NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa yang menjinak

Matahari pagi di langit Salsabila biasanya membawa hawa disiplin yang kaku. Sejak bertahun-tahun lalu, jam tujuh pagi adalah waktu di mana Ghibran Fahreza Al-Husayn akan berdiri tegak di tengah lapangan, dengan jam tangan perak yang melingkar erat dan sorot mata yang sanggup membuat santri paling nakal sekalipun menunduk khidmat. Namun, pagi ini, sejarah seolah bergeser porosnya.

Di bawah rimbun pohon mangga yang daun-daunnya masih menyimpan sisa embun, Ghibran tidak sedang memegang berkas audit atau rotan penggaris. Pria yang dijuluki "Singa Salsabila" itu sedang berdiri dengan posisi yang sedikit aneh: kakinya yang jenjang menumpu kokoh di tanah, sementara tangan kanannya terangkat tinggi memegang sebuah payung kain bermotif bunga melati.

Ia sedang memayungi Aira.

Aira sendiri tampak asyik dengan kamera mirrorless di tangannya. Ia berjongkok, lalu bergeser ke kiri dan ke kanan, mencoba menangkap sudut terbaik dari kelopak mawar yang baru saja mekar sempurna. Gaun sage green yang ia kenakan sesekali tersapu angin, menciptakan pemandangan yang begitu kontras dengan Ghibran yang tetap setia menjadi pelindung statis di atasnya.

"Kak, geser sedikit payungnya ke kiri. Bayangannya menutupi pencahayaan alaminya," perintah Aira tanpa menoleh, suaranya terdengar renyah dan penuh semangat.

Tanpa membantah sedikit pun, Ghibran menggeser posisinya. "Apakah ini sudah cukup? Matahari ini mulai terasa menyengat, Aira. Aku tidak mau kulitmu memerah seperti kemarin."

Aira tertawa kecil, suara tawa yang bagi Ghibran jauh lebih merdu daripada lantunan pujian mana pun. "Hanya lima menit lagi, Kak. Mawar ini sangat indah, aku ingin menjadikannya pola bordir untuk kerudung santriwati kelas aliyah nanti."

Momen domestik yang begitu manis itu mendadak terinterupsi oleh suara deru mesin motor trail yang sengaja digeber kencang. Azka datang, melakukan braking tajam hingga debu tanah sedikit berterbangan, lalu memarkir motornya tepat di dekat mereka.

Azka melepas helmnya, mengacak rambutnya yang lepek oleh keringat, dan menatap pemandangan di depannya dengan mulut terbuka lebar. Ia terdiam sejenak, lalu meledak dalam tawa yang sangat keras hingga burung-burung di pohon mangga beterbangan.

"Demi langit dan bumi Salsabila!" seru Azka sambil memegangi perutnya. "Ghib, apakah aku sedang mengalami halusinasi karena kurang tidur? Kau... kau sedang memegang payung bunga-bunga? Di mana Ghibran yang dulu akan menghukum siapa pun yang berani bermalas-malasan di jam sepuluh pagi?"

Ghibran melirik Azka dengan tatapan "dingin" yang biasanya mematikan, namun karena ia masih memegang payung bunga itu, efek intimidasi yang ia bangun runtuh seketika. "Pekerjaan kantor yayasan sudah selesai sejak fajar tadi, Azka. Dan kau, kenapa jam segini baru sampai? Aku hampir mengirim detektif untuk mencarimu ke selokan."

Azka berjalan mendekat, menyipitkan mata melihat betapa protektifnya Ghibran pada istrinya. "Aku tadi mampir ke polsek untuk memastikan berkas penahanan Hanan sudah P21. Tapi sepertinya aku malah menemukan berita yang lebih besar di sini. Aira, kau apakan singa ini? Kenapa sekarang dia lebih mirip asisten fotografer pribadi yang sedang menjalani hukuman?"

Aira bangkit dari jongkoknya, wajahnya merona merah karena malu. Ia merapikan jilbabnya dan menatap Azka dengan kikuk. "Mas Azka, ini bukan apa-apa. Tadi aku hanya mengeluh sedikit kalau mataharinya silau, eh... Kak Ghibran langsung mengambil payung ini dari gudang."

Azka menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Luar biasa. Cinta memang racun yang paling ampuh. Ghib, kalau para santri melihatmu begini, wibawamu akan merosot dari 'Singa' menjadi 'Kucing Anggora'. Kau tahu tidak? Tadi di gerbang depan, orang-orang bertanya kenapa kau tidak ikut olahraga pagi. Aku bilang saja kau sedang sibuk 'mengurus aset negara'."

"Gajimu bulan ini benar-benar terancam, Azka," desis Ghibran, namun ia akhirnya menutup payung itu karena Aira sudah selesai dengan kameranya. "Ayo masuk ke dalam, udara mulai tidak sehat karena ada aroma pengangguran yang terlalu kuat di sini."

Azka tertawa sambil mengikuti mereka dari belakang. "Eh, tunggu! Aku membawakan martabak kesukaan Aira sebagai sogokan agar aku tidak dipecat. Dan Ghib, kau harus melihat laporan ini. Ada beberapa donatur lama yang ingin kembali bergabung setelah tahu pesantren ini sudah bersih dari 'parasit'."

Percakapan di Beranda

Sore harinya, setelah Azka pulang dan suasana pesantren kembali tenang, Ghibran dan Aira duduk di beranda belakang. Di sana, mereka bisa melihat matahari yang perlahan tenggelam, menciptakan gradasi warna ungu dan jingga yang memukau—sangat mirip dengan metafora alam yang sering Aira tulis di buku hariannya.

Ghibran menyesap tehnya, matanya menatap kejauhan. "Azka benar, Aira. Aku merasa aku sudah banyak berubah."

Aira menoleh, menatap profil samping wajah suaminya yang tegas. "Apa Kakak menyesal karena sudah berubah menjadi lebih lembut?"

Ghibran meletakkan cangkirnya, lalu meraih tangan Aira, menyatukan jemari mereka di atas pangkuannya. "Tidak. Sama sekali tidak. Dulu, aku pikir menjadi kaku adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di tengah serigala-serigala di keluarga ini. Aku takut jika aku menunjukkan satu saja celah kelembutan, mereka akan masuk dan menghancurkanku."

Ia menghela napas, jemarinya mengusap cincin safir di jari manis Aira. "Tapi bersamamu, aku belajar bahwa kekuatan yang sesungguhnya bukan pada seberapa keras suara kita, tapi pada seberapa mampu kita menjaga apa yang kita cintai. Kamu adalah rumahku, Aira. Dan di dalam rumah, seorang pria tidak perlu menjadi singa."

Aira tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu Ghibran, menghirup aroma maskulin yang kini terasa begitu menenangkan. "Aku suka Kak Ghibran yang sekarang. Meski Mas Azka selalu menjahili kita, tapi aku tahu dia senang melihat Kakak bahagia."

"Azka itu hanya iri," gumam Ghibran pelan, membuat Aira terkekeh. "Dia iri karena dia tidak punya desainer cantik yang bisa dia payungi setiap pagi."

Keheningan yang manis menyelimuti mereka. Di kejauhan, suara santri yang mulai melantunkan pujian sebelum magrib terdengar seperti musik latar yang syahdu. Puing-puing masa lalu memang meninggalkan bekas, namun di atas tanah Salsabila yang baru ini, bunga-bunga cinta mereka mulai tumbuh dengan akar yang sangat dalam, bersiap menghadapi musim-musim berikutnya dengan keteguhan yang tak tergoyahkan.

Ghibran mengecup puncak kepala Aira, sebuah tindakan sederhana yang kini menjadi ritual wajibnya setiap sore. Hari ini ia belajar satu hal: tak masalah jika dunia menganggapnya telah kehilangan taringnya, selama ia bisa memastikan bahwa wanita di pelukannya ini selalu merasa aman dan dicintai.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!