NovelToon NovelToon
Janji Dibalik Kegelapan

Janji Dibalik Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yorozuya Rin

Sinopsis

Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.

Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.

Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.

Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.

Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.

Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.

Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Konspirasi

Bab 31 : Sebuah Konspirasi

Kamar itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Hanya suara api kecil dari lampu minyak yang berkelip pelan, memantulkan bayangan panjang

di dinding kayu.

Aroma obat herbal memenuhi udara, pahit, hangat, namun menyesakkan.

Su Ye Lan terbaring diam.

Matanya terbuka, tetapi pandangannya kosong.

Ketika mendengar kabar bahwa ia ditemukan sendirian di jalan tanpa jejak siapa pun

ia tidak menangis.

Tidak marah.

Tidak pula cemburu atau terluka.

Yang ada hanyalah kehampaan.

Perasaan kosong yang dingin, seperti jatuh ke dalam sumur tanpa dasar.

Seolah masa depan yang terbentang di depannya tidak lagi memiliki arah.

Jika Yan Yuxing tidak pernah muncul dalam hidupnya, mungkin ia tidak akan mengenal rasa hangat itu.

Tidak akan tahu bagaimana rasanya dipeluk.

Tidak akan mengerti bagaimana satu orang bisa mengubah seluruh dunianya.

Kenangan-kenangan itu, tiba-tiba terasa begitu jauh.

Seperti mimpi.

Indah… namun rapuh.

Namun sekarang ia bahkan tidak tahu apakah pria itu masih hidup.

Atau sudah mati di tangan para pembunuh malam itu.

Bayangan saat ia jatuh dari kuda, darah, desahan tertahan,

semuanya kembali menghantui pikirannya.

Dadanya sesak.

Napasnya terasa berat.

Namun ia memaksa dirinya tetap tenang.

Di ruangan ini, di hadapan orang itu

ia tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun.

Matanya bergerak perlahan.

Menatap sosok di depannya.

Yan Tianming

Pria itu duduk santai, jari-jarinya yang panjang menyentuh permukaan pedang dengan gerakan

lembut, hampir penuh kasih.

Namun di mata Su Ye Lan, itu seperti seseorang yang membelai ular berbisa.

Indah.

Namun mematikan.

Ia tahu hubungan antara Yan Yuxing dan Yan Tianming tidak pernah baik.

Sejak hari pernikahan itu, sejak Yan Yuxing merebutnya dari tangan pria ini, takdir mereka telah terikat dalam permusuhan.

Jika ia bertanya tentang Yan Yuxing sekarang, ia tidak hanya tidak akan mendapatkan jawaban, ia juga akan membuka kelemahan terbesarnya.

Namun jika ia tidak bertanya, justru akan menimbulkan kecurigaan.

Ini jebakan.

Dan ia harus bermain di dalamnya.

Dengan sempurna.

Su Ye Lan menunduk sedikit.

Alisnya mengernyit halus, bibirnya menggigit pelan, menciptakan ekspresi cemas yang tampak

begitu alami.

“Permisi…” suaranya lembut, sedikit bergetar,

“apakah Anda melihat… teman saya ketika menemukan saya?”

Yan Tianming menatapnya.

Tatapan itu tenang.

Namun terlalu dalam.

Seolah mencoba menguliti setiap lapisan dirinya.

Beberapa detik berlalu sebelum ia menggeleng.

“Aku hanya melihatmu… sendirian.”

Jawaban yang sederhana.

Namun terasa seperti pisau yang ditarik perlahan di dada Su Ye Lan.

“Oh…”

Ia menunduk.

Jari-jarinya mengepal di balik selimut.

Hatinya tenggelam, meski ia sudah memperkirakan jawaban itu.

Apakah Yan Yuxing berhasil melarikan diri?

Atau...

ia tidak berani melanjutkan pikiran itu.

Ia mengangkat wajahnya kembali.

Memaksa senyum.

“Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku… bolehkah aku tahu, bagaimana aku harus memanggilmu?”

Senyum tipis terukir di bibir Yan Tianming.

“Aku yang kesembilan dalam keluarga,” katanya santai,

“kau bisa memanggilku… Tuan Kesembilan.”

Tidak ada nama.

Tidak ada gelar.

Hanya sebuah identitas samar.

Dia menyembunyikan dirinya.

Kesimpulan itu langsung muncul di benak Su Ye Lan.

Seorang pangeran yang kembali tanpa identitas hanya berarti satu hal.

Konspirasi.

Namun saat mengetahui bahwa tempat ini bukan Fengyang, melainkan kediaman pribadi yang

berjarak tiga ratus mil dari ibu kota, ia diam-diam menghela napas lega.

Setidaknya, ia belum sepenuhnya terjebak di wilayah kekuasaan pria ini.

Dengan sopan, ia menunduk sedikit.

“Selama dua hari ini, aku pasti telah merepotkan Tuan Kesembilan. Jika suatu hari ada

kesempatan, aku akan membalas budi ini.”

Setelah itu ia mencoba bangkit.

Namun begitu tubuhnya bergerak, rasa sakit langsung menjalar.

Sebelum ia sempat berdiri, sebuah tangan menahannya.

“Guniang,” suara Yan Tianming tetap lembut,

“kau ingin pergi ke mana?”

Tekanan.

Tak terlihat.

Namun begitu nyata.

“Aku… belum pulang selama dua hari,” jawabnya pelan,

“keluargaku pasti khawatir.”

Maknanya jelas, aku ingin pergi.

Namun Yan Tianming hanya tersenyum.

“Lukamu belum sembuh. Karena aku sudah menyelamatkanmu…”

ia berhenti sejenak, matanya menyipit tipis,

“…aku tidak akan membiarkanmu kembali ke bahaya.”

Nada suaranya halus.

Namun seperti jerat yang perlahan mengencang.

“Jika kau ingin pergi…” lanjutnya,

“tunggulah sampai kau pulih sepenuhnya.”

Su Ye Lan terdiam.

Ia mengerti.

Penolakan tidak akan membantunya.

Ia tidak punya kekuatan dan tidak punya kebebasan.

Namun ia juga tidak boleh diam.

Ia harus mencari celah.

“Kalau begitu…” ia menarik napas pelan,

“bolehkah aku menulis surat kepada keluargaku? Setidaknya… agar mereka tahu aku selamat.”

Yan Tianming tersenyum.

“Kau cerdas,” gumamnya pelan.

“Baik. Tentu saja.”

Tak lama kemudian, kuas, tinta, dan kertas dibawa masuk.

Seorang pelayan muda menunduk hormat lalu pergi.

Suasana kembali sunyi.

Su Ye Lan menatap tangannya.

Pergelangan tangan kanan, dibalut kain tebal.

Berdenyut nyeri.

Ia bahkan tidak bisa menggenggam sesuatu.

Dan saat itu ia menyadari sesuatu.

Yan Tianming…pasti tahu.

Namun tetap membiarkan ini terjadi.

“Guniang?” suara pria itu terdengar lembut,

“bukankah kau ingin menulis?”

Su Ye Lan tersenyum kaku.

“Tanganku terluka… aku takut tidak bisa memegang kuas.”

“Kalau begitu…” Yan Tianming berdiri perlahan,

“biar aku yang menuliskannya untukmu.”

Perangkap.

Namun ia tidak punya pilihan.

Dengan hati-hati, ia menyerahkan kuas.

Namun saat kuas itu berpindah tangan—

mata Yan Tianming tiba-tiba menyipit.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Suasana langsung berubah.

“Bagaimana kau tahu… aku kidal?”

Jantung Su Ye Lan jatuh.

Dingin merambat dari ujung kaki ke kepala.

Kesalahan kecil.

Namun fatal.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia tahu segalanya tentang pria ini.

Kebiasaannya.

Sifatnya.

Bahkan cara ia membunuh.

Namun sekarang, ia bukan lagi Shen Lanrou.

Ia adalah Su Ye Lan.

Keringat dingin merembes di punggungnya.

Namun wajahnya tetap tenang.

Ia tersenyum ringan.

“Aku hanya kebetulan melihat kapalan di telapak tangan kirimu… dan cara kau memegang

pedang tadi,” jawabnya pelan.

“Jadi aku menebak.”

Hening.

Beberapa detik terasa seperti bertahun-tahun.

Lalu, Yan Tianming tersenyum.

Namun kali ini—senyumnya lebih dalam.

Lebih tajam.

“Pengamatanmu… luar biasa,” katanya.

Namun di balik pujian itu, ada sesuatu yang lain.

Kecurigaan.

Minat.

Dan bahaya.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Su Ye Lan.”

“Dan surat ini… untuk siapa?”

“Perdana Menteri Liang,” jawabnya tenang.

“Beliau adalah kenalan guruku.”

Ia sengaja menghindari nama Yan Yuxing.

Sengaja.

Namun Yan Tianming hanya tertawa kecil.

“Kalau begitu… tidak perlu menulis.”

Su Ye Lan terdiam.

“Dalam dua hari, aku juga akan ke ibu kota,” lanjutnya santai.

“Kita bisa pergi bersama… dan kau bisa bertemu langsung dengannya.”

Harapannyavdiputus.

Secara halus.

Tanpa memberi ruang untuk menolak.

Su Ye Lan tersenyum tipis.

Namun di dalam, ia menggertakkan gigi.

Dia sedang dikurung.

Dengan cara yang paling halus.

...----------------...

Sementara itu di ibu kota.

Langit diselimuti awan gelap.

Di halaman kediaman, bau darah masih samar tercium.

Yan Yuxing berdiri diam.

Jubahnya masih berlumuran darah kering.

Wajahnya pucat.

Namun matanya dipenuhi badai.

“Aku tidak menemukannya…”

Suaranya rendah.

Hampir seperti bisikan.

Di hadapannya, A Shun berlutut dengan luka di tubuhnya.

“Tuan… kami sudah mencari ke segala arah…”

Namun tidak ada.

Tidak ada jejak.

Tidak ada petunjuk.

Seolah, Su Ye Lan menghilang dari dunia.

Perdana Menteri Liang datang dengan wajah serius.

“Huijing pernah berkata…” gumamnya pelan,

“semakin dalam takdir… semakin besar malapetaka.”

Kata-kata itu, menghantam hati Yan Yuxing.

Seperti palu.

Tangannya mengepal.

Darah dari lukanya kembali merembes.

Namun ia tidak peduli.“Dia tidak akan mati.”

Suaranya dingin.

Namun penuh keyakinan yang hampir gila.

“Bahkan jika aku harus membalikkan seluruh negeri ini…”

ia mengangkat kepala, mata penuh tekad membara.

“…aku akan menemukannya.”

Dan di suatu tempat, tiga ratus mil jauhnya seekor burung bangau terbang melintasi langit kelam.

Seolah membawa pesan, entang takdir yang perlahan… mulai terjerat.

...----------------...

Hallo pembacaku tercinta, kali ini othor bawakan kisah baru lagi, bercerita tentang seorang mantan jenderal yang menantikan pernikahannya. Jangan Lupa mampir ya, kasih like dan dukungannya.

Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.

Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.

Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya. Namun, ia menjawab dengan satu kalimat yang membuat sesepuh itu pergi dengan marah.

Seorang bibi dan adik perempuan yang tidak menyadari apa yang terjadi datang berkunjung, tampaknya karena khawatir, tetapi sebenarnya mereka mengejeknya. Ia dengan tenang membalas ucapan mereka.

Akhirnya, kakak laki-lakinya tiba. Putra sulung keluarga Shen yang terpelajar mondar-mandir di depannya, akhirnya berkata, “Kamp militer penuh dengan laki-laki! Tahukah Anda bahwa jika kabar tentang perilaku memalukan Anda tersebar, itu akan mempermalukan putri-putri keluarga?”

Shen Fuyan akhirnya melepaskan sikap riangnya dan menjawab dengan serius, “Membela negara bukanlah suatu aib.”

Setelah mendengar bahwa keluarga Shen ingin menikahkan Nona Shen kedua, kaisar saat ini segera menemui permaisuri, dengan sungguh-sungguh berkata, “Saya menganggap Nona Shen kedua sebagai putri saya sendiri. Saya tidak bisa membiarkannya menikah dengan sembarang orang. Jika permaisuri punya waktu, mungkin Anda bisa membantu saya mencari calon yang cocok untuknya di ibu kota.”

Permaisuri: “…” Mengerti

Maka kisah perjalanan penantiaan pernikahan mantan jenderal pun dimulai.

1
Lina Hibanika
dan entah kenapa ye lan harus tergesa-gesa 🤭
Fransiska Husun
jangan ceoat ketangkap, n ketahuan, klo terlalu cepat gak lucu/Angry/
Fransiska Husun
masih nyimak thor
Fransiska Husun
masih nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!