Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Federasi Lin
Perjalanan meninggalkan wilayah Kekaisaran Shan menuju selatan bukanlah sebuah tamasya, melainkan perlombaan melawan maut dan waktu.
Yan Bingchen, Mo Ran, dan Si Hitam harus menempuh ribuan kilometer melewati padang rumput yang gersang, pegunungan yang terjal, hingga sungai-sungai berarus deras yang dihuni binatang buas ranah tingkat rendah.
Bulan-bulan berlalu di bawah terik matahari dan dinginnya hujan badai.
Sosok Yan Bingchen kini tampak lebih dewasa; jubah mewahnya dari turnamen telah digantikan oleh pakaian kain rami yang praktis namun tetap bersih.
Wajahnya semakin tirus dengan garis rahang yang tegas, sementara mata dualitasnya—meski sering ditutupi tudung jubah—memancarkan kilat yang semakin dalam dan terkendali.
"Kak Bingchen, kantong emas kita ... mulai terasa seringan kapas," keluh Mo Ran suatu sore di sebuah kota perbatasan kecil.
Ia mengguncang-guncang kantong sutra yang dulunya berisi 100 tael emas, kini hanya tersisa beberapa keping perak dan tembaga.
Yan Bingchen hanya mengangguk pelan. Biaya perjalanan mereka memang sangat besar.
Untuk menghindari mata-mata Kaisar Shan, mereka harus menyuap penjaga perbatasan, menyewa kereta kuda tertutup di beberapa titik, hingga membeli persediaan makanan yang sangat banyak untuk Si Hitam agar serigala itu tidak berburu secara mencolok dan menarik perhatian pendekar lokal.
"Uang bisa dicari, Mo Ran. Keamanan jauh lebih mahal," jawab Yan Bingchen sambil menatap peta kulit yang sudah lusuh.
Mereka telah menghabiskan hampir seluruh hadiah kemenangan itu demi satu tujuan: mencapai wilayah yang tidak terjamah oleh hukum kekaisaran manapun.
Setelah bulan ketiga, pemandangan mulai berubah secara drastis.
Udara yang tadinya kering berubah menjadi lembap dan sarat dengan aroma tanah basah serta getah pohon purba.
Di depan mereka, menjulang pohon-pohon raksasa yang puncaknya seolah-olah menembus awan. Inilah Federasi LIN.
Wilayah ini bukan sekadar hutan biasa. Vegetasinya begitu padat sehingga cahaya matahari hanya mampu menembus dalam bentuk pilar-pilar kecil yang redup.
Di sini, karakter "Lin" (林) benar-benar terwakili; pohon demi pohon berdiri berdampingan tanpa celah, membentuk benteng hijau yang abadi.
"Wah ... Kak, lihat itu! Satu pohon saja besarnya bisa menampung seluruh rumah makan paman di Linyi!" seru Mo Ran dengan mata melotot.
Ia tampak sedikit ngeri melihat akar-akar pohon yang melilit di atas tanah seperti ular raksasa yang sedang tidur.
Si Hitam mendadak berhenti. Bulunya berdiri dan ia mengeluarkan geraman rendah yang penuh kewaspadaan.
Ia merasakan energi alam di sini sangat padat—jauh lebih murni daripada di hutan pinggiran Linyi, namun juga jauh lebih liar.
"Tetaplah waspada," bisik Yan Bingchen. Ia meraba Pil Pelindung Jantung di balik jubahnya. "Kita sudah sampai di wilayah Federasi LIN. Di sini, alam adalah hukumnya. Para ahli pengobatan dan klan kuno yang tinggal di sini tidak suka pada orang asing yang membawa bau peradaban luar."
Mereka mulai melangkah masuk ke dalam hutan hujan abadi tersebut.
Setiap langkah terasa berat karena tekanan energi alam yang sangat kental.
Yan Bingchen bisa merasakan Qi di dalam tubuhnya bereaksi; energi api dan es-nya berputar lebih cepat, mencoba menyesuaikan diri dengan frekuensi hutan yang harmonis namun protektif.
Mereka berjalan selama beberapa hari di dalam kegelapan hijau tersebut, mengandalkan insting Si Hitam. Di sini, emas tidak lagi berguna.
Mereka harus berburu dan mencari sumber air secara mandiri.
Mo Ran yang biasanya cerewet kini lebih banyak diam, tangannya memegang erat belati kecil yang diajarkan Yan Bingchen kepadanya selama perjalanan.
Tiba-tiba, suara seruling bambu yang sangat merdu namun mengandung kekuatan mistis bergema di antara pepohonan raksasa.
Suara itu seolah-olah datang dari segala arah, memantul di batang-batang pohon yang berlumut.
Yan Bingchen segera menghentikan langkahnya.
Ia merasakan keberadaan beberapa orang di sekitar mereka, namun mata dualitasnya tidak bisa menangkap sosok mereka secara fisik—seolah-olah mereka adalah bagian dari pohon itu sendiri.
"Siapa kalian? Dan apa tujuan kalian mengotori kesunyian Hutan Abadi dengan langkah kaki kalian?" sebuah suara wanita, tenang namun dingin, terdengar tepat di belakang telinga Yan Bingchen.
Yan Bingchen berbalik perlahan, tangannya tidak berada di gagang pedang, melainkan terkatup di depan dada dalam sikap hormat yang dalam. "Hamba adalah seorang pencari jalan yang sedang terluka jiwanya. Hamba datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk mencari keseimbangan di bawah naungan Federasi LIN."
Dari balik kabut hijau, muncullah beberapa sosok mengenakan pakaian dari serat tumbuhan yang ditenun halus.
Wajah mereka tenang, namun mata mereka menatap Yan Bingchen seolah-olah bisa melihat menembus kulitnya hingga ke inti energinya.
Pertemuan di perbatasan Federasi LIN ini baru saja dimulai.
Di tempat di mana klan pengobatan kuno berkuasa, Yan Bingchen harus membuktikan bahwa keberadaannya bukanlah ancaman bagi keselarasan alam yang telah dijaga selama ribuan tahun.