Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk kota
Aris tetap tenang. Ia memberikan isyarat kecil kepada Nur untuk memberi pelajaran tanpa harus menampakkan diri. Nur menyeringai jahil. Seketika, ia menghilang dari pandangan perampok.
Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba pemimpin perampok itu menjerit. "Siapa yang menarik celana belakangku?!"
Belum sempat mereka bereaksi, tiba-tiba sekelompok perampok itu ditarik ke sana kemari oleh kekuatan tak terlihat. Topi mereka terbang, sandal mereka saling tertukar dengan teman di sebelahnya, dan senjata mereka mendadak melayang di udara lalu jatuh menancap tepat di antara kaki mereka.
"Hantu! Ada hantu di sini!" teriak mereka panik. Mereka berlarian tunggang-langgang, saling menabrak satu sama lain karena ketakutan setengah mati, tanpa pernah tahu bahwa penyebabnya adalah makhluk yang sedang cekikikan di balik pohon.
Setelah perampok itu menghilang jauh ke dalam hutan, Nur kembali menampakkan dirinya di depan Aris. Wajahnya langsung berubah drastis dari sosok yang jahil menjadi sangat polos dan lugu.
"Tuanku," bisik Nur dengan nada sangat sopan, "tadi aku melihat mereka lari sampai jatuh ke kubangan lumpur. Apakah itu cara mereka menari? Kenapa tariannya sangat berantakan? Apa mereka tidak pernah belajar tari dari bangsa jin?"
Aris menahan tawa, melihat makhluk yang baru saja menakut-nakuti lima orang dewasa itu kini bersikap seolah ia anak kecil yang sedang bertanya tentang hal-hal dasar dunia.
"Itu namanya ketakutan, Nur," jawab Aris sambil berjalan santai.
Aris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Di balik kekuatannya yang besar, Nur benar-benar buta akan hal-hal duniawi. Kehadiran Nur yang polos ini membuat beban perjalanan Aris terasa jauh lebih ringan.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawa Aris keluar dari belantara hutan dan memasuki pinggiran kota yang ramai. Hiruk-pikuk suara kendaraan, lampu-lampu neon yang berpendar, dan derap langkah manusia yang terburu-buru menyambut mereka. Bagi Aris, suasana ini terasa asing sekaligus membebani, sementara Nur tetap setia di sisinya, meski wujudnya kini ia samar-samar agar tidak menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.
Aris berjalan dengan waspada. Tanpa jam tangan perak, ia tidak lagi memiliki "peta" masa depan. Ia kini sepenuhnya mengandalkan indra batinnya yang tajam untuk menavigasi lorong-lorong kota yang penuh dengan rahasia.
"Tuanku," bisik Nur pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan lalu lintas. "Kota ini... sangat berisik. Jiwa-jiwa di sini semuanya bergerak terlalu cepat, seolah-olah mereka sedang dikejar oleh sesuatu yang tak terlihat."
Aris mengangguk. "Itu karena mereka selalu merasa waktu tidak pernah cukup, Nur. Padahal, justru dengan merasa kekurangan itulah, mereka kehilangan arti dari waktu itu sendiri."
Mereka menyusuri jalanan kota yang padat. Aris terus memusatkan pendengaran batinnya, mencari getaran yang familiar—suara doa, desah napas yang tenang, atau sekadar aura yang mirip dengan milik Putri.
Di sebuah perempatan besar, Aris mendadak berhenti. Telinga batinnya menangkap sebuah getaran suara yang tajam dan kasar di sebuah gang sempit di balik kompleks pasar lama.
"Lepaskan tas itu, Nenek tua! Jangan banyak melawan atau ku pastikan kau tidak akan sampai rumah!" suara seorang pria terdengar kasar.
Aris tidak membuang waktu. Ia berlari masuk ke gang tersebut, disusul oleh Nur yang melayang dengan gerakan yang lebih cepat dari angin.
Di sana, seorang nenek yang tampak rentan sedang didorong ke dinding oleh dua orang pria bertubuh kekar. Salah satu perampok menarik tali tas kulit sang nenek dengan paksa hingga sang nenek jatuh tersungkur.
"Ambil saja, tapi tolong, jangan sakiti saya," isak sang nenek.
Pria itu menyeringai, membuka tas tersebut dengan kasar. Matanya membelalak. Di dalam tas yang tampak sederhana itu, tersembul kilau logam mulia—batangan emas yang cukup berat. "Wah, kita dapat durian runtuh, Kawan! Nenek ini membawa harta karun!"
"Berhenti!" teriak Aris sambil melangkah ke tengah gang.
Kedua perampok itu menoleh, tertawa meremehkan saat melihat Aris yang hanya seorang diri. "Mau jadi pahlawan? Mau ikut mati juga?"
Nur, yang berada di samping Aris, menatap emas di tangan perampok itu dengan polos. "Tuanku, kenapa mereka sangat senang melihat logam kuning itu? Apakah itu bisa dimakan? Kenapa mereka tidak memakan nasi saja? Logam itu terlihat sangat keras untuk dikunyah."
Aris tidak menanggapi celoteh Nur. Ia memasang kuda-kuda, meski tubuhnya masih terasa lelah. Tanpa disuruh, Nur menghilang dalam sekejap.
Seketika, gang sempit itu berubah menjadi arena kekacauan bagi para perampok. Tiba-tiba saja, tali sepatu kedua perampok itu terikat menjadi satu oleh kekuatan tak terlihat, membuat mereka jatuh terjungkal ke depan. Tas berisi emas itu melayang di udara, terbang menjauh dari jangkauan tangan mereka.
"Siapa itu? Siapa yang melempar tasnya?!" teriak perampok itu ketakutan, sambil meraba-raba udara kosong.
Nur, yang sedang menahan tas emas itu melayang di udara tepat di atas kepala para perampok, berbisik pelan ke telinga mereka, "Makanlah batu, kalau kalian sangat lapar."
Ketakutan luar biasa menyerang para perampok itu. Mereka tidak melihat siapa pun, tapi benda-benda di sekitar mereka mulai bergerak sendiri. Kaleng-kaleng sampah beterbangan, menabrak tubuh mereka. Tanpa pikir panjang, mereka lari terbirit-birit meninggalkan gang, ketakutan setengah mati oleh gang angker yang baru saja mereka masuki.
Aris segera mendekati sang nenek dan membantunya berdiri. "Ibu tidak apa-apa?"
Nenek itu membersihkan debu di pakaiannya, lalu mengambil tasnya kembali dengan tangan yang gemetar. Ia menatap Aris dengan tatapan yang dalam, seolah sedang membaca sesuatu yang jauh melampaui fisik Aris.
"Terima kasih, Nak," ujar sang Nenek. Ia kemudian menatap ke arah Nur yang kembali menampakkan dirinya di samping Aris. "Dan terima kasih untuk temanmu yang... unik itu."
Aris tertegun. "Ibu bisa melihat Nur?"
Nenek itu tersenyum misterius. "Aku tidak hanya melihatnya, Nak. Aku tahu mengapa kau membawanya."
Sang Nenek kemudian berjalan tertatih namun pasti menuju ujung gang. Sebelum pergi, ia menyelipkan satu keping kecil emas dari tasnya ke tangan Aris. "Emas ini tidak penting, tapi jejak yang kau tinggalkan hari ini sangat penting. Hati-hati, Aris. Ada banyak orang yang menginginkan lebih dari sekadar emas di kota ini. Pergilah ke Bandung Nak...!"
Aris tertegun, kepingan emas di telapak tangannya seolah bergetar pelan. Ia menatap punggung sang Nenek yang perlahan menghilang di balik kerumunan lampu kota, namun suara pesan itu masih menggema jelas di telinganya.
"Bandung," bisik Aris lirih.
Aris tidak tahu mengapa Nenek tadi tahu tentang Putri, atau apakah pesan itu merupakan petunjuk murni atau bagian dari teka-teki yang lebih rumit. Namun, telinga batinnya memberikan sinyal yang berbeda kali ini—sebuah kedamaian yang belum pernah ia rasakan sejak ia meninggalkan pondok. Tidak ada lagi ancaman dari robot atau bayangan hitam; yang ada hanyalah dorongan kuat untuk segera bergerak ke arah barat.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor