NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Layar monitor di depan Michelle menampilkan grafik kesehatan mental Naura yang dikirim secara anonim oleh informan di puskesmas setempat. Grafik itu menunjukkan penurunan yang drastis.

Michelle menyesap tehnya, matanya tetap dingin. "Ayah akan pergi ke rumah Kak Ilham malam ini," ucapnya pelan kepada Ethan yang sedang membaca berkas di sofa.

"Haruskah aku menghentikannya?" tanya Ethan.

"Tidak perlu. Biarkan dia melihat betapa bahagianya Kak Ilham dan Dewi di butik Sweet Melody. Biarkan dia melihat kehidupan yang seharusnya mereka miliki jika mereka tidak serakah, Penyesalan adalah hukuman yang lebih kejam daripada penjara, Ethan."

Michelle menutup laptopnya. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap langit Berlin yang bersih.

"Biarkan mereka hidup dalam 'Rumah Terkutuk' itu sedikit lebih lama. Aku ingin mereka benar-benar berada di titik nadir sebelum aku datang... sebagai Michelle, bukan sebagai Mikayla yang lemah."

Malam itu, di Jakarta, Pandu melangkah keluar rumah dengan pundak yang merosot, meninggalkan Sinta yang masih menangis di depan pintu kamar Naura yang penuh noda darah. Sebuah keluarga yang dulu merasa paling tinggi, kini hanya menjadi dongeng peringatan bagi orang-orang tentang betapa pahitnya hasil dari sebuah pengkhianatan.

DUA TAHUN KEMUDIAN...

Dua tahun telah berlalu seperti hembusan angin yang membawa perubahan besar. Di panggung wisuda salah satu universitas bisnis terbaik di Jerman, sosok wanita yang kini dikenal dunia sebagai Michelle Ad Lynne berdiri dengan anggun. Jubah wisudanya melambai tertiup angin Berlin yang sejuk, namun sorot matanya jauh lebih tajam dan dingin dibandingkan dua tahun lalu.

Ia bukan lagi Mikayla yang rapuh. Gelar Master di tangannya bukan sekadar formalitas, melainkan sertifikat kekuasaan yang siap ia gunakan untuk meruntuhkan kerajaan bisnis yang pernah menginjak-injaknya.

Di bawah bimbingan Ethan, Michelle tidak hanya bertahan, Ia berkembang dengan kecepatan yang nyaris menakutkan. Dalam waktu dua tahun, asetnya yang semula bernilai 2,7 triliun berhasil ia lipat gandakan melalui keputusan investasi yang presisi, memanfaatkan peluang di pasar saham Eropa dan properti strategis yang terus meningkat nilainya.

Setiap langkahnya terukur, setiap keputusan diambil tanpa emosi, Michelle tidak lagi bergerak sebagai korban yang mencoba bangkit, melainkan sebagai investor yang memahami bagaimana uang bekerja dan bagaimana kekuasaan dibangun darinya.

Kini, ia berdiri dengan kemandirian finansial yang utuh cukup besar untuk tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga mampu mengguncang fondasi perusahaan Abimanyu jika ia menghendakinya. Dan yang paling berbahaya bukanlah jumlah kekayaannya, melainkan cara ia mengendalikannya.

Hubungannya dengan Ethan Aviel Leon telah berkembang jauh melampaui sekedar penyelamat dan korban. Ethan adalah satu-satunya orang yang diizinkan Michelle melihat sisi lembutnya, sementara bagi dunia, mereka adalah pasangan paling berpengaruh sekaligus paling misterius.

"Selamat, My Queen," bisik Ethan malam itu di sebuah restoran eksklusif yang menghadap gerbang Brandenburg. Ia mengecup jemari Michelle yang kini dihiasi cincin berlian hitam yang langka.

"Tanpamu, aku mungkin masih menjadi debu di Jakarta, Ethan," jawab Michelle dengan senyum tipis yang tulus.

Ethan menatap mata Michelle dalam-dalam. "Aku hanya memberikanmu sayap, Michelle. Kamulah yang memilih untuk terbang setinggi ini. Sekarang, pendidikanmu sudah selesai. Apa langkah selanjutnya?"

Michelle menyesap red wine-nya, matanya berkilat menatap bayangan dirinya di gelas kristal. "Sudah waktunya pulang, Ethan. Aku merindukan Kak Raffan dan Kak Ilham... tapi aku lebih merindukan melihat wajah kehancuran keluarga Abimanyu secara langsung."

Ethan tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan Michelle dalam diam, seolah mencoba membaca sejauh mana wanita di hadapannya benar-benar siap kembali ke medan yang pernah menghancurkannya.

Sorot mata Michelle tidak goyah dan tidak ada keraguan, tidak ada sisa luka yang terlihat setidaknya di permukaan. “Indonesia bukan lagi tempat yang sama seperti yang kamu tinggalkan,” ujar Ethan akhirnya, suaranya tenang namun mengandung peringatan halus. “Mereka mungkin sudah jatuh… tapi bukan berarti mereka tidak akan mencoba bangkit.”

Michelle tersenyum tipis, jemarinya memutar perlahan gelas kristal di tangannya. “Justru itu yang aku tunggu,” balasnya ringan. “Kehancuran yang sempurna, bukan saat seseorang jatuh, tapi saat mereka mencoba berdiri, lalu dijatuhkan lagi, tanpa kesempatan kedua.”

Ethan terkekeh pelan, bukan karena lucu, melainkan karena ia mengenali sesuatu dalam kalimat itu, ketegasan yang tidak bisa lagi ditawar.

“Kalau begitu,” katanya sambil menyandarkan punggung, “kita tidak bisa pulang dengan tangan kosong.”

Michelle mengangkat alisnya sedikit.

Ethan melanjutkan, “Aku sudah menyiapkan beberapa langkah awal. Aku membeli sebagian kecil saham perusahaan afiliasi Abimanyu melalui beberapa nama berbeda, tidak cukup besar untuk menarik perhatian, tapi cukup untuk membuka pintu.”

Mata Michelle langsung berubah lebih tajam.

“Berapa persen?”

“Cukup untuk masuk ke rapat pemegang saham minoritas,” jawab Ethan singkat. “Dan cukup untuk mulai mengganggu aliran keputusan mereka dari dalam.”

Hening sejenak.

Bukan karena kosong, tapi karena keduanya sedang berada di frekuensi yang sama. Michelle menurunkan gelasnya perlahan. “Bagus,” ucapnya pelan. “Aku tidak ingin langsung menghancurkan mereka, terlalu cepat itu membosankan.”

Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela, ke gerbang Brandenburg yang berdiri megah di bawah cahaya malam. “Biarkan mereka melihatku kembali,” lanjutnya lirih. “Biarkan mereka berpikir aku hanya wanita yang dulu mereka buang… yang mencoba hidup lagi.”

Senyumnya muncul lagi lebih tipis dan dingin.

“Lalu kita ambil semuanya… sedikit demi sedikit, sampai mereka sadar bahwa tidak ada lagi yang tersisa.”

Ethan bangkit, berjalan mengitari meja, lalu berhenti di samping Michelle, tangannya menyentuh bahu wanita itu dengan lembut namun penuh kepemilikan. “Selamat datang kembali ke permainan,” bisiknya.

Michelle menatap ke depan, tenang. “Bukan kembali,” jawabnya pelan. Ia berdiri, menyelaraskan langkahnya dengan Ethan. “Kali ini… aku yang menentukan akhir ceritanya.”

Dan malam itu, di jantung Berlin yang tenang, keputusan telah dibuat, bukan sekadar untuk pulang, melainkan untuk mengakhiri semuanya, dengan cara yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Malam itu, balkon penthouse mereka diselimuti udara dingin khas musim salju. Butiran putih jatuh perlahan, menciptakan suasana yang tenang, hampir hening, seolah dunia di luar sana berhenti sejenak.

Ethan berdiri di belakang Michelle, lalu menariknya perlahan ke dalam pelukan, tangannya melingkar hangat di pinggang wanita itu, sementara wajahnya bersandar di ceruk leher Michelle yang samar beraroma lembut.

“Dulu aku menyelamatkanmu karena rasa iba… dan sedikit kepentingan,” bisiknya pelan, suaranya rendah dan jujur. “Tapi sekarang…”

Ia terdiam sejenak, seolah memilih kata yang tepat.

“Aku tidak bisa membayangkan satu hari pun tanpa kamu, Michelle.”

Pelukannya mengerat sedikit. “Kalau kamu ingin membakar Jakarta, aku yang akan membawakan bensinnya, kalau kamu ingin menguasai dunia… aku akan menjadi pijakan kakimu.”

Kata-kata itu tidak terdengar berlebihan, justru terlalu tenang terlalu pasti. Michelle perlahan berbalik dalam pelukan itu, tatapannya bertemu dengan mata Ethan yang biasanya tajam, kini melembut sesuatu yang jarang ia lihat, bahkan hampir tidak pernah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan perhitungan di sana, tidak ada manipulasi, hanya ketulusan yang asing, namun menenangkan.

Dulu, ia pernah menunggu hal itu dari seseorang yang salah dan kini justru menemukannya di tempat yang tidak pernah ia duga.

Tanpa banyak kata, Michelle mengangkat tangannya, menyentuh wajah Ethan sejenak sebelum mendekat dan mengecup bibir pria itu dengan lembut. Bukan ciuman yang terburu-buru.

Melainkan sesuatu yang lebih dalam sebuah penerimaan, sebuah tanda bahwa dinding yang selama ini ia bangun perlahan mulai runtuh. Dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Michelle tidak lagi merasa sendirian di dalam perangnya.

Kedekatan ini membuat Michelle semakin percaya diri. Ia tahu bahwa saat ia kembali ke Jakarta nanti, ia tidak akan berdiri sendiri. Ia memiliki Ethan pria paling berbahaya yang mencintainya dengan cara yang paling manis.

"Ethan," ucap Michelle manja saat mereka berdansa pelan di ruang tengah. "Saat kita di Jakarta nanti, aku ingin dunia melihat betapa bahagianya aku bersamamu. Aku ingin Elang melihat apa yang ia sia-siakan, dan aku ingin Naura melihat pria seperti apa yang benar-benar bisa memiliki dunia.”.

Ethan tersenyum miring, merapatkan pelukannya pada pinggang ramping Michelle. "Tentu, Sayang. Kita akan membuat mereka mati karena iri bahkan sebelum kita menghancurkan mereka secara finansial."

Hubungan yang manis ini menjadi bahan bakar utama bagi Michelle. Ia kini memiliki segalanya kecerdasan, kekayaan, kecantikan yang pulih, dan seorang pria yang memujanya seperti dewi. Michelle Ad Lynne siap untuk pulang.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!