Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : PERTEMUAN PERTAMA KIRANA DAN MAMANYA ALINA
...BAB 11...
...PERTEMUAN PERTAMA...
...KIRANA DAN MAMANYA ALINA...
Dua belas tahun lalu. Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Lantai tiga.
Ruang tunggu kemoterapi ramai, tapi semua orang diam. Hanya suara mesin infus dan batuk pelan yang terdengar.
Kirana duduk di pojok. Usianya dua puluh tiga tahun. Di pangkuannya, Dimas yang berusia dua tahun tertidur. Kepalanya bersandar di dada Kirana. Di sebelahnya, ibunya berusia lima puluh empat tahun terlelap di kursi roda. Tubuhnya kurus. Selang infus masih menempel di tangannya.
Sudah tiga malam Kirana tidak tidur. Siang ia mengajar di SD desa, malamnya harus menjaga ibunya. Suaminya di rumah. Baru saja di-PHK. Ia hanya diam saja. Bingung, tak tahu harus berbuat apa.
Kirana lelah. Tapi tidak tahu harus mengeluh kepada siapa.
Kursi di sebelahnya ditarik pelan. Seseorang duduk.
Kirana menoleh. Seorang perempuan sekitar dua puluh delapan tahun. Wajahnya masih muda, tapi pucat. Matanya merah. Di tangannya ada kertas hasil laboratorium yang sudah lecek. Di gendongannya ada anak perempuan berusia lima tahun, memakai dress TK berwarna biru dongker.
Mereka tidak saling menyapa. Di rumah sakit memang begitu. Jika belum kenal, semuanya saling diam.
Anak perempuan itu mulai gelisah. "Mama, aku bosan. Kapan pulang?"
"Tunggu sebentar ya, sayang," wanita muda itu mengusap rambut putrinya. Tangannya sedikit bergetar. "Mama menunggu dokter dulu."
Anak perempuan itu melihat Dimas yang sudah tertidur. Lalu menatap Kirana.
"Bu, adik kecilnya tidur ya?" tanyanya.
Kirana tersenyum tipis. "Iya Dek manis. Anak Ibu kelelahan..."
Anak perempuan itu turun dari pangkuan Mamanya. Berjalan mendekati Kirana. Mengusap pipi Dimas pelan.
"Ganteng ya Bu, kasihan sampe ketiduran disini ..." katanya polos.
Kirana tersenyum melihat anak itu. Lalu anak itu menatap Kirana lama setelah menoleh sebentar pada Ibu Kirana di kursi roda. Kirana yang saat itu memakai gamis hitam dan kerudung hitam agak lusuh dan kusut menutupi
"Ibu cantik!" celetuknya tiba-tiba.
Kirana terkejut. "Hah?"
"Bu guru di TK Alina bilang, kalau orang yang sabar itu cantik," anak perempuan itu memasang wajah imutnya sambil menyandarkan kedua tangannya dan dagu di lutut Kirana.
"Ma, bacakan cerita dong. Alina udah mengantuk." Lalu anak perempuan yang bernama Alina itu mendekati Mamanya.
Kirana menoleh menatap Mamanya Alina yang terlihat gelisah.
"Saat ini Mama tidak bisa sayang ... Lain kali saja ya ..." ujarnya dengan memijat keningnya.
"Ayo, Ma ... Alina bosen dari tadi disini nunggu. Papa juga belum pulang!" rengeknya.
Kirana menelan ludah. Sudah lama dia pula tak pernah membacakan cerita. Karna nyaris seminggu dia cuti ngajar hanya untuk menemani ibunya kemo.
Mamanya segera menarik Alina. "Alina, jangan mengganggu Mama ... Mama benar-benar lelah ..."
"Sini Dek!" Kirana memanggil Alina pelan. Suaranya serak. "Anak saya juga sering meminta dibacakan cerita kalau saya ada waktu."
Alina menghampiri Kirana dan duduk di sebelahnya. Kirana tersenyum dan mengusap kepala Alina.
"Benarkah, kalau gitu Ibu saja yang ceritain Alina dongeng ya!" pintanya.
Hening lagi. Hanya terdengar suara pelan Kirana yang mulai bercerita.
"Ratna Mahendra," panggil perawat dari pintu tiba-tiba.
Mamanya Alina berdiri. Lututnya sedikit goyah. Ia melirik Kirana sekilas. Seolah meminta tolong, tapi tidak mengatakannya.
"Mbak... bolehkah saya menitipkan Alina sebentar? Lima menit saja," bisik Mama Alina yang bernama Ratna.
Kirana mengangguk.
Ratna masuk ke ruang dokter. Pintu tertutup pelan.
Alina duduk di lantai, memainkan mobil-mobilan Dimas. Kirana memperhatikannya saja.
"Bu..." Alina tiba-tiba berbicara tanpa menoleh. "Mama Alina kenapa ya? Kok setiap ke rumah sakit diam saja. Tidak tertawa seperti dulu."
Kirana mengerutkan kening, merasa nyeri di dadanya, tapi tenggorokannya tercekat. Karena Dimas setiap malam juga bertanya hal yang sama dengan suara cadelnya.
"Bu, Nenek kapan sembuh?"
Lima menit kemudian pintu terbuka.
Ratna keluar. Wajahnya semakin pucat. Tapi ia tersenyum kepada Alina. Senyum yang dipaksakan.
"Ayo pulang, sayang," kata Ratna.
Alina berdiri. Sebelum pergi, ia memeluk kaki Kirana sebentar. "Terima kasih, Bu Guru." bisiknya.
Ratna berhenti. Menoleh ke arah Kirana. Ragu sejenak.
"Mbak..." panggilnya pelan.
Kirana menoleh. "Iya Bu?"
"Tahun depan anak saya masuk SD. Tapi, dia masih kesulitan membaca. Saya_ saya sudah tidak bisa mengajarinya. Setelah dari dokter, kepala saya selalu pusing," Ratna menelan ludah. "Mbak tinggal di mana?"
"Bandung, Bu," jawab Kirana singkat.
Ratna mengangguk. Lalu mengeluarkan i-phone dari tasnya.
"Bolehkah saya meminta nomor Mbak? Siapa tahu saya butuh teman berbincang. Tentang anak-anak."
"Boleh, 08xxxxxxxx" Kirana menyebutkan nomornya pelan.
Ratna menyimpan nomor Kirana setelah berkenalan. Lalu pamitan pergi. Genggamannya pada tangan Alina sangat erat. Seperti takut melepaskannya.
Kirana memperhatikan punggung mereka sampai hilang. Ia tidak tahu siapa perempuan itu. Tidak tahu juga siapa suaminya.
Ia hanya tahu satu hal, mata perempuan itu sama seperti matanya. Mata orang yang sedang berpura-pura kuat.
Tiga hari kemudian. Ponsel Nokia Kirana berbunyi. Nomor 021xxxxxx.
"Assalamualaikum... Mbak Kirana?" Suara Ratna. Lebih lemah daripada di rumah sakit. "Ini Ratna. Yang di rumah sakit kemarin."
Kirana terdiam. Jantungnya berdetak tidak jelas.
"Maaf mengganggu," lanjut Ratna. "Alina setiap hari bertanya 'Bu Guru di rumah sakit itu dimana, Ma?' Dia_ rindu dibacakan cerita sama Mbak Kirana. Saya ingin mengajarinya, tapi... setelah dari dokter kemarin kepala saya terasa berat sekali, Mbak."
Kirana memejamkan mata. Ia tahu rasanya. Kepalanya terasa akan pecah karena banyak pikiran.
"Mbak di Bandung, kan?" tanya Ratna lagi. "Kalau Mbak tidak keberatan... dua kali seminggu ke Jakarta? Saya yang akan menjemput. Saya beri imbalan. Anggap Mbak menemani Alina. Sekalian... menemani saya juga. Saya kesepian, Mbak. Suami sibuk bekerja. Orangtua saya sudah tidak ada."
Kirana menatap ibunya yang tidur di tikar. Menatap Dimas yang bermain sendiri. Menatap dompet di laci... kosong.
Ia tidak langsung menjawab "iya".
Ia diam dulu. Sepuluh detik. Lama sekali.
Lalu ia berbisik: "Bismillah, Bu. Saya coba."
Bukan karena uang. Ia belum memikirkan uang.
Tapi karena dalam suara Ratna, ia mendengar suara dirinya sendiri, suara seorang perempuan yang takut, tapi tetap melangkah.
Setahun berikutnya berjalan seperti itu. Setiap Selasa dan Kamis, Kirana pergi ke Jakarta. Mobil menjemputnya sejak subuh dari Bandung. Dimas, ia titipkan pada suaminya.
Sementara Ibunya menjalani kemoterapi di Rumah Sakit, dan perawat yang sudah Ratna bayar untuk menjaganya. Kirana di rumah Ratna mengajari Alina calistung, sesekali membacakan kisah tentang Nabi dan Rasul.
Ratna mengawasi di balik pintu kamar Alina, tersenyum sendu. Lalu masuk ke kamarnya, meminum obat dan membaringkan tubuhnya yang terasa lemah kian hari.
******
Setahun berlalu. Ibu Kirana meninggal. Tepat ketika Alina sudah bisa membaca dengan lancar, tulisan tangannya yang hari ke hari semakin rapi dan bagus. Hitungan perkalian 1 hingga 10 pun di luar kepala.
Ratna memeluk Kirana di pemakaman. Tidak berkata apa-apa. Tapi pelukannya sangat erat. Ia sangat mengerti rasanya. Kehilangan. Ratna pun banyak-banyak mengucapkan terimakasih berkat Kirana, Alina jadi anak yang cerdas.
"Mbak Ratna, Mbak harus tetap berjuang demi hidup Alina. Yakinlah, jika Mbak kelak pasti akan sembuh... " pesan Kirana waktu itu. Ratna menghapus kasar air matanya.
"Kirana, kamu bukan oranglain lagi. Kamu sudah aku anggap adik sendiri, rasanya aku tidak sanggup bila jauh darimu ..." isaknya sesak.
Kirana pamit pulang ke Bandung. Ratna merasa kehilangan sesosok teman baik, begitu pun Kirana. Seolah keduanya merasakan penderitaan yang sama.
Tahun pun berlalu dengan cepat. Tepat usia Alina sembilan tahun Ratna pun meninggal dunia.
Tak hanya Alina yang kehilangan Ratna, Aditya pun sama terpukulnya kehilangan istri yang dia cintai.
Bersambung ....
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄