Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Jarak Jakarta dan Hangatnya Montreal
Montreal mulai menanggalkan jubah putihnya. Salju yang tadinya setebal lutut kini hanya menyisakan tumpukan es kotor di pinggir jalan, Sinar matahari musim semi yang mulai berani pamer kekuatan. Tapi bagi Sheilla, ini terasa seperti ujian "naik kelas". Ardhito sudah di Jakarta selama dua minggu, dan rencana awal yang katanya "cuma sebentar" ternyata melar membengkak karena keruwetan drama internal perusahaannya.
Pagi di studio bunga terasa sunyi banget tanpa suara gerutu Ardhito yang biasanya protes kalau air untuk mawar terlalu dingin. Sheilla duduk di meja kerjanya, menatap layar ponsel yang menampilkan wajah Ardhito. Di Jakarta sudah jam 9 malam, dan Ardhito kelihatan berantakan banget. Jasnya tersampir di kursi, dasinya sudah longgar, dan rambutnya yang biasa rapi sekarang acak-acakan.
"Kamu pucat banget, Dhito. Sudah makan?" tanya Sheilla, suaranya lembut tapi ada nada khawatir yang nggak bisa disembunyikan.
"Baru mau, Sheil. Rapat tadi bener-bener kayak medan perang. Direktur operasional yang dulu aku percaya banget, ternyata main belakang. Rasanya mau aku maki-maki tadi," Ardhito memijat pangkal hidungnya, lalu menatap Sheilla lewat kamera. "Tapi aku inget kamu. Aku inget mawar-mawar kamu yang nggak suka suara keras. Jadi aku tadi tarik napas, keluar ruangan sebentar, terus balik lagi dengan kepala dingin."
Sheilla tersenyum, hatinya menghangat. "Bagus. Kamu keren kalau bisa kontrol diri gitu."
"Tapi kangennya nggak bisa dikontrol, Sheil. Sumpah, Jakarta itu panas, macet, dan berisik. Aku mau balik ke Montreal sekarang juga. Aku mau nyapu lantai toko kamu lagi," keluh Ardhito dengan nada manja yang dulu nggak mungkin keluar dari mulut seorang Ardhito.
Namun, kali ini nggak melulu soal rindu-rinduan lewat video call . Ada momen sedih yang cukup dalam bagi Sheilla. Suatu sore, saat dia sedang merapikan gudang belakang, dia menemukan sebuah kotak tua milik Adrian. Di dalamnya ada foto-foto lama mereka di Montreal.
Biasanya, kalau ada Ardhito, Sheilla punya tempat bersandar saat kenangan pahit itu muncul. Tapi sekarang, dia sendirian. Dia duduk di lantai gudang yang dingin, memeluk foto itu, dan menangis sesenggukan. Ada rasa bersalah yang mendadak muncul, Apakah aku jahat karena sekarang merasa bahagia dengan Ardhito, pria yang dulu menghancurkan hidupku, sementara Adrian sudah nggak ada?
Sheilla mencoba menelepon Ardhito, tapi ponselnya sibuk. Berkali-kali. Sheilla merasa terasing. Inilah sisi sedih dari hubungan mereka saat komunikasi terhambat oleh zona waktu dan kesibukan, rasa tidak aman itu muncul lagi kayak jamur di musim hujan.
3 hari kemudian, Sheilla baru saja mau tidur saat bel pintunya berbunyi berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang. Siapa malam-malam begini?
Dia mengintip lewat lubang kunci. Di sana berdiri seorang pria dengan jaket tebal, membawa sebuah koper besar dan wajah yang lelahnya nggak karuan.
"Dhito?!" Sheilla membuka pintu dengan cepat.
Ardhito nggak ngomong apa-apa. Dia langsung menjatuhkan kopernya dan memeluk Sheilla erat banget. Bau parfumnya bercampur dengan bau pesawat dan keringat, tapi bagi Sheilla, itu bau paling menenangkan di dunia.
"Aku nggak tahan, Sheil. Aku serahin sisa urusannya ke Rio dan Satria. Aku bilang, masa bodoh sama saham kalau aku kehilangan kewarasanku karena jauh dari kamu," gumam Ardhito di ceruk leher Sheilla.
Sheilla melepaskan pelukan, menatap Ardhito yang matanya merah karena kurang tidur. "Kamu terbang 20 jam cuma buat ini?"
"Aku terbang 20 jam karena aku tahu kamu lagi sedih kemarin lusa. Aku dapet pesan suara kamu yang nangis, Sheil. Dan aku benci diri aku sendiri karena nggak ada di sana buat meluk kamu," Ardhito mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi Sheilla.
Malam itu, mereka nggak tidur. Ardhito malah mengajak Sheilla duduk di dapur, membuatkan cokelat panas karena dia sekarang sudah tahu takaran cokelat dan susu yang Sheilla suka.
"Sheil, soal kotak Adrian itu..." Ardhito memulai dengan hati-hati. "Jangan pernah ngerasa bersalah karena kamu bahagia sama aku. Adrian orang baik, dia pasti mau kamu bahagia. Dan aku... aku nggak mencoba menggantikan dia. Aku cuma mau jadi orang yang nemenin kamu di lembaran baru ini."
Sheilla menatap Ardhito. Pria ini bener-bener sudah berkembang jauh. Ardhito yang dulu bakal cemburu buta kalau Sheilla nyebut nama mantan. Ardhito yang sekarang justru jadi orang yang memvalidasi perasaan Sheilla.
"Makasih ya, Dhito. Kamu beneran sudah jadi 'rumah' buat aku," bisik Sheilla.
Sisa bulan keenam mereka habiskan dengan kebahagiaan yang jauh lebih nyata. Ardhito memutuskan untuk tidak lagi bolak-balik Jakarta. Dia mengelola perusahaannya secara remote (jarak jauh).
Mereka mulai mengerjakan proyek baru: membuat kebun kecil di belakang rumah baru yang Ardhito beli. Setiap sore, setelah toko bunga tutup, mereka berdua sibuk dengan tanah dan pupuk.
"Dhito, mawar yang itu jangan ditaruh di tempat yang terlalu banyak matahari!" omel Sheilla sambil tertawa melihat Ardhito yang belepotan tanah.
"Iya, Bos! Ampun!" Ardhito membalas dengan mencolekkan sedikit tanah ke hidung Sheilla.
Tawa mereka pecah di udara Montreal yang mulai menghangat. Inilah emosi yang nyata bukan romansa picisan, tapi kebersamaan yang dibangun dari puing-puing masa lalu yang sudah mereka bersihkan bareng-bareng.
Di akhir bulan, saat mereka sedang duduk di teras belakang sambil melihat bibit bunga matahari yang mulai tumbuh, Ardhito menggandeng tangan Sheilla.
"6 bulan sudah lewat, Sheil. Kita sudah melewati badai salju, jarak Jakarta-Montreal, sampai hantu-hantu masa lalu," kata Ardhito serius.
"Aku makin yakin, kalau tempatku bukan di gedung tinggi Jakarta, tapi di sini. Di samping kamu, dengan tangan yang kotor karena tanah kebun kita."
Sheilla tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Ardhito. Dia merasa tenang.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --
disaat sheilla pergi penyesalan pasti akan dateng...
sheilla emang diam-diam mencintai dhito tapi hanya dipendam aja, sheilla dari SMA hingga kuliah hanya pengagum rahasia ardhito...