NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamoruuu

Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.

Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.

Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Terpengaruh!

"Kamu baik-baik saja, Ra?" tanya Bu Ijah dengan suara yang rendah. "Aku melihat tadi Juragan Bejo datang ke arah kalian berdua."

Rara mengangguk pelan. "Iya, Bi. Dia menawarkan pekerjaan padaku."

Bu Ijah menggeleng perlahan dan menepuk pundak Rara. "Jangan terlalu cepat menerima tawarannya ya, Nak. Kamu masih muda dan punya masa depan yang panjang. Jangan sampai kamu terjebak dalam hal yang tidak kamu inginkan."

Rara terdiam sesaat mendengar ucapan Bu Ijah.

"Ada apa ya, Bi?" Tanya Rara heran. "Apakah tawaran pekerjaan dari Juragan Bejo itu ada yang salah?"

"Halah! Alasan saja itu tawarkan pekerjaan!" Ucap Bu Ijah dengan wajah sinis.

Ibu-ibu yang lain pun seolah setuju dengan ucapan Bu Ijah.

"Alasan?" Rara heran,

"Awal-awal kasih kerjaan, lama-lama kamu dilamar." Ucapan Bu Ijah membuat Rara tersedak.

Bu Ella buru-buru memberikan air minum pada putrinya. Bu Ella pun tidak kalah terkejut mendengar ucapan Bu Ijah.

"Di--dilamar?" Rara melotot.

"Kita semua sudah hafal dengan tingkah Juragan Bejo. Padahal istrinya sudah banyak, tapi gak bisa liat gadis muda bening dikit langsung kegatelan." Kali ini Bu Ratih yang menambahi.

Ibu-ibu yang lain serentak mengangguk.

"Saya memang baru kerja di ladang Juragan Bejo sama seperti Ibu kamu. Tapi, saya yang sudah terbiasa bekerja dari ladang ke ladang sudah tau dengan sifat lelaki tua itu. Saya sering mendengar desas desus tentang dia dari pekerja lain." Sambung bu Ijah.

"Apakah kedepan ini tidak apa-apa, Bu Ijah? Saya jadi takut." Ucap Bu Ella khawatir. Ada rasa penyesalan mengizinkan Rara ikut dengannya hari ini.

"Huh! Semoga saja. Makanya saya heran, tumben Rara ikut Bu Ella? Kalau ikut ke ladang yang lain gak masalah. Tapi ini ladang punya lelaki hidung belang. Takutnya dia malah kepincut dengan Rara, dan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya."

Rara memegang tangan Ibunya sangat erat. Ada kekhawatiran di sana. Takut kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan kedepannya.

"Hati-hati saja. Jangan mudah terpengaruh tawaran-tawarannya, ya!"

Bu Ella mengangguk. Wanita paruh baya yang memang tidak banyak tau gosip desa itu sangat bersyukur dengan kehadiran Bu Ijah yang memberikan banyak nasihat dan peringatan.

"Kami akan berhati-hati, Bu Ijah. Terimakasih banyak sudah mengingatkan kami." Ucap Bu Ella.

"Berdoa saja. Semoga kegilaan Juragan Bejo tidak kumat." Sambung Bu Ijah sedikit memberikan ketenangan.

Rara mengangguk. Seketika nafsu makannya menjadi hilang.

_____

Matahari mulai meredup, menyebarkan warna jingga dan kemerahan di langit sore yang masih hangat. Para pekerja ladang yang sudah mengeluarkan banyak keringat sepanjang hari perlahan-lahan mengumpulkan alat kerja mereka seperti cangkul, sabit, dan anyaman keranjang yang digunakan untuk membawa hasil panen.

Beberapa orang duduk sebentar di tepi jalan tanah yang berdebu, menyegarkan diri dengan air dari botol bekas yang selalu mereka bawa. Suara tawa dan obrolan riang mengisi udara saat mereka berbagi cerita tentang hari ini, mulai dari hasil panen yang cukup melimpah hingga kelucuannya saat salah satu teman tersandung akar pohon.

Beberapa yang tinggal tidak jauh sudah mulai berjalan pulang, langkahnya sedikit lambat tapi penuh kepuasan. Beberapa lagi sedang mengatur hasil panen agar bisa dibawa ke pasar atau ke gudang penyimpanan.

Udara masih terasa hangat, tapi sudah mulai ada hembusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah lembab dan daun-daunan yang segar.

Rara dan Bu Ella berjalan beringin untuk kembali ke rumah. Lelah, tapi semua sirna saat menerima upah dari pemilik ladang. Keringat yang terbuang rasanya terbayarkan. Ada harapan untuk menyambung hidup esok hari.

_

Sebuah mobil berwarna putih berjalan pelan melewati Rara dan Bu Ella sebelum akhirnya berhenti di hadapan anak beranak itu.

Sosok lelaki tua yang seharian ini mengganggu pikiran Rara keluar dari mobil, hal itu membuat langkah Rara dan Ibunya terhenti. Pak Bejo.

"Ju--juragan..." Ucap Bu Ella terkejut, begitu juga Rara.

Pak Bejo berjalan mendekati Rara yang hanya diam dengan wajah datarnya.

"Maaf, ada yang saya lupakan." Ucap Pak Bejo.

Rara memegang tangan Ibunya. Dapat Bu Ella rasakan tangan putrinya itu begitu dingin.

"Apakah wajah saya semenyeramkan itu? Wajahmu sangat terlihat ketakutan." Tanya Pak Bejo pada Rara disertai tawa kecil.

"Tidak, Juragan. Saya hanya heran, kenapa Juragan berhenti di sini. Ada apa?" Jawab Rara.

Pak Bejo mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku bajunya, "Ini upah untuk kamu." Ucapnya kemudian.

Rara memicingkan alis.

"Jangan malu-malu. Ambil saja." Pak Bejo memegang tangan Rara dan memberikan amplop itu. Dengan cepat Rara menarik tangannya kembali.

Lagi-lagi Pak Bejo tertawa kecil dengan sikap Rara itu. "Kalau kamu butuh lagi tinggal bilang pada Saya, jangan sungkan. Ini Juragan Bejo, Juragan terkaya di desa Suka Jaya. Ladang saya banyak disini." Ucap Pak Bejo yang kemudian kembali masuk ke mobilnya. Ia memerintahkan sopirnya untuk segera jalan meninggalkan Rara dan Bu Ella yang masih diam mematung dengan wajah bingung sekaligus cemas.

Setelah mobil itu sudah tidak terlihat dari pandangan, Rara segera melempar amplop yang berada di tangannya kemudian berjalan dengan langkah yang lebih cepat. Ia terlihat mengelap tangan yang tadi sempat di pegang Pak Bejo pada bajunya.

Bu Ella mengambil amplop itu, dan kemudian menyusul Rara yang sudah berada jauh di depan.

"Nak! Tunggu!" Teriak Bu Ella sembari berlari kecil untuk mengejar.

"Astaga, Bu! Apalagi mau si lelaki tua itu? Kenapa juga Ibu ambil amplopnya?" Tanya Rara merasa sangat kesal.

"Tetap berpikir yang baik, Nak. Mungkin saja dia kasihan sama kamu yang membantu Ibu seharian ini, makanya kamu pun diberikan upah."

"Ih! Tapi tatapannya itu membuat bulu kuduk terasa merinding. serem! Apalagi setelah mendengar cerita dari Bi Ijah dan yang lain. Aku semakin takut dengan lelaki tua itu."

"Yasudah. Besok Ibu tidak bekerja disana lagi. Nanti Ibu cari ladang yang lain biar kita tidak bertemu Juragan Bejo lagi." Bu Ella membujuk.

Rara menatap Bu Ella. Kemudian ia mengangguk. Bu Ella kemudian memeluk putrinya itu, ia tau perasaan anaknya kini sedang tidak baik-baik saja.

"Tenang saja, Nak. Selagi Ibu dan Bapak masih hidup, kami akan selalu melindungi kamu dari apapun. Jadi jangan takut."

Bu Ella menatap Rara lekat, "Tetap bersikap tenang, jangan tunjukkan ketakutan atau kegelisahan agar orang tidak mudah berlaku seenaknya."

Rara mengangguk tanda mengerti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!