NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:851
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN TOL KEMATIAN

Raungan mengerikan semalam seolah menolak pergi. Gema suaranya masih terus terngiang di pelipis mereka, merenggut setiap jengkat tidur nyenyak yang tersisa.

Satu hal yang pasti: suara dari arah selatan itu benar-benar berbeda. Itu bukan geraman parau dari *infected* biasa yang sering mereka bantai, bukan pula teriakan putus asa manusia yang sedang dijemput ajal. Suara itu terdengar masif, berat, dan menyimpan daya hancur yang jauh lebih mengerikan.

Dan sialnya, monster apa pun yang mengeluarkan suara itu, posisinya tepat berada di rute tujuan mereka. Sektor selatan. Tempat yang dijanjikan oleh siaran radio semalam sebagai titik koordinat jalur keempat—satu-satunya tiket emas mereka untuk angkat kaki dari kota jahanam ini.

Pagi pun tiba, disambut oleh langit mendung yang menggantung rendah bagai atap beton kelabu. Kabut tipis perlahan turun, menyelimuti puing-puing bangunan dengan jubah putih yang dingin.

Damar berdiri tegap di tepi atap gedung. Sepasang matanya menyipit, menyisir jalanan mati di bawah sana. Kota ini tampak sunyi, tapi pengalaman pahit selama ini telah menamparnya dengan satu pelajaran berharga: kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Selalu ada mata yang mengintai dari kegelapan. Selalu ada taring yang siap menerkam.

*Tap. Tap.*

Suara langkah sepatu taktis memecah keheningan. Kapten Rendra berjalan mendekat, lalu mengambil posisi di samping Damar. "Masih kepikiran suara semalam?"

Damar mengangguk pelan, pandangannya tetap lurus ke depan. "Iya."

Rendra mengembuskan napas panjang, membiarkan uap tipis keluar dari mulutnya. "Gue juga."

Keduanya terdiam. Angin pagi yang menusuk tulang berembus melewati mereka. Di kejauhan, siluet deretan gedung pencakar langit berdiri kaku bagai deretan monster hitam yang menusuk langit kelabu.

"Kita tetap lanjut?" tanya Damar, memecah kecemasan yang menggantung di udara.

Rendra menoleh, lalu menyunggingkan senyum tipis—jenis senyum pahit milik seorang prajurit yang sudah kenyang makan asam garam. "Sejak kapan kita punya kemewahan buat milih, Mar?"

Damar ikut tersenyum kecil. Benar juga. Di papan permainan hidup dan mati ini, pilihan mereka cuma dua: maju menerobos neraka, atau membusuk perlahan di tempat ini.

Tepat pukul delapan pagi, mereka resmi angkat kaki dari gedung persembunyian. Kejutan kecil terjadi sebelum berangkat; Yanto memutuskan untuk ikut bertaruh nyawa bersama kelompok.

Awalnya Kapten Rendra sempat menaruh keberatan. Yanto sudah berkepala lima. Fisik dan staminanya jelas sudah melewati masa keemasan untuk diajak adu lari dengan maut. Namun, tatapan mata pria tua itu begitu keras saat bersikeras.

"Aku udah capek hidup kayak hantu, sendirian di tempat ini," cetus Yanto datar. "Kalau emang jatahku mati hari ini, ya mati aja. Tapi setidaknya, aku gak mau mati dalam sepi."

Kalimat telak yang mengunci semua perdebatan. Di dunia yang runtuh ini, racun kesepian terkadang memang jauh lebih mematikan ketimbang gigitan *infected*.

Dengan bergabungnya sang mantan teknisi, jumlah anggota kelompok kini genap menjadi tujuh orang: Damar, Alya, Kapten Rendra, Rudi, Rania, Yanto, dan Bayu—mantan petugas pemadam kebakaran berbadan tegap yang mereka selamatkan beberapa minggu lalu.

Mereka mulai membelah jalur menuju selatan. Semakin jauh melangkah, pemandangan di sekitar justru makin mirip dekorasi komik apokaliptik. Kerusakan kota di wilayah ini sudah masuk level ekstrem. Gedung-gedung bertingkat tampak hancur total, beberapa di antaranya runtuh saling menopang bagai kartu domino yang gagal jatuh. Sisa-sisa kawah ledakan besar menganga di aspal, dikelilingi bangkai kendaraan militer yang hangus menghitam. Itu adalah jejak-jejak pertempuran terakhir yang brutal. Sisa kemarahan dari sebuah peradaban yang gagal bertahan.

Matahari tepat berada di atas kepala saat mereka tiba di sebuah persimpangan raksasa. Di sudut jalan, berdiri sebuah papan penunjuk arah jalan tol yang kondisinya mengenaskan—penyok dan digerogoti karat. Tapi untungnya, baris huruf di atasnya masih terbaca jelas:

**TOL SELATAN – 5 KM**

Rendra mengangkat tangan, memberi komando. "Waktunya masuk."

Damar mengencangkan pegangan pada senjatanya. Mereka semua tahu, jalan bebas hambatan itu adalah satu-satunya rute tercepat untuk menembus batas Sektor Selatan.

Yanto di barisan belakang tampak menelan ludah berulang kali. Jakunnya naik-turun. "Gue pernah lewat sini pas hari pertama wabah pecah. Tempat ini... benar-benar kacau."

Rudi menyeringai hambar, mencoba mencairkan suasana dengan sarkasme andalannya. "Emangnya ada sudut di kota ini yang gak kacau, Pak?"

Garing. Tak ada yang tertawa. Karena fakta di lapangan memang tidak selucu itu.

Dua jam berselang, langkah kaki mereka akhirnya menginjak aspal gerbang tol. Dan saat itu juga, seluruh kelompok mendadak terkunci dalam aksi bungkam. Pemandangan di depan mereka terlalu surealis. Layaknya dua halaman penuh di tengah komik horor yang digambar dengan detail paling mengerikan.

Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kendaraan berjubel memenuhi jalur jalan tol. Mobil pribadi, bus antarkota, truk kontainer, ambulans, hingga panser militer saling hantam, bertumpuk-tumpuk membentuk lautan besi tua yang membentang sejauh mata memandang. Seolah-olah, seluruh penduduk kota ini pernah berbondong-bondong mengepung jalur keluar ini di hari kiamat... dan semuanya berakhir gagal total.

Damar merasakan tenggorokannya kering kelontang. Di balik kaca-kaca mobil yang pecah dan di sela-sela pintu yang ringsek, kerangka manusia tampak berserakan. Ada yang masih duduk kaku di balik kemudi dengan sabuk pengaman yang mengikat tulang belulang mereka, ada yang terjepit di kolong kendaraan, dan ada pula yang berserakan di atas aspal kering.

"Ya Tuhan..." bisik Alya lirih, tangannya refleks menutup mulut.

Bahkan Kapten Rendra yang biasa berwajah beton pun tampak muram. Pria itu sudah kenyang melihat mayat di medan perang, tapi pemandangan di depannya ini berada di level yang berbeda. Ini bukan sekadar medan tempur; ini adalah kuburan massal berskala raksasa. Monumen terbesar bagi keputusasaan manusia.

"Mereka semua... cuma pengen keluar, kan?" lirih Rania pelan, sambil mengeratkan pelukannya pada boneka beruangnya.

Pertanyaan polos yang tak membutuhkan jawaban.

Mereka mulai melangkah membelah labirin kendaraan mati tersebut. Suara sol sepatu mereka yang bergesekan dengan kerikil aspal menggema pelan, memantul di antara bodi-bodi mobil yang berkarat. Suasana di tempat itu luar biasa sunyi. Terlalu steril. Bahkan tidak ada kepakan sayap burung atau suara serangga. Hanya desau angin yang sesekali berembus malas, menciptakan bunyi berdecit ngeri dari pintu-pintu mobil yang bergoyang.

Damar tidak menyukai atmosfer ini. Dalam komik atau film mana pun, aturan dasarnya selalu sama: semakin sunyi sebuah tempat, semakin besar kejutan mematikan yang sedang bersembunyi di baliknya.

Kecurigaannya terbukti tiga puluh menit kemudian. Kelompok mereka terpaksa berhenti total saat menemukan sebuah pemandangan ganjil: sebuah konvoi militer berskala besar. Ada belasan kendaraan lapis baja yang terparkir rapi di tengah jalan dengan pintu-pintu yang terbuka lebar.

Tapi anehnya... tidak ada satu pun mayat di sana. Tidak ada tulang, tidak ada genangan darah kering, tidak ada sisa pakaian. Kosong melompong. Seolah-olah seluruh serdadu di dalam konvoi itu lenyap menguap ke udara dalam sekejap mata.

"Ini gak beres," gumam Bayu, insting pemadam kebakarannya langsung berdering keras.

Rendra mengangguk setuju. "Sangat gak beres."

Damar melangkah mendekat, mengamati salah satu bodi panser besi yang tebal. Matanya terbelalak. Di sana, terdapat bekas goresan cakar yang luar biasa panjang dan dalam, bahkan hingga membuat panel logamnya melesak penyok. Sesuatu yang sangat kuat telah mengoyak kendaraan baja ini seperti merobek kertas kaleng. Dan melihat ukuran polanya... ukuran makhluk itu jelas berada di luar nalar jika dibandingkan dengan *infected* humanoid biasa.

Rasa dingin kembali merayap di tengkuk Damar.

Mereka terpaksa melanjutkan pergerakan. Di atas kepala, gumpalan awan hitam pekat mulai bergulung, menutup sisa-sisa cahaya sore. Badai akan segera datang.

Tepat saat itu, Rania mendadak menarik-narik ujung jaket Alya dengan panik. "Kak... Kak Alya..."

Alya menoleh cepat. "Kenapa, Rania?"

Jari mungil Rania terangkat, menunjuk ke arah barisan bus di depan mereka. "Ada orang di sana."

*Klik!*

Bagaikan refleks yang sudah tertanam di otot, seluruh kelompok langsung mengambil posisi siaga. Moncong senapan langsung terarah ke depan. Damar mengintip dari balik celah bidikan senjatanya, mengikuti arah telunjuk Rania.

Sial, bocah itu benar. Ada satu siluet tegak di sana. Berdiri kokoh di atas atap sebuah bus tua berjarak sekitar seratus meter di depan mereka. Sosok itu bergeming, beridiri tegak bagai patung sambil menghujamkan pandangan lurus ke arah kelompok Damar.

"Manusia atau...?" bisik Yanto dengan suara bergetar.

Kapten Rendra dengan cepat menempelkan kekerannya ke mata. Sedetik kemudian, ketegangan di wajahnya sedikit mengendur, digantikan kilat kebingungan. "Bukan *infected*. Dia manusia."

Sosok di atas bus itu mengenakan jaket taktis hitam longgar dengan sebuah senapan laras panjang yang tersampir di bahunya. Sadar kalau posisinya sudah ketahuan, sosok itu mendadak mengangkat satu tangan tinggi-tinggi—memberikan sebuah isyarat kode yang tidak mereka pahami—lalu dengan gerakan tangkas melompat turun dari atap bus dan menghilang di balik kerumunan mobil.

"Maksudnya apa coba?" gerutu Rudi bingung.

Belum sempat ada yang mengeluarkan teori, sebuah raungan mesin mendadak meledak dari arah depan.

*BRRRRRRRRRMMM...!!!*

Tanah yang mereka pijak mendadak bergetar. Semua orang menoleh dengan mata membelalak penuh. Suara bising itu datang dari arah depan, membelah kabut, dan bergerak maju dengan kecepatan tinggi menuju posisi mereka!

"Mobil?!" seru Alya panik.

"Bukan..." potong Rendra dengan nada suara yang merendah, "Ukurannya jauh lebih gede dari itu."

Dengung mesin silinder raksasa itu semakin memekakkan telinga, membuat bodi-bodi mobil tua di sekeliling mereka ikut bergetar hebat. Dan dari balik tikungan pembatas tol, monster itu akhirnya menampakkan diri.

Itu adalah sebuah bus kota berukuran masif. Tapi lupakan bentuk bus umum yang biasa kalian lihat, karena kendaraan ini sudah mengalami modifikasi brutal layaknya kendaraan tempur di film *Mad Max*. Seluruh bodi bus dilapisi oleh lembaran pelat baja tebal yang dipaku keling secara kasar. Semua jendelanya diganti dengan jeruji besi runcing, dan di bagian moncong depan, terpasang sebuah *cowcatcher*—baja pemisah rel kereta api berukuran raksasa yang siap menggilas apa pun.

Di atas atap bus yang dimodifikasi menjadi dek tempur, berdiri beberapa orang yang mengacungkan senjata otomatis. Bus lapis baja itu melaju perlahan tapi pasti, membelah lautan bangkai mobil bagai predator puncak yang keluar dari balik kabut tebal.

Damar hanya bisa melongo menatap pemandangan gila itu. "Gila..."

Rudi bahkan sampai lupa caranya menutup mulut. "Bus lapis baja? Yang bener aja..."

Kendaraan monster itu akhirnya menginjak rem, berhenti sekitar lima puluh meter di hadapan mereka. Desis angin dari rem hidroliknya terdengar nyaring di tengah kesunyian, disusul suara mesinnya yang menderu pelan. Detik berikutnya, pintu samping bus yang tebal terbuka berdentang. Beberapa orang bersenjata lengkap turun satu per satu, mengambil posisi menyebar. Namun, mereka tidak langsung mengarahkan moncong senjata, melainkan hanya berdiri siaga.

Dari tengah-tengah barisan itu, sang kapten kelompok melangkah maju. Sosok pria bertubuh raksasa, berkepala plontos mengilat, dengan guratan bekas luka segaris yang membelah pipi kirinya. Tatapan matanya setajam elang.

"Turunin senjata kalian," gertak pria plontos itu, suaranya berat mengebas udara.

Kapten Rendra sama sekali tidak bergeming dari posisinya, moncong senapannya masih mengunci dada pria itu. "Kalau gue gak mau?"

Pria bertubuh besar itu malah menyeringai tipis, tidak merasa terancam sama sekali. "Boleh aja. Tapi gue pribadi gak suka ngobrol santai sambil bidik-bidikan begini. Bikin pegal."

Atmosfer di area gerbang tol itu langsung terasa mencekam, bagai sumbu bom yang tinggal menunggu percikan api. Dua kelompok survivor itu saling mengunci pandangan, siap baku tembak kapan saja jika ada satu gerakan ceroboh.

Namun, setelah menimbang situasi, Kapten Rendra akhirnya menurunkan ujung senapannya beberapa senti ke bawah. Isyarat bagi yang lain untuk mengendurkan tekanan, walau tidak sepenuhnya menurunkan kewaspadaan. Cukuplah untuk menunjukkan kalau mereka bersedia bernegosiasi.

Si kepala plontos tampak manggut-manggut puas. "Nah, cakep. Gitu kan enak. Nama gue Jaka. Pemimpin dari komplotan Bus Baja."

Damar melirik sekali lagi ke arah benteng berjalan di belakang pria itu. *Bus Baja.* Singkat, padat, dan sangat akurat untuk menggambarkan monster mekanis tersebut.

Jaka melipat tangan di dada, melanjutkan interogasinya. "Kalian... mau ke arah selatan juga?"

Rendra memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat. Tapi respons itu justru memicu tawa kecil dari mulut Jaka.

"Gak usah pasang muka rahasia begitu, Bos," cibir Jaka santai. "Bukan rahasia lagi kali. Sekarang, semua manusia yang masih punya napas di kota ini lagi bergerak ke arah selatan."

Kalimat itu langsung menyalakan alarm waspada di kepala Damar. Ia melangkah maju satu langkah. "Kenapa?"

Jaka mengalihkan pandangannya ke arah Damar, menatap mereka bergantian dengan raut heran. "Lho? Jangan bilang kalian belum tahu?"

Tak ada satu pun dari kelompok Rendra yang menjawab. Mereka hanya saling lempar pandang.

Jaka menepuk jidatnya yang plontos, lalu menyeringai lebar. "Sialan. Berarti kalian beneran gerombolan yang kuper dan ketinggalan info ya?"

Setelah sepakat untuk menahan diri, kedua belah pihak akhirnya duduk bersama di bawah pengawasan ketat anak buah masing-masing. Di dunia baru ini, kepercayaan adalah barang gaib. Tapi mereka semua cukup cerdas untuk tahu kalau baku hantam di tempat terbuka seperti ini sama saja dengan membunyikan bel makan malam untuk para *infected*.

Jaka melompat santai, duduk di atas kap sebuah mobil sedan yang sudah ringsek. "Sektor selatan itu sekarang lagi berubah jadi zona super padat, Bro."

"Padat?" ulang Alya dengan dahi berkerut.

"Yo-i. Semua numpuk di sana. Kelompok *survivor* independen, faksi pemburu, geng penjarah... semuanya lagi konvoi menuju titik yang sama."

Kapten Rendra mengernyitkan alisnya, mencoba membaca arah permainan. "Apa pemantiknya?"

Jaka menatap mata Rendra lurus-lurus. "Cuma satu alasan: Sinyal radio."

*Deg!*

Jantung Damar terasa seperti berdegup dua kali lebih kencang. Frekuensi 107.9 FM. Sial, dugaannya benar. Mereka bukan satu-satunya pihak yang berhasil menangkap siaran misterius itu.

"Setiap orang yang tersisa di dunia ini selalu berharap ada tempat aman atau jalan keluar," lanjut Jaka sambil memainkan sebatang ranting kayu. "Tapi sampai detik ini, gak ada yang bisa mastiin siaran itu jebakan atau bukan."

Damar melemparkan pandangan penuh kecemasan ke arah Alya. Informasi dari Jaka ini benar-benar kabar buruk. Jika Sektor Selatan berubah menjadi titik kumpul massal dari berbagai faksi, maka tingkat bahayanya akan melonjak berkali-kali lipat. Tidak semua manusia yang bertahan hidup punya niat baik. Mereka sudah kenyang merasakan pengkhianatan dari sesama manusia, dan itu adalah pelajaran yang sangat mahal harganya.

Jaka melompat turun dari kap mobil, menepuk-nepuk debu di celananya. "Kalau gue jadi kalian... gue bakal ekstra hati-hati di depan nanti."

"Hati-hati sama siapa maksud lo?" tanya Bayu, menuntut kejelasan.

Senyum santai di wajah Jaka perlahan luntur, digantikan oleh gurat wajah yang tampak tegang dan serius. "Kalian... pernah denger nama faksi 'Pengintai'?"

Damar dan yang lainnya saling pandang. Mereka menggeleng serempak. Nama itu baru pertama kali singgah di telinga mereka.

Melihat reaksi polos tersebut, sorot mata Jaka berubah menjadi sangat dingin. "Kalau belum pernah denger... saran gue, berdoa aja biar kalian gak perlu dapet kehormatan buat ketemu sama mereka."

Angin malam yang sedingin es kembali berembus, meliuk-liuk di sela labirin kendaraan mati sepanjang jalan tol. Dan tanpa alasan yang jelas, sebuah firasat buruk yang teramat pekat mendadak mencengkeram dada Damar. Rasa ngeri yang aneh.

Sebab dari cara Jaka menekankan intonasi kata tersebut... nama faksi 'Pengintai' terdengar jauh lebih mengerikan dan haus darah ketimbang jenis *infected* mana pun yang pernah mereka bantai selama ini.

Dan tepat di saat mereka sedang sibuk bertukar informasi...

Di kejauhan. Jauh di atas puncak reruntuhan gedung yang menghadap langsung ke arah gerbang tol.

Sepasang mata berwarna pucat, dingin tanpa emosi, tengah mengawasi pergerakan mereka dari balik kegelapan bayangan dinding. Sosok misterius itu bergeming. Tidak bergerak satu senti pun. Tidak mengeluarkan seulas suara pun.

Ia hanya terus mengamati, merekam, dan mempelajari setiap gerak-gerik kelompok Damar. Persis seperti seekor predator puncak yang sedang mengukur titik lemah dari mangsa barunya.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!