NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Serangan di Tengah Malam

Malam telah menyelimuti seluruh penjuru kota, langit gelap pekat tanpa cahaya bulan maupun bintang, seolah ikut merasakan ketegangan dan bahaya yang sedang mengancam nyawa penghuni kediaman megah milik Aditya Pratama itu. Di dalam rumah besar yang kini dijaga ketat bak benteng pertahanan militer itu, suasana terasa hening namun penuh kewaspadaan yang sangat tinggi.

Luna duduk di kamarnya, belum juga memejamkan mata meski jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat malam. Di sebelahnya, dua orang pengawal wanita yang berbadan tegap dan berwajah tegas berdiri diam di dekat pintu dan jendela, mata mereka terus mengawasi setiap sudut ruangan tanpa berkedip sedikit pun. Sesuai perintah Aditya, mereka tidak boleh meninggalkan Luna sendirian sedetik pun, bahkan di dalam kamar terkunci sekalipun.

Luna menatap bayangannya di cermin, wajahnya terlihat tenang namun di dalam hatinya bergemuruh berbagai perasaan. Ia tidak takut mati, karena hidupnya yang dulu penuh penderitaan sudah membuatnya paham bahwa kematian bukanlah hal yang paling mengerikan di dunia ini. Namun ia takut akan keselamatan Aditya, takut jika nanti dalam pertempuran ini lelaki hebat itu ikut terluka atau terancam nyawanya hanya karena membela dirinya.

Tok... tok... tok...

Ketukan pelan namun tegas terdengar di pintu kamar itu. Sebelum Luna sempat bergerak, salah satu pengawal wanita itu segera melangkah mendekat, mengintip lewat lubang intip, barulah ia membuka kunci pintu itu perlahan.

Di balik pintu, sosok Aditya berdiri tegak. Malam ini ia tidak mengenakan pakaian santai, melainkan kemeja hitam yang rapi dengan lengan digulung, memperlihatkan pergelangan tangannya yang kokoh dan aura kekuasaannya yang makin terasa kuat. Di pinggangnya, samar terlihat gagang senjata yang terselip rapi, menandakan bahwa malam ini bukanlah malam istirahat biasa baginya.

"Tuan..." sapa Luna pelan, segera bangkit berdiri dan menundukkan kepalanya hormat saat Aditya melangkah masuk ke dalam kamar itu. Jantungnya berdebar kencang melihat wajah lelaki itu yang tampak makin dingin dan serius dari biasanya.

Aditya mengangguk singkat, matanya segera meneliti sekeliling ruangan, memastikan tidak ada celah bahaya sedikit pun, sebelum akhirnya menatap ke arah kedua pengawal itu.

"Keluar sebentar, tunggu di depan pintu koridor. Jangan biarkan siapa pun lewat," perintah Aditya dengan suara rendah namun penuh wibawa yang tidak bisa dibantah.

Kedua wanita itu mengangguk patuh, lalu segera melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka, meninggalkan Luna dan Aditya berdua saja di dalam ruangan yang luas itu.

Aditya berjalan perlahan mendekati Luna, langkahnya berat dan penuh perhitungan. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, menatap wajah pucat namun teguh itu lekat-lekat.

"Kau belum tidur?" tanya Aditya pelan, suaranya sedikit melunak namun matanya tetap waspada.

Luna menggeleng pelan. "Aku belum bisa memejamkan mata, Tuan. Pikiranku terus teringat perkataan Tuan tadi... tentang ancaman mereka. Aku khawatir... aku khawatir kalau nanti bahaya itu datang, Tuan akan ikut terluka karena melindungiku."

Aditya menghela napas panjang, lalu ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh bahu Luna dan menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan keberaniannya ke dalam tubuh gadis itu.

"Dengar aku baik-baik, Luna," ucap Aditya dengan nada tegas dan berat. "Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang. Tidak ada siapa pun, tidak ada kekuatan apa pun yang bisa masuk ke sini tanpa izinku. Mereka berani mengirim orang? Akan aku pastikan mereka menyesal telah dilahirkan ke dunia ini. Tugasmu hanya satu: tetaplah di sini, aman di dalam kamar ini, dan jangan keluar sama sekali apa pun yang terjadi di luar nanti. Mengerti?"

Luna menatap mata Aditya dalam-dalam, ada rasa aman yang begitu besar menjalar di dadanya meski bahaya sudah di depan mata. Ia mengangguk perlahan.

"Aku mengerti, Tuan. Aku akan menuruti semua perintah Tuan. Tapi tolong... berjanjilah pada aku... Tuan harus selamat. Karena jika sampai sesuatu terjadi pada Tuan... maka perjuangan dan kebenaran ini tidak akan ada artinya lagi bagiku," jawab Luna dengan suara bergetar namun penuh ketulusan.

Aditya terdiam sejenak, menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Ada kilatan emosi yang sulit diartikan melintas di matanya, namun secepat kilat ia kembali menutupnya rapat. Ia melepaskan genggamannya di bahu Luna, lalu berbalik hendak pergi. Namun sebelum melangkah keluar, ia sempat berpesan sekali lagi dengan nada yang paling serius.

"Kunci pintu dari dalam, dan jangan buka untuk siapa pun selain aku atau pengawal yang sudah kupercaya. Segera lari ke ruang rahasia di balik lemari itu jika terdengar suara tembakan atau keributan besar. Aku sudah pasang segalanya untuk keselamatanmu."

Belum sempat Luna menjawab, suara bising dan ledakan kecil terdengar memecah keheningan malam itu. Suara benturan keras, diikuti teriakan singkat dan suara benda pecah terdengar jelas dari arah gerbang depan rumah.

Wajah Aditya seketika berubah dingin dan mengerikan. Ia segera berbalik menatap Luna dengan pandangan tajam.

"Mereka datang..." ucap Aditya singkat dan dingin. "Kunci pintu sekarang! Jangan kemana-mana!"

Tanpa menunggu jawaban, Aditya segera melesat keluar kamar, menutup pintu dan memutar kuncinya dari luar dengan cepat. Di luar sana, suara benturan dan keributan makin terdengar jelas, disertai suara teriakan para pengawal dan bunyi benda keras yang saling bertumbukan.

Jantung Luna berdegup kencang sekali lagi, ia segera melangkah mundur, bersandar di balik pintu yang terkunci itu, tangannya gemetar menutup mulutnya agar tidak bersuara. Di luar sana, pertempuran nyata sedang terjadi. Orang-orang bayaran yang dikirim Reynold dan Julian ternyata berani menyerang secara terang-terangan, nekat menembus pertahanan ketat milik Aditya demi menyelesaikan tugas kejam mereka.

Di lantai bawah dan halaman depan, suasana sudah berubah menjadi medan pertempuran yang kacau namun berdarah dingin. Belasan orang bertubuh besar dan bersenjata tajam serta senjata api darurat berhasil menerobos gerbang depan dengan menggunakan truk besar, kini mereka beradu fisik dan kekuatan dengan pasukan pengawal pribadi Aditya yang sama tangguh dan terlatihnya.

Namun yang paling mengerikan adalah sosok Aditya Pratama yang kini berdiri di tangga utama rumah, memegang senjata di tangan kanannya, tatapannya dingin dan kosong seolah sedang melihat sekumpulan sampah, bukan manusia. Aura kejam dan mengerikan yang dulu hanya terdengar bisik-bisik di dunia bisnis, kini terlihat nyata dan mengerikan di mata semua orang yang ada di sana.

"Kalian berani masuk ke wilayahku... berani mengancam nyawa orang yang berada di bawah perlindunganku..." suara Aditya terdengar rendah namun menggelegar, menembus suara bising pertempuran. Senyum tipis dan mengerikan terukir di bibirnya. "Kalian semua sudah menandai akhir hidup kalian sendiri malam ini."

Salah satu penyerang yang tampak sebagai pemimpin mereka tertawa kasar sambil mengacungkan senjatanya ke arah Aditya.

"Minggirlah, Tuan Aditya! Ini bukan urusan Tuan! Kami hanya butuh gadis itu! Serahkan dia pada kami, dan Tuan kami tidak akan menyakiti Tuan maupun orang lain di sini!"

Aditya tertawa, tawaan yang begitu dingin dan penuh penghinaan. Ia mengangkat senjatanya perlahan, mengarahkannya tepat ke kepala pemimpin kelompok itu tanpa ragu sedikit pun.

"Kalian mengira kalian punya pilihan untuk menawar syarat di sini?" ucap Aditya dengan nada merendahkan. "Kalian masuk ke rumahku, mengganggu ketenanganku, dan berani mengancam nyawa yang ku lindungi... Kalian tidak akan keluar dari sini hidup-hidup malam ini. Dan kabarkan pada tuan kalian... Reynold Tanudjaya... bahwa perbuatannya malam ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia tidak sedang mengirim orang untuk membunuh gadis itu... dia sedang membakar seluruh kerajaan yang dia bangun."

Dengan cepat dan tepat, Aditya menembakkan senjatanya ke udara sebagai peringatan sekaligus tanda serangan balik. Pertempuran makin memanas. Aditya bergerak di antara pertarungan itu dengan kecepatan dan kelincahan yang luar biasa, ia tidak hanya sekadar memberi perintah, namun ia sendiri ikut turun tangan, melumpuhkan musuh-musuhnya satu per satu dengan gerakan yang cepat, akurat, dan mematikan. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya ada ketenangan yang mengerikan dan tekad baja untuk membinasakan siapa saja yang berani menyakiti apa yang menjadi milik dan tanggung jawabnya.

Di dalam kamar, Luna mendengarkan segala suara bising, benturan, dan suara tembakan yang sesekali terdengar. Ia duduk di lantai, hugging lututnya erat, berdoa dalam hati agar Aditya safe, agar semua ini segera berakhir, dan agar kejahatan ini mendapatkan hukumannya. Ia takut, sangat takut, namun di balik ketakutan itu, ada rasa bangga yang besar. Bangga menjadi orang yang dilindungi oleh lelaki terhebat dan terkuat itu.

Pertempuran itu berlangsung singkat namun sangat sengit. Pasukan Aditya yang terlatih dan dipimpin langsung oleh tuannya sendiri yang sangat kejam dan mahir bertempur, dengan mudah mengalahkan para penyerang bayaran itu. Satu per satu penjahat itu jatuh, terluka, atau menyerah ketakutan melihat keganasan Aditya yang nyaris tidak tersentuh sedikit pun di tengah keributan itu.

Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, keheningan kembali menyelimuti kediaman itu, namun kali ini keheningan yang penuh sisa ketegangan dan bau besi serta darah yang menguar di udara.

Aditya berdiri di halaman depan, napasnya sedikit memburu namun tubuhnya tidak tergores luka sedikit pun. Ia menatap para penjahat yang kini terkapar tak berdaya atau terikat erat di tanah. Wajahnya kembali datar dan dingin.

"Bawa mereka semua ke ruang tahanan bawah tanah. Jangan ada yang lolos, jangan ada yang mati sebelum aku menginterogasi mereka satu per satu," perintah Aditya tegas kepada anak buahnya. "Aku butuh nama, bukti, dan segala pengakuan yang akan menjadi akhir dari kekuasaan Reynold Tanudjaya selamanya."

Setelah memastikan segalanya aman dan terkendali, Aditya segera berbalik dan berlari naik menuju kamar Luna. Ia tidak peduli dengan pakaiannya yang kotor terkena debu dan noda darah musuh, pikirannya hanya satu: memastikan keselamatan gadis yang ada di balik pintu itu.

Pintu kamar dibuka dari luar. Aditya masuk dengan napas sedikit terengah, matanya segera mencari sosok Luna yang masih duduk di sudut ruangan.

Melihat Aditya masuk dengan selamat, meski penampilannya berantakan namun tidak terluka, Luna segera bangkit berdiri dan berlari kecil mendekatinya, matanya berkaca-kaca lega.

"Tuan..." panggilnya pelan, suaranya bergetar karena lega luar biasa. "Tuan selamat... syukurlah..."

Aditya berhenti tepat di hadapan Luna, matanya meneliti wajah dan seluruh tubuh gadis itu dengan cepat, memastikan tidak ada goresan atau ketakutan yang membahayakan. Hanya saat melihat Luna aman dan utuh, bahunya perlahan kendur, dan aura mengerikan di sekelilingnya perlahan menghilang.

"Mereka sudah dikalahkan. Semuanya aman sekarang," ucap Aditya singkat namun tegas. Ia menatap Luna lekat-lekat. "Kau tidak apa-apa? Mereka tidak berhasil mendekat ke sini."

Luna menggeleng pelan, air mata lega mulai menetes di pipinya. "Aku baik-baik saja, Tuan. Aku aman... karena Tuan ada di sana melindungiku. Aku mendengar semuanya... aku melihat betapa hebatnya Tuan..."

Aditya menghela napas panjang, lalu ia berjalan mendekat sedikit lagi, suaranya rendah namun penuh tekad yang mengerikan.

"Malam ini adalah peringatan, Luna. Mereka menyerang, mereka gagal, dan sekarang mereka sudah memberi aku alasan paling kuat dan bukti nyata untuk menghancurkan mereka sepenuhnya," ucap Aditya dengan mata berkilat penuh kemarahan dingin. "Besok... besok bukan lagi soal pertahanan atau menunggu waktu. Besok kita akan menyerang balik. Kita akan pergi ke kediaman mereka, menghadapi Reynold dan Julian secara langsung, dan mengakhiri permainan kotor ini selamanya. Aku akan pastikan mereka membayar mahal setiap tetes keringat dan rasa takut yang mereka buat malam ini."

Luna menatap wajah Aditya yang penuh tekad itu, rasa takutnya hilang sepenuhnya digantikan oleh keberanian baru. Ia mengusap air matanya, lalu mengangguk mantap.

"Aku siap ikut Tuan, ke mana pun. Aku tidak mau lagi bersembunyi atau takut. Aku ingin melihat kebenaran menang di depan mataku sendiri, Tuan. Aku ingin melihat keadilan ditegakkan," jawab Luna tegas.

Aditya menatapnya lama, lalu perlahan ia mengangguk.

"Baik. Besok pagi-pagi sekali, kita akan pergi ke istana mereka. Kita akan membuat mereka sadar... bahwa musuh yang mereka remehkan, ternyata adalah kehancuran terbesar bagi mereka."

Malam itu berakhir dengan kemenangan pertahanan, namun sekaligus menjadi awal dari serangan balik besar yang akan mengguncang seluruh keluarga Tanudjaya hingga ke akar-akarnya. Besok adalah hari pembalasan, hari di mana gadis malang itu akan berjalan tegak masuk ke tempat yang dulu menganggapnya sampah, dan membawa kejatuhan bagi mereka yang berani berbuat jahat.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!