NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pagi Cerita dan Tawa Kecil

Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai jendela, menyinari ruangan kamar yang kini terasa jauh lebih hangat dan damai. Tidak lagi ada rasa tegang atau bayang-bayang ancaman yang membayangi, meski kejadian semalam masih terekam jelas di ingatan Grey—saat sisi lain Davian terungkap sepenuhnya, sosok penguasa yang ditakuti banyak orang, namun di hadapannya selalu menjadi pria paling lembut di dunia.

Grey terbangun karena rasa hangat yang menyelimuti tubuhnya. Saat membuka mata, ia mendapati Davian sudah terjaga, berbaring miring di sampingnya dengan satu tangan menopang kepala, sementara tangan lainnya bergerak lembut mengusap-usap perut Grey yang mulai sedikit menonjol. Tatapan pria itu penuh kekaguman, seolah sedang melihat harta paling berharga yang pernah ada di muka bumi.

“Pagi, istriku yang cantik,” sapa Davian pelan, lalu mengecup kening Grey dengan lembut. Suaranya berat dan serak khas bangun tidur, namun terdengar begitu menenangkan.

Grey tersenyum, meregangkan tubuh sedikit dengan hati-hati. Ia mengusap wajah suaminya, masih teringat jelas betapa mengerikannya aura pria ini saat memberikan perintah semalam. Namun sekarang? Davian kembali menjadi suami yang sama seperti biasanya—penuh kasih sayang, dan sedikit konyol kadang-kadang.

“Pagi… Tuan Penguasa Segala Hal,” jawab Grey sambil terkekeh pelan, sengaja menekankan dua kata terakhir dengan nada menggoda. “Tadi malam aku bermimpi, katanya ada Tuan Besar yang bisa merobohkan kerajaan orang lain cuma dengan satu jentikan jari. Kamu lihat dia di mana? Kok pas bangun yang ada di sini cuma suamiku yang suka minta dipijat kakinya kalau pegal?”

Davian tertawa renyah, suara tawa yang lepas dan tulus. Ia langsung memeluk pinggang Grey, mendekatkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.

“Ah, Tuan Besar itu sedang berlibur, Sayang. Dia menyerahkan jabatannya sementara waktu pada suamimu yang biasa ini. Lagian, apa gunanya jadi penguasa kalau nggak bisa manja sama istri sendiri? Kekuasaanku itu besar di luar sana, tapi di sini, di rumah ini… kamulah ratunya. Bahkan aku saja tunduk padamu,” ucap Davian sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Grey tertawa kecil.

Tangan Davian kembali bergerak ke perut Grey, jari-jarinya berputar perlahan membuat lingkaran kecil di sana. Wajahnya berubah menjadi sangat lembut, penuh rasa kagum.

“Dan kau juga, Pangeran atau Putri Kecil di sini… dengar ya Nak,” Davian mulai berbicara pada perut Grey, suaranya dibuat berat dan berwibawa seolah sedang berpidato di depan ribuan orang, namun matanya berbinar lucu. “Ingat baik-baik kata Ayah. Di dunia luar, nama Ayah adalah hukum. Kalau Ayah bilang hitam, nggak ada satu pun yang berani bilang putih. Kalau Ayah bilang berhenti, semuanya akan diam. Tapi… di kamar ini, di depan Ibu… Ayah adalah bawahan nomor satu. Jadi kalau nanti kamu lahir, jangan-jangan kamu malah jadi bos besarnya Ayah ya? Pasti bisa, sih. Sepertinya bakat memerintah itu diturunkan dari Ibumu.”

Grey memukul pelan lengan kekar suaminya itu sambil tertawa geli. “Ih, apa sih yang kamu ajarkan ke anak kita? Baru sebesar biji kacang hijau aja sudah kamu ajarin urusan pangkat-pangkatan. Nanti kalau dia besar jadi anak yang sok kuasa gimana? Salah kamu lho!”

“Loh, mana mungkin?” bantah Davian dengan wajah polos yang dibuat-buat, lalu kembali menatap perut itu dengan tatapan memelas yang menggemaskan. “Anak Ayah nanti pasti jadi anak yang paling baik, paling ganteng atau paling cantik, dan paling pintar. Tapi ingat ya Nak… kalau ada orang jahat yang berani ganggu Ibu kamu atau kamu, bilang aja nama Ayah. Dijamin mereka langsung minta ampun sambil lari terbirit-birit kayak lihat hantu. Kemarin saja ada Om Arkan, baru dengar nama Ayah, langsung lemas kakinya. Padahal Ayah belum ketemu dia lho, cuma lewat telepon.”

Grey menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Rasanya lucu sekali melihat Davian yang biasanya penuh wibawa dan dingin di depan orang lain, tapi begitu berada di depannya berubah menjadi anak besar yang suka mengoceh dan bercanda.

“Kamu tuh ya… kemarin malam mukamu sedingin es, bicaramu seram banget sampai aku agak kaget. Eh pagi ini udah lagi ngelawak lagi. Aku jadi bingung nih, Davian. Yang mana sih aslinya kamu? Yang bisa bikin orang gemetar ketakutan, atau yang kalau dimasakin telur dadar sampai bilang rasanya enak banget kayak makanan restoran bintang lima?” goda Grey sambil menyentuh ujung hidung suaminya.

Davian tertawa lagi, lalu mencium telapak tangan Grey yang ada di wajahnya.

“Keduanya adalah aku, Sayang. Tapi satu hal yang harus kamu tahu,” jawab Davian dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap lembut. “Sisi dingin, sisi penguasa, sisi yang ditakuti itu… semuanya tercipta hanya untuk satu alasan: supaya aku bisa menjaga sisi lembut ini tetap aman. Supaya aku bisa menjaga kamu dan anak kita. Dunia luar itu keras, Grey. Kalau aku cuma orang biasa, mungkin kemarin Arkan sudah berani berbuat nekat. Tapi karena aku Davian Arganata… dia cuma bisa diam dan menyesali perbuatannya sekarang.”

Grey mengangguk pelan, hatinya terasa hangat dan penuh rasa syukur. Ia memegang tangan Davian yang ada di perutnya, menggenggamnya erat.

“Aku tahu… dan aku bersyukur banget punya kamu, Davian. Kemarin aku sempat kaget, tapi di saat yang sama aku merasa sangat aman. Rasanya, nggak ada satu pun hal buruk yang bisa menyentuh kita selama kamu ada di sini,” ucap Grey tulus.

Davian tersenyum bangga, lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke perut istrinya, mulai lagi bercerita dengan nada ceria dan lucu.

“Dengar ya Nak, Ibumu itu hebat lho. Dulu pas Ayah belum kenal Ibu, Ayah pikir hidup Ayah sudah lengkap, sudah paling hebat, paling berkuasa. Eh pas ketemu Ibu, semuanya berantakan! Jantung Ayah yang biasanya dingin dan tenang, tiba-tiba berdebar kencang nggak karuan. Kepala Ayah yang biasanya penuh strategi dan rencana bisnis, jadi isinya cuma wajah Ibu terus. Kamu tahu nggak Nak? Dulu Ayah sampai bingung sendiri, kok bisa ada wanita secantik dan sebaik itu mau sama Ayah?”

Grey mendengus pelan sambil menahan tawa. “Davian, jangan ngarang cerita deh! Seingatku dulu kamu yang ngejar-ngejar aku sampai ke mana-mana, ya kan? Sampai aku bingung, kok bos besar kayak kamu mau repot-repot anter jemput aku pulang kerja cuma karena aku bilang ban motorku kempes.”

“Iya kan itu buktinya Ayah hebat!” seru Davian bersemangat, matanya berbinar bangga seolah sedang menceritakan prestasi terbesarnya. “Ayah itu punya ratusan orang bawahan, semuanya siap lari kalau disuruh. Tapi demi Ibu, Ayah rela bawa kunci inggris dan pompa ban sendiri di pinggir jalan. Padahal kalau Ayah bilang ke satpam aja, selesai dalam dua detik. Tapi mana boleh? Itu momen romantis, Nak! Nanti kalau kamu sudah besar, kamu harus belajar sama Ayah caranya bikin wanita senang. Intinya: turunkan semua gengsi, lupakan jabatan, jadilah pelayan setia yang paling sigap.”

Grey tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sedikit sakit. Davian memang jagonya membuat suasana menjadi ceria. Pria yang kemarin malam membuat Arkan hampir gila ketakutan, pagi ini sedang memberikan kuliah percintaan pada janin yang baru berusia beberapa minggu.

“Kamu tuh ya, dasarnya saja emang suka manja,” celetuk Grey sambil mengusap rambut hitam suaminya yang sedikit berantakan.

“Kalau sama kamu dan anak kita, boleh dong manjanya?” jawab Davian cepat, lalu menempelkan telinganya ke perut Grey, seolah sedang mendengarkan sesuatu dengan saksama. Ia mengerutkan keningnya, berpura-pura mendengar suara bisikan.

“Loh? Apa itu Nak? Katakan sama Ayah… Ibu kamu tadi bilang Ayah apa? Suka manja? Benar kan? Kamu juga setuju ya kalau Ayah itu paling hebat, paling ganteng, dan paling penyayang di dunia ini? Iya kan?” Davian mengangkat wajahnya menatap Grey dengan ekspresi menang, seolah baru saja mendapatkan dukungan penuh dari anggota keluarga yang baru.

Grey menepuk dahinya pelan, gemas sekaligus bahagia. “Kamu ini benar-benar ya… anaknya belum bisa denger apa-apa, belum bisa ngomong apa-apa, udah diajak sekutu aja sama kamu. Nanti kalau dia lahir, malah jadi dua-duanya yang kerjanya bikin aku kesel gimana?”

“Nah, itu baru namanya tim yang hebat!” jawab Davian riang, lalu bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Grey pelan agar bisa duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia kemudian merangkul bahu istrinya dari samping, membiarkan Grey bersandar nyaman di dadanya.

Di luar jendela, burung-burung mulai berkicau riang, menyambut pagi yang cerah. Tidak ada lagi pesan ancaman, tidak ada lagi rasa khawatir. Berita yang mereka dengar pagi ini justru sebaliknya—berita bahwa Arkan, pria yang kemarin begitu sombong datang ke rumah mereka, kini berada di ambang kehancuran total. Bisnisnya lumpuh, asetnya terancam disita, dan semua orang yang dulu mendekatinya kini menjauh seolah ia membawa penyakit menular.

Namun di kamar itu, topik pembicaraan mereka jauh dari urusan bisnis atau kekuasaan.

“Kamu tahu, Sayang,” ucap Davian lembut sambil mencium puncak kepala Grey, tangannya masih setia mengusap perut istrinya. “Dulu aku berpikir, tujuan hidupku adalah mengembangkan kekuasaanku, memperluas jaringan, dan menjadi orang yang paling ditakuti dan dihormati. Tapi sekarang… semua itu terasa sangat kecil. Hal terpenting bagiku sekarang cuma satu: melihatmu tersenyum, melihat anak kita tumbuh sehat, dan menjalani hari-hari dengan penuh tawa seperti ini. Dunia luar boleh tahu aku penguasa yang kejam, tapi cukup kamu dan anakku saja yang tahu kalau aslinya aku cuma suami dan ayah yang pengennya selalu di dekat kalian.”

Grey mendongak menatap wajah suaminya, matanya berbinar indah terkena cahaya matahari pagi. Ia mengusap rahang tegas Davian, wajah yang menyimpan sejuta rahasia dan kekuatan, namun selalu terlihat lembut saat menatapnya.

“Dan aku bersyukur banget tahu sisi kamu yang ini, Davian. Aku nggak butuh suami yang jadi penguasa dunia. Aku cuma butuh suami yang bisa bikin aku ketawa setiap hari, yang selalu ada di sampingku, dan yang bisa cerita-cerita lucu ke bayi kita sampai dia bingung sendiri dengerinnya,” jawab Grey sambil terkikik.

Davian tertawa renyah lagi, lalu kembali menempelkan bibirnya di dekat perut Grey, berbisik pelan dengan nada serius tapi tetap jenaka.

“Kamu denger itu Nak? Ibu kamu minta dihibur terus sama Ayah. Jadi kamu harus cepat besar ya, biar kita berdua bisa kerja sama bikin Ibu ketawa terus. Tapi ingat ya… kalau ada apa-apa, urusan berantem sama orang jahat biar Ayah saja yang kerjain. Tugasmu cuma jadi anak yang lucu, ganteng, dan pintar. Gampang kan? Itu tugas paling enak sedunia lho, Nak. Ayah saja iri lho… kalau boleh tukeran peran, udah mau Ayah jadi bayi lagi deh, tinggal tidur, makan, dan disayang terus sama Ibu.”

Grey hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum bahagia. Pagi itu terasa begitu indah. Di luar sana, kekuasaan dan ancaman mungkin masih ada, tapi di dalam rumah ini, di dalam pelukan Davian, semuanya terasa begitu sederhana dan penuh cinta.

Siapa sangka, di balik sosok Sang Penguasa yang mengerikan, tersimpan sosok ayah dan suami yang paling hangat, lucu, dan penuh kasih sayang. Dan Grey tahu, kebahagiaan inilah harta yang paling mahal, yang bahkan tak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan dunia—harta yang akan ia jaga dan pertahankan seumur hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!