NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. jebakan palsu

Masalah panggan teratasi untuk sementara waktu, membuat Floren tenang dan akhirnya bisa memikirkan masalah tentang kerajaannya sendiri.

Ruang kerja Floren di sayap barat istana biasanya sunyi, tapi malam itu dipenuhi suara gesekan pena dan aroma tinta segar. Di atas meja kayu ek yang besar, terhampar sebuah dokumen resmi kerajaan. Kertasnya berwarna krem tua, dengan tekstur kasar yang sengaja dibuat agar terlihat usang dan telah melalui perjalanan jauh. Segel lilin merah di sudutnya pecah sebagian, seolah-olah dokumen itu telah dibuka dan ditutup kembali secara tergesa-gesa.

Julian berdiri di samping meja, wajahnya pucat namun matanya berbinar dengan kecerdasan strategis. Di tangannya, dia memegang kuas halus, menambahkan noda kopi tipis di tepi dokumen untuk memberikan kesan "kehidupan sehari-hari". Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena beban emosional yang harus dia pendam. Dia tidak boleh menunjukkan keraguan. Tidak sekarang.

"Apakah ini cukup meyakinkan?" tanya Julian, suaranya rendah dan datar. Dia menghindari menatap Floren terlalu lama.

Floren mengambil dokumen itu, memeriksanya dengan saksama. Isinya adalah surat rahasia dari "seorang menteri tinggi" kepada Duta Besar Kerajaan Tetangga, Zenthoria. Surat itu menyatakan bahwa penulis bersedia membocorkan kode akses gerbang sihir istana dan jadwal patroli penjaga royal sebagai imbalan atas suaka politik dan gelar adipati di Zenthoria jika rencana penggulingan tahta Floren gagal. Nama pengirim sengaja tidak ditulis jelas, hanya inisial "V" yang samar, namun konteksnya sangat mengarah pada satu orang.

"Ini sempurna," kata Floren dingin. Dia melipat dokumen itu dengan hati-hati. "Target kita serakah. Dia selalu merasa posisinya tidak aman sejak kita mereformasi sistem pajak yang menguntungkan keluarganya. Dan dia paranoid. Dia percaya semua orang ingin menjatuhkannya."

Julian menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ibu, batinnya. Maafkan aku.

Kaelia masuk ke ruangan, membawa sebuah amplop kulit sederhana. Wajahnya serius saat melihat Julian. Dia tahu siapa targetnya, dan dia tahu betapa beratnya ini bagi penyihir muda itu.

"Kurir sudah siap," lapor Kaelia singkat. "Kami akan menyisipkan ini di antara tumpukan surat pribadi target yang dikirim melalui pos umum hari ini. Amplopnya tampak seperti kiriman dari kerabatnya di provinsi utara, jadi dia tidak akan curiga."

Floren mengangguk. "Pastikan tidak ada jejak sihir yang mengarah pada kita. Julian, apakah kamu sudah membersihkan aura magis dari kertas dan tinta?"

Julian menarik napas dalam-dalam, menekan perasaan bersalah yang mencoba naik ke permukaan. Dia harus profesional. Untuk Mobelle. Untuk masa depan yang lebih baik. Bahkan jika itu berarti menghancurkan wanita yang melahirkannya.

"Sudah," jawab Julian, suaranya stabil meski dadanya sesak. "Dokumen itu sepenuhnya 'mundane'. Tidak ada sihir pelacak, tidak ada ilusi. Hanya tinta dan kertas biasa. Jika... jika dia memeriksanya dengan detektor sihir, hasilnya akan negatif. Itu justru akan membuatnya lebih percaya karena terasa... nyata."

"Bagus," kata Floren. Matanya menatap Julian sekilas, seolah memahami pergulatan batin pria muda itu, namun tidak berkomentar. "Sekarang, tunggu."

Tiga hari kemudian.

Di kediaman mewah Menteri Vane di distrik elit, suasana tegang. Vane, seorang wanita paruh baya dengan postur angkuh dan mata tajam yang licik, duduk di ruang kerjanya yang tertutup tirai tebal. Di tangannya, dia menggenggam erat dokumen yang ditemukan Kaelia sisipkan.

Matanya bergerak cepat membaca isi surat palsu itu—surat yang dia sendiri tulis (menurut keyakinannya), atau setidaknya, surat yang mengklaim berasal dari dirinya.

"Apa ini..." gumam Vane, keringat dingin mengalir di dahinya yang berpowder tebal. "Siapa yang mengirim salinan ini padaku? Apakah ini peringatan? Atau jebakan?"

Dia bangkit, berjalan mondar-mandir di atas karpet Persia yang mahal. Paranoia-nya bekerja keras. Dia ingat pertemuan rahasianya dengan beberapa pejabat yang tidak puas dengan reformasi Floren. Dia ingat keluhannya tentang hilangnya pendapatan dari korupsi pelabuhan. Dia pikir tidak ada yang tahu. Tapi dokumen ini... dokumen ini menyebutkan detail yang sangat spesifik. Detail yang hanya dia dan lingkaran dalamnya yang tahu.

"Seseorang tahu," bisiknya, suaranya gemetar. "Seseorang sedang mengamati ku. Jika Floren menemukan aslinya... aku akan dipenggal. Atau worse, dieksekusi di alun-alun publik sebagai contoh masal."

Dia menatap api di perapian, lalu memutuskan. Dia tidak bisa diam. Dia harus mengamankan jalur kaburnya sekarang, sebelum Floren bertindak. Dia perlu memastikan bahwa kontak asingnya benar-benar siap menerimanya jika segala sesuatunya berjalan buruk.

Vane duduk kembali di mejanya, mengambil selembar perkamen baru dan pena bulunya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia mulai menulis balasan. Bukan untuk menyangkal, tapi untuk mengonfirmasi.

"Kepada Tuan Duta,

Saya menerima pesan Anda. Ketegangan di istana semakin tinggi. Ratu Floren semakin curiga. Saya setuju dengan proposal sebelumnya. Kode akses gerbang timur akan saya kirimkan dalam tiga hari. Siapkan kapal di Dermaga Rahasia 4 pada bulan baru. Jangan gagal.

- V"

Dia menyegel surat itu dengan cincin pribadinya, lalu memanggil pelayan kepercayaanannya.

"Kirim ini," perintah Vane, suaranya berat. "Melalui kurir pribadi. Jangan lewat pos kerajaan. Gunakan jalur bawah tanah. Dan pastikan tidak ada yang melihat."

Pelayan itu membungkuk dan pergi.

Vane menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Dia merasa lega. Sekarang, dia punya jaminan. Jika Floren mencoba menangkapnya, dia punya tiket keluar menuju Zenthoria. Dia pikir dia telah mengalahkan sistem. Dia pikir dia telah mengelabui Ratu.

Padahal, dia baru saja menggigit kail yang paling tajam.

Di ruang intelijen bawah tanah istana, Julian dan Floren memantau situasi melalui kristal pengintai jarak jauh yang ditempatkan di dekat rumah Vane. Mereka melihat Vane menulis surat, menyegelnya, dan memberikannya pada pelayan.

"Dia menggigit umpannya," kata Julian, melepaskan napas yang tertahan. Senyum tipis, yang terasa pahit di lidahnya, muncul di wajahnya. "Dia benar-benar panik."

Floren berdiri, wajahnya datar tapi matanya bersinar dingin. "Sekarang kita punya bukti tertulis. Pengkhianatan tingkat tinggi. Kolaborasi dengan kekuatan asing untuk menggulingkan pemerintahan sah."

Kaelia masuk, membawa laporan dari agen yang mengikuti pelayan Vane. "Kurir telah ditangkap di pintu keluar kota. Surat itu ada di sini."

Dia meletakkan surat asli tulisan tangan Vane di atas meja, tepat di sebelah dokumen palsu yang mereka buat.

"Floren," kata Kaelia, "Apa langkah selanjutnya? Kita bisa menangkapnya sekarang."

"Tidak," kata Floren, menggelengkan kepala. "Jika kita menangkapnya sekarang, dia akan menyangkal. Dia akan berkata dokumen itu palsu. Dia akan mengklaim difitnah. Pengadilan akan berlarut-larut, dan pendukungnya di parlemen akan menciptakan kerusuhan."

Floren mengambil surat tulisan tangan Vane, membandingkannya dengan dokumen palsu.

"Kita biarkan dia berpikir dia aman. Biarkan dia menyiapkan pelariannya. Dan saat dia berada di Dermaga Rahasia 4, saat dia bertemu dengan 'kontak asing' yang sebenarnya adalah agen kita... kita tangkap dia di tempat kejadian perkara. Dengan saksi. Dengan bukti fisik. Tanpa ruang untuk penyangkalan."

Julian mengangguk, meski dadanya terasa nyeri. "Jebakan ganda. Pertama, kita buat dia menulis pengakuan. Kedua, kita tangkap dia saat aksi."

"Persiapkan tim penyergapan," perintah Floren pada Kaelia. "Jangan biarkan satu pun orang lolos. Dan pastikan 'Duta Besar Zenthoria' yang menemuinya nanti adalah aktor terbaik kita. Saya ingin dia mendengar sendiri 'rencana pengkhianatan' itu dari mulut agen kita, direkam oleh kristal suara."

Kaelia tersenyum, senyum predator. "Dengan senang hati, Yang Mulia."

Julian menunduk, menatap lantai batu. Dia bisa membayangkan wajah ibunya saat dia menyadari semuanya terlambat. Rasa sakit itu tajam, seperti pisau yang diputar di perutnya. Tapi dia tahu, jika dia tidak melakukan ini, Vane akan terus merusak Mobelle dari dalam. Korupsi, keserakahan, dan pengkhianatan harus dihentikan.

Floren meletakkan tangan di bahu Julian. Sentuhan itu ringan, tapi bermakna.

"Kau melakukan hal yang benar, Julian," kata Floren pelan, hanya untuk didengar oleh Julian. "Kadang-kadang, untuk menyelamatkan tubuh, kita harus memotong bagian yang busuk. Bahkan jika bagian itu berasal dari daging kita sendiri."

Julian mengangguk pelan, air mata hampir jatuh, tapi dia menahannya. Dia menarik napas, mengangkat kepalanya, dan menatap Floren dengan determinasi baru.

"Apa perintah selanjutnya, Yang Mulia?"

Floren menatap api di perapian, bayangan wajahnya menari-nari di dinding.

"Malam ini," bisik Floren, "kerajaan akan kehilangan satu tikus. Dan keadilan akan mendapatkan makanannya."

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!