Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kepala Alexa terasa seperti dihantam kunci torsi raksasa. Matanya perih, tenggorokannya kering, dan bau gas air mata masih menempel di lubang hidungnya. Saat ia mencoba menggerakkan tangan, ia menyadari sesuatu yang aneh. Ia tidak diikat. Ia tidak berada di lantai semen yang dingin. Ia berada di atas tempat tidur empuk, tapi di sekelilingnya adalah dinding kaca antipeluru yang tebal.
"Om... Om Duda? Lo masih hidup?" bisik Alexa lirih.
"Saya masih hidup, Alexa. Tapi selera makan saya sudah mati," suara Zyan terdengar dari sudut ruangan.
Alexa menoleh dan melihat Zyan sedang duduk di sebuah kursi kulit mewah di dalam sel kaca yang sama. Zyan sudah tidak memakai kemeja linennya yang terkena muntah; sekarang dia memakai kaos polo hitam bersih yang disediakan oleh penculiknya.
"Kita di mana, Om?"
"Selamat datang di 'The Nest', pulau pribadi keluarga Mahendras," suara melengking Clarissa terdengar melalui pengeras suara.
Tiba-tiba, salah satu dinding sel berubah menjadi layar monitor besar, menampilkan wajah Clarissa yang sedang memegang segelas sampanye. "Maaf ya, tempatnya agak sempit. Tapi tenang, kaca itu kedap suara dan sangat kuat. Bahkan jika kamu mencoba menabraknya dengan motor bututmu itu, Alexa, dia tidak akan retak."
"Clarissa, lepaskan Alexa. Urusanmu itu denganku, bukan dengan dia!" bentak Zyan, berdiri dan mendekati kaca.
"Oh, Zyan sayang... urusanku memang denganmu. Tapi Alexa adalah bumbu penyedapnya. Aku ingin dia melihat bagaimana aku menghancurkan Arsalan Group sepotong demi sepotong dari sini. Setelah itu, baru aku akan memutuskan apakah kalian akan aku tenggelamkan bersama yacht mewahmu itu atau tidak."
Layar mati. Hening kembali menyelimuti sel kaca itu.
Alexa turun dari tempat tidur, kakinya masih sedikit lemas. Ia mulai berkeliling, menyentuh setiap sudut kaca dan bingkai logamnya. Insting tekniknya mulai bekerja.
"Om, jangan cuma melototin kaca. Bantuin gue cari sesuatu yang bisa dipake!"
Zyan menghela napas. "Alexa, ini kaca laminasi polikarbonat diperkuat. Tebalnya minimal lima inci. Kita tidak punya alat, tidak punya senjata. Apa yang mau kamu lakukan?"
"Gue punya otak, Om! Dan gue punya lo!" Alexa mulai membongkar nampan makanan yang ditinggalkan penjaga di sudut sel. Isinya adalah steak ikan mewah. "Liat ini, Om. Tulang ikan kakap ini cukup keras dan tajam."
"Kamu mau membobol kaca antipeluru pakai tulang ikan? Kamu sudah gila?"
"Bukan kacanya, Om! Tapi engsel pintunya!" Alexa menunjuk ke arah celah kecil di bagian bawah pintu kaca. "Liat, ada sensor tekanan di sana. Kalau kita bisa bikin arus pendek di sensor itu, sistem penguncian magnetiknya bakal reboot selama lima detik. Di saat itulah kita harus dorong bareng-bareng."
Zyan menatap istrinya dengan pandangan antara kagum dan tidak percaya. "Bagaimana cara bikin arus pendek tanpa kabel?"
Alexa tersenyum licik. Ia meraba rambutnya, mengambil dua buah jepit lidi hitam yang selalu ia gunakan. "Jepit rambut gue mengandung karbon steel. Kalau gue sambungin sama kabel power dari lampu baca di samping kasur ini, terus gue arahin ke sensor itu..."
"Itu berbahaya, Alexa. Kamu bisa tersengat listrik!" Zyan langsung memegang tangan Alexa.
"Om, gue biasa kesetrum busi motor! Ini mah kecil!" Alexa mulai beraksi. Ia membongkar lampu baca dengan tangan kosong (dan bantuan tulang ikan tadi sebagai pengungkit). Zyan hanya bisa menonton dengan jantung berdebar, sesekali membantu memegang kabel agar tidak mengenai kulit Alexa.
"Satu... dua... tiga!"
CRIEEEET! SPARKKK!
Percikan api muncul dari bawah pintu. Lampu di dalam sel sempat berkedip-kedip.
"SEKARANG, OM! DORONG!"
Zyan dan Alexa menabrakkan bahu mereka ke pintu kaca itu secara bersamaan. Dengan tenaga gabungan antara atlet beladiri dan montir bertenaga monster, pintu itu terbuka tepat saat sistem magnetiknya kehilangan daya.
BRAKKK!
Mereka terjatuh ke selasar luar. "Berhasil! Hahaha! Rasain lo, Tante Lili!" sorak Alexa.
Namun, pelarian mereka baru dimulai. Mereka berada di dalam kompleks bawah tanah yang labirinnya sangat rumit. Zyan mengambil alih komando. "Ikuti saya. Saya ingat tata letak pulau ini dari dokumen lama perusahaan yang pernah dibeli papa."
Mereka berlari melewati lorong-lorong putih yang dingin. Di beberapa sudut, mereka harus bersembunyi dari patroli penjaga bersenjata.
"Om, di depan ada ruang kontrol utama," bisik Alexa saat mereka mengintip dari balik pilar. "Kalau gue bisa masuk ke sana, gue bisa matiin semua sistem keamanan pulau ini, termasuk pengacau sinyal. Kita bisa panggil bantuan."
"Risikonya besar, Lex. Penjaganya banyak."
"Lo alihkan perhatian mereka, gue masuk lewat ventilasi. Gue kan kecil, muat lah masuk lubang tikus begitu."
Zyan menatap Alexa dalam-dalam. Ia menarik wajah Alexa dan mencium bibirnya singkat tapi penuh penekanan. "Hati-hati. Kalau dalam sepuluh menit kamu tidak keluar, saya akan meledakkan tempat ini dengan tangan kosong."
"Dih, mulai deh sok jagoannya. Udah sana, gass!"
Zyan keluar dari persembunyian, sengaja menjatuhkan tumpukan kaleng pemadam api untuk memancing para penjaga. "DI SANA! TANGKAP DIA!" teriak para penjaga sambil mengejar Zyan ke arah berlawanan.
Alexa dengan lincah memanjat dinding dan masuk ke dalam saluran ventilasi. Udara di dalam sempit dan berdebu, tapi Alexa merayap seperti cicak yang sedang kelaparan. Begitu sampai di atas ruang kontrol, ia melihat Niko (si mantan manajer) sedang sibuk memantau radar.
"Dasar tikus kantor," gumam Alexa. Ia membuka grill ventilasi pelan-pelan, lalu menjatuhkan diri tepat di atas pundak Niko.
BUGH!
"Apa—?!" Niko tidak sempat berteriak karena Alexa langsung menghantam tengkuknya dengan botol parfum (hasil curian dari meja rias di sel tadi). Niko pingsan seketika.
Alexa langsung duduk di depan komputer utama. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan cahaya. "Ayo... ayo... bypass firewall-nya... Nah, dapet!"
Alexa mematikan seluruh CCTV di pulau, membuka kunci semua pintu, dan yang paling penting: mengirimkan koordinat GPS darurat ke tim keamanan Arsalan dan polisi perairan.
"Selesai! Sekarang tinggal nyari si Om."
Di luar, Zyan sedang kewalahan menghadapi tiga penjaga sekaligus. Meski dia jago beladiri, menghadapi tiga orang bersenjata tumpul dalam ruang sempit cukup menguras tenaga. Saat salah satu penjaga hendak memukul Zyan dari belakang, sebuah suara melengking mengudara.
"WOI! JANGAN SENTUH SUAMI GUE!"
DUAKKK!
Alexa datang membawa tabung pemadam api dan menyemprotkan isinya ke wajah para penjaga, lalu menghantamkan tabung itu ke kaki mereka. Zyan menggunakan kesempatan itu untuk menyelesaikan sisanya dengan beberapa tendangan telak.
"Kamu telat dua menit, Lex," ujar Zyan sambil terengah-engah, tapi senyumnya mengembang.
"Tadi antri di ventilasi, Om! Macet!" canda Alexa.
Mereka berlari menuju dermaga pribadi di balik tebing. Di sana, Clarissa sudah bersiap naik ke helikopter untuk melarikan diri.
"Zyan! Alexa! Bagaimana kalian bisa keluar?!" Clarissa berteriak panik saat melihat dua orang itu berlari ke arahnya.
"Sistem keamanan lo sampah, Tante! Belajar lagi sana sama anak SMK!" teriak Alexa.
Clarissa mencoba menembakkan pistol ke arah mereka, tapi Zyan dengan cepat melempar sebuah pisau dapur (yang juga dia selundupkan dari nampan makanan) ke arah pergelangan tangan Clarissa. Pistol itu jatuh ke laut.
Tiba-tiba, suara sirine kapal polisi dan deru helikopter tim keamanan Arsalan terdengar dari cakrawala. Tim bantuan sudah datang!
Clarissa terjatuh di dek dermaga, menangis histeris saat polisi mulai mengepung pulau itu. "Ini tidak mungkin! Arsalan seharusnya milikku!"
Zyan berdiri di depan Clarissa, menatapnya dengan rasa kasihan yang mendalam. "Kamu menghancurkan dirimu sendiri, Clarissa. Ambisi tidak akan pernah bisa menggantikan dedikasi."
Dua jam kemudian, Alexa dan Zyan sudah berada di atas kapal penyelamat. Matahari mulai terbit, memberikan warna emas yang indah di atas laut. Alexa duduk bersandar di bahu Zyan, diselimuti handuk tebal.
"Om... janji lo mana?"
Zyan menoleh. "Janji yang mana?"
"Tadi di kapal pas kena gas air mata, lo bilang mau beliin gue bengkel paling gede di dunia kalau kita selamat."
Zyan tertawa, ia memeluk Alexa erat. "Saya tidak pernah ingkar janji, Alexa. Bahkan saya sudah memikirkan namanya: 'Alexa-Zyan Automotive Center'. Gimana?"
"Keren sih, tapi kepanjangan. 'Bengkel Om Duda' aja gimana?"
"ALEXA!" Zyan mencubit hidung Alexa, membuat gadis itu tertawa lepas.
Di tengah laut yang tenang, setelah badai penculikan dan pengkhianatan yang hampir merenggut nyawa, mereka menyadari bahwa rumah bukan lagi soal gedung Arsalan yang megah atau bengkel yang penuh oli. Rumah mereka adalah satu sama lain.
"Om," bisik Alexa.
"Ya?"
"Gue laper. Gue mau steak, tapi kali ini daging beneran ya, jangan tulang ikan doang buat congkel pintu."
"Siap, Tuan Putri Teknik. Apapun untukmu."
Zyan mencium kening Alexa, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa benar-benar bebas. Tanpa rahasia, tanpa dendam masa lalu, hanya ada masa depan yang menanti di daratan sana.
Bersambung....