Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.
Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.
Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.
Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Katie Wilson meletakkan tumpukan kertasnya di atas meja kopi dan berdiri, meregangkan tubuh untuk meredakan otot-ototnya yang kaku. Ia melirik jam di dapur, terkejut menyadari betapa lama waktu yang ia habiskan hanya untuk merencanakan kelas apa saja yang akan ia tawarkan di klinik anak-anaknya.
Pikirannya langsung tertuju pada Mark Barrington. Apa yang kira-kira sedang dilakukan Mark pada Sabtu sore jam dua ini? Pikirannya tentang pria itu seolah melayang semakin sering belakangan ini.
Dengan perasaan ragu, Katie menggigit bibir bawahnya. Kesibukannya memikirkan Mark mulai membuatnya merasa gugup. Namun, bukankah ketertarikan ini adalah perkembangan yang wajar, mengingat hubungan mereka yang aneh? Lagi pula, bukankah ia memang menggunakan Mark untuk berlatih keterampilan dalam hubungan pria-wanita?
Dan jujur saja, ia merasa sesi latihan mereka sangat menggembirakan.
Tubuh Katie bergetar saat ia mengingat kembali sensasi mulut Mark di atas payudaranya yang sensitif.
"Menggqirahkan" bahkan belum cukup untuk mendeskripsikan betapa pria itu membuatnya merasa hidup. Namun, ia berharap ketertarikannya pada Mark akan memudar menjadi persahabatan yang hangat ketika ia mulai berkencan dengan orang lain.
Saat memikirkan tentang kemungkinan berkencan dengan pria lain, pandangan matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di dekatnya. Pagi tadi, sepulangnya dari toko kelontong, ia mendapati ada notifikasi voicemail dari Warren White. Pria itu mengajaknya makan malam nanti dan memintanya untuk segera menelepon balik.
Katie tidak menyukai Warren. Ia tidak menyukai pandangan hidup pria itu yang egois, dan terutama, ia sangat tidak suka dengan cara Warren membuatnya merasa tidak nyaman saat pria itu mencoba menciumnya.
Katie menyisir rambutnya dengan jemari karena frustrasi. "Ini sama sekali tidak masuk akal," keluhnya pada diri sendiri.
Saat Mark menciumnya, reaksinya justru ingin lebih. Jauh lebih banyak. Ia ingin terus menikmati euforia dari ciuman Mark yang membuatnya merasa feminin sekaligus kuat dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Mengapa bisa ada perbedaan yang begitu drastis antara ciuman mereka?" tanyanya heran. "Bukannya aku jatuh cinta pada Mark."
Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia belum cukup mengenal Mark untuk bisa jatuh cinta. Ia bahkan tidak tahu apa yang dilakukan Mark pada Sabtu sore ini. Sambil mengintip melalui celah tirai ruang tamu ke arah rumah Mark, ia tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sana.
"Tidak ada siapa-siapa," desah Katie kecewa.
Perasaan itu membuatnya khawatir karena ia menyadari bahwa ia begitu ingin melihat Mark. Ia semakin yakin bahwa mencium Mark itu seperti kecanduan obat-obatan; pikirannya terus terombang-ambing antara kenangan akan "dosis" terakhir dan rencana tentang bagaimana cara mendapatkan yang berikutnya.
"Bagaimana perasaan Mark tentang ciuman kami?" gumamnya lirih. "Apakah dia merasa itu mencengangkan seperti yang aku rasakan? Mungkin tidak."
"Jujur saja, tidak mungkin dia merasakan hal yang sama," gumam Katie Wilson. Mark adalah pria yang terbiasa membawa hubungan jauh melampaui sekadar ciuman, sehingga ia mungkin menganggap apa yang mereka lakukan saat ini sangat kekanak-kanakan.
Katie bergidik saat mengingat komentar Mark tentang mencium bibir seorang wanita sebelum beralih ke bagian tubuh lainnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar dan berdering, memutus lamunannya. Katie secara otomatis hendak menjawab panggilan tersebut, tetapi ia berhenti, mengingat tadi Warren White menghubunginya. Ia tidak ingin berbicara dengannya sebelum memiliki alasan yang sangat kuat untuk menolak ajakannya.
Bagaimana jika itu Mark Barrington? pikirnya. Katie membiarkan panggilan itu masuk ke voicemail. Ia memutuskan akan segera mengangkat jika itu Mark, dan tidak akan menjawab jika itu Warren. Namun, panggilan itu masuk lagi.
Katie memanjatkan doa dalam hati agar itu Mark, namun nasib berkata lain saat ia mendengar suara Warren yang sedikit kesal di voicemail. Warren terdengar jengkel karena panggilannya kembali tidak diangkat.
Katie menegang saat mendengar Warren berkata bahwa ia akan mampir ke rumah Katie secara langsung setelah selesai bermain golf. Dengan bimbang, ia menatap pintu depannya; ia bisa saja tetap tinggal dan menghadapi Warren, atau pergi dan menunda masalah tersebut.
Katie memutuskan untuk pergi dan menyambar tasnya. Ia berencana mampir ke rumah Mark untuk meminta pendapatnya tentang klinik anak-anak yang sedang ia rencanakan. Mark mungkin tidak tahu tentang keperawatan, tetapi pola pikirnya yang praktis mungkin bisa melihat pertimbangan yang terlewatkan oleh Katie.
Jika Mark tidak ada di rumah, Katie akan mengecek ke pabrik atau melihat apakah bagian pemeliharaan sudah selesai mengecat ruang rapatnya. Namun, setibanya di sana, Katie tidak mendapatkan jawaban saat menekan bel rumah Mark.
Katie Wilson mengintip lewat jendela depan rumah Mark Barrington, namun tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di sana. Akhirnya ia memutuskan untuk menuju pabrik dan segera mengendarai mobilnya.
Perasaan antisipasi bergejolak di dalam dirinya saat ia memasuki area parkir pabrik yang hampir kosong dan melihat mobil Mercedes hitam milik Mark. Mark ada di sini!
Dengan tergesa-gesa memarkir mobil, Katie bergegas menyusuri jalan setapak di depan, tak sabar untuk segera bertemu dengannya dan berbagi rencananya. Area resepsionis tampak kosong, kecuali seorang satpam yang duduk di meja sambil membaca majalah. Ia menatap ke atas saat Katie masuk, "Pak Barrington ada di kantornya, Nona Wilson," ujarnya singkat sebelum kembali membaca.
Katie bergegas menyusuri lorong yang kosong dan mengintip dari balik pintu kantor Mark yang terbuka setengah. Jantungnya berdegup kencang saat melihat kepala gelap pria itu yang sedang menunduk, membaca sesuatu dengan begitu serius.
"Sedang sibuk?" tanya Katie.
Mark mendongak dan menyambutnya dengan senyuman hangat. Terpikat oleh sambutan itu, Katie berjalan mendekati meja kerjanya. "Suasana hatimu cukup baik untuk seseorang yang sedang bekerja di hari Sabtu."
"Itu bukan cara yang tepat untuk menyapa pria yang seharusnya berkencan denganmu, padahal kamu belum melihatnya sejak—"
"Tadi malam," potong Katie dengan nada datar, merasa tergelitik oleh kilatan nakal di mata Mark. Sesuatu yang dalam di dirinya merespons suasana hati Mark dengan sepenuh hati, membuatnya merasa nekat.
"Biar kucoba sekali lagi," ujar Katie secara teatrikal. Ia membusungkan dadanya dan menonjolkan pinggul kanannya. Kemudian, dengan nada suara yang paling menggoda yang bisa ia hasilkan, ia berbisik, "Halo, pria tampan. Aku sangat merindukanmu. Sudah berjam-jam sejak terakhir kali aku melihatmu."
Mark terkekeh. "Sudahlah, lupakan saja. Kamu bukan tipe seperti itu."
Katie mengabaikan perasaan kesal atas penilaian Mark yang kurang menyenangkan mengenai pesonanya.
Katie Wilson bertekad membuktikan bahwa ia bisa tampil sama seksi dan menggoda seperti wanita lainnya.
Sambil menyelinap di belakang meja kerja Mark Barrington, ia memiringkan kursi putar pria itu ke belakang dan menatap wajah Mark yang tiba-tiba menegang. Dengan gerakan yang perlahan dan sengaja, ia membiarkan rambutnya menyapu pipi Mark, lalu menjilat ujung bibir bawahnya dengan gerakan yang ia tiru dari iklan di televisi.
Melihat tatapan Mark yang terpaku pada bibirnya, Katie merasa semakin berani dan mulai bergerak di sekeliling Mark, membiarkan payudaranya menyentuh bahu pria itu.
Reaksi yang meledak di dalam diri Katie hampir membuatnya kehilangan kendali; pikiran-pikirannya pecah berkeping-keping dan menyatu kembali menjadi gairah yang berdenyut untuk semakin dekat dengan Mark. Katie membeku, berusaha keras mempertahankan kendali diri, namun usahanya sia-sia saat Mark tiba-tiba mencengkeram lengannya dan menariknya ke arahnya.
Katie mendarat dengan canggung di pangkuan Mark. Untuk sejenak, ia hanya menikmati kedekatan itu, lalu memanjakan keinginan untuk menyentuhnya dengan bersandar lebih rapat.
Sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mark, jemarinya meraba garis rahang pria itu. Kulit Mark terasa seperti sutra kasar yang bergesekan dengan ujung jari Katie yang sensitif, mengirimkan gelombang kejutan kegembiraan yang memacu sarafnya.
"Kau terasa begitu hebat, pria tampan," bisik Katie dengan suara mendesah, tenggelam sepenuhnya dalam perannya sebagai penggoda.
Sambil menyelipkan tangannya ke dalam jas Mark, Katie mengusapkan tangannya di atas kemeja katun yang menutupi dada pria itu. Ia bisa merasakan detak jantung Mark yang berdebar keras di telapak tangannya—detak yang seolah bergema di dalam tubuhnya sendiri. Merasa sangat berani, Katie menjilat kulit Mark di atas kerah bajunya.
"Dan kau terasa jauh lebih nikmat," lanjutnya. Rasa puas melonjak di dalam diri Katie saat merasakan detak jantung Mark semakin kencang.
Bersambung ....