Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 Perselingkuhan Itu Nyata.
Air shower mengalir di dalam kamar mandi. Seorang wanita dengan rambut sebahunya tampak mandi di bawah air shower tersebut, wanita memiliki tubuh indah itu terlihat menggosok-gosok kepalanya dengan memejamkan mata menikmati aliran air yang membersihkan tubuhnya itu.
Wanita yang tidak memakai sehelai benang itu ternyata adalah Monica. Ditengah keasikannya menikmati mandi dengan menyegarkan tubuh itu tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di perut ratanya.
Seorang pria menjilati lehernya membuat Monica memejamkan mata merasakan sensasi yang luar biasa dengan tangan pria itu sudah naik ke payudaranya memberikan pijatan penuh dengan kenikmatan di sana.
"Kamu sengaja tidak mengunci pintu kamar mandi agar aku bisa masuk?" suara terdengar berat itu tepat di telinganya sembari menggigit kecil daun telinga tersebut, tak lain pria itu adalah Dharma.
Monica tersenyum kemudian membalikkan tubuhnya dengan mengalungkan tangannya di leher Dharma yang sudah telanjang dada. Monica dengan nakal tangannya mulai meraba dada bidang Dharma kemudian turun ke bawah dengan sengaja meraba-raba senjata milik Dharma.
"Kamu sudah pulang, aku sejak tadi menunggumu," ucap Monica.
"Benarkah?" tanya Dharma dengan menaikkan satu alisnya membuat Monica menganggukan kepala.
"Bukan hanya menunggu kamu tetapi juga menunggu adik kecil ini," ucapnya tampak menggoda membuat Dharma tersenyum miring dan langsung melumat bibir sexy Monica.
Lumatan itu semakin dalam dengan keduanya saling bertukar saliva. Tidak ada yang mau kalah saling membalas satu sama lain tautan tersebut.
Dharma sudah dipenuhi dengan hasrat yang membara dengan tangannya yang meremas-remas payudara yang sejak tadi menonjol itu.
Dharma juga tampak tidak sabaran memasukkan senjatanya. Permainan panas pasangan itu di lakukan di kamar mandi. Suara desahan keluar dari mulut Monica bersamaan dengan suara air shower yang masih saja mengalir.
Fantasi percintaan pasangan itu sesuai dengan keinginan mereka saling memberi kenikmatan satu sama lain.
Jika Dharma sedang tidur dengan wanita lain dan maka Alea berada di lobi gedung Apartemen yang dia ketahui adalah milik suaminya.
"Akhirnya aku mendapatkan pin Apartemen ini," batin Alea.
Setelah melakukan usaha yang cukup panjang akhirnya Alea bisa mendapatkan pin apartemen yang dia pastikan suaminya berada di sana karena sejak tadi dia mengikuti suaminya itu.
"Aku sangat berharap tidak menemukan apapun di sana. Aku juga berharap tidak akan ketahuan oleh Mas Dharma," gumam Alea berusaha untuk setenang mungkin.
Tetapi tetap saja saat ini dia penuh dengan pemikiran, perasaannya tetap tidak tenang wajar saja, banyak hal yang dia takuti.
Alea memasuki lift untuk melanjutkan perjalanannya dan bertepatan dengan pintu Apartemen suaminya itu. Alea semakin gugup dengan jantung berdebar begitu kencang. Beberapa kali menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
Alea mencoba untuk setenang mungkin. Tetapi tangannya bergetar mulai menekan tombol-tombol yang ada pada pintu itu.
Tit.
Ternyata pin yang dia dapatkan sesuai, tangannya bergetar memegang kanopi pintu dengan mendorong pintu perlahan kedepan.
"Ini benar-benar tempat tinggal Mas Dharma," batin Alea mulai melangkahkan kakinya mencoba untuk tenang.
Langkah demi langkah dijalani Alea memasuki rumah tersebut, kepala Alea berkeliling melihat di sekitarnya, Alea melihat rak sepatu.
Sepatu dipenuhi dengan sendal wanita dan hanya ada pria, perasaannya semakin tidak enak dengan langkahnya semakin jauh memasuki rumah tersebut. Alea melihat furniture yang ada di rumah itu seperti ditempati seorang wanita dengan barang-barang berwarna pink.
"Tidak mungkin," ucapnya terus saja merasa ada yang tidak beres.
Mata Alea tertuju pada salah satu foto membuatnya melangkahkan kakinya mendekati foto tersebut dan ternyata foto itu tak lain adalah foto Monica.
Mulut Alea menganga dengan terbuka lebar sampai dia tutup menggunakan kedua tangannya. Tubuhnya semakin bergetar dengan semua dugaannya sudah berada di depan mata bahwa semua pemikiran buruknya kepada suaminya akan menjadi kenyataan.
Tetapi Alea masih berusaha tenang dengan nafas naik turun.
"Ahhhhhh!"
"Ahhhhh!"
Suara desahan terdengar nyaring itu membuat Alea menoleh ke arah salah satu pintu. Alea kesulitan menelan ludah dengan melangkahkan kakinya menuju pintu tersebut.
Siapa sangka di dalam kamar itu. Dharma saat ini sedang bercinta panas dengan Monica dengan keduanya melanjutkan percintaan panas mereka di kamar mandi menjadi di atas ranjang dengan ala doggy style.
Dhamar terus memompa wanita itu dengan tangannya sembari menjambak rambut Monica.
"Sayang tubuhmu memang canduku!" puji Dharma
"Benarkah? Apa aku bisa percaya jika aku adalah satu-satunya wanita yang kau sentuh? Apa kamu benar-benar tidak mengkhianatiku dengan menyentuh istrimu?" tanya Monica memastikan kepada Dharma.
"Tidak sayang, aku tidak mungkin mengingkari janji kita berdua. Aku tidak menyentuhnya semenjak pernikahan dan aku menikahinya hanya ingin mendapatkan anak yang diinginkan kedua orang tuaku. Kamu tidak perlu meragukan kesetiaanku," jawab Dharma.
"Aku sudah memberikan alasan kepadanya mengapa aku tidak bisa memberikan anak kepadanya. Aku memang tidak bisa memberikan anak, tetapi orang tuaku bisa membunuhku sampai mengetahui hal itu," jawab Dharma.
"Anak yang dia kandung memang bukan anak kamu, tetapi bukankah selama dia hamil kamu tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk menyentuhnya. Kamu seorang laki-laki normal dan aku tahu bagaimana seorang pria pasti memiliki keinginan untuk tidur dengan istrinya," ucap Monica.
"Sayang... aku tidak pernah selera untuk melihat tubuhnya, aku menikahinya hanya untuk memberikan keturunan secara instan untuk kedua orang tuaku dan jika kedua orang tuaku tidak membutuhkan pewaris, maka aku juga tidak tertarik untuk menikahinya," jawab Dharma.
"Lalu bagaimana ketika anak kita lahir? Apa kamu akan membuangnya dan memilihku atau jangan-jangan kamu akan memilihnya?" tanya Monica sembari suaranya berdesah menahan kenikmatan yang sejak tadi diberikan Dharma.
"Kamu jangan berpikiran negatif seperti itu sayang, aku tidak mungkin berani membuang kamu," jawab Dharma.
"Lalu kamu akan memilih siapa aku atau dia?" tanya Monica ingin memastikan.
"Sudah pasti aku akan memilihmu, dia hanya dijadikan sebagai alat untuk mengikuti semua kemauan orang tuaku, saat ini aku harus bersandiwara kepadanya dan lihatlah aku bahkan sudah satu minggu berada di tempat kamu tanpa sepengetahuan darinya," ucap Dharma.
Air mata Alea menetes di depan pintu kamar itu, ketika mendengar semua pengakuan suaminya. Sungguh akhirnya dia mengetahui bahwa suaminya memiliki wanita lain yang menjadikan alasan untuk tidak menyentuhnya.
Tubuh Alea bergetar hebat dengan kemarahan terlihat jelas di wajahnya, perlahan tangannya memegang kanopi pintu dan mendorong sedikit.
Sakit hatinya semakin besar ketika melihat nyata bagaimana suaminya bercinta panas dengan wanita yang dia ketahui adalah mantan sekretaris suaminya itu.
Air matanya mengalir semakin deras dengan tatapan mata yang benar-benar penuh amarah. Alea ingin melangkahkan kakinya mulutnya ingin berteriak akan kemarahannya kepada dua orang yang bersenang-senang di atas penderitaannya.
Tetapi pada nyatanya Alea tidak sanggup dan memilih untuk meninggalkan tempat tersebut dengan berlari dengan cepat.
Suara hentakan kaki itu cukup terdengar membuat pasangan bercinta itu sama-sama menoleh ke arah pintu.
"Apa ada orang?" tanya Dharma merasa terganggu.
"Tidak ada siapa-siapa sayang, hanya kita berdua yang ada di dalam kamar ini dan bagaimana mungkin ada orang di sini," jawab Monica.
"Mari kita kita lanjutkan sampai besok pagi," ucap Dharma semakin memompa Monica tanpa henti.
Bersambung......