Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di istana dingin Pangeran Duan meminta tabib pribadinya untuk memeriksa kondisi Qin Lu.
''Bagaimana keadaannya?'' tanya Qin Yu cepat, sejak tadi pria itu duduk di samping adiknya dengan sangat cemas.
''Syukurlah, tusukan di perut Nona Qin tidak sampai mengenai organ vitalnya, jadi Nona Qin hanya cukup istirahat yang banyak, agar luka di perutnya lekas menutup kembali'' jelas tabib itu.
Qin Yu yang mendengarnya langsung bernafas lega, begitu juga dengan Pangeran Duan yang duduk di kursi tak jauh dari ranjang, dan ada Permaisuri yang berdiri di sampingnya, dan juga Pengawal Zu.
"Syukurlah wanita itu sudah di bawa pergi dari sini, kini tinggal mencari cara untuk menyingkirkan wanita ber marga Qin ini'' batin Permaisuri.
''Ugh''
''Lu Lu, akhirnya kamu sadar'' seru Qin Yu tersenyum lega.
Pangeran yang mendengarnya langsung bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah ranjang.
Qin Yu dengan hati hati membantu Lu Lu yang ingin duduk, dia juga meletakkan bantal di belakang punggung Qin Lu.
''Lu Lu hati hati'' ucapnya penuh perhatian, membuat seutas senyum muncul di sudut bibirnya, selama menjalani dua kehidupan, entah di kehidupan pertamanya atau kehidupan keduanya, ini pertama kalinya Lu Lu atau Lu Mingyu merasakan perhatian dari seseorang ketika terluka.
Di kehidupan pertamanya saat Lu Mingyu mengalami luka setelah melakukan tugasnya, Lu Mingyu hanya bisa berbaring di kamarnya tanpa ada satupun temannya yang menanyakan bagaimana keadaannya, dan mungkin hal itu juga yang menjadikan Lu Mingyu tidak takut pada apapun meskipun bahaya sedang mengancamnya.
''Kak, aku baik baik saja'' ucap Qin Lu agar Kakak angkatnya tidak terlalu menghawatirkannya.
''Qin Lu''
Qin Lu menoleh dan menyadari Pangeran Duan sedang menatapnya dengan tatapan berbeda.
"Mungkinkah Pangeran Duan menaruh curiga padaku?,'' batin Qin Lu sedikit was was.
''Kaka, Pangeran, bagaimana dengan penyusup yang membawa selir kedua?, apa kalian sudah berhasil mengejar mereka?'' tanya Qin Lu dengan panik, dan merasa bersalah.
Qin Yu langsung menggenggam tangan adiknya untuk menenangkannya.
''Lu Lu tenang, aku sudah mengerahkan beberapa prajurit untuk mengejar mereka'' tukas Pangeran Duan.
Qin Lu perlahan mulai tenang, lebih tepatnya dia sedang khawatir, takut orang orang Pangeran Duan berhasil mengejar Gu Nian.
''Lu Lu berbaringlah, kamu masih terluka'' ucap Pangeran Duan, dan Qin Lu langsung berbaring dengan patuh, namun di kepalanya terus berkecamuk, takut usaha yang dia lakukan sia sia.
Flash back on
Beberapa jam yang lalu di istana dingin.
Gu Nian terkejut saat ada yang menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
''Siapa kamu?'' tanyanya.
''Nona Gu, ini saya Qin Lu'' sahutnya.
Senyum Gu Nian langsung merekah melihat kedatangan Qin Lu, dan berjalan menghampirinya.
Nona Qin, apa anda datang untuk menepati janji anda?'' tanya Gu Nian penuh harap.
''Tentu'' jawab Qin Lu.
Senyum Gu Nian semakin lebar, namun sedetik kemudian senyum itu menguap begitu saja.
''Tapi bagaimana caranya?'' gumamnya Gu Nian lirih.
Qin Lu tersenyum. ''Apa anda sudah yakin ingin meninggalkan Pangeran Duan?'' tanya Qin Lu sembari berjalan ke arah jendela yang terbuka lebar, dan melihat keadaan luar.
''Tentu'' sahut Gu Nian dengan yakin.
Qin Lu membalikkan badannya dan menatap Gu Nian dengan tangan bersedekap, setelah itu Qin Lu berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya.
''Kamu tunggu di luar, aku akan membantu selir kedua merias wajah'' ucap Qin Lu pada pelayan Gu Nian.
''Baik Nona Qin''
Qin Lu segera menutup kembali pintunya dan menguncinya dari dalam.
''Sudah, ayo kita keluar lewat jendela'' ajak Qin Lu yang di angguki oleh Gu Nian.
Setelah mereka berdua berhasil melewati jendela, Gu Nian mengikuti Qin Lu yang berjalan ke arah belakang istana dingin, yang hanya memiliki tanah selebar dua meter, dan di kelilingi dengan tembok setinggi tiga meter, namun ada pintu untuk akses keluar dari belakang.
Qin Lu mengintip dari balik pintu, dan mendapati ada tiga prajurit yang sedang berjaga di sana.
''Sepertinya tidak sulit'' gumam Qin Lu.
Perlahan Qin Lu membuka pintu di depannya, namun saat pintu baru terbuka, salah satu prajurit yang berjaga itu menodongkan pedangnya di tepat di depan wajahnya.
''Siapa kamu?'' ucap penjaga itu.
Qin Lu tidak menjawab dia langsung mundur beberapa langkah, lalu mengayunkan kaki kananya untuk menendang pedang milik prajurit itu hingga terlempar ke atas, lalu Lu Lu menangkap pedang itu dan langsung menebas leher penjaga itu dalam hitungan detik, dan saat dua prajurit lainnya juga ikut maju, tapi mereka baru mengayunkan pedangnya Qin Lu sudah lebih dulu menebas leher mereka, yang sontak membuat Gu Nian hampir berteriak karna terkejut, namun dia buru buru menutup mulutnya,
''Mengerikan sekali wanita ini'' gumam Gu Nian.
''Nona Gu, ayo keluar''
Gu Nian langsung tersadar dari rasa terkejutnya, dan segera keluar mengikuti Qin Lu, sembari melihat tiga mayat prajurit yang tergeletak di atas tanah.
Gu Nian terus mengikuti langkah Qin Lu yang semakin jauh dari area istana dingin, hingga beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di pinggiran area kerjaan timur.
''Noan Gu, apa anda berani untuk berlari ke dalam hutan sana?, karna hanya itu satu satunya jalan yang bisa membawa anda untuk sampai ke kaisaran'' ucap Qin Lu menunjuk ke arah hutan di depannya.
Gu Nian terdiam berfikir, benarkah dirinya harus masuk ke dalam hutan seorang diri, sedangkan dirinya sangat penakut.
''Kalau anda tidak berani, kita kembali saja, karna saya juga tidak mungkin mengantar anda'' ucap Qin Lu.
"Aku harus berani, karna hanya itu satu satunya cara aku bisa kembali ke sisi Jendral Rong" batin Gu Nian denhan yakin.
''Baiklah, aku akan pergi"
"Hem, Nona Gu hati hati"
Gu Nian perlahan mengatur nafasnya, lalu dia segera berlari kecil masuk ke dalam hutan di depannya.
Sedangkan Qin Lu setelah memastikan Gu Nian sudah jauh masuk kedalam hutan, dia segera kembali ke istana dingin dengan berlari sangat cepat, karna sudah menghabiskan waktu agak lama untuk membantu Gu Nian pergi.
Setiba di istana dingin Qin Lu masuk lewat pintu belakang, dan meloncati jendela untuk masuk ke dalam kamar Gu Nian.
''Huh, untung pelayan itu tidak masuk ke sini'' gumam Qin Lu melihat pintu kamar yang masih tertutup.
Setelah itu Qin Lu mengambil pisau buah di atas meja rias, dan tak lupa Qin Lu mengambil pisau itu menggunakan bagian bawah bajunya, untuk mengalihkan kecurigaan, setelah itu dia menusukkan pisau itu ke perutnya sendiri.
Jleb
Ughh
Tak cukup sampai di situ Qin Lu juga melempar vas bunga yang ada di atas meja rias ke lantai.
Pyarr
''Nona Nian, Nona Qin, apa yang terjadi?!'' seru Pelayan Gu Nian dari luar yang terdengar sangat panik.
''Saatnya pura pura jadi korban penusukan'' gumam Qin Lu, lalu merebahkan badannya di atas lantai.
Brak
''Lu Lu!'' teriak Qin Yu berlari masuk ke dalam dan langsung mengangkat tubuh Qin Lu ke atas pangkuannya.
''Lu Lu, siapa yang melukaimu ini?'' tanya Qin Yu panik dan khawatir.
" Cepat!, kejar pelakunya" teriak Qin Yu pada dua penjaga istana dingin.
Sedangkan Qin Lu dia terdiam melihat raut khawatir, panik serta amarah, yang bercampur jadi satu di wajah Kakanya.
"Apa dia sangat menghawatirkanku'' batin Qin Lu yang tiba tiba merasa bersalah.
"Ah sudahlah, sebaiknya sekarang aku pura pura pingsan saja" batinnya.
''Ka,, kakak, se,, selir kedua'' ucap Qin Lu lalu pura pura pingsan.
Flash back off
dulu saja sering nyindir nyindir karna merasa dekat dgn JendrAl rong
sekarang tau kan udah kena imbasnya
selain jendral rong
pengawal hanbin dan Xiao Fei harus bisa main senjata pintol juga🤔🤔
dari namanya itu adalah negara barat
William dan eleanor