Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Sarsinah
15 Juni 1931. Pukul 19.00 waktu Surabaya.
Warung Kopi di Kampung Ampel.
Arya duduk di pojok warung yang remang-remang, menikmati kopi tubruk yang ampasnya tebal. Dia baru saja mengirimkan puisi iseng itu ke redaksi koran lokal kemarin. Dia tidak tahu apakah akan dimuat, dan dia lebih tidak tahu lagi apakah Alina akan membacanya 94 tahun lagi.
Itu seperti melempar botol surat ke samudra waktu yang luas. Kemungkinan ditemukannya nyaris nol. Tapi itu satu-satunya cara dia menjaga kewarasannya.
"Miko, ada barang bagus nih," bisik seorang pria Tionghoa tua, pemilik warung, yang tahu sedikit bahwa Miko bukan sekadar kuli biasa.
"Apa, Bah?"
Si pemilik warung mengeluarkan sebuah benda dari bawah meja kasir. Sebuah mesin tik tua yang berkarat, merek Underwood. Bukan Remington.
"Bekas pakai orang kantor dagang yang bangkrut. Rusak dikit pitanya. Mau?"
Mata Arya berbinar. Tangannya gatal. Sudah 6 bulan dia tidak menyentuh tuts.
"Berapa?"
"Buat lu, 5 Gulden aja."
Arya merogoh sakunya. Itu uang makannya seminggu. Tapi dia tidak peduli.
"Bungkus, Bah."
Malam itu, di kamar kosnya yang sempit dan panas di Surabaya, Arya membersihkan mesin tik Underwood itu. Dia memperbaikinya dengan minyak kelapa dan obeng kecil.
Dia memasukkan kertas.
Jantungnya berdebar. Apakah koneksi dengan Alina terikat pada jiwanya, atau pada mesin tik Remington yang ada di Jakarta?
Arya berdoa dalam hati. Dia mengetik satu kata.
> Alina?
>
Dia menunggu.
Satu menit. Sepuluh menit. Satu jam.
Tidak ada balasan.
Kertas itu tetap diam. Tuasnya tidak bergerak sendiri.
Arya menghembuskan napas panjang, bahunya merosot kecewa. Tentu saja. Koneksi itu ada pada Remington NK-40992 yang tertinggal di Jakarta. Mesin tik Underwood ini hanyalah mesin tik biasa. Benda mati tanpa sihir.
"Yah... setidaknya aku bisa menulis artikel lagi," hibur Arya pada dirinya sendiri.
Dia mulai mengetik artikel perjuangan dengan nama samaran "Bung Miko".
Namun, Arya tidak tahu satu hal.
Di Jakarta tahun 1931 (bukan 2025), mesin tik Remington miliknya yang disita polisi... sedang dipindahkan.
Seorang sersan polisi yang korup diam-diam mengambil mesin tik itu dari gudang barang bukti. Dia menjualnya ke pasar loak di Pasar Baru.
Dan di Pasar Baru, seorang pedagang barang antik sedang memajangnya di etalase.
"Mesin tik bagus. Remington. Siapa tahu ada yang minat."
Jika mesin tik itu berpindah tangan... dan jika ada orang lain yang mengetik di atasnya di tahun 1931... apakah pesannya akan sampai ke Alina di tahun 2025?
Atau lebih parah... apakah Alina di tahun 2025 mengetik pesan rindu, dan pesan itu muncul di hadapan orang asing yang membeli mesin tik itu di tahun 1931?
Bahaya baru mengintai. Rahasia mereka terancam terbongkar bukan oleh Van Heutz, tapi oleh ketidaksengajaan sejarah.
Sementara itu, di tahun 2025.
Alina sedang memesan tiket kereta api ke Surabaya.
"Aku akan mencarimu, Arya. Aku akan menelusuri jejakmu di Tanjung Perak. Aku akan mencari makammu, atau rumah cucumu, atau apa pun yang membuktikan kau bahagia."
Alina tidak tahu bahwa Arya masih berjuang sendirian.
Dan di layar laptopnya, sebuah notifikasi email masuk. Dari Profesor Hendrik de Vries.
> Subjek: Gencatan Senjata?
> Nona Alina,
> Selamat atas kemenangan hukum Anda tahun lalu.
> Namun, saya menemukan sesuatu yang menarik di catatan silsilah keluarga.
> Kakek saya mencatat bahwa pada tahun 1931, mesin tik itu dijual ilegal oleh polisi korup.
> Dan pembelinya... adalah seorang jurnalis muda wanita bernama Sarsinah.
>
Alina membeku.
Sarsinah?
Sarsinah membeli mesin tik Arya?
Jika Sarsinah mengetik di mesin itu... dan Alina membalasnya...
Segitiga cinta lintas waktu ini baru saja menjadi jauh lebih rumit.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera