Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Burung Pipit di Menara Kaca
Dimensi waktu terlipat tanpa suara. Kilatan petir yang membelah langit Pasanggrahan Bubat berabad-abad lalu mendadak luruh, bertransisi menjadi kilatan lampu neon putih yang berkedip monoton di langit-langit sebuah kamar kos petak berukuran tiga kali tiga meter di sudut gang sempit kawasan Jakarta Selatan. Tidak ada lagi harum dupa cendana atau anyir darah yang menguap di atas rumput; udara di sini pengap, dipenuhi bau knalpot yang merembes dari balik jendela nako berdebu, berkelindan dengan aroma mi instan kuah yang baru saja matang dari dalam panci listrik kecil di sudut ruangan.
Suara gemuruh derap kaki kuda dan teriakan perang laskar Bhayangkara berganti menjadi simfoni mengerikan khas kota metropolitan. Klakson mobil yang bersahut-sahutan dari jalan arteri yang berjarak beberapa ratus meter, deru mesin sepeda motor yang membelah gang, serta bisingnya obrolan tetangga kos yang dipisahkan oleh dinding batako tipis. Di sinilah, di tengah belantara beton abad ke-21 yang dingin dan tak punya hati, jiwa yang letih itu kini bermuara.
Namanya Citra Kencana. Sebuah nama yang indah, namun terasa terlalu berat untuk dipikul oleh pundak gadis yatim piatu berusia dua puluh tahun tersebut.
Secara fisik, Citra adalah definisi dari kecantikan alami yang tidak disadari pemiliknya. Kulitnya kuning langsat bersih khas perempuan tatar Sunda, hidungnya bangir kecil, dan sepasang matanya yang bulat berbingkai bulu mata lentik seolah menyimpan seluruh kedalaman telaga purba. Rambut hitamnya yang panjang bergelombang seringkali diikat asal-asalan dengan karet gelang murah, menyembunyikan lehernya yang jenjang. Namun, berbeda dengan kecantikan Nyai Kencana di masa lalu yang memancarkan aura ketegasan seorang perisai hidup, Citra Kencana di era modern ini adalah sosok yang sangat rapuh.
Sikap tubuhnya selalu defensif. Bahunya menekuk ke dalam, kepalanya hampir selalu menunduk menatap ujung sepatu ketsnya yang sudah mengelupas di bagian sol, dan jemarinya seringkali bertautan erat karena kecemasan yang kronis. Citra menderita rasa minder yang akut akibat status sosialnya yang berjarak teramat jauh dari lingkungan sekitarnya.
Ia adalah mahasiswi program studi Manajemen Bisnis Internasional di Universitas Dirgantara, sebuah kampus swasta paling elite dan glamor di ibu kota. Citra bisa berada di sana hanya karena satu alasan: kejeniusannya yang di atas rata-rata berhasil menembus program beasiswa penuh Dirgantara Scholar. Namun, beasiswa hanya menanggung biaya kuliah. Untuk bertahan hidup di Jakarta, Citra harus memeras keringat dan memotong sisa harga dirinya dalam-dalam.
Di atas meja lipat kayunya yang sudah reyot, lembaran uang sepuluh ribu rupiah terakhir untuk minggu ini diganjal oleh buku diktat akuntansi yang tebal. Citra menatap mangkuk mi instannya dengan pandangan kosong. Di kampus, teman-teman seangkatannya memesan kopi susu seharga lima puluh ribu rupiah seolah-olah itu hanyalah air mineral biasa, sementara dirinya harus menghitung dengan cermat apakah uang di dompetnya cukup untuk membeli ongkos angkutan umum hingga akhir bulan. Lingkungan yang glamor itu tidak membuatnya termotivasi, melainkan semakin mengerdilkan jiwanya, membuatnya merasa seperti sebutir debu miskin yang tersesat di dalam istana kaca.
Keesokan paginya, ruang kuliah utama Gedung Alpha Universitas Dirgantara dipenuhi oleh sejuknya embusan penyejuk udara sentral dan wangi parfum-parfum mahal rancangan desainer Eropa. Dosen paruh baya di depan kelas, Profesor Rahardjo, baru saja menyelesaikan penjelasan rumit mengenai strategi merger dan akuisisi korporasi multinasional, lalu melemparkan sebuah pertanyaan analitis yang menjebak ke forum.
"Jika kondisi likuiditas perusahaan target berada dalam posisi under distress seperti kasus yang saya sebutkan tadi, namun struktur kepemilikan aset tetapnya masih dinilai overvalued oleh pasar, langkah restrukturisasi apa yang paling efisien untuk meminimalkan risiko bagi perusahaan akuisitor? Ada yang bisa menganalisis?"
Keheningan melanda ruangan besar tersebut. Sebagian besar mahasiswa kelas internasional itu mendadak sibuk berpura-pura mencatat atau menunduk menatap layar tablet mahal mereka, menghindari kontak mata dengan sang profesor.
Di barisan paling belakang, di sudut yang paling tidak menarik perhatian, Citra Kencana mengangkat tangan kanannya perlahan, ragu-ragu, seolah takut tindakannya dianggap sebagai sebuah pelanggaran.
"Ya, Citra. Silakan," ujar Profesor Rahardjo dengan binar mata yang mendadak cerah.
Citra berdiri, meremas ujung kemeja flanelnya yang sudah pudar warnanya. Suaranya terdengar cicit dan pelan pada awalnya, namun seiring dengan argumen yang tersusun di kepalanya, analisisnya mengalir dengan sangat runtut dan tajam. "Langkah paling efisien adalah melakukan Debt-to-Equity Swap yang dikombinasikan dengan Spin-Off pada unit bisnis non-inti, Prof. Dengan begitu, utang perusahaan target dikonversi menjadi saham untuk mengurangi beban likuiditas langsung, sementara aset tetap yang overvalued dapat diisolasi agar tidak mendistorsi neraca konsolidasi perusahaan akuisitor sejak tahun pertama fiskal..."
Profesor Rahardjo tersenyum lebar sembari bertepuk tangan tunggal. "Luar biasa, Citra! Analisis yang sangat matang dan taktis. Kalian semua harus mencontoh bagaimana Citra membaca studi kasus ini secara makro."
Pujian itu menjadi bumerang seketika. Citra segera duduk kembali dengan wajah merona merah karena malu, membenamkan wajahnya di balik buku catatan. Ia bisa merasakan atmosfer di sekelilingnya mendadak berubah menjadi dingin dan penuh permusuhan.
Di barisan depan, seorang gadis berambut pirang kecoklatan hasil penataan salon kelas atas memutar bola matanya dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupis. Natasha. Dia adalah putri dari seorang pengusaha logistik papan atas, sosialita kampus yang menguasai hierarki pergaulan di Universitas Dirgantara. Bagi Natasha, kampus adalah panggung pribadinya di mana dia harus menjadi pusat semesta. Kehadiran Citra, si anak beasiswa miskin yang selalu berpakaian seperti gelandangan namun selalu berhasil mencuri perhatian para dosen dengan otaknya, adalah sebuah cacat yang mengganggu pandangannya. Terlebih lagi, kecantikan alami Citra yang tanpa riasan itu seringkali membuat para mahasiswa populer di kampus diam-diam mencuri pandang, sesuatu yang dianggap Natasha sebagai penghinaan langsung terhadap status kecantikannya yang berbiaya ratusan juta rupiah.
Ketika kelas usai dan koridor kampus mulai sepi, Natasha bersama dua orang anteknya sudah menunggu di dekat tikungan tangga darurat, tempat yang biasa dilewati Citra untuk menghindari kerumunan di lift utama.
Saat Citra berjalan sembari memeluk tiga buku diktat tebal di dadanya, langkahnya mendadak terhenti karena Natasha sengaja menggeser tubuhnya, memblokade jalan dengan tangan bersedekap.
"Permisi... aku mau lewat," bisik Citra, pandangannya langsung beralih ke lantai marmer koridor.
"Oh, mau lewat ya? Buru-buru banget, sih. Mau ngejar jadwal kerja paruh waktu jadi tukang cuci piring?" sindir Natasha, suaranya melengking tinggi, memantul di dinding koridor. Dua temannya tertawa cekikikan, sengaja memperkeras suara mereka agar didengar oleh beberapa orang yang tersisa.
Natasha melangkah satu depa lebih dekat, menatap kemeja flanel Citra dengan pandangan menghina. "Heh, anak beasiswa. Lo itu kalau ke kampus, minimal kacaan dulu napa sih? Bau minyak angin lo itu bikin polusi di kelas internasional tahu gak? Gak tahu diri banget. Mentang-mentang barusan dipuji sama Prof. Rahardjo, lo ngerasa udah selevel sama kita-kita di sini?"
"Bukan begitu, Nat... aku cuma jawab pertanyaan…"
"Halah, bacot!" Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan sengaja, Natasha menyenggol siku Citra dengan keras.
Brak!
Tiga buku diktat akuntansi dan ekonomi yang berat itu terlepas dari pelukan Citra, terhempas ke atas lantai dan meluncur ke sudut-sudut koridor yang kotor. Lembaran kertas catatan lepas yang ditulis tangan oleh Citra dengan rapi bertaburan, beberapa di antaranya terinjak oleh ujung sepatu hak tinggi milik Natasha.
"Aduh, sori ya, gak sengaja. Habisnya lo jalannya merayap kayak kecoak, sih," ucap Natasha dengan senyum kemenangan yang kejam. "Yuk, guys, kita cabut. Di sini mendadak bau kemiskinan."
Geng itu berlalu dengan tawa riuh yang menggema. Citra Kencana tetap berdiri mematung selama beberapa detik. Bahunya gemetar hebat, dan setetes air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya. Dengan posisi berlutut yang rapuh, ia mulai memunguti lembar demi lembar catatannya yang telah ternoda jejak kaki kotor, meratapi nasibnya dalam kesunyian koridor yang dingin.
Kedengkian di hati Natasha ternyata tidak lebur hanya dengan merundung Citra di koridor. Sore harinya, sebuah insiden susulan di papan pengumuman fakultas benar-benar menyulut api dendam yang membakar habis sisa-sisa kewarasannya. Nilai ujian tengah semester mata kuliah Manajemen Strategis keluar, dan nama Citra Kencana bertengger mutlak di urutan pertama dengan nilai sempurna seratus, sementara nama Natasha berada di batas bawah kelulusan. Lebih parah lagi, Wijaya Samudra, mahasiswa kaya raya yang selama ini dikejar-kejar oleh Natasha, justru kedapatan sedang mencoba mengajak Citra mengobrol di depan perpustakaan, meskipun Citra mengabaikannya karena ketakutan.
Bagi Natasha, itu adalah deklarasi perang. Harga dirinya yang setinggi langit telah diinjak-injak oleh seorang gadis yang dianggapnya tidak lebih dari sekadar sampah subsidi.
Di dalam kabin mobil sedan mewah Mercedes-Benz miliknya yang melaju membelah kemacetan malam Jakarta, Natasha mencengkeram kemudi dengan jemari yang memutih. Matanya berkilat penuh amarah yang gelap. Di kursi penumpang, dua orang temannya hanya diam, tidak berani menyulut bom waktu yang siap meledak di samping mereka.
Natasha meraih ponselnya, memasang perangkat hands-free, lalu menekan sebuah nomor kontak yang tersimpan dengan nama samar. Setelah tiga kali nada sambung, panggilan itu diangkat oleh sebuah suara bariton yang berat dan kasar di ujung sana, suara dari salah satu preman bayaran yang biasa disewa oleh keluarga kelas atas untuk membereskan "masalah-masalah kotor".
"Halo, Bos. Ada perintah?" suara di seberang terdengar serak.
"Gue butuh jasa lo malam ini juga," ujar Natasha, nadanya dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Kekejaman psikologis terpancar dari setiap penekanan katanya. "Ada satu target. Cewek parasit di kampus gue. Gue mau lo bikin dia kapok. Kapok sampai dia gak punya muka lagi buat menginjakkan kaki di universitas ini selamanya."
"Bikin cacat fisik, Bos? Atau gimana?"
Natasha tersenyum seringai di kegelapan kabin mobilnya. Sebuah senyuman yang murni lahir dari iblis kedengkian. "Jangan bikin cacat fisik yang kelihatan. Gue mau lo hancurin harga dirinya sebagai perempuan. Bawa beberapa anak buah lo, seret dia ke tempat sepi, lalu noda-i dia sampai dia ngerasa gak lebih berharga dari pelacur jalanan. Rekam kalau perlu, biar gue punya mainan buat disebar kalau dia berani lapor polisi."
"Siap, Bos. Data targetnya?"
"Namanya Citra Kencana. Dia anak beasiswa miskin yang gak punya siapa-siapa di kota ini. Malam ini dia pasti ada di perpustakaan kampus sampai jam delapan malam karena besok ada kuis. Dia selalu jalan kaki lewat gang sepi di samping halte busway koridor sembilan buat balik ke kosannya. Lo cegat dia di sana. Uang mukanya gue transfer sekarang juga."
Natasha mematikan sambungan telepon dengan perasaan puas yang membuncah. Di kepalanya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana esok hari Citra akan datang merangkak dengan jiwa yang hancur, atau bahkan memilih untuk keluar dari kampus selamanya karena trauma psikologis yang mematikan.
Sementara itu, jam dinding digital di dalam Perpustakaan Universitas Dirgantara telah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit malam.
Citra Kencana menghela napas panjang, merapikan buku-buku diktatnya ke dalam tas ransel kainnya yang sudah mulai tipis jahitannya. Matanya terasa lelah setelah berjam-jam menatap angka-angka akuntansi, namun ada kepuasan kecil di hatinya karena ia merasa siap menghadapi ujian esok hari.
Ia melangkah keluar dari gedung perpustakaan yang megah, menembus udara malam Jakarta yang pekat dan gerah. Citra berjalan sendirian, memeluk tas ranselnya di depan dada sebagai bentuk perlindungan diri yang naluriah. Lampu-lampu jalan di sekitar area kampus mulai temaram, memproyeksikan bayangan tubuhnya yang kurus di atas trotoar semen.
Ia mulai melangkah memasuki mulut gang sepi yang berada di samping halte busway, jalur pintas andalannya untuk menghemat waktu dan ongkos menuju kos petaknya. Suasana di dalam gang itu teramat sunyi, kontras dengan keramaian jalan raya di luar. Hanya ada satu dua lampu merkuri yang menyala redup, menciptakan area-area gelap yang panjang di antara dinding-dinding pembatas ruko kosong.
Citra mempercepat langkah kakinya ketika mendengar suara gesekan langkah sepatu lain di belakangnya. Detak jantungnya mendadak berdegup kencang, firasat buruk mulai mengetuk dinding batinnya yang rapuh. Ia menundukkan kepala, memeluk tasnya lebih erat, berjalan setengah berlari di bawah temaramnya lampu jalan. Ia tidak menyadari, bahwa di balik kegelapan tikungan gang di depannya, tiga bayangan tubuh pria bertubuh kekar telah bersiap memotong jalur langkahnya, mengunci sang burung pipit dalam jebakan maut yang tak menyisakan celah untuk melarikan diri.