Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dan pergi
Di bawah cakrawala yang dipenuhi robekan, cahaya merembes turun menyinari dunia.
Di balik seluk beluk perumahan, Rifana bersama dengan kedua rekannya mengendap pergi melewati gang kecil.
Mereka terpaksa mencari jalan alternatif, karena para monster mutan sepertinya telah kembali ke tempat ini.
Tak hanya sekali, mereka hampir terlibat dalam pertarungan sebanyak sepuluh kali dalam sekali perjalanan ini.
Beruntungnya mereka dapat lolos dengan selamat dari sebagian besar pertarungan itu.
Dengan kondisi tim yang semakin membaik, ketiganya mulai membangun naluri kerja sama secara tak sadar. Mereka pada akhirnya bertindak dalam ritme yang sama menjadi satu kesatuan kelompok.
Adam berada di depan sebagai seorang tank, dan Rifana akan melakukan DPS berkelanjutan dengan linggis besi miliknya bersama dengan Ziva yang melatih tembakannya.
Dari hampir sepuluh pertarungan sebelumnya, mereka berhasil membunuh dua monster mutan. Namun sayangnya tak ada satupun inti yang di drop.
Ini memberikan pikiran lain pada Rifana, yang secara naluriah mulai memperkirakan tingkat jatuhnya inti monster dari pembunuhan.
Sesekali, di sela-sela istirahat Rifana membuka panel chat untuk mencari informasi, setelah melihat pada superhuman yang mengobrol dengan antusias di chat Rifana akhirnya menemukan petunjuk.
Di salah satu komentar yang dilontarkan di chat, Rifana mengungkap potongan misteri lainnya di balik kiamat ini.
[Chat]
[Sin : Guys, gua udah bunuh beberapa monster mutan setelah membentuk kelompok. Tapi gak ada ga ada kelereng ajaib itu yang muncul, apakah kalian tau sesuatu?]
[Sin : Kenapa kelereng itu tidak muncul?]
Pertanyaan itu membuat kolom chat hening untuk sementara, beberapa membalas dengan sok tahu dan bahkan troll acak dan pada akhirnya orang bernama "Sin" itu pada akhirnya tak mendapatkan apapun.
Rifana melihat komentar itu, dia tak segera membalasnya di chat global.
Setelah mengetuk profil dari orang itu, opsi lain muncul.
Rifana mengetuk opsi obrolan pribadi, dan inilah saat dia mulai banyak bicara.
[Private Chat]
[Rifana : Hei bro, gua liat pesan lu di chat global, memangnya berapa banyak monster yang kalian lawan?]
[Sin : Oh, gua baru tau ada fitur ini, yah kelompok gua udah bunuh sembilan monster sampai saat ini, namun kami sama sekali ga nemuin kelereng itu.]
Sembilan kali, ini membuat Rifana berpikir sejenak, dia mencoba mengkalkulasi kemungkinan jatuhnya benda ini.
[Rifana : Hmm... Begitu ya, benda itu yang lu maksud, gua menyebutnya inti monster.]
[Rifana : Sebenarnya gua punya tebakan, tapi gua masih kekurangan informasi, kemungkinan besar inti monster adalah item yang tingkat jatuhnya rendah.]
Jika seperti itu, maka mereka benar-benar beruntung sebelumnya.
Tangannya terus mengetikkan pesan pada orang itu.
[Rifana : Lu pasti familiar sama mekanik game seperti ini bukan? Pastinya tingkat jatuhnya benda itu dipengaruhi oleh sesuatu, entah jenis monsternya atau bahkan keberuntungan kita sendiri.]
Dia selesai berbicara, Rifana menunggu sebentar untuk balasan dari pihak lain.
[Sin : Begitu ya, makasih infonya bro! Gua ngerti sekarang]
Setelah itu, percakapan mereka berakhir.
Rifana hendak menutup panel sistem, namun sebuah notifikasi muncul di hadapannya.
[Ding! Superhuman : Sin Atelier mengirimkan permintaan pertemanan]
Rifana sedikit terkejut, siapa sangka orang itu akan berinisiatif mengiriminya permintaan ini?
Dia mengetuk pilihan mengonfirmasinya, dan menutup sistem.
Adam berada beberapa langkah di depan Rifana, dengan tongkat bisbol yang telah rusak parah dia menjadi sangat waspada.
Mereka membunuh dua makhluk mutan dalam perjalanan kemari, dengan Adam sebagai perisai daging yang mengamuk pertarungan menjadi sedikit lebih mudah.
Yang pertama adalah makhluk menjijikkan, kecoa mutan yang belum dewasa berukuran hampir satu meter. Beruntung anakan itu masih belum mengembangkan sayap, jika tidak mereka akan kerepotan dengannya.
Mobilitas tim belum setinggi itu, jika monster mutan terlepas dari aggro yang dikuasai Adam, Rifana dan Ziva akan dipukuli di belakang.
Rifana mungkin akan dengan terpaksa menggunakan skillnya yang penuh risiko itu jika hal buruk terjadi.
Dan tentunya tidak akan berakhir dengan baik kali ini.
Setiap beberapa menit, mereka akan menemui monster baru di jalan, ini memaksa mereka untuk melanjutkan perjalanan dengan mengendap melalui gang kecil yang dihimpit rumah.
Mengandalkan cahaya pucat yang merembes jatuh dari langit, mereka melewati kegelapan hingga akhirnya sampai di rumah Rifana.
Meski telah sampai, Rifana dan kedua rekannya tak mengendur. Mereka dengan waspada memasuki halaman rumah dengan perlahan.
Melangkahi pagar besi yang telah ditumbangkan ke tanah, bau anyir darah menyambut mereka.
Ziva yang mengikuti dari belakang tiba-tiba berhenti, perutnya berguncang saat rasa mual naik ke tenggorokannya.
"Ugh.." Ziva menahan mulutnya dengan kedua tangannya, matanya berair tanpa alasan, Rifana dan Adam menunggunya sejenak.
"Lu baik-baik aja?" Bisik Rifana pelan, dia mundur ke belakang untuk membantu gadis itu. Ziva hanya mengangguk tanpa melepaskan kedua tangan dari wajahnya.
Adam membuka kenop pintu, ruangan gelap masih sama seperti terakhir kali mereka kemari. Memimpin di depan Adam masuk pertama, dia dengan hati-hati mengecek ke dalam untuk memastikan keamanan.
Rifana membantu Ziva untuk berdiri di luar. Mereka menunggu selama beberapa menit hingga Adam kembali, pria itu datang dengan wajah rileks menjelaskan situasinya.
Keduanya menyusul masuk kedalam.
Dengan bantuan Rifana, Ziva dibaringkan di kamar atas untuk istirahat. Tubuhnya telah mencapai batasnya, mereka harus berhenti bergerak untuk saat ini jika tak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
Beruntungnya, spora merah itu tak menyebar semakin buruk, mereka masih punya waktu untuk mencari inti monster lainnya.
Rifana turun kebawah menemui Adam di ruang tamu, beberapa pertarungan sebelumnya telah membuat hubungan tak kasat mata diantara mereka bertiga.
Seorang rekan, yang dapat dipercaya.
Ketiganya saling membantu sesuai dengan perannya masing-masing, Adam menjaga lini depan, Rifana sebagai penghasil damage, dan Ziva sebagai pendukung.
Komposisi tim mereka bisa dibilang sangat kuat untuk tahap awal kiamat ini, Rifana bahkan mendapatkan beberapa ide setelah kerja sama ini.
Dan inilah saatnya membicarakannya.
Adam tengah duduk di lantai, tongkat bisbolnya telah lama bengkok ke arah yang salah, dia harus mencari senjata baru.
"Hei Adam" Rifana menuruni tangga dengan secarik kertas dan pulpen di tangannya "Kita perlu bicara" Adam menoleh melihat kertas di tangan Rifana, wajahnya mengerut.
"Ah.. Biar gua tebak" Dia tampak tertekan, "Rencana lagi bukan?" Saat kata itu keluar dari mulutnya, Rifana mengangguk pelan dan duduk di sofa.
Adam langsung pucat, seolah akan bertemu kematian dia menghela nafas, nampaknya otaknya akan mengalami tsunami informasi sekali lagi.
Perasaan Adam sudah memburuk sejak ia melihat Rifana turun membawa kertas, penjelasan Rifana sangat rinci bahkan sampai Adam melupakan beberapa bagian penting karena betapa pentingnya semua yang dia bahas.
Butuh waktu lama baginya untuk mengerti perkataan Rifana sebelumnya. Itupun dengan bantuan penjelasan Ziva, namun kini gadis itu tak ada, meninggalkannya sendirian dengan pria yang gila akan rencana ini.
"Baiklah jelaskan saja" Ucap Adam dengan nada pasrah.
Otaknya mungkin akan meledak karena kepintaran kawannya ini, meski Adam lebih tua darinya, Rifana sama sekali tak peduli, dia tak akan memberi ampun jika hal ini penting.
Pada akhirnya, sesi perencanaan gila lainnya menimpa Adam dengan keras.
"Siapapun, tolong guaa!!"
Suara kecil hatinya berteriak.