Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Rasa yang Menggoyahkan, Takdir yang Terlihat
Lu Qiang berjalan perlahan menuju meja pojok.
Tiga mangkuk ramen panas berada di atas nampan yang ia bawa dengan kedua tangan. Uap tipis mengepul, aroma kaldu yang kaya rempah langsung menyebar di udara, menarik perhatian siapa pun yang menciumnya.
Namun langkahnya tidak sepenuhnya ringan.
Tatapan wanita itu—
Masih sama.
Tajam.
Menusuk.
Penuh penilaian.
Namun kali ini…
Lu Qiang tidak goyah.
Ia menarik napas pelan.
Mengendalikan emosinya.
Lalu meletakkan satu per satu mangkuk itu di hadapan mereka dengan gerakan tenang.
“Silakan nikmati makanan Anda, pelanggan.”
Nada suaranya stabil.
Tidak dingin.
Tidak pula ramah berlebihan.
Cukup profesional.
Setelah itu, ia mundur selangkah.
Namun tidak langsung pergi.
Ia menunggu, sekadar memastikan tidak ada keluhan.
Sabar Lu Qiang...Kon......Kontrol emosi..Profesional..
Di hadapan mereka—
Tiga mangkuk ramen kini tersaji sempurna.
Kuahnya berwarna keemasan, mengilap, dengan lapisan minyak tipis yang menambah kesan menggoda. Mi yang kenyal terendam sebagian, sementara irisan daging, telur, dan sayuran tertata rapi di atasnya.
Aroma hangatnya…
Menyelinap pelan.
Menggoda indera.
Pria tua berjanggut putih itu menatap mangkuk di depannya.
Matanya menyipit sedikit.
“Jadi… ini yang namanya ramen…”
Nada suaranya pelan.
Seolah sedang menilai.
Wanita di sampingnya mendengus kecil.
Namun—
Tatapannya tidak bisa lepas dari mangkuk itu.
“…terlihat sederhana,” katanya akhirnya.
Ia memiringkan kepala sedikit.
“…namun mewah.”
Hidungnya sedikit bergerak.
“Dan… baunya juga harum…”
Pria muda di sisi lain mengangguk.
“Jika dilihat dari luar, ini mirip mi beras,” katanya sambil mengamati lebih dekat. “Tapi… lebih berempah.”
Ia menelan ludah.
“Dan… menggugah selera.”
Pria tua itu tertawa kecil.
Suara tawa ringan yang jarang terdengar di wajahnya yang tenang.
“Kalau begitu…” katanya, “apa lagi yang kita tunggu?”
Ia mengambil sumpit.
“Ayo kita makan… selagi hangat.”
Ketiganya mengambil sumpit.
Dan—
Suapan pertama.
Sunyi.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
Mata mereka membesar.
Serentak.
…!
Seperti sesuatu yang meledak di dalam mulut mereka.
Rasa gurih dari kuah hangat langsung menyebar, diikuti oleh kedalaman rempah yang berlapis-lapis. Mi yang kenyal berpadu sempurna dengan daging yang lembut, sementara setiap elemen terasa seimbang—tidak berlebihan, tidak pula kurang.
Wanita itu membeku.
Sumpitnya berhenti di udara.
Pria muda menelan dengan susah payah.
Matanya membesar.
Sementara pria tua—
Perlahan menutup matanya.
Menikmati.
Ini…
Dan tanpa perlu kata—
Mereka mulai makan.
Cepat.
Tidak lagi menjaga citra.
Tidak lagi menahan diri.
Suapan demi suapan masuk tanpa jeda.
Seolah takut rasa itu menghilang jika mereka berhenti.
Lu Qiang yang masih berdiri di samping hanya bisa melirik sekilas.
Lalu—
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia tahu reaksi itu.
Semua orang yang pertama kali mencicipinya…
Pasti seperti itu.
Beberapa saat kemudian—
Ketiga mangkuk itu kosong.
Bersih.
Tidak tersisa setetes pun kuah.
Mereka bersandar sedikit.
Menghela napas panjang.
Seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang besar.
Wanita itu menatap mangkuk kosongnya.
Masih tidak percaya.
“Aku… tidak pernah merasakan makanan seenak ini… seumur hidupku…”
Nada suaranya pelan.
Namun penuh kejujuran.
Pria tua itu mengangguk.
“Kau benar.”
Ia membuka matanya perlahan.
“Ini pertama kalinya… aku benar-benar berselera saat memakan sesuatu.”
Ia tersenyum tipis.
“Bahkan restoran terkenal di ibukota kekaisaran… tidak memiliki makanan selezat ini.”
Pria muda itu tertawa kecil.
Masih terengah.
“Kuah hangat yang gurih… dan berbagai topping di atasnya…” katanya sambil menggeleng. “Menambah kenikmatan makanan ini…”
Ia menatap mangkuknya lagi.
“…rasanya kurang puas jika hanya memakan satu.”
Pria tua itu tersenyum.
“Kau benar.”
Ia menyandarkan punggungnya.
“Lagipula… kita jarang memiliki waktu bersantai seperti ini.”
Wanita itu langsung mengangkat tangannya.
“Pelayan!”
Shen Ning yang sedang lewat langsung mendekat.
“Iya?”
Wanita itu menunjuk mangkuk kosong di meja.
“Tiga lagi.”
Nada suaranya cepat.
Tanpa ragu.
Shen Ning langsung mengangguk penuh semangat.
“Baik!”
Ia mencatat dengan cepat.
Lalu berlari kecil kembali ke dapur.
Pria tua itu menatapnya.
Awalnya biasa saja.
Namun—
Beberapa detik kemudian—
Matanya sedikit menyipit.
Lalu—
Membesar.
…?
Ekspresinya berubah.
Sangat halus.
Namun cukup untuk menarik perhatian wanita dan pria muda di sampingnya.
“Kakek?” wanita itu mengernyit. “Ada apa?”
Pria tua itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada Shen Ning yang kini sibuk mencatat pesanan pelanggan lain.
“…anak itu…”
Suaranya pelan.
Namun berat.
“…memiliki bakat yang tertutup oleh debu.”
Wanita itu tertegun.
“Apa?”
Ia ikut menatap Shen Ning.
Namun—
Tidak menemukan apa-apa.
“Gadis kecil itu?” katanya ragu. “Aku tidak merasakan ada yang istimewa darinya.”
Pria tua itu mendengus pelan.
Nadanya tidak puas.
“Itulah kenapa,” katanya, “kakek selalu menyuruhmu untuk berkultivasi dengan giat.”
Tatapannya tajam.
“Tapi kau malah bermalas-malasan.”
Wanita itu langsung menunduk.
Wajahnya memerah.
“Maafkan aku…”
Suaranya kecil.
“…itu…”
“Sudahlah.”
Pria tua itu memotong.
“Tidak perlu alasan.”
Ia menghela napas.
Sepertinya ini juga salahku… terlalu memanjakannya… batinnya.
Sementara itu—
Pria muda di sampingnya masih memperhatikan Shen Ning.
Lebih fokus.
Lebih dalam.
Dan tiba-tiba—
Tubuhnya menegang.
“…tunggu…”
Ia berbisik.
Keduanya menoleh.
“Anak itu…”
Suaranya sedikit gemetar.
“…dia memiliki akar spiritual bumi!”
…!!
Wanita itu langsung menatapnya.
“Apa kau bilang!?”
Pria tua itu tersenyum tipis.
Kali ini—
Puas.
“Seperti yang kau dengar.”
Ia mengangguk.
“Anak itu memiliki akar spiritual bumi.”
Wanita itu terdiam.
Matanya membesar.
“Meski akar spiritual bumi adalah yang terlemah dari lima akar spiritual lainnya…” lanjut pria tua itu, “…tetap saja itu sangat langka.”
Ia menatap Shen Ning lagi.
“Dan sulit ditemukan.”
Nada suaranya dalam.
“Hanya beberapa individu… yang memiliki bakat bawaan seperti itu.”
Ia tersenyum samar.
“Aku tidak menyangka… akan menemukannya di Kota Pingxi ini.”
Wanita itu langsung berubah.
Semangatnya melonjak.
“Kalau begitu…!”
Ia mencondongkan tubuh.
“Jika kita bisa membawanya ke dalam klan kita—itu adalah hal yang luar biasa!”
Matanya berbinar.
“Klan kita kekurangan kultivator dengan akar spiritual bawaan!”
Pria tua itu mengangguk pelan.
“Kakek juga berpikir begitu.”
Ia menatap ke arah dapur.
“…mungkin ini adalah takdir surga untuk klan kita.”
Namun—
Ekspresinya sedikit berubah.
“Aku hanya tidak yakin… pemilik restoran ini akan mengizinkannya.”
Wanita itu langsung mendengus.
“Dia hanyalah orang rendahan,” katanya dingin. “Bahkan tidak tahu apa itu kultivasi.”
Tatapannya tajam ke arah Zhao yang sedang melayani pelanggan lain.
“Jika kita menyebutkan nama klan kita…” lanjutnya, “…dia pasti langsung bersujud ketakutan.”
Nada suaranya penuh keyakinan.
“Dan akan mematuhi semua keinginan kita.”
Ia mengepalkan tangan.
“Membiarkan bakat langka seperti itu tetap di sini… hanya akan membuang potensinya!”
Ia menatap pria tua itu.
“Aku yakin… dia bukan orang bodoh yang ingin menghambat masa depan seseorang.”
Pria tua itu hanya menghela napas panjang.
“Tahan dirimu.”
Nada suaranya sedikit lebih tegas.
“Aku tahu kau bersemangat.”
Ia menatapnya dalam.
“Tapi bertindak gegabah adalah hal yang buruk.”
Ia berhenti sejenak.
“Terlebih lagi…”
Matanya menyipit.
“…apakah kau lupa kita berada di wilayah kultus iblis?”
Wanita itu langsung terdiam.
Ekspresinya menegang.
Namun—
Ia masih tidak puas.
“Tapi kakek… ini kesempatan kita…”
Suaranya lebih pelan.
“Bakat seperti itu jarang ada.”
Ia menggigit bibir.
“Jika klan besar lain mengetahui ini…”
“Aku tahu.”
Pria tua itu memotong lagi.
Tenang.
Namun tegas.
“Tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada mereka.”
Pria muda itu mengangguk.
“Tetua benar, nona.”
Ia menatap wanita itu.
“Kita harus menjaga etiket kultivator ortodoks.”
Wanita itu mendesah kesal.
Bahunya turun.
“…jadi apa yang harus kita lakukan?”
Ia menatap pria tua itu.
“Kakek tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja… bukan?”
Pria tua itu tersenyum tipis.
“Tentu tidak.”
Ia menyandarkan tubuhnya.
“Setelah ini… kakek akan berbicara dengan pemilik restoran ini.”
Matanya berkilat.
“Aku harap… semuanya berjalan lancar.”
Wanita itu melirik ke arah Zhao.
Tatapannya masih tajam.
Sedikit kesal.
“Aku harap dia tidak keras kepala…”
Ia menyilangkan tangan.
“…kalau tidak…”
Senyumnya tipis.
Namun dingin.
“…aku benar-benar akan menghajarnya di tempat.”
Dan di saat itu—
Di balik meja resepsionis.
Zhao, yang sedang tersenyum menerima uang dari pelanggan..
Sedikit memiringkan kepalanya.
Seolah mendengar sesuatu.
Senyumnya tidak hilang.
Namun—
Ada kilatan kecil di matanya.
Seperti yang kuduga cepat atau lambat mereka akan menyadari bakat Shen Ning..