Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
...~•Happy Reading•~...
"Kau gak makan?" Laras melihat Rafael hanya duduk di depanya sambil melihatnya makan.
"Makan duluan. Aku belum lapar." Rafael berkata datar. Isi kepalanya penuh memikirkan cara bersikap yang tidak menambah beban bagi mereka.
Hal itu sangat menekan perasaannya, hingga tidak berselera makan. Dia tidak bisa menelan makanan, apa lagi menikmatinya.
Laras makan perlahan sambil memikirkan sikap Rafael. Dia jadi tidak berselera makan, tapi perutnya sangat lapar. "Ya, sudah. Aku makan buah saja."
"Makan nasi dan lauk." Rafael berkata pendek dan tegas, saat menyadari Laras tidak memikirkan sedang hamil. Dengan wajah kesal, Laras menghabiskan menu dalam piring.
"Mandi lalu istirahat." Rafael masih berkata datar tanpa berdiri dari meja makan. Setelah Laras berdiri, dia minum air mineral yang ada lalu menutup meja. Dia tetap duduk sambil berharap masih bisa makan sesuatu, agar tidak sakit dalam kondisi terombang-ambing oleh ketidakpastian Laras.
Ketika sedang berpikir untuk mencari jalan keluar, ponselnya bergetar. "Malam, Bu." Rafael segera merespon, karena Ibunya jarang menelpon. Sebab dia selalu telpon menanyakan keadaan Ibu dan adiknya.
"Malam. Rafa baik-baik saja?"
"Iya, Bu. Kabar Ibu dan Rose gimana?"
"Baik, Nak. Adikmu lagi belajar buat ujian. Bagaimana kabar Laras?"
"Baik juga, Bu." Hati Rafael bergetar mendengar Ibunya menanyakan Laras. Kehamilan Laras yang akan dibagikan kepada Ibunya menggores hatinya. Sehingga dia tidak mampu menceritakan kepada Ibunya.
"Yang penting kalian ada baik-baik. Walau sibuk, jangan lupa istirahat."
"Iya, Bu. Ibu istirahat jangan terlalu malam."
"Tadi sudah mau istirahat, tapi Ibu ingat Rafa terus. Jadi Ibu telpon. Walau sibuk, jangan lupa jaga kesehatan." Ibunya melanjutkan dengan nada pelan penuh khawatir.
"Iya, Bu. Ibu juga, jaga kesehatan. Nanti Rafa telpon lagi." Rafael segera mengakhiri telpon. Dia khawatir Ibunya menanyakan tentang Laras yang belum bisa diceritakan.
Setelah lama Laras masuk ke kamar, Rafael keluar ke halaman lalu berdiri di belakang mobil untuk telpon. "Malam, Pa. Apa Rafa mengganggu?"
"Tidak. Papa lagi duduk di atas sambil lihat tanaman yang kau tanam." Walau terkejut mengetahui Rafael telpon, Pak Yafeth merasa senang.
"Apa ada masalah dengan tanamannya, Pa?"
"Tidak. Semua tumbuh dengan baik. Juan urus seperti yang kau ajarkan. Gimana Laras?" Pak Yafeth langsung menanyakan Laras, sebab sedang tunggu kabarnya.
"Sudah tidur, Pa. Ini aku ada di luar, karna ada perlu dengan Papa."
"Oh, Laras bisa tinggal sendiri di ruangan?"
"Kami sudah pulang ke rumah, Pa. Laras minta pulang. Apa Papa sendiri di atas?"
"Iya. Mama lagi temani Juan belajar. Bagaimana hasil pemeriksaan dokter?"
"Itu yang mau saya bicarakan dengan Papa. Laras sepertinya belum siap punya anak, karna pekerjaannya belum selesai..." Rafael menceritakan kondisi Laras yang syok atas kehamilannya, tapi tidak menceritakan pertengkaran mereka. Dia hanya mau minta tolong Papa Laras, bisa mendukungnya untuk bantu menyadarkan Laras.
"Rafa, jangan terlalu toleransi tentang pekerjaan Laras. Sebab pekerjaannya tidak ada selesai. Sudah berapa usia kehamilannya?"
"Kami belum sempat periksa lebih detail, karna Laras minta pulang, Pa."
"Anak itu sangat gegabah. Apa dia tidak tahu, sangat riskan kondisi kandungan yang masih muda? Nanti Papa bicara dengan Mama, supaya bisa ajari dia."
"Terima kasih, Pa."
"Sana, istirahat. Besok pagi kita bicara lagi." Pak Yafeth jadi mengerti masalah yang sedang dihadapi Rafael, sehingga mau minta tolong pada mereka.
"Papa juga istirahat." Rafael jadi tahu, orang tua Laras sedang khawatir sama dengannya.
Setelah bicara dengan Pak Yafeth, Rafael masuk dan berusaha makan sesuatu agar bisa tidur. Dia berharap, orang tua Laras bisa bijak menasehati Laras. Agar tidak ada penyesalan dan disalahkan karena dianggap tidak becus menangani istri hamil.
~••
Seledai makan, Rafael masuk ke kamar. Dia merasa sedikit tenang melihat Laras sudah tidur. Tanpa suara dia masuk kamar mandi untuk mandi dan sikat gigi.
Laras yang tidak bisa tidur, mengikuti gerakan Rafael dengan mata menyipit. 'Apa dia akan tidur di sini?' Laras bertanya dalam hati yang gelisah melihat Rafael hanya diam.
Ketika Rafael kembali tidur membelakanginya, Laras tidak bisa kendalikan rasa kesalnya. "Kau mau diamkan aku sampai kapan?"
"Laras, kau belum tidur?"
"Bagaimana bisa tidur, kalau dicuekin?"
"Aku sedang berusaha tidur." Jawab Rafael tanpa berbalik.
"Kalau tahu akan begini, tadi tidur di rumah sakit aja." Laras makin kesal melihat punggung Rafael.
"Kalau kau mau pindah tidur di rumah sakit, aku akan antar." Rafael balik menantang dan berbalik. Sehingga bisa menangkis pukulan Laras yang akan memukul punggungnya.
"Kau lebih sayang bayi ini dari aku?" Tanya Laras sambil menarik tangannya yang dipegang Rafael.
"Jangan berpikiran aneh dengan membandingkan kasih sayangku untuk mengalihkan pikiranmu yang tidak bertanggung jawab."
"Apa saat Mama hamil kalian, kasih sayang Papa berkurang pada Mama?" Rafael bertanya dengan rahang mengeras.
"Aku tidak mau dengar." Ucap Laras tiba-tiba sambil menutup telinga dengan kedua tangan.
Reaksi Laras membuat Rafael bangun duduk. "Tidak usah bertingkah seperti bocah untuk menghindari pembicaraan yang dimulai sendiri." Rafael menarik tangan Laras dari telinganya.
"Apa kau ada di dunia ini, kalau Mama berpikiran cetek sepertimu?"
"Jangan bandingkan kami. Mama cuma ibu rumah tangga." Laras jadi emosi.
"Laras, aku ingatkan. Aku menerima banyak hal dan setuju dengan permintaanmu untuk menikah, tanpa berpikir negatif. Tapi ada batasnya."
"Kau bertanya aku lebih sayang pada calon anak ini dari padamu, karna mau mempertahankan dia?" Rafael menunjuk perut Laras.
"Sekarang aku balik bertanya pertanyaan yang sama. Seberapa sayang kau padaku, kalau niatmu tidak mempertahankan dia?"
"Kalau aku tidak sayang, apa aku mau ngotot minta kita menikah?" Laras jadi ikut duduk berhadapan dengan Rafael.
"Kata sayang bukan kata kosong tanpa makna, hingga bisa diumbar sesuka bibir. Kata itu butuh action nyata dalam sikap dan perbuatan."
"Walau aku tidak mengatakan sayang padamu, tapi aku mengutamakan kebahagianmu dalam ambil keputusan."
"Jangan kau mencederai akal dan hati nurani dengan menggunakan diksi yang sama untuk menuntut melepaskan anak ini." Rafael menutup dan mengunci perdebatan mereka yang tidak akan habisnya.
"Kau cuma pikirkan keinginanmu..." Laras tidak bisa teruskan, sebab Rafael langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Laras jadi menarik tangan Rafael, karena belum mau mengalah dan tidak terima yang dikatakan Rafael.
"Lebih baik kau berhenti di situ. Kau katakan sayang padaku, tapi di sini tidak ada sinyalnya." Rafael menunjuk pinggiran kepala Laras.
"Kau bisa merasakan yang aku rasakan saat ini? Aku merasa sedih dan malu sebagai pria dan suami yang tidak bisa memberitahukan kepada keluagamu dan juga keluargaku, kalau istriku sedang hamil."
"Kau telah menghapus rasa bahagia seorang suami yang mengetahui istrinya hamil untuk pertama kali."
"Sekarang lebih baik kau tidur. Mungkin dalam mimpi ada yang memberikan contoh padamu, bagaimana cara hidup suami istri yang saling menyayangi." Ucap Rafael lalu membaringkan tubuhnya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...