Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 penyusup
"Kakak belum pulang" Gumam vanya melihat jam. "Mana cemilan tadi" Lanjutnya heran.
"Astaga, Kuro! Itu cemilan mahal!" pekik Alina sambil berusaha mengangkat bayi naga itu dari keranjang. Kuro hanya mengeluarkan suara "preee" pelan, matanya menyipit kekenyangan dengan perut bulat yang terlihat sangat menggemaskan di antara tumpukan kue kering.
Tepat saat itu, pintu apartemen terbuka. Voltra melangkah masuk dengan tangan di saku jaketnya. Ekspresi wajahnya yang tadinya dibilang "murung" oleh Alina kini sudah hilang, digantikan dengan wajah datar yang menyebalkan seperti biasanya.
"Galau? Kau terlalu banyak menonton drama kalau berpikir aku punya waktu untuk hal melankolis seperti itu, Naga Betina" Balas voltra merasa lebih baik.
"Aku serius, Voltra. Kau tadi siang terlihat seperti orang yang tersesat di dimensi lain. Sekarang tiba-tiba kau kembali seperti robot tanpa perasaan?"
Voltra berjalan menuju dapur, menuangkan air dingin ke dalam gelas. Lalu menenguk habis air putih tanpa tersisa, rasanya lebih Baik setelah mendapatkan perkataan dari nenek tua.
"Tadi aku berjalan kaki sebentar. Lalu ada nenek-nenek tua di pinggir jalan yang mengajakku bicara" Gumam voltra memberitahu.
"Nenek tua?" tanya Vanya heran. "Dia bilang apa?" Lanjutnya penasaran.
"Rahasia" Balas voltra tersenyum mengejek.
"Ugghh.... Dasar kakak sialan" Kesal vanya.
Alina terdiam, memperhatikan perubahan aura Voltra. Meskipun terlihat menyebalkan, tekanan berat yang tadi siang menyelimuti pria itu memang sudah menipis. Krisis identitasnya mungkin belum selesai sepenuhnya, tapi setidaknya Voltra sudah menemukan cara untuk tetap berpijak di dunia ini.
"Syukurlah kalau kau sudah waras" gumam Alina.
"Aku akan mandi" Balas voltra berjalan pergi.
"Aaaaa... Lucunya kuro" ujar vanya melihat naga gendut itu mengantuk.
Bayi Naga gendut tengah digendong oleh Alina, seperti menidurkan seorang bayi, membuat kuro semakin menguap karena mengantuk dan tidur dipelukan Alina. Dengkuran halus dari makhluk kecil tersenyum membuat vanya memekik gembira.
"Sekarang dia di fase makan dan tidur, benar-benar pemalas" Gumam Alina meletakkan bayi itu di bantal.
"Apa tidak apa-apa membawa kuro terus di dalam tas?" Tanya vanya menoel pipi bayi naga itu.
"Aku tidak punya pilihan lain" ucap Alina menghela nafas.
"Bayi naga itu bukan kucing" Balas voltra baru keluar dari kamar mandi.
"Diam ka—kyaaaa" Teriak alina kaget melihat voltra hanya memakai handuk di pinggangnya. "Pakai pakaian mu dasar pria mesum" Lanjutnya melemparkan bantal sofa.
Bantal itu tepat mengenai wajah voltra begitu telak, voltra melemparkan bantal itu Sembarangan arah. Alina memandang arah lain, pipinya memerah malu karena melihat bagian tubuh voltra yang cukup atletis, ditambah vanya juga tersenyum menggodanya.
"Aku mau pulang" ucap Alina bergegas ke arah pintu.
"Akan turun hujan malam ini" ujar voltra merasakan melalui aliran mana diudara.
Baru membuka pintu, Alina sudah disambut oleh hujan yang turun lebat dan ia tidak ingin bertanya karena voltra pasti tidak akan memberitahunya. Voltra bersedekap dada sambil menatapnya.
"Lebih baik kau menginap malam ini, aku bisa tidur di sofa sendirian" ucap voltra menunjuk kamarnya.
"Pakai pakaian mu dulu" Teriak Alina malu.
Voltra mendengus, namun akhirnya melangkah masuk ke kamarnya dengan santai tanpa rasa berdosa sedikit pun. Daripada terus kena omelan Alina, lebih baik ia menurutinya.
"Tsk, sensitif sekali," gumam voltra pelan.
Alina masih berdiri mematung di dekat pintu yang terbuka, membiarkan tempias hujan dingin membasahi ujung sepatunya untuk mendinginkan wajahnya yang terasa panas. Vanya yang melihat itu hanya bisa tertawa kecil sambil merapikan bantal yang tadi dilempar Alina.
"Kak Alina, dengarkan saja kata Kak Voltra. Hujan di Jakarta kalau sudah selebat ini bisa sampai pagi. Lagi pula, tidur di sini lebih aman daripada menerobos badai, kan?" goda Vanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tak lama kemudian, Voltra keluar sudah dengan kaus hitam longgar dan celana kain panjang. Rambutnya yang masih basah ia keringkan dengan handuk kecil. Ia berjalan menuju dapur, mengambil dua cangkir cokelat hangat, lalu meletakkannya di meja.
"Cepat tutup pintunya, udaranya dingin. Kuro bisa kedinginan," ucap Voltra sambil melirik bayi naga yang masih pulas di atas bantal.
Alina akhirnya menyerah. Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu berjalan mendekati meja dengan langkah yang masih agak kaku.
"Hanya untuk malam ini. Dan jangan berpikir macam-macam, Voltra. Jika kau mencoba masuk ke kamar saat aku tidur, aku akan memastikan kau menyesal" Ancam Alina.
"Kau terlalu percaya diri. Sofa ini jauh lebih nyaman daripada lantai dingin di kamarku sendiri. Mandilah, Vanya sudah menyiapkan baju ganti untukmu" Balas voltra cuek.
"Mereka sama-sama tsundere" Batin vanya bergumam.
Suasana apartemen sangat sunyi, hanya suara rintik hujan yang tersisa. Vanya sudah tidur di kamarnya, dan Alina menempati kamar Voltra. Voltra sendiri berbaring di sofa panjang, tangannya menyangga kepala.
Kuro tiba-tiba terbangun. Naga kecil itu merangkak naik ke dada Voltra, lalu melingkar di sana mencari kehangatan mana primordial. Voltra mengelus sisik punggung Kuro perlahan.
"Dunia ini memang aneh, kecil" bisik Voltra pada si bayi naga. "Penuh dengan aturan yang merepotkan dan wanita yang suka berteriak. Tapi... setidaknya cokelat hangat dan hujan di sini tidak seburuk peperangan abadi di duniaku yang dulu" Lanjutnya bergumam.
Kuro hanya mengeluarkan suara "purrr" pendek sebelum kembali terlelap. Namun, Voltra tiba-tiba menajamkan indranya. Di tengah suara hujan, ia merasakan sebuah getaran mana yang sangat halus, bergerak di sepanjang dinding luar gedung apartemen. Seseorang sedang memanjat di ketinggian lantai 20 ini tanpa menggunakan peralatan medis apa pun. Voltra menyeringai gelap.
"Tamu malam-malam begini? Sepertinya nasehat nenek itu soal rezeki memang benar. 'Hiburan' datang tepat saat aku mulai bosan" ucap voltra pelan.