Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Serangan Balik Yang Sunyi
Ruang rapat itu masih dipenuhi sisa ketegangan bahkan setelah semua orang mulai meninggalkan kursi mereka satu per satu, karena keputusan yang diambil Lisa barusan bukanlah keputusan biasa, melainkan sesuatu yang bertentangan dengan insting kebanyakan orang—membiarkan serangan terus berjalan tanpa langsung menghentikannya—dan justru di situlah letak bahayanya, karena hanya orang yang benar-benar yakin dengan kendali situasi yang berani mengambil langkah seperti itu.
Lisa tetap duduk di tempatnya, tidak terburu-buru berdiri, matanya menatap kosong ke arah meja seolah sedang menyusun ulang semua potongan yang kini mulai bergerak lebih cepat dari sebelumnya, dan di dalam pikirannya, setiap langkah lawan sudah mulai terlihat lebih jelas, bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka mulai terburu-buru.
Pintu terbuka pelan.
Nina Kartika kembali masuk dengan ekspresi yang sedikit lebih tegang dari sebelumnya.
“Nona Lisa,” katanya pelan, “ada seseorang yang ingin bertemu Anda.”
Lisa tidak langsung menjawab.
“Siapa?” tanyanya.
Nina ragu sejenak.
“Tuan Arvin,” jawabnya.
Lisa akhirnya mengangkat pandangan.
Tidak terkejut.
Tidak juga terganggu.
Hanya… menunggu.
“Biarkan dia masuk,” katanya singkat.
Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka dan Arvin Pratama masuk dengan langkah yang tidak se-tenang biasanya, ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia tidak datang untuk percakapan ringan, dan begitu pintu tertutup, suasana di ruangan itu langsung berubah menjadi lebih berat.
“Kita perlu bicara sekarang,” kata Arvin tanpa basa-basi.
Lisa bersandar santai di kursinya.
“Kamu sudah mengatakan itu sejak kemarin,” jawabnya ringan.
Arvin menatapnya tajam.
“Aku tidak bercanda, Lisa,” katanya.
Lisa sedikit memiringkan kepala.
“Aku juga tidak,” balasnya.
Keheningan sesaat.
Namun kali ini…
Penuh tekanan.
Arvin berjalan mendekat beberapa langkah.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?” tanyanya.
Lisa menatapnya dengan tenang.
“Bekerja,” jawabnya singkat.
Arvin menghela napas kasar.
“Jangan main-main,” katanya, “aku tahu ada sesuatu yang sedang kamu rencanakan.”
Lisa tersenyum tipis.
“Kalau kamu tahu… kenapa masih bertanya?” balasnya.
Kalimat itu membuat Arvin kehilangan ritme sejenak.
Namun ia segera melanjutkan.
“Apa hubungannya dengan Devan?” tanyanya langsung.
Nama itu keluar dengan jelas.
Dan penuh emosi.
Lisa tidak terkejut.
Ia justru terlihat sedikit… tertarik.
“Kenapa kamu selalu kembali ke dia?” tanyanya.
Arvin mengepalkan tangannya.
“Karena sejak dia muncul… semuanya berubah,” jawabnya.
Lisa menatapnya beberapa detik lebih lama.
Lalu berkata pelan…
“Atau mungkin semuanya memang sudah berubah… dan kamu baru menyadarinya sekarang.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan halus.
Tidak keras.
Namun tepat sasaran.
Arvin menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi benar?” tanyanya lagi.
Lisa berdiri perlahan dari kursinya.
Kini jarak mereka tidak lagi jauh.
“Benar apa?” tanyanya balik.
Arvin menatap langsung ke matanya.
“Kamu bekerja sama dengan dia,” katanya.
Lisa tersenyum tipis.
Namun tidak menjawab langsung.
Ia justru melangkah melewati Arvin, berjalan menuju jendela, lalu berkata dengan nada tenang namun dingin…
“Kalau pun iya…” katanya pelan.
Ia berhenti sejenak.
Lalu menoleh sedikit.
“Apa yang bisa kamu lakukan?”
Pertanyaan itu…
Tidak hanya menantang.
Tapi juga merendahkan posisi Arvin tanpa harus mengatakannya secara langsung.
Dan itu membuat Arvin benar-benar kehilangan kesabaran.
“Kamu pikir aku akan diam saja?” katanya.
Lisa menatapnya.
“Aku tidak peduli kamu diam atau tidak,” jawabnya.
Nada suaranya tetap tenang.
Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam.
Arvin mengepalkan tangannya lebih kuat.
“Kamu berubah jadi seseorang yang aku tidak kenal,” katanya.
Lisa tersenyum tipis.
“Dan kamu baru sadar sekarang,” balasnya.
Keheningan kembali mengisi ruangan.
Namun kali ini…
Lebih dingin.
Arvin akhirnya berkata dengan suara lebih rendah, hampir seperti peringatan, “Kalau kamu terus seperti ini… kamu akan kehilangan semuanya.”
Lisa tidak langsung menjawab.
Ia justru berjalan kembali ke mejanya, mengambil ponselnya, lalu berkata tanpa melihat Arvin…
“Tidak,” katanya pelan.
Ia mengangkat pandangan.
Tatapannya tajam.
“Aku justru sedang mengambil semuanya kembali.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan untuk pertama kalinya…
Arvin benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
—
Di tempat lain…
Clara Wijaya duduk di ruangannya dengan ekspresi yang semakin dingin, sementara di depannya layar laptop menampilkan pergerakan saham yang mulai menunjukkan hasil dari langkah yang ia ambil semalam, dan di sampingnya berdiri Riko Saputra yang sedang memperhatikan data tersebut dengan senyum tipis.
“Sepertinya mereka tidak melakukan apa-apa,” kata Riko.
Clara menyilangkan tangannya.
“Tidak mungkin,” jawabnya.
Riko mengangkat bahu.
“Tapi faktanya begitu,” katanya.
Clara menatap layar lebih tajam.
“Justru itu yang berbahaya,” gumamnya.
Riko meliriknya.
“Maksudmu?” tanyanya.
Clara berdiri perlahan.
“Lisa bukan tipe yang diam,” katanya, “kalau dia belum bergerak… berarti dia sedang menunggu.”
Riko tersenyum kecil.
“Menunggu apa?” tanyanya.
Clara menatap ke depan.
“Kesalahan kita,” jawabnya.
—
Sementara itu…
Di kantor lain yang tidak terlalu jauh…
Devan Alexander berdiri di depan jendela dengan ekspresi tenang, ponselnya bergetar dan ia langsung melihat pesan yang masuk.
Dari Lisa.
> Arvin sudah mulai tidak stabil.
Devan tersenyum tipis.
Lalu membalas singkat.
> Bagus. Itu akan mempercepat semuanya.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu berkata pelan pada dirinya sendiri…
“Sekarang tinggal satu langkah lagi…”
Matanya menyipit sedikit.
“Dan semuanya akan jatuh pada tempatnya.”
—
Kembali ke ruang Lisa…
Arvin masih berdiri di sana, namun kini ekspresinya tidak lagi hanya marah, melainkan juga bingung, karena semakin ia mencoba memahami Lisa, semakin ia merasa kehilangan pijakan.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanyanya akhirnya.
Lisa menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu berkata pelan…
“Keadilan.”
Arvin mengerutkan kening.
“Keadilan?” ulangnya.
Lisa mengangguk.
“Untuk semua hal yang seharusnya tidak terjadi,” katanya.
Kalimat itu terdengar dalam.
Namun juga penuh makna tersembunyi.
Arvin menatapnya lama.
Namun ia tidak mengerti sepenuhnya.
Dan itu…
Justru yang membuatnya semakin jauh tertinggal.
Lisa akhirnya berjalan ke arah pintu.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan…” ucapnya.
Ia membuka pintu.
“Kamu bisa pergi.”
Arvin tidak bergerak beberapa detik.
Namun akhirnya…
Ia berbalik.
Dan keluar.
Dengan pikiran yang semakin kacau.
—
Begitu pintu tertutup…
Lisa berdiri diam sejenak.
Lalu menarik napas panjang.
Matanya perlahan berubah lagi.
Lebih tajam.
Lebih dingin.
“Sekarang…” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal ringan.
“Mulai dari sini… tidak ada yang bisa berhenti.”
Di luar sana…
Semua orang sudah bergerak.
Namun tidak semua dari mereka tahu…
Bahwa langkah mereka…
Sudah berada di dalam jerat yang sama. 🔥