NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Dua Orang Dua Jalur

Di ruang kerjanya, Arkana duduk dalam diam. Netranya tertuju pada berkas proyek ekspansi masih terbuka di atas meja, tetapi sejak beberapa menit lalu, tidak satu pun kalimat benar-benar masuk ke kepalanya.

Tatapannya beralih pada map tipis di sudut meja. CV Thalia yang sengaja ditinggalkan agar kedatangan Thalia ke ruangannya terlihat wajar.

Namun baginya, map itu justru menjadi pengingat yang akan kedatangan wanita yang selalu mengganggu pikirannya.

Arka.

Nama itu kembali terngiang. Ketidaksengajaan yang keluar dari bibir Thalia saat wanita itu kehilangan kendali untuk sepersekian detik.

Arkana menyandarkan punggungnya, memejamkan mata. Dan bayangan itu datang begitu saja tanpa permisi.

Pintu ruang kerjanya terbuka. Thalia berdiri di sana. Tersenyum, lalu melangkah mendekat.

“Kali ini kau datang untuk apa, Alia?” tanya Arkana

Thalia tidak menjawab, senyum di bibirnya tak pudar. Ia berjalan memutari meja saat jarak dengan meja sudah terpangkas, dan berhenti tepat di depan Arkana, lalu meletakkan satu tangan di bahu Arkana.

“Biasanya... kamu yang lebih dulu mendekat,” ucap Thalia pelan- nyaris menggoda. “Kenapa sekarang diam?”

Senyum tipis muncul di bibir Arkana. “Jangan memancingku kalau kau tidak siap dengan konsekuensinya.”

Thalia menunduk, wajahnya mendekat. “Siapa bilang aku tidak siap?”

Detik berikutnya, ia duduk di pangkuan Arkana.

Tubuh Arkana menegang. Tangannya reflek menahan pinggang Thalia, menggenggam cukup kuat untuk memastikan bayangan itu tidak pergi terlalu cepat.

Thalia tersenyum, tangannya bergerak naik menyentuh wajah Arkana, menyapukan jemarinya di garis rahang tegas Arkana.

“Sekarang kau menahan diri?” tanya Thalia.

“Aku sedang mencoba,” jawab Arkana serak.

Thalia menggeleng. “Tidak cocok untukmu.”

“Alia.”

Tangan Thalia turun perlahan, menyentuh dasi Arkana, menggerakkan jemarinya di dada pria itu dengan gerakan melingkar.

“Panggil aku begitu lagi.”

Tatapan Arkana menggelap. “Alia.”

Nama itu keluar rendah. Nyaris seperti peringatan.

Senyum di bibir Thalia sedikit melebar. “Arka.”

Arkana menarik pinggang Thalia mendekat, menghabiskan jarak di antara mereka. Thalia tidak mundur, ia justru menunduk lebih dulu, menyentuhkan bibirnya pada bibir Arkana.

Pelan. Singkat.

Namun cukup membuat kendali Arkana runtuh. Ia membalas ciuman itu lebih dalam. Satu tangannya naik ke tengkuk Thalia, sementara tangan lainnya menahan pinggang wanita itu seolah ia takut bayangan itu akan lenyap begitu saja.

Thalia melepaskan ciuman sejenak, napasnya menyapu wajah Arkana. “Kalau ini kesalahan,” bisiknya, “Kenapa kau tidak berhenti?”

Arkana menatap manik Thalia lekat. “Karena dalam pikiranku, kau tidak pernah datang untuk pergi.”

Senyum Thalia melembut. “Kalau begitu jangan bangun dulu.”

Arkana hampir mencium Thalia lagi.

Tok... Tok...

Ketukan pintu memecah segalanya. Mata Arkana terbuka, uangan kembali sunyi. Tidak ada Thalia di pangkuannya, tidak ada jemari yang bermain di dadanya, dan tidak ada sentuhan lembut di wajahnya. Hanya berkas proyek, meja kerja, dan map CV yang masih tergeletak di tempat yang sama.

Arkana mengusap wajahnya kasar, lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri. "Kurasa aku sudah gila." gumamnya diakhiri hembusan napas panjang.

“Masuk,” serunya kemudian.

Pintu terbuka.

Saka masuk dengan berkas di tangan. "Tuan, saya membawa apa yang Anda minta." lapornya seraya meletakkan berkas di meja.

Arkana mengambil berkas itu, membukanya, dan membaca cepat isinya. Ada bukti pembayaran pribadi atas nama Rendra Pratama kepada seseorang dari jasa legal internal.

-Penyusunan surat kuasa pribadi-

"Saya juga mendapatkan bukti pesan singkat dimana Renda meminta dokumen itu tidak dikirim ke email kantor," lanjut Saka.

Atmosfer dalam ruangan berubah dalam hitungan detik.

"Dokumen lama?" tanya Arkana pelan.

"Saya belum mendapatkan bentuk aslinya. Tapi dari percakapan itu besar kemungkinan Rendra mengambil tandatangan Nyonya Thalia dari dokumen keluarga lama," jawab Saka.

"Siapa yang menyusun?" tanya Arkana.

"Nona Clara."

Arkana tersenyum dingin, seolah ia baru saja mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa berusaha keras. "Simpan bukti ini."

“Baik." Saka menunduk.

“Kau bisa pulang, Saka. Ini sudah jam pulang kantor," ucap Arkana.

Saka tidak menjawab, ia tetap bergeming di tempatnya berdiri, mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya.

"Maaf jika saya lancang, Tuan," kata Saka pelan. "Kenapa Anda melakukan hal sampai sejauh ini? Dan itu untuk Nyonya Thalia."

Wajah Arkana yang sebelumnya menekuni berkas di meja terangkat.

"Biasanya..." Saka melanjutkan. "Selama itu tidak merugikan perusahaan, Anda tidak akan mempermasalahkan apapun. Atau, Anda bisa menggunakan kekuasaan yang Anda miliki jika hanya ingin membuat Rendra membayar kesalahan yang dia buat. Tapi Anda justru menggunakan cara rumit seperti ini."

Arkana menyandarkan punggungnya, tersenyum samar saat menatap wajah asistennya yang sudah setia mengikutinya sejak lama.

"Kau mengerti tentang ilmu psikologis, Saka. Saat kau melihat Thalia, apa yang kau lihat?"

Alih-alih menjawab, Arkana justru melemparkan pertanyaan yang membuat Saka terdiam. Pikirannya kembali mengingat saat melihat Thalia pertama kali, sesaat kemudian, wajahnya yang sempat tertunduk terangkat cepat saat sesuatu yang terlambat ia sadari masuk ke kepalanya hingga tatapannya kembali bertemu dengan atasannya.

"Mental Nyonya Thalia..." Saka menggantung kalimatnya, namun anggukan samar yang Arkan berikan membuat ia kian terdiam.

"Psikologis Thalia rusak. Terlalu banyak sugesti yang otak Thalia terima, dan itu dari suaminya sendiri. "

Arkana menghembuskan napas pelan. "Aku bisa menariknya keluar dari Rendra. Mendepak Rendra dari perusahaan ini dengan kasus sederhana, tapi itu bukan cara membuat psikologis Thalia membaik. Dia harus keluar dari lingkaran itu berdasarkan keinginannya sendiri, dan dia sedang memulainya."

Saka terdiam.

"Yang membuatku tak habis pikir adalah..." Arkana menatap berkas di meja "Rendra tidak hanya ambisius, tapi juga licik. Dan menghadapi orang seperti itu tidak bisa terburu-buru."

"Jadi, ini alasan Rendra membawa Nyonya Thalia di beberapa acara perjamuan?" kedua mata Saka melebar tak percaya.

Jemari Arkana mengetuk meja tanpa menjawab, tetapi pikirannya berkerja keras mencari jalan untuk wanita yang seharusnya tidak ia sentuh.

"Apakah Anda melakukan semua ini karena perusahaan, Tuan... atau karena Anda menyukai Nyonya Thalia?"

.

.

.

Rendra tiba di rumah saat hari mulai berganti sore. Langkahnya cepat melewati ruang tengah. Bu Ratmi sempat muncul dari arah dapur, tetapi Rendra tidak memberinya kesempatan bertanya.

“Thalia sudah pulang?”

“Belum, Tuan.”

Rendra tidak memberikan banyak reaksi, Ia segera membawa langkahnya masuk ke ruang kerja dan menutup pintu dengan keras.

Di dalam ruangan itu, semua tampak sama. Meja rapi, kursi berada di tempatnya, laci tertutup. Posisi peris sama sebelum ia pergi meninggalkan ruangan.

Namun justru kesamaan itu yang membuat dadanya semakin tidak tenang. Ia berjalan mendekati meja kerjanya, menyalakan komputer, memasukkan kata sandi, lalu membuka akses kamera rumah dan menekan 'play'..

Rekaman ruang tengah muncul. Kosong.

Ia mengganti tampilan ke koridor dekat ruang kerja, kembali menekan tombol 'play'. Layar bergerak. Koridor tampak lengang. Tapi tetap tidak ada siapa pun.

Rendra mempercepat beberapa menit ke depan. Masih kosong. Ia mempercepat lagi. Tiba-tiba layar berhenti sesaat.

Dahi Rendra berkerut, lalu mengulang bagian itu. Rekaman berhenti di waktu yang sama. Ia menekan tombol jeda, melihat waktu yang tertera, dan menemukan rekaman sempat terhenti beberapa detik. Waktu yang dirasa tidak akan cukup jika ada seseorang yang ingin masuk ke ruang kerjanya.

"Kurasa hanya gangguan biasa," gumam Rendra pelan.

Pandangan Rendra beralih pada laci tempat ia menyimpan dokumen, memutar kuncinya, lalu membuka laci itu. Map hitam masih berada di tempatnya, amplop cokelat juga masih ada bawahnya.

Rendra membuka map dengan cepat. Surat kuasa itu masih ada. Tanda tangan Thalia masih tercetak jelas di bagian bawah. Semua terlihat utuh.

Namun rasa lega yang ia harapkan tidak datang. Ia menatap dokumen itu lama. Thalia yang kembali pergi tanpa izin, Miranda muncul di waktu yang terlalu tepat, dan Arkana meminta klarifikasi terlalu mendadak. Membuat kegelisahan itu semakin terasa.

Dan saat deru mobil terdengar dari halaman, Rendra menoleh ke arah pintu, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.

Istrinya pulang.

Ia menutup map hitam itu perlahan, lalu memsukkan kembali ke dalam laci. Wajahnya kembali tenang, namun di dalam kepalanya satu pertanyaan mulai tumbuh: apakah istrinya benar-benar tidak tahu apapun?

. . . .

. . ..

To be continued...

1
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!