Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Kemarahan Amelia yang meluap-luap di dalam ruang tamu itu terasa begitu menggelikan di telinga Kyna. Ia menatap wanita yang melahirkannya itu dengan tatapan dingin, tanpa ada lagi sisa rasa sakit atau kecewa. Rasa itu sudah lama mati.
"Kalau begitu, Ibu bersiap-siap saja," ucap Kyna dengan nada yang teramat tenang, hampir seperti bisikan. "Karena sebentar lagi, menantu kaya yang selalu Ibu banggakan itu tidak akan ada hubungannya lagi dengan keluarga ini."
Amelia tertegun, wajahnya yang penuh riasan berkerut tajam. "Apa maksudmu?! Kyna, jangan main-main ya! Kamu mau menceraikannya? Kamu gila?! Sadar diri sedikit, Kyna! Tanpa Aldrian, kamu itu cuma perempuan cacat yang tidak punya masa depan!"
Kyna tidak membalas. Dia bangkit berdiri, mengabaikan omelan ibunya yang terus merongrong di belakangnya, lalu melangkah perlahan menuju kamar lamanya di lantai dua. Setiap injakan kakinya di anak tangga terasa berat, namun tekadnya justru semakin mengkristal.
Masuk ke dalam kamar lamanya yang kini sudah beralih fungsi menjadi gudang tempat menyimpan barang-barang tak terpakai, Kyna mendekati sebuah lemari kayu kecil di sudut ruangan. Di sanalah dia menyimpan sisa-sisa masa lalunya sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya.
Kyna membuka laci paling bawah, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam yang berdebu. Di dalamnya ada beberapa pasang sepatu balet lamanya yang sudah usang, serta paspor dan beberapa dokumen identitas penting yang sengaja dia tinggalkan di sini agar tidak dicurigai oleh Aldrian.
Ia memasukkan paspor dan dokumen-dokumen itu ke dalam tas kecilnya.
‘29 hari lagi,’ batin Kyna sambil mengusap permukaan paspornya. ‘Hanya 29 hari, dan aku akan menghilang dari kehidupan kalian semua.’
Kyna tidak sudi menjadi alat penebus dosa bagi Aldrian, dan dia juga tidak sudi menjadi pohon duit bagi keluarganya yang serakah. Biarkan Aldrian memberikan seluruh hartanya pada Anara, dan biarkan orang tuanya meratapi hilangnya menantu kaya mereka. Kyna hanya ingin mengambil kembali hidupnya yang sempat terhenti lima tahun lalu.
Satu jam kemudian, suara mobil Aldrian terdengar kembali memasuki pekarangan rumah. Kyna turun ke lantai bawah dan mendapati ayahnya berjalan masuk dengan wajah berseri-seri, membawa beberapa ekor ikan hasil pancingan bersama Aldrian.
"Wah, pancingan dari Aldrian memang luar biasa! Tarikannya mantap sekali!" puji Raka tanpa henti kepada Amelia yang langsung menyambutnya di dapur.
Aldrian berjalan di belakang Raka, melonggarkan ikatan dasinya sedikit. Begitu matanya menangkap sosok Kyna yang berdiri di dekat tangga, tatapan tajamnya yang semula dingin mendadak melembut secara mekanis. Pria itu melangkah mendekat.
"Kamu sudah selesai mengobrol dengan Ibu?" tanya Aldrian sambil mengulurkan tangan, berniat mengusap pipi Kyna seperti yang biasa dia lakukan di depan mertuanya.
Namun kali ini, sebelum tangan Aldrian sempat menyentuh kulitnya, Kyna langsung memiringkan kepala dan melangkah mundur satu langkah—sebuah penolakan yang sangat terang-terangan di depan kedua orang tuanya.
Gerakan tangan Aldrian menggantung di udara selama beberapa detik. Rahangnya mengeras, dan kilat kemarahan yang tertahan kembali muncul di sepasang mata gelapnya.
"Ayo pulang," ujar Kyna dingin tanpa menunggu reaksi Aldrian. Dia langsung berjalan melewati suaminya menuju pintu keluar.
Di dalam mobil, perjalanan pulang terasa jauh lebih mencekam daripada keberangkatan mereka tadi pagi. Hujan di luar sudah sepenuhnya reda, menyisakan aspal yang basah dan udara yang dingin.
Aldrian mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak tahan lagi dengan sikap dingin Kyna yang terus-menerus mengabaikannya.
"Kyna, sampai kapan kamu mau bertingkah seperti ini?" tanya Aldrian, suaranya berat dan sarat akan peringatan. "Aku sudah menahanku di depan orang tuamu. Aku membiarkanmu bersikap tidak sopan, aku bahkan membela dirimu di depan Ayahmu. Apa semua itu masih kurang?"
Kyna yang sejak tadi menatap keluar jendela, perlahan menoleh. Sebuah senyuman sinis terukir di bibir pucatnya.
"Siapa yang memintamu membelaku, Pak Aldrian?" tanya Kyna retoris. "Kamu melakukan semua itu bukan demi aku. Kamu melakukannya demi egomu sendiri, demi menjaga citra sebagai 'suami sempurna' yang sedang menebus dosa karena telah merusak kaki istrinya. Bukankah begitu?"
Cittt!
Aldrian menginjak rem dengan mendadak di tepi jalan yang sepi, membuat tubuh Kyna sempat tersentak ke depan. Aldrian memutar tubuhnya menghadap Kyna, matanya memerah menahan badai emosi.
"Cukup, Kyna! Jangan pernah mengungkit masalah masa lalu itu lagi! Aku sudah memberikan segalanya untuk menebusnya! Rumah untuk orang tuamu, perusahaan untuk adikmu, fasilitas hidup mewah untukmu... Apa itu semua masih belum cukup untuk membayar sepasang kaki?!"
Kyna menatap lurus ke dalam manik mata Aldrian yang bergetar hebat karena frustrasi. Alih-alih menangis atau marah seperti biasanya, Kyna justru melepaskan tawa hambar yang terdengar begitu mengerikan di dalam keheningan mobil, sebelum akhirnya menjawab dengan kalimat yang sanggup membuat jantung Aldrian seolah berhenti berdetak: "Ternyata di matamu, impian dan seluruh hidupku bisa dinilai dengan materi, Aldrian. Kalau begitu, bagaimana kalau kita balik posisinya? Berikan aku dua ratus miliar sekarang, lalu biarkan aku mematahkan kedua kakimu agar kamu tahu bagaimana rasanya menjadi robot pincang sepertiku selama sisa hidupmu!"