Wajib Follow Sebelum Baca.
" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.
Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.
Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.
Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.
La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.
Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.
Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.
( Bismillah semoga rame 🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 BAB 15 : The Blame
" Penyesalan tidak pernah datang di waktu yang tepat... ia datang saat semuanya sudah hancur. "
...
Lampu rumah sakit terasa terlalu terang.
Bau antiseptik menusuk hidung.
Dan suasana.. mencekap.
Matthew berdiri didepan ruang IGD, napas nya masih tak beraturan.
Tangan nya gemetar.
Mata nya terus tertuju pada pintu.
" Valerie... " bisik nya pelan.
Pintu masih tertutup.
Belum ada kabar.
Belum ada kepastian.
...
Langkah kaki tergesa terdengar.
Matthew menoleh.
Carlos dan Kinanti belari mendekat.
Wajah mareka panik.
" Valerie mana?! " suara Carlos langsung meninggi.
Matthew langsung mendekat.
" Pi... aku_
PLAK!!
Suara tamparan menggema di lorong rumah sakit.
Semua orang terdiam.
Matthew terpaku.
Wajah nya menoleh ke samping akibat tamparan
itu.
Pipi nya merah.
Namun bukan itu yang paling sakit.
Tatapan Carlos.
Penuh amarah.
Penuh kekecewaan.
" Jangan panggil saya Papi! " bentak nya keras.
Kinanti terkejut. " Carlos... "
" Tanya dia! " Carlos menujuk Matthew dengan tajam.
" Tanya dia kenapa anak kita bisa kayak gini! "
Matthew menduduk.
Dada nya sesak.
" Maaf.. "suara nya pelan.
" Maaf?! " Carlos tertawa sinis.
Ia mendekat.
" Satu-satunya anak saya sekarang lagi antara hidup dan mati.. "
Suara nya bergetar.
".... Dan kamu cuma bilang maaf? "
Matthew menggenggam tangan nya erat.
" Saya salah.. "
" Salah? " Carlos mendorong bahu Matthew. " Kamu pikir ini cuma salah biasa?! "
Kinanti mulai menangis pelan.
" Cukup, Carlos... "
" Tidak.. "
Carlos menatap Matthew dengan penuh emosi.
" Kamu yang janjikan akan jaga dia. "
Deg
Matthew membeku.
" Kamu yang bilang akan bikin dia bahagia. "
Setiap kata seperti menghantam nya.
" Terus sekarang? " suara Carlos pecah. " Dia terbaring di dalam sana karena apa?! "
Matthew tidak menjawab.
Tidak bisa menjawab.
Karena ia tahu..
Ia bagian dari alasan itu.
" Jawab! " bentak Carlos.
Matthew meangkat wajah nya perlahan.
Mata nya sudah berkaca-kaca.
" Saya... Nyakitin dia.. "
Suara nya hampir tidak terdengar.
" Saya lebih percaya orang lain daripada dia.. "
Air mata nya jatuh.
" Dan saya.. telat sadar."
Hening.
Kinanti menutup mulut nya, menangis.
Carlos terdiam sejenak.
Namun bukan berarti amarah nya hilang.
Ia justruh semakin sakit.
" Kamu nggak pantas ada di sini. "
Kalimat itu dingin.
Menusuk.
Matthew membeku. " Pi.... "
" Keluar! "
Suara nya tegas.
" Saya nggak mau lihat kamu di depan anak saya. "
" Carlos.. " Kinanti menahan pelan.
Tapi Carlos tidak bergeming.
" Keluar! "
...
Matthew menatap pintu IGD itu sekali lagi.
Hati nya hancur.
Namun ia tidak melawan.
Tidak membantah.
Ia tahu...
Ia pantas menerima ini.
Langkah nya mundur perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu berbalik.
Dan pergi.
....
Di rumah sakit..
Matthew berdiri sendirian.
Langit malam gelab.
Seperti hati nya.
Ia menatap kosong ke depan .
" Val.. " suara nya bergetar.
" Aku bahkan nggak bisa ada di samping kamu sekarang.. "
Air mata nya jatuh lagi.
" Semua nya salah aku.. "
...
Sementara itu..
Di dalam ruang IGD.
Dokter dan perawat masih berusaha.
" Tekanan darah masih turun! "
" Cepat siapakan ruang operasi! "
Tubuh Valerie tak bergerak.
Mesin berbunyi cepat.
Dan waktu...
Terus berjalan sangat lambat.
Di luar...
Carlos berdiri diam.
Tangan nya mengepal.
Mata nya memerah.
Kinanti di samping nya menangis.
" Kin anak kita... " suara nya bergetar.
Namun mata nya tidak lepas dari pintu itu.
Di balik amarah nya_
Ada ketakukan yang sangat besar.
Takut kehilangan putri satu-satunya.
...
Kinanti dan Carlos duduk di ruang tunggu, tangan mareka saling menggenggam. Ruang itu hening, hanya suara detak jam dinding dan langkah perawat di lorong terdengar samar.Mata Mareka tidak lepas dari pintu IGD, tempat putri mareka, Valerie ditangani.
Pintu IGD terbuka. Dokter bedah kepala muncul, wajahnya tegang, langkah cepat.
" Kinanti.. Carlos... Valerie harus segera dioperasi, " kata dokter dengan suara tegas tapi berat.
Kinanti menatap dokter itu, tubuhnya gemetar.
" Segera..operasi? apa yang terjadi padanya dokter? "
Dokter menelan ludah, menatap keduanya. " Putri Anda mengalami pendarahan intracranial hebat. Ada hemotoma epidural dan subdural_darah yang menumpuk di otak, meningkatnya tekanan intrakranial. Jika tidak dikurangi, ini bisa menyebabkan kerusakan otak permanen atau kematian."
Carlos menelan ludah, matanya berkaca-kaca. " Apakah resikonya besar? "
" Ya, " dokter menangguk. " Operasi ini adalah satu-satunya cara. kami meangkat darah yang menekan otak dan menghentikan pendarahan aktif. Setelah operasi kemungkinan besar Valerie akan mengalami koma sementara. Koma ini adalah respon otak terhadap trauma berat. Tidak ada cara yang memprediksi kapan dia akan sadar. kami akan memantau tekanan intrakranial, fungsi vital, dan respon otak setiap saat. "
Kinanti menduduk, suaranya lirih. " Dokter.. Tolong.. selamatkan Putri kami.. "
Dokter menepuk bahu Kinanti lembut. " Kami akan melakukan yang terbaik. tetap disini, di ruang tunggu. setiap detik sangat penting. berdoa lah... semoga dia kuat dan selamat.
Carlos menahan tangis. " Angel.. Bangunlah..
Mami dan Papi menunggumu. "
Kinanti mengenggam tangan Carlos lebih erat. " Tataplah kuat nak.. kami ada disini. "
Dokter menatap mareka tegas sebelum kembali ke ruang operasi. Pintu tertutup, meningalkan Kinanti dan Carlos dalam ketegangan, harapan dan ketakukan yang mencekam.
_TBC_
...----------------...
Happy Reading All!