Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
017
Mary menatap kosong langit-langit kamar dengan sinar matahari yang menerbos masuk melalui tirai putih yang menutup pintu kaca.
Mary kembali memejamkan matanya dan kembali merapatkan selimutnya, ia merasa pusing dengan tubuh meriang.
Tiba-tiba pintu kaca tersebut terbuka dan sosok Roseo muncul di ambang pintu.
Pria itu membawa nampan berisi makanan dan air minum untuk Mary.
“Kau sudah bangun?”
Mary hanya diam karena merasa tidak enak badan.
“Aku tidak tahu apa yang kau mau untuk makan pagi menjelang siang seperti ini,” kata Roseo.
“Dan, ini pakaian ganti untukmu, sementara pakai saja yang ada dulu”.
Mary masih tetap diam, ia bahkan tak punya tenaga untuk bicara.
“Oh ya, aku sudah membersihkan paviliun di seberang, jadi, kau bisa menggunakannya sebagai kamarmu,” kata Roseo lagi.
Roseo merasa baru kali ini melihat Mary yang hanya diam dan mengabaikannya.
Apa wanita ini marah? Batin Roseo.
Padahal semalam Roseo sudah berusaha selembut mungkin saat menyentuhnya
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Roseo.
“Hmm,ya, terima kasih,” sahut Mary sambil melambaikan tangannya.
“Kalau begitu, beristirahatlah,” kata Roseo.
Mary merasa kesal pada pria itu. Padahal Mary sudah memberinya syarat bahwa mereka hanya perlu melakukannya satu kali, namun pria itu justru melakukannya semalaman.
Dasar pria primitif yang tidak bisa dipercaya!
***
“Mas Ros, tumben baru ke datang jam segini”.
Pak Dadang langsung menyapa Roseo yang baru saja tiba di kebun labu.
“Iya, tadi harus beres-beres dulu di rumah,” sahut Roseo.
“Mas Ros, sudah ada istri kok masih beres-beres rumah?!” Pak Dadang menyeringai.
“Aduh, Pak Dadang ini seperti tidak paham saja! Namanya pengantin baru, yang dibereskan bukan hanya rumah! Benar begitu kan, Mas Ros!”
Tarmo menimpali sambil menyusun labu di dalam karung.
Roseo hanya menyeringai kecut, sepertinya percuma saja menutupi semuanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa di depan para bapak-bapak yang sudah puluhan tahun berumah tangga.
“Ros!”
Terdengar seruan menggelegar dari seseorang yang membuat semua orang menoleh ke sumber seruan itu.
Jono berlari terseok-seok, lemak di tubuh tambunnya nampak berguncang-guncang heboh seheboh kedatangan Jono.
Jono langsung menghampiri Roseo dan menarik kerah kaus oblong yang dipakai Roseo dengan amarah tak terbendung.
“Berani-beraninya kau merebut Mawary dariku! Kembalikan Mawary padaku!” Sembur Jono.
Roseo mencengkeram lengan Jono agar Jono melepaskan tangannya dari kaus Roseo.
“Arghh!” Jono berseru heboh saat melepas tangannya karena merasakan sakit pada kedua lengannya.
“Sialan kau Ros!” Umpat Jono.
Roseo melemparkan tatapan sinisnya pada Jono yang memilih mundur.
Jika harus adu kekuatan, Jono sudah jelas kalah.
“Ros! Kau sungguh pria yang mengecewakan! Bukankah kau bilang kau tidak ada hubungan apapun dengan Mawary! Tapi kenapa tiba-tiba kau justru menikahi Mawary! Dasar keparat sialan!” Jono mengumpat kesal.
“Apa kau tahu! Dua puluh tahun aku menunggu Mawary dengan penuh kesabaran hingga dia datang kembali!”
“Tapi, kau langsung merebut Mawary dariku! Dasar keparat tidak tahu diri!”
Jono masih meraung-raung penuh kemurkaan.
“Yang bisa membuat Mawary bahagia itu hanya aku! Hanya aku!”
“Jono! Berhenti membuat keributan dan lekas pergi dari sini!” Sergah Roseo.
Jono terdiam mendengar suara Roseo yang meninggi satu oktaf.
“Kau! Kau! Aku benar-benar..” suara Jono tertahan.
“Benar-benar apa?!” Tantang Roseo.
“Aku benar-benar akan pergi! Dasar keparat brengsek!” Seru Jono sebelum kembali berlari.
“Mau heran tapi itu si Jono,” komentar Pak Dadang.
“Sebelum janur kuning melengkung, sah-sah saja rasanya merebut wanita secantik istri Mas Ros,” Tarmo menimpali.
“Rasanya mubazir sekali wanita secantik itu harus bersama Jono,” timpal yang lain.
“Iya, pokoknya siapa cepat dia yang dapat, benar begitu kan, Mas Ros,” goda Tarmo ke arah Roseo.
Roseo hanya menyeringai.
“Jadi, kapan pesta perayaan pernikahan kalian diselenggarakan Mas Ros?” Tanya Tarmo lagi.
“Iya, pokoknya harus lebih meriah dari yang sebelum-sebelumnya,” sahut yang lain.
“Sebaiknya kalian lanjut bekerja saja!” Perintah Roseo.
Roseo bukannya tak mau menggelar acara syukuran pernikahannya, hanya saja ia tidak mungkin menggelar acara untuk sebuah drama kawin lari yang ia lakukan bersama Mary. Menggelar acara pesta pernikahan tanpa restu orang tua Mary, jelas hanya akan menambah masalah.
***
Sementara itu, Jono langsung bertolak ke rumah Pak Sumarto.
Jono benar-benar tak terima bahwa Mary justru benar-benar menikah dengan Roseo. Padahal kata Pak Sumarto sebelumnya, hubungan antara Mary dan Roseo hanya sebatas kesalahpahaman.
Lalu, tiba-tiba tersebar berita bahwa Mary kepergok bermalam di rumah Roseo yang mana pada akhirnya membuat keduanya berujung menikah.
Jono mendapat laporan bahwa Mary dan Roseo melangsungkan pernikahan mereka di balai nikah kampung sebelah lantaran Jono meminta balai nikah kampungnya untuk memboikot mereka berdua.
“Pak Marto! Kenapa bapak justru membiarkan Mawary dan Ros menikah! Kenapa, Pak!” Protes Jono.
Pak Sumarto hanya diam sambil menyeruput kopi hitam yang dibuat oleh Bu Marni untuknya.
“Pak, bukankah Pak Marto hanya mau saya sebagai menantu bapak. Kenapa Pak Marto malah membiarkan Mawary menikahi pria yang bahkan tidak ada sekolahnya!”
Jono begitu berapi-api saat bicara pada Pak Sumarto.
“Aku ini yang harusnya menikahi Mawary! Aku ini menantu sempurna anda, Pak!”
“Jono, sudah berhentilah membuat keributan!” Potong Pak Sumarto.
“Pak!” Protes Jono.
“Lagipula, bukankah kau sendiri yang kemarin teriak-teriak batal menikahi Mawary!”
“Kau sendiri lho, yang bilang tidak mau menikahi Mawary,” lanjut Pak Sumarto.
Jono langsung bersimpuh di kaki Pak Sumarto, memohon dengan sangat kepada pria paruh baya itu.
“Pak! Saya bukannya tidak mau menikahi Mawary, tapi saya mau Mawary yang datang dan meminta maaf atas kesalahpahaman itu!” Kata Jono memelas.
“Pak! Apa tidak ada yang bisa anda lakukan untuk membatalkan pernikahan Mawary?” Tanya Jono.
Pak Sumarto menghela nafas berat.
“Nanti Mawary pasti akan pulang sendiri kalau sudah bosan dan tidak tahan,” sahut Pak Sumarto.
“Benarkah kah?” Seketika raut wajah Jono berubah cerah.
“Ya, Mawary pasti pulang ke rumah ini. Aku tahu betul anakku itu,” kata Pak Sumarto.
Pak Sumarto sejatinya tahu betul alasan mengapa Mary sampai menikah dengan Roseo.
Mary hanya tidak mau menikah dengan Jono. Mary bersikeras tidak mau menemui dan meminta maaf pada Jono seperti yang Pak Sumarto perintahkan.
Mary bahkan tersenyum senang saat Pak Sumarto menyuruhnya untuk pergi dari rumah dan menyusul Roseo.
Biasanya dalam kasus saat orang tua mengusir anak, si anak akan menangis dan memohon agar tidak diusir. Namun Mary justru sangat senang dan langsung pergi seolah itu memang sudah direncanakannya.
“Pak Marto! Pokoknya saya berjanji, akan saya tunggu jandanya Mawary! Saya tidak mau sampai kecolongan seperti ini lagi!” Tukas Jono.
Pak Sumarto kembali menyeruput kopi hitamnya.
Pak Sumarto yakin Mary pasti akan segera pulang mengingat bahwa anaknya itu adalah gadis yang begitu manja.
Pak Sumarto sangat tahu, Roseo adalah pria yang sangat mandiri bahkan sejak kecil. Pria yang begitu mandiri pasti benar-benar tak akan tahan dengan gadis yang sejak kecil selalu dimanjakan.
Pak Sumarto hanya bisa menunggu dengan sabar sampai akhirnya Mary kembali pulang dengan kesadarannya sendiri.
***
Hai pembaca setia..
Terima kasih sudah membaca sampai bab ini ya..
Dukung terus dengan like, favorit, dan komen..
Semoga terhibur
Sampai jumpa di bab selanjutnya...