Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Rencana Pelarian yang Gila
Chapter 5: Rencana Pelarian yang Gila
Suara gedoran di pintu besi gudang semakin menggila. BRAKK! BRAKK! Setiap hantaman itu membuat debu-debu dari langit-langit berjatuhan, seolah-olah bangunan ini juga ikut gemetar ketakutan. Aku bisa melihat pintu besi itu mulai sedikit melengkung di bagian engselnya. Tenaga mayat hidup itu memang tidak masuk akal jika mereka berkumpul dalam jumlah banyak.
“Zidan, pintunya… pintunya nggak akan tahan lama!” seru Kurumi. Wajahnya pucat pasi. Dia menggenggam sekopnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Aku tidak membalas teriakannya. Panik hanya akan mempercepat kematian. Aku segera membongkar tas logistik, mengeluarkan beberapa botol alkohol pembersih luka dan tumpukan kain perca yang kutemukan di pojok rak. Pikiranku berputar cepat, menghitung setiap kemungkinan yang ada.
“Kurumi, bantu aku geser meja itu ke bawah ventilasi udara! Cepat!” perintahku dengan nada dingin dan tegas.
“Tapi bapak-bapak yang di luar tadi… kalau kita buka pintu sedikit saja untuk keluar, mereka pasti—”
“Lupakan bapak-bapak itu!” aku memotong ucapannya tanpa ampun. “Dia sudah menjadi bagian dari mereka yang sedang menggedor pintu ini sekarang. Fokus pada nyawamu sendiri kalau kamu masih mau pulang!”
Kurumi tersentak, matanya berkaca-kaca sesaat sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. Dia membantuku menggeser meja kayu berat itu ke bawah lubang ventilasi tempat tikus tadi jatuh. Tubuh Kurumi yang atletis memudahkannya untuk memanjat lebih dulu.
“Naiklah. Periksa apakah saluran itu cukup luas untuk dilewati manusia,” kataku sambil mulai melilitkan kain perca ke ujung pipa besiku, lalu membasahinya dengan alkohol.
“Lalu kamu gimana? Kamu nggak akan membiarkan aku pergi sendirian, kan?” Kurumi menoleh ke bawah, menatapku dengan tatapan cemas yang sangat tidak cocok dengan sifat keras kepalanya.
“Aku punya rencana sendiri. Jangan banyak tanya, cepat naik!” aku sedikit mendorong kakinya agar dia segera masuk ke dalam lubang gelap itu.
Begitu Kurumi menghilang di balik kegelapan ventilasi, aku segera menyalakan korek api kayu yang kuambil dari kantong. Api kecil itu menari-nari di ujung pipa besiku, menciptakan bayangan raksasa yang menakutkan di dinding gudang. Ini adalah rencana gila. Jika aku salah sedikit saja, aku akan terpanggang hidup-hidup di ruangan sempit ini.
KREEEAAAK!
Suara engsel pintu yang patah terdengar menyayat telinga. Satu tangan pucat dengan kuku-kuku yang menghitam mulai merangsek masuk lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Bau busuk yang luar biasa menyengat langsung menyerbu masuk.
Aku segera melemparkan botol alkohol yang sudah kusumbat dengan kain terbakar—sebuah bom molotov darurat—ke arah pintu.
PRANG! BOOOM!
Api langsung menjalar hebat, membakar bagian depan pintu dan beberapa zombi yang mencoba merangsek masuk. Suara erangan mereka berubah menjadi jeritan melengking yang mengerikan saat api melahap daging busuk mereka. Asap hitam mulai memenuhi ruangan, membuat napas terasa sesak.
“ZIDAN! APA YANG KAMU LAKUKAN?! CEPAT NAIK!” teriak Kurumi dari atas ventilasi. Suaranya terdengar panik karena melihat api yang mulai membesar.
Aku tidak langsung naik. Mataku menangkap sebuah tas logistik berisi obat-obatan yang tertinggal di dekat pintu. Aku tahu itu berisiko, tapi tanpa antibiotik dan perban, luka kecil sekalipun bisa membunuh kami di dunia ini. Aku berlari menerjang asap, menyambar tas itu, dan tepat saat aku berbalik, plafon di dekat pintu runtuh karena panas.
Seekor zombi yang tubuhnya setengah terbakar melompat dari balik api, mencoba meraih kakiku.
“Mati kamu, sampah!” aku mengayunkan pipa besiku yang masih menyala, menghantam kepala makhluk itu hingga pecah dan terlempar kembali ke dalam kobaran api.
Aku segera berlari menuju meja dan melompat ke arah lubang ventilasi. Tanganku meraih pinggiran besi ventilasi yang panas, membuat telapak tanganku terasa perih seperti terbakar. Aku menarik tubuhku sekuat tenaga.
“Zidan, pegang tanganku!” Kurumi menjulurkan tangannya dari dalam saluran yang gelap.
Aku meraih tangannya. Genggamannya sangat kuat, jauh lebih kuat dari yang kubayangkan untuk seorang gadis seukurannya. Dengan bantuannya, aku berhasil masuk ke dalam saluran ventilasi yang sempit dan berdebu.
Kami merangkak dengan cepat di dalam lorong besi itu. Di bawah kami, suara ledakan kecil kembali terdengar, mungkin dari bahan kimia lain yang ada di gudang. Getarannya terasa hingga ke tulang rusuk.
“Kamu benar-benar gila, Zidan! Kamu hampir membakar kita berdua!” Kurumi memprotes sambil terus merangkak di depanku. Aku bisa melihat bagian belakang rok sekolahnya yang kotor karena debu ventilasi.
“Tapi kita masih hidup, kan?” balasku pendek. Napasku tersengal, tenggorokanku terasa sakit karena menghirup asap tadi. “Jika aku tidak membakar mereka, mereka akan terus mengikuti suara kita. Api itu akan membuat mereka sibuk untuk sementara.”
“Tetap saja… kamu bisa mati tadi hanya demi tas obat itu!”
“Obat-obatan ini harganya lebih mahal dari nyawaku di dunia yang baru ini, Kurumi. Belajarlah untuk membedakan mana risiko yang perlu diambil dan mana yang cuma omong kosong heroik.”
Kurumi terdiam. Lorong ventilasi ini sangat sempit, memaksa kami untuk merangkak sangat dekat satu sama lain. Aku bisa mencium bau keringat dan rasa takut yang bercampur di udara yang pengap ini. Namun, di tengah semua kegilaan ini, fokusku tetap satu: menemukan jalan keluar ke atap mall.
Tiba-tiba, Kurumi berhenti mendadak.
“Kenapa berhenti?” tanyaku, hampir menabrak kakinya.
“Zidan… jalan di depan… terputus. Salurannya runtuh ke bawah,” suara Kurumi terdengar gemetar.
Aku merangkak maju ke sampingnya, melihat ke depan. Benar saja, bagian ventilasi di depan kami telah jebol, menyisakan lubang besar yang mengarah langsung ke sebuah ruangan di bawahnya. Dan yang lebih buruk, di bawah lubang itu, aku bisa melihat puluhan pasang mata merah yang menatap ke atas.
Mereka menunggu kita.
“Jangan bersuara,” bisikku, tanganku secara refleks memegang bahu Kurumi untuk menenangkannya. “Kita harus mencari cara lain. Jangan sampai ada satu pun dari mereka yang menyadari kita ada di sini.”
Namun, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak pada kami. Ponsel di dalam tas logistik yang baru saja kuambil tiba-tiba bergetar dan berbunyi kencang karena sebuah alarm pengingat yang lupa kumatikan.
Telolet… Telolet…
Suara itu bergema dengan sangat keras di dalam lorong besi yang sempit.
Semua zombi di bawah sana seketika mengeluarkan erangan lapar yang memekakkan telinga. Mereka mulai melompat-lompat, mencoba meraih pinggiran ventilasi tempat kami berada.
“Zidan… ponselnya! Matikan!” Kurumi panik, dia mencoba meraih tas itu dariku.
Dalam kekacauan itu, pinggiran ventilasi yang kami tempati mulai berderit. Beban dua orang manusia ditambah guncangan dari bawah membuat baut-baut besi itu mulai terlepas satu per satu.
KREEEEAAAK…
“Pegang erat-erat, Kurumi!” teriakku.
BRAKK!
Saluran ventilasi itu pun runtuh. Kami berdua jatuh ke dalam kegelapan, langsung menuju kerumunan mayat hidup yang sudah membuka mulut mereka lebar-lebar.
[To Be Continued...]
Zidan dan Kurumi terjebak dalam situasi hidup dan mati! Apakah logika dingin Zidan masih bisa menyelamatkan mereka berdua dari kepungan puluhan zombi? Ataukah ini akhir dari perjalanan mereka? Jangan lupa berikan Like, Favorit, dan Komentar kalian untuk mendukung kelanjutan cerita ini! Update Chapter 6 besok!