yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 ke(tidak)pastian.
Kabar kalau pengungsi di pulangkan menjadi pembicaraan alot di kalangan para petinggi penjajah. Kesepakatan diambil tanpa perundingan. Dan ini membuat kesepakatan seolah belum berada di titik "sepakat".
Akhirnya, para pengungsi belum bisa keluar dari kemp karena khawatir akan keselamatan mereka di perjalanan. Hamid yang di percayakan untuk mengurus kepulangan mereka menjadi geram.
Seharusnya, hari ini sudah ada yang berangkat untuk kembali ke rumah mereka. Tapi kenyataannya, setelah siang kemarin ketuanya di bawa, malam hari nya utusan dari penjajah itu mengumumkan bahwa kepulangan mereka di tunda.
" Ini tidak bisa di biarkan. Kenapa harus di tunda, bukan kah siang tadi kita sudah sepakat bahwa kami akan dipulangkan jika kalian membawa orang yang kalian cari...!" geram nya tak terima.
" Kesepakatan yang diambil belum melalui perundingan dengan para pemimpin kami...!" Tegas utusan itu.
" Alah... Sedari kapan kalian berunding, tapi nyata nya memang tak mau kami kembali kan?"
" perundingan omong kosong...!!!!"
" Kali ini apa alasan kalian menunda kami?"
" Mana tanggung jawab kalian yang katanya tempat ini aman?"
Mana janji kalian jika kami akan mendapat bantuan makanan? Buktinya kami mencari sendiri dengan bayang-bayang senapan kalian.. Heh..!!!
"Bilang pada pemimpin kep*rat kalian !!!! Sampai kapan kami menunggu kesepakatan b*nci penuh tipuan itu!! " rasanya ingin sekali Hamid memecahkan kepala "utusan" di depannya ini dengan batu hingga hancur.
Utusan yang berdiri gemetar itu hanya diam menyerap amarah panjang orang di depannya. Tiga orang dibelakangnya sudah siap dengan acungan pistol di tangan mereka. Jika Hamid macam-macam, pelatuk tinggal di tekan dan... Dor.. Tiga peluru pasti bersemayam di kepala Hamid.
" Jika keputusan kalian hanya tipuan lagi, akan kami pastikan markas kalian hancur berantakan.
Kami sudah sangat sabar atas tindakan kalian. !!!" suara rendah Hamid penuh ancaman. Kepalan tangannya dengan urat menonjol membuat ngeri yang melihat nya.
" Pergilah sebelum aku sendiri yang akan menghancurkan kepala kalian satu persatu..!!!" usirnya jengah. Hamid harus sekuat tenaga menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun demi keselamatan ketuanya yang berada di tangan mereka.
Secepat kilat para utusan itu pergi dari hadapan Hamid. Mereka tau itu bukan ancaman biasa. Mereka tak punya keberanian seperti itu untuk bertindak dengan tangan kosong. Apalagi jumlah mereka yang hanya ber empat saja. Dipastikan bisa jadi bubur di tangan mereka.
Setelah kepergian para utusan itu, Hamid pergi ke belakang tenda tempat mereka biasa berlatih. Karung berisi pasir menjadi tujuannya meluapkan amarah nya.
Rekan-rekan nya yang lain tak kalah emosi, namun masih bisa di redam. Yaseer pun yang tak luput dari pembicaraan itu, menahan geram luar biasa.
" B*engsek....!!! Kenapa tidak mati saja kalian di tangan N*zi.!!"
Bugh..bugh...
" Kenapa kalian harus kesini!!!"
Bugh...bugh....
"Terkutuk kaliaaaannn!!!!!! "
Hah...hah...hah .....
Dengan nafas ngos-ngosan Hamid luruh ke tanah.
" Ya Allah.... Beri kami kekuatan untuk membinasakan orang-orang dzolim seperti mereka ..." Seraknya mengangkat tangan ke langit.
" Beri kami kesabaran dalam menjalankan ujian dari Mu ini yaaa Allaaaaahhhh....... " tubuhnya jatuh tersungkur bersujud.
Yaseer menyaksikan semua itu dengan air mata meleleh di pipi nya. pengalihan amarah besar ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Pelajaran besar untuk nya. Setenang-tenang nya manusia dalam kesabaran, jika sampai pada titik terendah nya, maka akan meledak juga.
*****
Pagi ini, masih seperti biasa. Untung saja bantuan dari pemerintah masih tersedia, hingga mereka masih bisa sarapan walau hanya sebungkus roti dibagi untuk bertiga. Dan segelas air bening menjadi pendorong nya supaya cepat sampai ke lambung perih mereka.
Hah...... Helaan nafas para pengungsi setelah menelan sarapan mereka. Hari yang panjang dan berat masih terus berlangsung di hadapan mereka.
" Ummi, liatin deh, tangan aku sekarang jadi kurus-kurus. Jari-jari aku mulai keliatan tulang-tulang nya.." Ujar Abia sambil memperhatikan jari-jari tangannya dan di tunjukkan pada ummi nya.
" Iya. Akak juga sama. Sekarang akak jadi lebih langsing.. Hehe.." Balas Hania meringis.
" Baru setahun kita disini.... "
" Bersabar ya... Bukan cuma kita, tapi kita semua mengalami hal yang sama..." Balas ummi nya memegang tangan Abia lembut.
Laila merasa hidup mereka tak akan jauh berbeda baik di rumah atau di sini. Sama-sama kelaparan, sama-sama di bawah ancaman. Namun nilai baik nya, mereka masih bisa saling bercengkrama. Saling menguatkan dan bercanda.
Hingga setahun dirasa tanpa begitu berat karena adanya kebersamaan diantara mereka. Itulah berjamaah. bagaimana satu tubuh. Jika satu bagian sakit maka bagian lain merasakan sakit nya.
" Semoga saja ada solusi terbaik untuk kita semua ya..." Lanjut Laila pada anak-anak nya.
" Kaka mana mi? Sekarang mainnya sama tuan Hamid dan teman-temannya terus..." cebik Abia merasa di tinggal oleh kakaknya, Yaseer.
" Kaka lagi sibuk latihan, sepertinya dia mau kayak gurunya itu. Jago beladiri." Jawab Hania pada Abia.
" Biar bisa telepati kak?" Tanya Abia merasa seru.
" Bukan telepati, tapi bisa bela diri. Jadi bisa lawan tanpa senjata, atau bisa mengelak dari senjata dengan cepat. Sut..sut..gitu..." Terang Hania lagi sambil memperagakan dengan tangan nya.
*Wiih.. Hebat dong Kaka. Abia juga mau kayak gitu.. Abia pengen jadi kayak ninja gitu. Bisa ngilang.. Ting.. Keluar asap..." Heboh Abia teringat akan film ninja yang dia lihat di televisi temannya.
" Iya ya, kita lemparin senjata bintang gitu ke penjajah seru kali ya. —
Oya, kalau banyak ninja, penjajah bakal kalah ga ya?" Hania jadi ikutan berkhayal.
" Suatu saat.... Dari warga kita pun banyak yang lebih hebat dari ninja." Ujar Laila gemas melihat anak nya sibuk berkhayal.
" Kakak salah satu nya mi?"
*****
Yaseer berlatih dengan semangat penuh. Tujuan nya, ia ingin ikut menjadi pejuang seperti gurunya. Berbagai gerakan ia coba kuasai dengan baik. Walau baru beberapa bulan, tapi ia sudah menguasai beberapa pukulan dan tendangan.
" Tambah tenaga....!!" Seru pelatih.
" dua...!!"
" Bayangkan dimana titik kelemahan lawan....!"
"tiga...!!"
" Hentak di ujung pukulan....!"
Hiat...
Gerakan terakhir di barengi dengan teriakan. " Ok. Istirahat dulu...!!"
Semua beristirahat dengan merebahkan tubuhnya ke tanah. Air minum harus berbagi, karena stok air terbatas.
" Tuan, apa saya bisa ikut menjadi salah satu pejuang ?" Tanya Yaseer pada tuan Hamid, guru berlatihnya kini.
" Tentu bisa, tapi tidak sekarang, usia mu belum masuk persyaratan.." Jawab tuan Hamid bangun dari rebahan nya.
" Berapa lama lagi saya menunggu?" Tanya Yaseer lagi yang sudah duduk di sebelah gurunya.
" Ya sekitar 8-10 tahun lagi mungkin...." Jawab tuan Hamid mengangkat bahu tak pasti.
" Masih lama banget...." Lirih Yaseer.
Hening....
" Tuan, apakah tuan Ahmad baik-baik saja?" Tanya Yaseer lagi.
" Iya, semoga saja.... Beliau mempunyai fisik yang kuat. "
" Tuan, kapan sebenarnya kita akan kembali?" sendu nya.
" Kita tunggu saja keputusan dari pemerintah kita.."
*****
Sebulan kemudian sebab aksi pejuang semakin brutal dan meresahkan pemerintahan zi*nis, Juga kecaman dari berbagai negara yang membuat peringatan keras akan keberadaan kependudukan di negara Palestina, maka di bentuklah kembali forum kesepakatan ulang.
Perwakilan dari berbagai negara berkumpul dan membicarakan tentang keadaan negara Palestina. Pembantaian dan penculikan menjadi poin penting adanya perlawanan dari pejuang militan baik itu Pejuang HaMIs atau pejuang Islam lainnya.
Keputusan diambil bahwa sebagian pengungsi akan di pulangkan. Walaupun pemerintah pendudukan menolak keras, tapi mau tak mau pun mereka harus mengikuti voting terbanyak.
" Sebagian kita di pulang kan dengan syarat, warga sipil, orangtua, dan orang sakit." Berita Hamid pada kelompok nya setelah selesai latihan pagi.
" Sebaiknya kita pilih saja. Karena kita semua pasti ingin kembali.." saran anggota yang lain..
" Baiklah.. Kita akan memilih yang harus di pulangkan cepat." Putus Hamid.
" Sebaiknya di adakan kendaraan penjemputan. " Saran dari yang lain lagi.
" Benar, sebaiknya kau hubungi pemerintahan agar mengirim truk atau bis untuk membawa warga yang pulang." Titah Hamid pada anggotanya yang biasa menghubungi pemerintahan.
" Baik lah.. Akan saya lakukan." Jawab nya.
" Semoga setiap titik chekpoint aman untuk di lewati." doa harap Hamid diaminkan oleh semua anggotanya.
Titik chekpoint memang yang paling sulit di tembus jika sudah di tutup atau di jaga ketat. Dan perjalanan dari Selatan ke Tepi barat melewati beberapa chekpoint. (ah merepotkan...)
Itulah tugas Hamid dan anggotanya, mereka harus memastikan bahwa mereka bisa melewati chekpoint dengan aman.
***
" Ummi kita terpilih untuk kembali," Kabar Yaseer kepada umminya saat malam sebelum tidur.
" Alhamdulillah....." Seru Abia dan Hania bersamaan.
" Alhamdulillah... Kapan kita berangkat kak?" Tanya ummi.
"Kemungkinan besok mi, karena kita menunggu mobil jemputan untuk mengantar sampai rumah." Terang Yaseer.
" Alhamdulillah.. Semoga aman di perjalanan dan selamat sampai rumah kita." Doa ummi di amin kan semuanya.
" Rumah kita sudah sekotor apa ya, kita tinggal selama setahun..." ucap Hania membayangkan betapa kotor rumah nya yang sudah lama mereka tinggal.
" Yang penting itu, semoga rumah kita masih utuh kak.." Balas Yaseer.
" Benar itu. Kita pasti akan bingung juga jika sampai rumah, tapi rumah kita.... —
" Kenapa mi?" Potong Abia.
" Ganti penghuni atau di ratakan?" sahut Yaseer ragu dan hati-hati.
" Kalau memang benar, masa iya kita kembali ngungsi..." Bahu Hania merosot lemas.
" Kalau dekat kampung kita, kita masih bisa memantau kebun kita.." Timpal ummi.
" Iya, walau musim panen sudah lewat, setidaknya kita bisa melihat keadaan kebun kita." lanjut ummi nya lagi.
" Aku ingin memulai usaha mi, aku ingin bekerja saja jika sekolah tidak beroperasi lagi." Cetus Yaseer menatap kosong ke depan.
" Usaha apa kak?" Tanya ummi penasaran.
" Ya mungkin aku akan kerja di pabrik zaitun. Atau kita nanti akan mengolah zaitun lagi dan memasukkan hasil minyak kita ke pabrik-pabrik ". Terawang Yaseer akan usaha nya nanti.
" Tapi kalo hanya mengandalkan zaitun saja, itu hanya berlaku jika musim panen saja nak.." Masukan dari ummi.
" kakak harus punya kegiatan lain untuk mengisi waktu hingga panen lagi tiba." lanjut nya.
" Benar juga ya... Masa iya aku jadi pengangguran selama hampir 9 bulan.." Pikir Yaseer menggaruk kepalanya.
" Setelah sembilan bulan nanti lahiran ..." Sela Hania.
" Iya lahiran ide baru. Wle..." Jawab Yaseer tak mau kalah meledek akak nya itu.
Laila menggelengkan kepalanya, ada saja ide jail mereka untuk jadi bahan ledekan. Tapi ia bersyukur ia dan anak-anaknya masih bisa berkumpul bersama dan dalam keadaan sehat.
Allah beri mereka kesehatan dan kesabaran dalam menjalani kehidupan di pengungsian yang jauh dari kata nyaman untuk tempat tinggal.
" Sebaiknya kita berkemas, semoga saja jemputan kita memang bisa untuk banyak orang." Saran umminya. Ia ingat saat truk yang mereka naiki itu, truk terbuka. Walau tak panas karena malam hari. Tapi karena waktu itu musim dingin. Dingin nya sampai menembus tulang.
Sekarang mulai pergantian musim, masih sejuk. Ya mudah-mudahan bukan truk terbuka lagi. Apalagi jika pertengahan hari masih di perjalanan. Rasa panas nya matahari pasti terasa menyengat karena banyaknya manusia di dalam mobil.
" Kaka ga telepati kak? Hehe..." ledek Abia.
"Apalah kamu ini telepati - telepati.. Kaka belajar beladiri bukan telepati. " Jawab Yaseer gemas sambil meraup wajah adik bungsunya itu.
" Ish tangan Kaka bau...." protes Abia menutup hidung.
" Enak aja. Bau apa heh..?" jawab Yaseer tak terima.
" Bau bapak -bapak.... Haha..."
" Ish aneh-aneh aja kamu... !" lagi Yaseer mencubit hidung Abia yang mancung itu.
" sakit Kaka....." keluh Abia mengelus hidung nya memanyunkan bibirnya.
" Aku bilangin ke baba baru loh...." Ancam nya dengan telunjuk di hadapan wajahnya yang di buat garang.
" heh.. Baba baru siapa heh...? Engga usah ngadi -ngadi..." tantang Yasser
" Ee ada tuan Ahmad ....." Seru Abia melambaikan tangan ke arah belakang Yaseer.
Eh...
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.