Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pasukan Pinky Kembali Beraksi
Pada malam harinya, Teddy mendatangi rumah ibu Lova. Namun ternyata, rumah itu hancur dan gelap. Suasana yang sungguh berbeda dengan waktu terakhir ia ke sana.
"Apa yang terjadi? Kenapa rumah ini berantakan begini? Apa ini artinya rumah ini tidak akan ditinggali lagi?"
Harapan Teddy seolah runtuh kembali. Ia yang awalnya memulai dari ibu Lova, tapi ternyata harus menerima kekecewaan lagi dan lagi.
...****************...
Keesokan hari, Arnold mengantarkan mertuanya kembali ke rumahnya yang masih sama kondisinya seperti beberapa waktu lalu.
"Ah, mana mungkin Mama akan tinggal di sini?" gumam Lova memeluk pinggang dan menyandarkan kepala pada pundak sang ibu.
Ibu Lova mengusap tangan putrinya yang terasa melekat erat pada pinggang. "Kamu jangan khawatir, Mama bisa merapikan ini semua. Mama terbiasa mengerjakan semuanya sendiri," ucap sang ibu mencoba menenangkan Lova.
Mata Lova refleks berkaca-kaca. Ia kembali merasakan dan menyadari, betapa tak bergunanya dirinya selama 32 tahun ini sebagai seorang anak.
"Ma, maafkan aku yang hanya bisa merepotkan Mama selama ini. Membiarkan Mama bekerja keras sendirian, padahal aku sudah dewasa. Harusnya, aku yang melakukan semuanya untuk Mama, tapi hingga detik ini aku masih ... Hiks." Lova tak sanggup lagi melanjutkan menyampaikan semua yang ia pendam.
Sang ibu mengusap pipi Lova dengan lembut. "Jangan begitu. Bagi Mama, kamu kembali sehat seperti anak Mama yang ceria dulu, itu sudah cukup. Sekarang, kamu fokus aja untuk memulihkan jiwa dan ragamu," ucap ibunya dengan lembut.
Arnold memperhatikan obrolan ibu dan anak itu dari jauh. Ia kembali teringat pada sesi pertama terapi. Lova kembali merasa bersalah, menjadi anak yang tak pernah berhenti menyusahkan sang ibu.
"Ah, seandainya kamu tak mengalami kejadian itu, mungkin kamu tidak akan seperti ini. Atau, mungkin kita akan pernah berjumpa, hingga tak ada yang namanya pernikahan medis ini," gumamnya memangku kedua tangan bersandar pada pintu mobil.
"Ah, ya ... Rumah ini harus segera diperbaiki," gumamnya lagi. Ia segera mengeluarkan ponsel. Setelah selesai berbicara, ia berjalan sedikit mendekat pada istri dan mertuanya itu.
"Mama tidak perlu repot di usia senja ini. Masalah kecil begini bisa kita selesaikan dalam hitungan jam."
Lova melirik Arnold sejenak, dan ternyata pria itu sedang menatapnya tanpa suara. Dua pandangan pun saling bertemu, menimbulkan desiran yang aneh pada Lova. Dengan cepat, ia membuang muka.
"Hmmm, Ma ... Kita masuk yuk. Kita lihat apa saja yang bisa diselamatkan," ajak Lova mengalihkan perhatian.
Arnold menaikan satu tangan ke pinggang dan satu tangan lagi mengusap dagu. 'Jika ibunya terus tinggal bersama kami, mungkin semua akan lebih sulit untuk menjaga batasan ini,' batinnya.
...****************...
Tidak sampai satu jam kemudian, suara bising mobil bak terbuka terdengar berhenti tepat di depan halaman rumah. Begitu pintunya terbuka, muncullah segerombolan pria berbagai jenis postur. Mulai yang paling kekar, hingga paling kurus ceking.
Yang paling unik di antara mereka gestur jalan yang sedikit gemulai dan mengenakan kaus seragam berwarna pink cerah. Mereka adalah para waria tobat, yang diasuh oleh Dev dan Arnold. Tentu saja sengaja dipekerjakan untuk urusan-urusan "khusus".
"Hemmm ..." Terdengar suara deheman yang telah dihapal oleh Arnold. Dari posisi paling belakang, muncul pria yang lebih maco dibanding yang lain.
"Kami datang tepat waktu kan?" cicit Dev mengusap dagu memasang gaya di antara pria yang melenggak-lenggok di belakangnya.
"Aduuuh, Mas Dev! Cusss, yang mana yang mau dikerjain menter ini, Mas?" seru salah satu dari mereka yang berbadan paling bongsor sambil mengibas-ngibaskan sarung tangannya yang berwarna senada dengan kausnya.
"Iya nih, Tuan Arnold mah tega. Giliran yang susah-susah gini, pastinya manggil kite-kite, ye kan Ciyyn?" timpal yang lain dan diberi anggukan genit gelisah manja yang lain.
"Semuanya denger ye. Harusnya kita gak begini ih! Kita kan mau nguli! Harus gagah, kuat, dan lakik!" sorak yang lain dengan suara berat nan cempreng.
Semuanya tersentak dan mulai memasang tubuh yang tegap.
"Siap?" ucap Dev memberi aba-aba.
"Siap!" ucap mereka dengan suara pria yang berat.
Arnold langsung memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut, menahan malu yang luar biasa di hadapan mertuanya. "Sudah, jangan banyak bicara. Cepat bersihkan halaman, ganti kaca yang pecah, dan cat ulang dindingnya dengan warna yang rapi. Jangan pakai warna pink!" tegas Arnold penuh otoritas.
"Ih, Boss Arnold mah galak deh, eike kan jadi takut..." gumam mereka serentak, namun tangan kekar mereka dengan sangat cekatan langsung mengangkat karung semen, memasang tangga, dan mulai bekerja dengan kecepatan luar biasa sambil sesekali bernyanyi heboh.
Lova yang tadinya sedih dan ketakutan, seketika melongo menyembunyikan senyumnya. Pipi meronanya kembali muncul melihat pemandangan ajaib di depannya, sementara sang ibu hanya bisa geleng-geleng kepala menahan tawa.
...****************...
Menjelang malam, semua telah selesai. Sofa rusak, sudah diganti yang baru. Cat dinding yang telah dicorat-coret, sudah dicat ulang. Peralatan yang rusak, diganti yang baru dan rumah ibu Lova ini telah terlihat bagai rumah yang baru dibangun.
"Dah, Nyonya ... Kami balik lagi, yee ..." ucap salah satu pasukan pinky.
Lova dengan seketika salah tingkah. "A-aku ... Jangan panggil Nyonya," ucapnya gugup. Para lelaki gemulai itu, tak membuat Lova takut sama sekali. Bahkan, bagai melihat Arnold versi awal pertemuan dulu, saat menyaksikan mereka.
"Kan, Nyonya Lova istrinya Boss kami. Jadi kami panggil Nyonyah Boss ..." timpal yang lain dengan gaya centil.
Lova hanya bisa tersipu malu mendengar panggilan "Nyonyah Boss" yang diucapkan serempak oleh rombongan pria itu. Ia menunduk, menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya.
Arnold yang sedari tadi bersandar di pintu sambil melipat tangan, hanya mendengus geli. Namun, ada kilatan kepuasan di matanya melihat Lova bisa tersenyum lepas seperti itu. Baginya, melihat Lova yang perlahan "hidup" kembali terasa lebih berharga.
"Sudah, sudah. Jangan menggoda istri saya. Cepat bereskan peralatan kalian dan kembali ke markas," perintah Arnold dengan nada yang sengaja dibuat dingin, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Iya, iya, Tuan Muda galak! Kita cabut dulu ya, Ciyyn!" sahut mereka sambil melenggang pergi menuju mobil bak terbuka, lengkap dengan gaya *dadah-dadah* centil ke arah Lova yang hanya bisa dibalas dengan lambaian tangan canggung.
Setelah mobil itu menjauh, suasana di depan rumah menjadi hening. Hanya ada suara angin sore yang berdesir. Lova menatap rumahnya yang kini sudah bersih, rapi, dan terasa seperti rumah baru.
"Terima kasih, Kak," ucap Lova pelan, hampir tak terdengar. Ia memberanikan diri menatap mata pria di depannya itu.
Namun, pria itu hanya membuang muka dan membuat Lova tertegun.
*bersambung*
Sedikit Pengumuman
Nanti aku mengulang rilis cerita ini di buku dan judul yang baru ya Kakak. Soalnya cerita ini sueeepi banget. Jadi, aku mau ulang lagi siapa tahu dengan judul baru jadi hoki. Tapi, cerita ini aku lanjut juga di sini kok kakak, jadi yang udah baca di sini, tetap Stay di sini aja ya biar retensi cerita baru tetap aman. Terima kasih kakak yang sudah setia sampai di bab ini.
Btw, ini nanti judulnya, gimana menurut Kakak semua? 🤣
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣