Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - 31a
Setelah kejadian hari itu, Sophia semakin berusaha menjaga jarak dari Damian.
Sebenarnya, sejak awal ia memang tidak pernah merasa nyaman berada di dekat pria itu. Namun, sekarang perasaannya jauh lebih rumit. Setiap kali mengingat perkataan Damian, wajahnya langsung memanas karena kesal.
Bagaimana bisa lelaki itu mengucapkan hal sememalukan itu dengan ekspresi setenang langit sore? Seolah dirinya adalah barang yang bisa dipindahkan ke mana saja.
Seolah ia tidak memiliki perasaan.
Atau lebih parah lagi, seolah siapa pun berhak menyentuhnya sesuka hati.
Mengingatnya saja sudah cukup membuat harga dirinya terasa tergores.
Karena itulah, selama beberapa hari terakhir Sophia terus menghindari Damian.
Begitu mendengar langkah kaki pria itu, ia akan segera mencari jalan lain. Jika tanpa sengaja melihat Damian dari kejauhan, Sophia akan pura-pura sibuk dan berbalik arah sebelum pria itu menyadari keberadaannya.
Meski demikian, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
Arkan, dan percakapannya dengan Damian hari itu.
Sophia masih mengingat jelas bagaimana ekspresi Arkan saat menatap pria tersebut. Kemarahan yang berusaha disembunyikan. Kekecewaan yang begitu dalam. Sesuatu yang tidak mampu ia pahami.
Saat itu ia tahu Sintia juga berada di ruangan yang sama.
Mereka bertiga seolah menyimpan rahasia yang tidak ia ketahui.
Sophia tahu Arkan dan Sintia telah bercerai. Ia juga masih mengingat perkataan Arkan yang mengatakan bahwa jika bukan karena Damian, semua itu tidak akan terjadi.
Kalimat itu terus berputar-putar di kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa hubungan Damian dengan itu semua?
Apa jangan-jangan Arkan hanya berbicara dalam keadaan emosi?
Sophia mengembuskan napas pelan.
Bisa saja Arkan memang belum menerima pertunangannya dengan Damian. Bagaimanapun juga, tidak semua orang bisa menerima kenyataan dengan lapang dada.
Meski begitu, semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin besar rasa penasaran yang tumbuh di dalam dirinya.
"Nona!"
Lamunannya buyar seketika.
Sophia mengangkat kepala dan melihat seorang pelayan muda berjalan menghampirinya sambil membawa beberapa kantong belanja.
Senyum lebar menghiasi wajah wanita itu. Seolah ia baru saja memenangkan hadiah besar.
Dengan penuh semangat, pelayan tersebut duduk di sebelah Sophia lalu meletakkan seluruh kantong belanja di kursi taman.
Saat ini Sophia sedang berada di taman belakang rumah Damian. Tempat itu perlahan menjadi tempat favoritnya, dan jarang ada orang yang datang ke sini. Terlebih Damian hampir tidak pernah terlihat berada di area tersebut.
Karena itulah Sophia lebih sering menghabiskan waktunya di sani.
Kadang hanya duduk memandangi langit berjam-jam.
Kadang membantu merapikan tanaman.
Kadang berjalan tanpa tujuan mengelilingi taman.
Apa saja lebih baik daripada terjebak di dalam kamar sepanjang hari.
Lagipula ia tidak memiliki ponsel lagi sejak insiden beberapa waktu lalu. Benda itu sudah hancur akibat emosinya sendiri.
Pelayan muda itu membuka salah satu kantong belanja dan mengeluarkan sebuah tas berwarna krem.
"Nona, lihat ini."
Sophia hanya melirik sekilas.
"Tuan Damian yang membelikan semuanya."
Satu demi satu barang dikeluarkan, dari tas, sepatu, pakaian, aksesori. Semuanya terlihat mahal. Bahkan, beberapa masih memiliki label harga yang belum dilepas.
"Saya memilih yang paling cocok untuk Nona," ujar pelayan itu bangga. "Kalau dipakai, Nona pasti terlihat sangat anggun."
Sophia memandang benda-benda tersebut tanpa minat.
Dulu mungkin ia akan terkejut. Namun, setelah hampir satu bulan tinggal di rumah Damian, barang-barang mahal semacam itu sudah tidak lagi menarik perhatiannya.
Rumah ini terlalu mewah.
Terlalu sempurna.
Sampai-sampai kemewahan itu kehilangan daya tariknya.
Yang ia rindukan justru hal-hal sederhana. Apartemen miliknya, dan kebebasan untuk pergi ke mana pun tanpa perlu memikirkan paparazi atau Damian.
Karena tidak mendapat respons, pelayan muda itu mengibaskan tangannya di depan wajah Sophia.
"Nona?"
Sophia menoleh malas.
"Apa di luar masih banyak paparazi?"
Pertanyaan itu membuat senyum pelayan tersebut sedikit memudar.
"Masih ada beberapa."
"Hampir satu bulan," gumam Sophia. "Apa mereka benar-benar cuman diam di depan rumah, tanpa melakukan apapun. Apa mereka tidak mencari gosip lain?" lanjutnya frustasi.
"Saya tahu Anda bosan."
"Aku ingin pulang."
Pelayan muda itu tersenyum canggung.
"Untuk sementara waktu, mungkin lebih baik Nona menikmati hari-hari di sini."
Sophia nyaris tertawa mendengarnya.
Menikmati? Sulit menikmati sesuatu yang terasa seperti sangkar emas.
Menyadari suasana mulai suram, pelayan itu buru-buru mengganti topik.
"Kalau begitu, bagaimana kalau berenang?"
Sophia menggeleng.
"Aku tidak bisa berenang."
"Membaca buku?"
Gelengan lagi.
"Melukis?"
Gelengan.
"Memasak?"
Sophia kembali menggeleng.
Pelayan muda itu mengembuskan napas panjang, jelas kehabisan ide. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu lagi, seorang wanita datang menghampiri mereka.
Seorang pelayan baru.
Di tangannya tergantung sebuah tas kerja. Wanita itu masih memakai baju pelayan yang ia tutupi dengan jaket, sepertinya dia baru saja menyelesaikan tugas.
"Nona Eva, saya izin pulang dulu."
Pelayan di samping Sophia yang bernama Eva langsung mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
Pelayan baru itu tersenyum lalu berbalik hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti.
"Tunggu."
Wanita itu menoleh bingung.
Sophia sudah berdiri, tatapannya tertuju pada jaket yang dikenakan pelayan tersebut. Sebenarnya ia tahu bahwa ada banyak jaket dengan model serupa. Tidak mungkin hanya dirinya yang memilikinya.
Namun, ada satu kebiasaan aneh yang sudah melekat sejak kecil.
Dulu Sophia sering tertukar barang dengan teman-temannya, karena itu Ibunya selalu memberi tanda kecil menggunakan spidol pada barang-barangnya. Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang.
Hampir semua barang favoritnya memiliki tanda yang hanya diketahui dirinya sendiri.
Sophia melangkah mendekat.
Tangannya terulur menyentuh bagian kerah jaket itu.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Lalu dengan nada seramah mungkin, ia bertanya,
"Jaket ini ... kamu beli di mana?"
Pelayan itu tampak berpikir sejenak.
"Oh, ini bukan beli."
"Bukan?"
Wanita itu menggeleng.
"Jaket ini pemberian salah satu pelayan sekitar dua minggu lalu."
Kening Sophia langsung berkerut. Pelayan? Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, sesuatu yang aneh terjadi.
Tubuh pelayan itu mendadak menegang.
Senyumnya membeku.
Tatapannya terarah lurus ke depan, melewati bahu Sophia, seolah sedang melihat seseorang di belakangnya. Ekspresinya berubah dalam sekejap.
Bukan takut, tetapi lebih seperti gugup atau waspada.
Karena penasaran, Sophia menoleh ke belakang, yang ia lihat hanya Eva. Pelayan muda itu masih berdiri di tempat yang sama sambil tersenyum manis.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang mencurigakan.
Ketika Sophia kembali menoleh ke depan, ekspresi pelayan baru itu sudah berubah lagi. Senyumnya kembali ramah. Seolah beberapa detik sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.
Membuat Sophia mulai meragukan penglihatannya sendiri.
Apa ia salah lihat?
Atau wanita itu memang berubah tegang sesaat tadi?
"Saya permisi dulu."
Pelayan itu buru-buru mengalihkan pembicaraan, lalu menoleh ke arah Eva.
"Saya sudah menyelesaikan semua tugas hari ini."
Eva tersenyum tipis. "Sasa, jangan pulang dulu."
Pelayan itu langsung berhenti.
"Ada beberapa peraturan yang ingin saya jelaskan lagi."
Sasa mengangguk cepat.
"Baik."
Namun, entah kenapa, Sophia memperhatikan kedua tangan wanita itu. Jari-jarinya saling bertaut begitu erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Seolah ia sedang menahan kegugupan yang besar.
Semakin diperhatikan, semakin aneh rasanya.
Sekarang, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Tidak masuk akal. Jelas, tidak mungkin! Jaket itu hilang saat dirinya bersama Arkan di pantai. Sangat mustahil begitu saja berpindah ke tangan seorang pelayan di rumah Damian.
Apa ia terlalu banyak berpikir? Sophia menggeleng pelan. Tapi tanda itu ... Sophia melihat pelayan itu yang sudah menghilang dari pandangannya.
Ada di sana.
____
"Tuan, adik Julian?"
Arkan bergeming.
Di hadapannya, seorang wanita sedang memutar kursi kerjanya perlahan, seolah tidak memiliki hal yang lebih menarik untuk dilakukan selain mengamatinya.
Wanita itu mengenakan gaun merah gelap yang membalut tubuhnya dengan pas.
Potongan gaunnya cukup berani, memperlihatkan bahu putih mulus dan lekuk tubuh yang selama bertahun-tahun menjadi alat untuk menarik perhatian para pelanggan. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai bergelombang hingga melewati dada. Bibir merah menyala dan riasan sempurna di wajahnya membuat wanita itu tampak seperti bunga mawar yang indah sekaligus berbahaya.
Namun, yang paling mencolok adalah matanya.
Mata yang terlihat malas, seolah sudah terlalu banyak melihat kebusukan dunia hingga tidak lagi terkejut oleh apa pun.
Sejak Arkan masuk ke ruangan itu, wanita tersebut beberapa kali mencoba mendekatinya.
Tangannya terulur ke arah deretan kancing kemeja Arkan. Namun setiap kali itu pula Arkan bergerak lebih cepat. Ia menepis, menghindar, seolah tidak memberi celah sedikit pun bagi orang di hadapannya untuk menyentuhnya, bahkan sekadar satu inci.
Tidak mendapatkan respons yang diinginkan, wanita itu akhirnya menyerah. Ia kembali duduk dengan anggun di kursinya.
Kakinya disilangkan.
Tatapannya santai.
Sama sekali tidak terganggu oleh keberadaan Arkan maupun asisten pria itu yang berdiri tegak di sampingnya.
Malah sebaliknya, seolah merekalah yang sedang diuji.
"Aku dengar Tuan Arkan sangat setia pada istrinya."
Sudut bibir wanita itu terangkat.
"Tapi aku juga dengar kau menceraikannya saat sedang hamil."
Ruangan mendadak hening.
Wanita itu terus memperhatikan Arkan, berharap menemukan sedikit saja perubahan ekspresi. Namun, nihil, wajah Arkan tetap tenang.
Datar.
Sulit dibaca.
Seperti permukaan danau yang tidak menunjukkan apa pun meski menyimpan arus kuat di bawahnya.
Wanita itu terkekeh pelan. "Biasanya lelaki seperti itu sudah menemukan wanita lain. Apa Tuan merasa Istri Anda tidak menarik lagi? Jadi mencari pelampiasan lain?"
Arkan mengangkat pandangan.
"Apa yang kau tahu? Simpan baik-baik semua prasangkamu dalam otakmu."
"Aku tahu Tuan merasa tersindir, jangan khawatir, aku tidak aneh dengan hal itu."
"Berita seperti itu ternyata bisa sampai ke tempat sekecil ini," timpal Arkan kesal.
Wanita tersebut tertawa, suara tawanya ringan, tetapi tidak terdengar benar-benar bahagia.
"Tuan Arkan." Ia mengambil cangkir kopi di atas meja. "Menurutmu tempat seperti ini hidup dari apa?"
Wanita itu menunjuk kepalanya sendiri.
"Informasi."
"Lelaki mabuk."
"Pebisnis yang terlalu banyak bicara."
"Dan orang-orang yang lupa menutup mulut."
Ia tersenyum tipis. "Semua informasi selalu berakhir di sini, kau ingin dengar yang mana dulu?"
Arkan tidak menanggapi, ia datang bukan untuk membahas dirinya.
Jari-jari wanita itu berputar perlahan di bibir cangkir.
"Jadi..." Tatapannya kembali tajam. "Peraturan baru apa yang ingin kau berikan?"
Ia menyandarkan tubuh ke kursi.
"Selama ini Julian selalu memberikan aturan yang mengenyangkan bagi para pelanggan." Nada suaranya berubah menjadi sindiran. "Apa sekarang kau akan menyuruh para gadis di sini menjadi lalat yang mencari bangkai di tempat lain?"
B e r s a m b u n g ....
Catatan: Silakan baca Part 15 kalau lupa, terimakasih 💕💕💕
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (◍•ᴗ•◍)❤