata Amy menyipit ketika ia melihat guratan merah di leher gadis itu.
"Kau gila, Darren," ucap Amy dengan suara tajam. "Bagaimana mungkin kau mencekik seseorang seperti ini? Kau tahu bisa saja dia..." Amy berhenti, menahan kata-kata yang terlalu berat untuk diucapkan.
"Aku kehilangan kendali," Darren menjawab pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Dia membohongiku. Dia... Lawrence. Selama ini dia mempermainkan kami semua."
Pernyataan itu membuat Winston terkejut. "Lawrence?" ulangnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Jadi dia bukan pelayan keluarga Barnes?"
Amy, yang awalnya bersikap tegas, perlahan mengalihkan fokusnya ke Neysa. Ia memeriksa denyut nadi gadis itu, memastikan kondisinya stabil, meskipun ekspresi cemas tak dapat ia sembunyikan.
"Kau harus mengembalikannya ke keluarganya, Darren," kata Amy akhirnya. "Aku tidak mau terlibat dengan Lawrence. Mereka berbahaya, bahkan untuk keluarga Barnes."
"Sayangnya, dia mengakui hubungan kami di depan umum. Apa yang bisa aku lakukan? Dia tahu cara membuat dirinya aman. Tidak peduli walaupun satu keluarga akan hancur di tangannya," timpal Darren sinis .
Amy terperangah, tidak menyangka Neysa memiliki pemikiran yang sangat teliti. Dengan pernikahannya dengan Darren jelas Kakak Angkatnya tidak punya kesempatan untuk mengambil alih harta Lawrence. Kesempatannya untuk menikahi Nona Lawrence tidak akan terjadi.
Tapi Darren, jelas posisinya tidak menguntungkan. "Astaga, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Neysa sangat g i l a."
Namun Darren tidak menjawab. Matanya terpaku pada wajah Neysa yang pucat. Ada sesuatu yang lain dalam pandangannya—sebuah kerumitan yang tidak bisa ia jelaskan.
---
Ketika Amy memeriksa kembali Neysa lebih teliti, ia berhenti di bagian perut gadis itu. Tangannya gemetar ketika ia memutar tubuh untuk menatap Darren, yang kini terlihat bingung.
"Darren..." Amy berbicara dengan suara bergetar. "Dia hamil."
Pernyataan itu menghentikan waktu sejenak. Darren tidak bereaksi selama beberapa detik, lalu perlahan ia mengalihkan pandangannya ke Neysa. Sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya, tetapi senyuman itu penuh dengan rasa sakit.
"Aku tidak tahu," gumamnya pelan. "Aku tidak tahu dia membawa anakku."
Winston menggelengkan kepala, wajahnya mencerminkan kekhawatiran. "Kau sadar apa artinya ini, Darren? Derrick tidak akan tinggal diam. Jika dia tahu tentang bayi ini, dia akan menganggapnya sebagai ancaman langsung terhadap posisinya di keluarga Lawrence."
Darren tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan penuh keputusasaan. "Dia boleh mencoba," katanya dingin. "Aku tidak peduli apa yang Derrick inginkan. Aku hanya ingin anak ini lahir dengan selamat. Setelah itu..."
Dia berhenti, matanya kembali ke wajah Neysa. "Setelah itu, mereka bisa melakukan apa saja pada Neysa. Aku tidak peduli."
Amy memandangnya dengan tatapan tajam. "Kau pikir itu akan mudah? Kau pikir kau bisa mempertahankan anak ini tanpa menjaga ibunya?"
Winston menimpali, suaranya penuh kehati-hatian. "Jika kau benar-benar peduli pada anak itu, Darren, kau harus mulai berpikir lebih jauh dari sekadar amarahmu pada Neysa."
Darren tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Neysa yang dingin, seolah mencoba mencari jawaban dalam keheningan.
B e r s a m b u n g ....
Lagi semangat nulis cb ini, jadi Mimin posting part ke-duanya. Makasih sudah baca. Jangan lupa tinggalkan jejak, biar Mimin semangat (^^)